Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Newmont [terakhir]

Proses divestasi NNT tidak kunjung usai karena banyak pihak yang berkepentingan berburu rente. Akibatnya lembaga negara seperti BPK bisa dikooptasi untuk kepentingan tertentu. Efek selanjutnya adalah kerugian yang ditanggung negara; pertama, selisih kurs dan yang kedua adalah hilangnya pendapatan dari pembagian dividen. Kondisi saat ini, nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp.9.200 per Dolar, sedangkan pada surat perjanjian jual beli yang ditanda tangani pada Mei 2011, nilai tukar masih Rp.8.500-8.600 per dolar. 

Tentang audit BPK mengenai polemik ini, mantan pemimpin KPK, Erry R. Hardjapamenkas menilai bahwa hasil audit BPK tidak lazim karena adanya dalil subtance over form. Apalagi hasil audit BPK tersebut menuliskan opini yang berdasarkan dugaan, bukan fakta. BPK hanya berhak menguji kesesuaian aturan, bukan pendapat hukum karena hal tersebut sebenarnya merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi. Perlu digarisbawahi bahwa hasil audit tidak pernah menjadi bahan pengambilan keputusan.

hmm...kalo bicara soal politik, yang putih bisa menjadi hitam dan sebaliknya. Padahal, kalo pembelian saham 7% itu berjalan mulus, negara ini banyak banget diuntungkan. gimana enggak, tuh kekayaan alam kan milik kita, harusnya memang dikuasai oleh kita juga donk. Bakal ada manfaat ekonomi dan sosial dari kepemilikan saham tersebut. Dari sisi ekonomi, pemerintah akan merapikan pajak, ekspor ekstraktif, dan meningkatkan royalti dari perusahaan tambang tersebut.

Sedangkan dari sisi sosial, pemerintah akan meningkatkan besaran pengeluaran tanggungjawab sosial perusahaan [Corporate Social Responsibility/ CSR] semacam pemeliharaan lingkungan alam juga masyarakat di sekitar penambangan. Jika proses dengan Newmont ini sukses, maka pemerintah bakal ngelakuin hal yang sama dengan beberapa perusahaan asing lainnya seperti Freeport dan Inalum. Ini yang diduga menjadi ancaman buat perusahaan2 asing tersebut. Mereka kan tujuannya cuma profit sedangkan kita sebagai negara ya melaksanakan amanat UUD  yang ujung-unjungnya juga buat rakyat. Jadi sebenernya yah, pemerintah tuh lagi mengimplementasikan bener pasal 33 ayat 3. Pihak-pihak yang teriak2 di DPR semuanya adalah orang-orang yang punya kepentingan politik dan pribadi. Disinyalir, mereka merupakan alat dari pihak2 asing tersebut [meski cuma dugaan, aku setuju dengan dugaan itu hahaha]. Masa iya kita sebagai bangsa yang punya rumah mau2 aja rumahnya dibongkar2, diambil barang2 didalamnya tanpa ada kompensasi atau perlawanan sedikitpun? Rumah jadi rusak, kekayaan di dalemnya ilang, trus penghuni jadi ga nyaman dengan kondisi rumah yang makin tak layak huni. Ngomong soal nasionalisme, dimana nasionalisme anda ketika di depan anda ada segepok milyaran uang yang boleh anda miliki dengan syarat menggadaikan negara ini ke tangan orang-orang asing itu?
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala, slalu dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda
tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata...

Aku semakin ga simpati dan ga tertarik dengan yang namanya politik, sungguh kotor dan bodoh menurutku...

Ampera Bridge at night



Stadion Sriwijaya

with Bu Hesty

Kenmochi Chiemi

Palembang dan Newmont [lanjutan]

Namun pergelutan di dalam proses ini menjadi sangat rumit. Anggota DPR mendukung pembelian saham Newmont oleh MDB. Sebaliknya, mereka menentang keputusan Pemerintah melalui Menteri Keuangannya, Agus D.W. Martowardjojo, yang membeli saham 7% terakhir divestasi Newmont tersebut. Komisi XI DPR mempermasalahkan tindakan Menkeu yang tidak meminta ijin kepada DPR dalam melakukan akuisisi saham Newmont dengan menggunakan dana Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di dalamnya.
Sesuai dengan pernyataan Menkeu, kepemilikan pemerintah atas saham Newmont adalah untuk mengoptimalkan penerimaan Negara dari dividen, pajak, dan royalty. Selain itu, pemerintah bertindak sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 3: Bumi dan air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan pembelian saham 7% tersebut, pemerintah juga menghindari terbentuknya controlling block dalam kepemilikan Newmont yang akan terjadi jika MDB menguasai 31% saham Newmont.
Dengan membawa sentimen kedaerahan menjadi kepentingan nasional, beberapa pengamat dan politisi berusaha mengaburkan isu akuisisi saham Newmont ini. Sesungguhnya dengan kepemilikan yang hanya 25% dalam MDB, Pemda tidak bisa mengajukan protes atas tidak dicairkannya dividen MDB yang sebelumnya akan digunakan untuk pembangunan daerah. Menurutku, menempatkan pemerintah sebagai pemilik saham Newmont adalah praktek yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dan lebih selaras dengan kepentingan nasional [bukan kepentingan perorangan]. Isu ini sekarang menjadi hambatan bagi kinerja pemerintah. Gimana enggak, kalo polemik ini dibiarkan berlarut-larut, negara akan dirugikan.  
For your information, kedalaman penggalian area penambangan oleh PT NNT telah mencapai 150 meter di bawah permukaan laut, bayangin, berapa dalem kekayaan kita mereka keruk? Dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh penambangan ini juga dapat dikatakan sangat parah. Beberapa LSM menemukan kenyataan yang mengejutkan, bahwa limbah penambangan yang beracun itu didistribusikan menggunakan pipa langsung ke dasar laut jauh didalam palung laut. Akibatnya, ekosistem laut pun mengalami kerusakan yang mengerikan, efek domino lainnya adalah semakin sulitnya para nelayan lokal mendapatkan ikan. 


[bersambung lagi yee]

Palembang dan Newmont


Palembang masih gelap saat aku menulis tulisan ini, sudah 4 jam aku menulis laporan kegiatan instansi tempatku bekerja bekerja sama dengan UNSRI Palembang. Kota pempek dan si merah AMPERA memang tak ada hubungan sama sekali dengan si PT Newmont Nusa Tenggara. Namun di kota inilah kerabunanku akan politik [baca: poolemik Newmont] perlahan-lahan membening. Tiga pakar hukum UNSRI ini menguraikan dengan gamblang dan jelas tentang polemik ini dari perspektif hukum bisnis dan tata negara, apa yang sedang diributkan oleh DPR, BPK, dan Pemerintah tentang perusahaan tambang tersebut.

Bahasa sederhananya, PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tambang dengan produk utama tembaga (copper), dengan pemegang saham utama Nusa Tenggara Mining Corporation dan Sunitomo Corporation yang memiliki saham mayoritas dari PT. NNT (80%), serta perusahaan lokal PT. Pukuafu Indah Indonesia yang memegang 20% dari keseluruhan saham. 

PT. NNT ini mengoperasikan daerah tambang emas terbesar kedua di Indonesia. Setiap tahunnya Newmont membayar pajak dan royalty tambang kepada pemerintah yang nilainya triliunan rupiah. Akuisisi 7% saham Newmont oleh pemerintah RI yang baru saja dilakukan (6 Mei 2011) menghabiskan biaya 2,7 triliun rupiah sehingga nilai perusahaan diperkirakan hampir 40 triliun rupiah. Dengan nilai aset dan pendapatan yang demikian tinggi, wajar apabila saham Newmont menjadi incaran para pebisnis di bidang tambang.

Sesuai Kontrak Karya tahun 1986 yang ditandatangani Pemerintah RI dan PT. NNT, ada kesepakatan untuk mendivestasikan [divestasi saham = jumlah saham asing yang harus ditawarkan atau dijual kepada pihak Indonesia] mayoritas saham Newmont kepada bangsa Indonesia (dalam kontrak disebut sebagai Indonesian Participant) setelah 5 tahun masa operasi tambang. Divestasi direncanakan bertahap dan dilakukan selama 5 tahun, yang semestinya jatuh pada tahun 2006 – 2010. Singkatnya, divestasi Newmont gagal dilakukan pada masa awal periode tersebut dan baru dilakukan setelah Pemerintah RI menang dalam kasus saham tersebut di pengadilan arbitrase tahun 2009. Saham sebesar 31% harus diinvestasikan oleh kepemilikan asing Newmont (20% telah dimiliki PT. Pukuafu Indah, perusahaan swasta nasional) sehingga Indonesian Participant bisa memiliki 51% saham perusahaan tambang ini.

Melihat kemenangan Pemerintah RI dalam kasus divestasi Newmont tersebut, Pemda di daerah sekitar operasi tambang ini pun berkeinginan ambil bagian dalam divestasi. Harapan Pemda tentunya adalah agar dividen per tahun Newmont dapat digunakan untuk pembangunan daerah. Maka tiga Pemda: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa, dan Sumbawa Barat akhirnya membentuk perusahaan patungan, PT. Daerah Maju Bersama untuk menjalankan rencana tersebut. Karena untuk akuisisi membutuhkan modal yang tidak sedikit, PT DMB ini kemudian bergabung dengan PT. Multicapital, salah satu anak perusahaan PT. Bumi Resources, membentuk PT. Multidaerah Bersaing (MDB) dengan komposisi saham 25% DMB – 75% Multicapital.

Sesuai kontrak karya, Pemerintah RI mendapat opsi pertama dalam akuisisi saham divestasi. Baru setelah Pemerintah menolak opsi tersebut, kesempatan akuisisi diberikan kepada warga Negara Indonesia atau perusahaan nasional yang dikendalikan oleh warga Negara Indonesia. Pada divestasi 10% saham Newmont yang pertama, opsi akuisisi tersebut diberikan kepada kolaborasi Pemda dan swasta nasional. PT. MDB berhasil membeli 10% saham Newmont. Komposisi saham menjadi 30% nasional – 70% asing. Untuk divestasi 14% saham Newmont berikutnya, Pemerintah RI lewat Menkeu saat itu, Sri Mulyani Indrawati menyatakan niat untuk membeli saham tersebut.

[bersambung]

Cinlok itu beneran ada??


Prajab uda seminggu berlalu, tapi rasa males, capek, dan hore-horenya masih berasa sampe sekarang. Well, this is me, in Jakarta. Bukan Manado lagi. Aku masih males mo cerita soal prajab, mo cerita apa yaa..yang lebih menarik dan lucu.

Gimana kalo cerita soal cinlok aja? Kayaknya seru ya...
Jumlah peserta prajab golongan III di Manado adalah 32 peserta, 27 laki-laki dan 5 perempuan.

Aku mulai dari unit kerjanya aja dulu ya,,,
Bea Cukai, unit yang mudah dikenali karena dari sekian unit eselon satu kemenkeu hanya bea cukai dan sebagian pajak yang memakai seragam dinas. Untuk unit-unit lain macam setjen, bkf, dja dll ga ada yang berseragam alias bebas bergaya apa aja [asal sopan tentunya] kecuali hari Rabu dan Jumat untuk Batik. Bea Cukai terkenal dengan seragamnya, disiplinnya, dan tentu saja pindah-pindahnya hahahha....Mereka mengalami beberapa kali tahap pendidikan dan latihan /diklat seperti prajab, DTSD dan SAMAPTA. Sedangkan kami, cukup prajab aja. Maka ga salah kalo attitude mereka berbeda dari kami, mereka lebih disiplin, lebih agak kemiliter-militeran. Secara dalam setiap diklat, mereka dididik oleh militer. Tak jarang kami terkaget-kaget dengan cara mereka berkomunikasi yang agak tegas dan selalu diawali dengan kata "siap". Lucu dan aneh.

Prajabil Manado punya dua perwakilan dari unit Bea Cukai, dua-duanya dari BC Jakarta. sebut saja namanya Andi dan Angga [nama sengaja aku samarkan yaaa demi keamanan semua pihak hakakakak]. Mereka berdua berperawakan tinggi, tegap dan dingin. Hanya si Angga memang agak sedikit lebih lembut daripada si Andi. Dalam berkomunikasi Angga lebih sedikit luwes meski masih saja pake awalan "siap" sebelum ngucapin kalimat yang panjang. Berbeda dari Angga, Andi terlihat lebih kaku, lebih pendiam, dan lebih "militer". Setidaknya itu kesan yang aku tangkap dari mereka berdua.

Hari demi hari kami jalani dengan melelahkan tapi menyenangkan juga. Berbagai kegiatan membuat kami semakin kompak, semakin rame, semakin nge-blend. Hingga pada suatu malam [kegiatan belajar di kelas berlangsung sampe 09.30 malam], seorang mentor menunjukku untuk membaca serangkaian kata-kata bijak yang mirip puisi berbahasa Inggris. Karena dari sekian prajabils, rupanya cuma aku doang yang lulusan Sastra Inggris dan "dipercaya" lidahnya lebih afdol ngucapin kata2 asing itu [agak lebay sih menurutku, teman yang lain pun pada fasih kok ber cas cis cus I believe]. Nah, dengan microfon, akupun membaca kata demi kata wise words dari layar LCD, seisi kelas hening ngedengerin sampe kata terakhir. Aku yakin mereka hening karena pada ngantuk hahahaha.

Setelah apel malam, jam istirahat. Aku menerima BBM dari seorang prajabil [kami telah bertkar PIN BB dan no HP seisi kelas]. Dari si Andi, si balok es yang menurutku seperti robot. Isi BBMnya singkat banget,


"Fita, suara kamu bagus banget." 

wowowo...sangat mengejutkan, seingatku aku ngobrol sama si Andi ini hanya sekali, itupun waktu permainan team building. Aku membalas sekedarnya, "terima kasih, tapi suaraku yang mana ya? yang waktu nyanyi itukah?hahahaha". Aku pikir ni anak pasti sedang mabok modul ato apalah sampe kurang kerjaan BBMin org selagi jam tidur. Sedetik kemudian BBku berbunyi, Andi lagi "Yang tadi bahasa Inggris". Dan aku cuma bengong aja, segera aku tarik selimut sambil bergumam ...ni anak rindu kampung halaman mungkin, parah.

Setelah hari itu, si Andi terus merhatiin setiap gerak-gerikku. Dia duduk di sudut kelas, sedangkan aku di deretan kedua dari depan, waktu senam pagi, waktu makan, waktu shalat subuh berjamaah...tanpa bicara! Bukannya GR, tapi kamu tentu akan ngerasain risih kan ketika diperhatiin orang lain dari kejauhan. Mendingan langsung ngomong aja ada masalah apa, mo berantem, mo traktir makan ato mo beliin pulsa gitu hahahaha ngaco!

Obrolan kedua akhirnya terjadi ketika kami disuruh lari 10 kali putaran, aku lari seperti biasa tanpa jeda...karena kalo berhenti akan tambah capek kan untuk memulai lagi. Hal ini justru membuat si Andi berani menegurku dengan kalimat iritnya, "Fita, kamu kuat banget ya staminanya." Aku? cuma cengengesan aja geje. Semakin aneh, semakin risih aku dengan temanku yang satu ini.

Setelah shalat Subuh berjamaah, ada kegiatan kultum/ kuliah tujuh menit. Jadi setiap hari ada dua orang yang maju ke depan untuk bercerita tentang dirinya. Nah karena no absenku 5, pada hari kelima aku maju. Aku ceritain dari Nama lengkap, tanggal lahir, latar belakang pendidikan, hobi dan perjalanan masuk kemenkeu juga gimana kerjaku di biro humas. Nah, waktu di bagian hobi, aku cerita bahwa aku gemar sekali sama olah raga tradisional asli Indonesia; silat...bla..bla..bla... Ternyata si Andi ini dulunya ikutan silat juga, MP. Topik ini kemudian jadi pembuka obrolan kami berikutnya...dari gerak-geriknya, aku agak curiga ni orang kayaknya uda mulai geje. Dia semakin intens merhatiin dari jauh, dia bukan tipe orang yang suka ngobrol dan rame. Jadi bagiku, ni orang serem abis.

Sampe malem2 tiga hari sebelum prajab usai, waktu kami semua sibuk dalem kamar masing-masing berkutat dengan modul dan latihan soal yang memabukkan itu. Si Andi sempet-sempetnya BBMin aku, ujung-ujungnya...aishiteru. Nembak! Wot??! Geje banget, dari dulu aku paling ga percaya sama yang namanya cinlok, bayangin aja, hanya dalam tempo 2 minggu seseorang bisa yakin dengan perasaannya kepada orang lain dan mendefinisikan perasaan itu dengan "cinta". Aneh dan ga masuk akal banget!!!

Maka, aku hanya ketawa, begidik ngeri dan ketakutan luar biasa. Secara tu orang ga pernah ngomong, diem, sukanya cuma ngeliatin dari jauh dan jeng..jeng..jeng...bilang suka?? come on!!

Seketika aku ingat sebuah kalimat bagus,
"Cinta itu diciptakan buta agar seseorang dapat mencintai tanpa batas"
Dan si Andi sedang mengalaminya, berawal dari keracunan suara, kemudian dia suka dengan keseharianku yang rame, cuek, dan katanya baik ke semua orang...[terima kasih atas penilaiannya Andi hahahaha]. For your information, si Andi ini lebih muda 2 tahun dari aku, tapi dengan bahasa iritnya itu dia bilang "Nabi aja selisih 15 tahun dengan Khadijah ga kenapa2". Sekali lagi aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

Well, ternyata cinlok itu memang ada, dan aku menyaksikannya dengan live ga pake siaran ulang. Percaya ga percaya, cinta memang membutakan dan membuat logika dikalahkan telak oleh rasa. Ini ceritaku dari Manado yang elok dengan Bunakennya....

Kenmochi Chiemi