Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Cerita dari Kampung Halaman

Heiho!!!
Udah hampir sebulan ini (25 hari) aku ngabisin waktu di kampung halaman. Bukan, bukan resign dari kerjaan sih, cuma maternity leave alias cuti bersalin. Kata seorang temen di kantor, 2 minggu pertama akan terasa menyenangkan karena bisa terbebas merdeka dari rutinitas kantor, dan ruwetnya Jakarta. Minggu selanjutnya dia berani jamin isinya cuma bosen doank (hey Iin Pantura, this was your sentence ya hahahaha).

Tapi kenyataannya, so far ga ada yang berhasil membuat aku bosan selama di kampung. Yah walopun wajah kampungku udah banyak berubah macam artis-artis yang doyan oplas (apa sih?), jalanan jadi padet, perjalanan jadi lama, banyakan truk pasir daripada kendaraan umum dan pribadi. Kenapa ya?

Prediksi hari lahir si baby menurut dokter di Depok si 7 Juni 2015, tapi menurut bidan di sini (Lumajang) justru 23-25 Mei 2015. Bidan??? Tenang, bidan di sini bukan bidan jadul kok, bidannya masih muda, trus alat-alat yang dipakenya ga kalah sama dokter kandungan, seperti alat USG, trus alat yang buat ngukur detak jantung bayi juga ada. Jadi so so lah sama dokter kandungan, malah anehnya aku lebih suka bidan ini daripada dokter yang di Depok. Ibu Bidannya sabaaar banget trus menenangkan gitu, gaya komunikasinya itu lho, ga terlalu to the point kayak dokter. Tarifnya??? Jangan ditanya, namanya aja bidan di kota kecil, untuk jasa periksanya aja cuma Rp.20.000.

Percaya ga? pertama kali aku periksa aja uda siyog!! Nominal yang sangat jauh dibandingin dokter di kota. dengan pelayanan yang lebih baik dari dokter--setidaknya itu yang aku rasakan-- kok sepertinya ga adil yah. Fyi, untuk jasa dokter di Depok aku harus ngeluarin Rp.165.000, belum lagi USGnya Rp.190.000, dan vitamin yang diresepin rata-rata harganya kisaran 130-150 ribuan (untuk satu jenis vitamin). jadi sekali periksa, aku bisa ngabisin setengah jutaan.Bahkan, untuk obat yang terakhir, harganya Rp.400.000 (antibiotik 10 tablet)

Di bidan??? USG nya masih gratis, karena masih promo. Jadi aku ga tau tarifnya berapa untuk USG di bidan. Kata temen-temenku yang di sini, tarif dokter dan USG di kota kecil ini ga lebih dari Rp.100.000 aja, OMG murah bangeeet. No wonder ya, penduduk kota gampang stress.

Intinya, bersyukur banget bisa pulang kampung dan nunggu detik-detik kelahiran si jabang bayi. sekarang uda tanggal 24 Mei, tapi kayaknya masih kontraksi-kontraksi kecil aja....si baby masih kerasan kali ya di dalem perut. Padahal hasil usg kemarin, kakinya uda nempel aja gegara badannya uda panjang dan ruang geraknya uda sempit. Lucu banget.

Semoga si baby mau keluar dalam beberapa hari ke depan dengan lancar yaaaa.........