Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Saya Ingin Berjiwa Besar



Saya ingin membuang semua emosi negatif saya lewat tulisan ini. Hampir satu bulan ini saya melakukan hal yang mungkin menurut kebanyakan orang itu adalah kebodohan tiada tara. Saya tahu bahwa langkah yang saya ambil itu tidak pada tempatnya, terlalu berkeinginan segalanya akan berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan dan saya angankan. Bak seorang sutradara, saya seperti mengarang sebuah cerita menarik penuh dengan hal-hal indah dan tentu saja melankolis. 
Sayangnya, tiada yang bisa menandingi kebisaan sutradara melebihi sutradara alam semesta ini (baca: Tuhan). Maka, sangatlah wajar jika saya pun kecewa dengan cerita yang tak sesuai dengan keinginan. kekecewaan yang menggores hati, makin dalam dan dalam. Ketika saya merasa sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya, saya hanya punya dua opsi: menjadi manusia biasa atau manusia dengan kebesaran jiwa.
Kebesaran jiwa itu adalah pilihan. Ketika godaan amarah untuk membalas, menyiksa dan menjadi superior begitu dekat di depan mata, lalu kita lebih memilih untuk memaafkan, bersabar dan berlapang dada atas segalanya. Kebesaran jiwa itu adalah keteduhan saat segalanya menjadi panas (amarah) membara. Kebesaran jiwa itu adalah ketenangan saat semuanya menjadi sangat rumit. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekuatan menjadi kasih sayang. Kebesaran jiwa itu adalah saat kekerasan menjadi kelembutan. Tetapi kebesaran jiwa itu bukanlah kelemahan, kekalahan apalagi kepengecutan. Kebesaran jiwa itu adalah perpaduan antara keberanian, kekuatan, kasih sayang dan maaf.
Saya ingin menjadi manusia dengan kebesaran jiwa. Saya masih menjadi manusia biasa yang belum bisa berbesar hati dan jiwa dalam menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Saya terus belajar dari setiap peristiwa demi peristiwa baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami orang-orang di sekitar saya. Saya masih sering tergoda untuk panik, tidak realistis dan kacau. Saya cemburu dengan mereka yang sukses menjadi manusia berjiwa besar. Saya ingin mengakhiri ini semua dengan indah ... sungguh.

*edisi sentimental, ditulis dg tetesan air mata yg mengalir di hati*

Mikrokosmos Menjadi Semesta

Saya percaya bahwa setiap manusia diciptakan unik dan kreatif. Setiap kita selalu punya keinginan untuk membuat sesuatu yang berbeda, yang langka, yang heboh, menyenangkan atau membanggakan mungkin? Saya adalah manusia, jadi saya juga punya keinginan untuk membuat sesuatu donk. Saya menyebutnya "semesta".

Jangan berpikiran saya sudah sinting karena berlagak seperti Yang Maha Pencipta, semesta di sini adalah dunia saya yang unik, yang ingin saya set sedemikian rupa sehingga nyaman untuk ditinggali, untuk dikunjungi dan untuk dirawat selamanya. Semesta adalah hal yang sangat besar dan kompleks, maka sebelum itu terwujud, saya memulainya dengan mikrokosmos.

Mikrokosmos saya maknai sebagai sebuah dunia kecil yang di dalamnya ada awan, matahari, udara, mineral, tanah, waktu, dedikasi, cinta, ada pengetahuan, ada berjuta emosi, dan curahan isi pemikiran pembuatnya. Seluruh isi kosmos ada di situ. Dan saya ingin membuat mikrokosmos saya sendiri yang bebas polusi, yang sehat dan ramah terhadap siapa saja yang ingin berkunjung. Saya, dan hanya saya saja designer-nya. Jika suatu hari nanti ada yang mau dengan suka rela membantu saya, maka mungkin saya akan menyelesaikan proyek mengagumkan ini dengannya.

Dalam ajaran China dikatakan, "untuk mewujud menjadi sebuah bentuk, segala sesuatu membutuhkan sesuatu yang lain." Begitu pula mikrokosmos saya, saya membutuhkan pohon, air, awan, matahari, gunung, semuanya tanpa terkecuali. Maka saya pun mengumpulkannya sedikit demi sedikit dengan sabar. Seingat saya, saya mulai mengumpulkan setiap elemen sejak berusia lima tahun (percaya atau tidak, imajinasi saya sudah bertumbuh sejak saat itu).

Seperti ingin membuat lukisan bernilai milyaran dari kepingan-kepingan puzzle yang tersebar di penjuru dunia, setiap ada keping puzzle yang berkilau,unik, menarik dan menggelitik jiwa, saya memungutnya kemudian mematut-matutkannya. Berpikir keras apakah keping ini cocok untuk direkatkan dengan yang lain. Begitu seterusnya, tak jarang saya memutuskan untuk membuang satu, dua, bahkan lima keping puzzle yang kadung saya rekatkan sebelumnya. Sakit hati, kasihan, ga rela, bahagia atau lega saya rasakan ketika melihat kepingan-kepingan puzzle "gagal" itu berakhir di kotak bertuliskan "produk gagal" yang merana teronggok di ujung kamar.

Setiap hari saya membuat evaluasi, sejauh mana mikrokosmos saya sudah dibangun. Membuat revisi disana sini, berkonsultasi dengan siapa saja yang saya anggap keren, jujur, dan brilian. Ini proyek egois saya, jadi saya ingin segalanya dibangun dengan sungguh-sungguh dan baik. Kadang saya ragu-ragu, kadang saya optimis tapi detik berikutnya jadi pesimis, kadang terkagum-kagum dengan hasil kerja saya, kemudian saya tersungkur di hadapan Tuhan untuk berterima kasih dalam senyum dan derai air mata yang menganak sungai. Sungguh, proyek ini sangat menyenangkan, penuh misteri dan memanfaatkan semua potensi dan energi saya. 

Saat ini, mikrokosmos saya baru mencapai tahap 60%, hmm...masih 40% lagi menuju sebuah mikrokosmos yang utuh. Saya terus mencari kepingan-kepingan elemen lainnya. Perjalanan masih panjang dan misterius. Jika anda menemukan salah satu elemen kosmos yang saya cari, tolong beritahu saya ya (._.")7 saya akan menunjukkan pada anda, betapa ajaibnya merangkai potongan puzzle itu dengan yang lain.

*di luar sedang hujan lebat, mungkin langit ingin menghadiahi saya satu elemen kosmos lagi* 

Hilangnya Kelas Menengah Amerika

Beberapa dekade lalu Amerika mampu membuat iri seluruh negara di dunia dengan jumlah populasi kelas menengah yang sangat besar. Pasalnya, hal ini menjadi pendorong perekonomian mereka yang utama. Amerika pun menjadi negara penuh impian dan kebebasan. Menarik para imigran dari berbagai benua untuk meraih "American Dream".

Akan tetapi, kini semua itu hanyalah tinggal bongkahan sejarah. Kelas menengah di Amerika kini mulai mengecil, bahkan hampir menghilang. Salah satu contoh nyatanya adalah rasio gaji para eksekutif pada tahun 1950 yang jika dibandingkan dengan rasio gaji buruh adalah 30:1. Namun, kini angka tersebut berlipat sepuluh hingga lima belas kali menjadi 300-500:1. Wow, ini berarti telah terjadi distorsi yang sangat besar dan dahsyat.

Bahkan jumlah penduduk Amerika yang menggunakan kupon makan mencapai 40 juta jiwa dan angka ini diperkirakan akan naik menjadi 43 juta jiwa pada 2011. Kupon makanan adalah program dasar pemerintah federal guna mengatasi kelaparan. Paket bantuan ekonomi meningkatkan jumlah santunan sebesar 80 dollar AS per bulan untuk satu keluarga dengan empat anggota (mirip BLT di Indonesia). Di sisi lain, 10% rakyat Amerika menguasai 50% perekonomian. Artinya, telah terjadi disparitas yang parah di negara yang terkenal sebagai biang kapitalisme tersebut.

Apa penyebabnya? Globalisasi. Sesuatu yang semula sangat dielu-elukan bakal membawa kebaikan dan mampu membuat dunia menjadi lebih baik itu ternyata menjadi boomerang dan menghancurkan Amerika sendiri. Kini, tenaga kerja Amerika menjadi sangat tidak menarik bagi perusahaan-perusahaan dunia. Harga tenaga kerja Amerika sangat mahal dan memiliki persyaratan tunjangan yang memberatkan. Bisa ditebak, akhirnya perusahaan-perusahaan pun lebih memilih tenaga kerja dari negara-negara yang lebih murah seperti Cina, Kamboja dan Indonesia.

Satu kenyataan yang harus dihadapi tenaga kerja Amerika adalah meskipun mereka sangat pintar, ulet, kuat, dan loyal, mereka tetap tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja dari belahan dunia lain dengan bayaran yang lebih rendah. Sebagai contoh, para pekerja Amerika di sektor garmen harus bersaing dengan pekerja asal Cina dengan upah sekitar 86 sen per jam atau tenaga kerja asal Kamboja dengan upah 22 sen per jam. Kenyataan ini sungguh miris bagi para pekerja dari negeri Paman Sam.

Globalisasi yang awalnya digunakan sebagai senjata oleh Amerika untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, justru menjadi penyebab hilangnya kelas menengah di Amerika. Sekarang yang terjadi di Amerika adalah yang kaya makin kaya dan yang miskin makin merana. Tidak ada sistem perekonomian yang tidak mempunyai titik kelemahan dan tidak selamanya kejayaan selalu berpihak pada satu negara saja. Peta kekuatan ekonomi dunia kini mulai bergeser dan memulai era baru. Meskipun Amerika masih memimpin di urutan pertama, perlahan tapi pasti Cina mulai membayang-bayangi negara adikuasa tersebut dan berhasil menduduki urutan kedua negara dengan perekonomian terbesar dunia (berdasarkan nilai GDP) disusul Jepang. so, we will see, apakah Amerika dan negara-negara Eropa akan membuat perbaikan dan kejutan atau malah sebaliknya semakin menuju keterpurukan.

diramu dari sumber: warta ekonomi dan bataviase.co.id

Bodoh!!

Kamu!!
terlalu naif menganggap dunia ini seperti dongeng
macam Cinderella atau Putri salju
terlalu sederhana perempuan!
come on, pakai logika, nalar, ilmu, semua "harta" di otakmu
wajar kalo mereka bilang perempuan itu lemah
meski terdengar sadis, tapi ada benarnya
cengeng!
air mata itu tidak melulu diciptakan untuk rasa sedih atau kehilangan
air mata juga berhak berperan dalam bahagia
terlalu kejam jika kamu hanya melibatkannya dalam kekecewaan
biarkan semua menguap, melebur, hancur
berevaporasi dengan udara dan butiran gerimis

rasakan detik-detik perubahannya
agar kamu cepat melupakan sensasi perihnya
keinginan adalah ketidaksempurnaan yang kamu buat sendiri

No one ever said it would be this hard
No one ever said it would be this hurt
Nobody said it was easy
no one!

*diantara taburan lembut gerimis Jakarta

Meditasiku part 2


Tiga hari pertama latihan meditasi benar-benar membuat saya senewen. Duduk tegak, diam, dan tenang adalah aktifitas which is not me. Wajar kalau dalam 30 detik saja saya langsung disergap rasa bosan, marah, gelisah, sedih, gemas, dan kesemutan tiada tara. Berganti-ganti emosi itu, sehingga 10 menit serasa seharian lamanya. Saya merasa pikiran saya liar melompat-lompat tidak jelas, dari masa lalu yang jauh kemudian melompat ke masa depan yang tidak saya ketahui setitik pun. Pikiran saya tidak mau disiplin ke satu arah. Kegiatan menggali masa lalu dan mengaduk-aduk masa depan ini pun selalu saya alami setiap saya bermeditasi.
Saya was-was, jangan-jangan saya tidak sukses bermeditasi. Sampai akhirnya ada percakapan ringan antara teman yang bernama Arya dengan senior. Dia mengatakan bahwa selama ini dia seperti terjebak di dua alam, alam gaib/ilahi dan juga alam logika keilmuan. Sehingga dia merasa berada di tengah-tengah tidak bergerak. Senior kami tidak menyalahkan Arya, itu tahapan yang memang harus dilewati. Dengan latar belakang keilmuan yang kuat [mahasiswa], kami tentunya lebih suka berpikir realistis dan berpedoman pada logika nalar yang masuk akal.

Beliau kemudian menjelaskan dengan sabar pada kami bahwa tubuh manusia itu terdiri dari anatomi harafiah dan anatomi puitis. Anatomi harafiah itu dapat dilihat dan terbuat dari tulang, gigi serta daging. Sedangkan anatomi puitis tidak dapat dilihat [kasat mata] dan terbuat dari energi, ingatan dan iman [kitab suci menyebutnya sebagai ruh]. Karena meditasi ini bertujuan mengolah anatomi tubuh yang puitis maka sebisa mungkin kita tidak menggunakan intelektualitas kita karena pikiran-pikiran tersebut akan memadamkan keIlahian yang ada di dalam jiwa kita dengan perdebatan tanpa ujung.         
Sampai saat ini saya masih terus berusaha belajar dan memperbaiki meditasi saya. Saya bermeditasi di malam hari sebelum tidur demi mendapatkan suasana sunyi setiap hari. Kini [setelah perjuangan aneh dan melelahkan tadi] saya bisa berdamai dengan waktu dalam bermeditasi. Saya meningkatkan rentang waktu meditasi dari hari ke hari. Dari 10, 15, 30, 45 menit sampai akhirnya satu jam [ini sudah sebuah prestasi gemilang buat saya ^^]. Meski demikian, kadang-kadang saya terkaget-kaget sendiri karena merasa ketiduran di tengah meditasi :D.
Satu hal yang saya peroleh dari meditasi adalah ternyata tempat untuk jiwa beristirahat dengan tenang [selama kita masih hidup] adalah hati. Ego yang selama ini menguasai jiwa bisa ditekan dan dikendalikan--dengan tidak mengesampingkan doa dalam ritual keagamaan--melalui  meditasi. Hati menjadi peka dengan apa pun di sekitar kita dari segala dimensi. Bahwa ada efek lain dari meditasi yang “aneh”, yah ... saya anggap itu bonus  ^,^

~selesai~

Meditasiku Part 1


Hal yang terlintas pertama kali ketika saya mendengar kata meditasi adalah yoga, India dan Hindu. Saya tidak pernah tertarik dengan aktifitas ini tapi juga tidak  antipatif. Suatu hari saya mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat yg bersama-sama berlatih silat. Isinya saya direkomendasikan untuk mengikuti pelatihan kerokhanian oleh pelatih kami pada jam sekian di tempat anu. Saya mengetahui bahwa organisasi silat ini memiliki tahap latihan yang lain selain olah gerak. Sehingga ketika saya mendapat kesempatan baik itu, saya tidak mau membuangnya percuma.
Singkatnya, pelatihan ini menitikberatkan tidak pada raga tapi pada jiwa. Pada latihan kedua, saya sudah mulai memahami tujuan dan manfaat latihan ini. Dari beberapa metode latihan, saya jatuh hati dengan sesi meditasi. Awalnya saya pikir meditasi itu hanya duduk dan “menghilang”. So simple. Ternyata tidak sesederhana itu, saya mengalami berbagai hal mengejutkan dalam perjalanan mempelajarinya.
Beberapa orang mendefinisikan meditasi dengan berdoa. Boleh sih menyamakannya demikian, akan tetapi menurut saya ada pengertian berbeda antara keduanya. Berdoa adalah kegiatan “berbicara” dengan Tuhan. Karena dalam berdoa, manusia selalu meminta, bercerita tentang ini itu, menangis tersedu-sedu, menyesali sesuatu dan lain sebagainya. Intinya komunikasi dari manusia ke Tuhan. Sedangkan meditasi menurut saya adalah kegiatan untuk “mendengar” Tuhan [Tuhan ke manusia]. Butuh usaha yang luar biasa kuat untuk melakukan meditasi. Dan saya akan menceritakan pengalaman ini kepada anda.
Pelatih saya mengajarkan beberapa tehnik dalam bermeditasi. Yang pertama adalah memfokuskan mata pada satu titik terang diantara kedua alis. Sialnya, saya paling tidak mahir pada tehnik pertama ini. Kepala saya langsung diserang pusing hebat karena saya merasakan mata saya menjadi juling dalam gelap karena “dipaksa” mencari titik terang yang nangkring ditengah-tengah alis tadi. Belum lagi efek mual yang berpotensi mengeluarkan sarapan pagi dan kaki yang tiba-tiba mati rasa kesemutan. Berangkat dari rasa frustasi tersebut, saya putuskan untuk melakukan metode kedua yaitu berkonsentrasi pada naik turunnya nafas.
Mengingat karakter saya yang serampangan ga bisa diam, metode kedua ini adalah yang paling ringan dan cocok buat saya.Diumpamakan kita menarik nafas dalam sebuah garis imaginer oval dan titik berat fokusnya adalah pada tarikan nafas di kedua ujungnya. Awalnya saya megab-megab heboh penuh penderitaan [tetep ada efek dodolnya], tapi lama-lama saya bisa mengatur ritme keluar masuk nafas dan imaginasi saya berjalan mulus.  Metode terakhir adalah membaca kata-kata suci atau suku kata yang diulang-ulang. Bagi yang muslim, bisa mengucapkan (dalam hati) hu...Allah, yang lainnya boleh menyebut  nama Tuhannya masing-masing.  Pengulangan kata-kata ini punya tujuan, yaitu membuat pikiran melakukan sesuatu dan membawa kita ke situasi lain.
Sewaktu kuliah dulu, saya pernah ikut teater kampus khusus untuk mahasiswa jurusan sastra Inggris. Kami diajari meditasi di alam bebas. Percaya deh, ini jauh lebih menyiksa. Baru semenit mata terpejam dg maksud hati ingin berkonsentrasi, tiba-tiba [maaf] saya merasakan ada seekor semut yang entah datang dari mana [mengingat lokasi meditasi adalah alam bebas, malam hari pula] berjalan cuek di perut saya. Geli, gemas, takut digigit dan setiap gerakan semut yang cuma seekor itu jadi terasa nyata benar di permukaan kulit saya. Alhasil, bukannya bermeditasi dg tertib,detik berikutnya saya malah mencak-mencak disertai lolongan kegelian sambil berlari keluar dari lingkaran teman-teman. Menciptakan kesemburatan luar biasa dan yang paling menyedihkan, malam  itu kami semua ga jadi meditasi. Saya terlanjur mengacaukan suasana dan membuat dosen teater manyun karena programnya diacak-acak mahasiswi kurangajar semester 4 bernama fietha.

to be continued dunk ...

Mystery


And every thought's a possibility 
And voices are heard, but nothing is seen 
Why do you spend this time with me 
May be an equal mystery
So what is love then, 

is it dictated Or chosen - Handed down or made by hand
Does it sing like the hymns of a thousand years 

Or is it just pop emotion 
And if it ever was there, and it left 
Does it mean it was never true
And to exist it must elude

Is that why I think these things of you
And maybe that's all that we need is to meet in the middle Of impossibility 

Standing at opposite poles 
Equal partners in a mystery 
We're standing at opposite poles 
Equal partners in a mystery

* to the mystery of "screwy connection"

kejujuran: sakit atau indah?

"Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan. Melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura berbohong." 

Dalam bahasa sehari-hari (yang diambil dari salah satu agama samawi) ketidakjujuran biasa disebut perilaku yang munafik. Bagaimana rasanya menjadi orang yang munafik? Saya yakin 100% dari setiap orang yang (mungkin nantinya) membaca tulisan saya ini pernah menjadi orang munafik. Kalau boleh saya berbagi bagaimana rasanya...hmm tidak nyaman, beban, ruang gerak berfikir menjadi sempit dan berpotensi menimbulkan penyakit; baik psikis maupun fisik. 


Dengan berpura-pura kita akan mengingkari dua hal, yaitu kejujuran dan kebohongan. Saat melakukan dan terus masuk ke dunia kepura-puraan, maka kita tidak sadar bahwa itu adalah pura-puraan. Dunia kepura-puraan sangat menarik dan indah dari luar, begitu saya memasukinya ... wuzz saya tersiksa sedikit demi sedikit, detik demi detik. Maka yang saya lakukan adalah membuat satu keputusan penting, jujur.

Jujur itu seperti bernafas. Tidak usah belajar terlebih dahulu bagaimana memulainya. Sangat sederhana, semua bisa melakukannya. Saya suka ngobrol dengan siapa saja, dari kalangan mana saja, tentang apa saja, borderless, tapi untuk hal-hal tertentu saya lebih suka menuliskannya. Menurut saya tulisan itu lebih agung, lebih abadi, lebih indah, menyentuh, bebas dan satu lagi; jujur. Maka, jika anda tidak mampu menyampaikan butiran kejujuran lewat kata-kata verbal bukan ide buruk jika anda menulis kemudian menyampaikannya dengan hati-hati dan tulus.

Jujur adalah merupakan doa. Bagi saya, jujur itu juga sebuah doa maha suci yang mewakili keilahian dalam diri manusia. Ada sebuah kalimat penuh energi yang dilafadzkan oleh orang India ketika bermeditasi (saya menemukannya dalam sebuah novel bagus) "Om Namah Shivaya", saya menghormati keilahian yang berada dalam diri saya. Jadi, ketika anda melakukan sebuah kejujuran, anda menjadi duta ilahi di muka bumi ini. dahsyat ya? berbanggalah menjadi orang yang jujur.

Jujur adalah nafas bagi setiap manusia yang melakukannya. Sehingga tidak ada alasan satupun bagi manusia untuk mengingkari kejujuran. Sekali lagi-saya ingin berbagi pengalaman lewat tulisan ini- ketika saya telah menyampaikan kejujuran yang saya pendam beberapa tahun dengan alasan tidak mau membuat segalanya berbeda jika hal terebut terkuak ... ada aliran hangat yang mengalir dalam tubuh saya. Kehangatan yang indah, murni dan membuat otot-otot di wajah saya bereaksi secara spontan membentuk sebuah senyuman tulus dan lega. Plong, damai, tenang dan enteng sekali rasanya. Sensasi yang luar biasa dan jujur keluar dari hati dan reaksi tubuh saya. Apakah kejujuran juga membawa kesedihan dan rasa sakit? hmm ... saya hanya bisa menganjurkan pada anda untuk tidak mengawinkan kejujuran dengan harapan. just be honest ^o^ 



ps: buat "K", terima kasih telah membuat saya berani memeluk kejujuran.