Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Arogansi Jalanan

Sudah dua bulan terakhir Jakarta dan sekitarnya dilanda hujan. Uda musimnya. Hari ini hari Kamis, itu berarti jadwalku piket mingguan. Piket mingguan berkorelasi dengan bangun jam 4 dan berangkat dr stasiun depok jam 5 atau setidaknya 5.15 habis subuh. Selamat datang di dunia mata panda, perut laper, lanjut tidur di kereta dan bekerja di pagi buta.

Pagi ini hujan, bikin suasana makin gloomy. Setelah hampir 37 menit berdiri akhirnya aku dapet duduk juga. Meski kurang 3 stasiun lagi turun sih, tapi hey siapa yang ga mau istirahatin pinggang renta ini barang 5 menit aja?? Maka langsung aja aku banting nih pantat ke kursi dan merem. Yak, tindakan sembrono yang bikin aku kebablasan 2 stasiun. Alhasil musti ikut kereta lawan arah untuk kembali ke stasiun tujuan. Hadeeh...

Turun di stasiun gondangdia, abis itu lanjut naik kopaja menembus rintik hujan jakarta. Semuanya seperti hari-hari lainnya sampai terdengar klakson brisik bertubi-tubi dari kendaraan belakang kopaja. Dari bunyi klaksonnya si kayaknya bus juga. Aku yang duduk di kursi paling depan, pinggir jendela segaris sama supir dan setengah nyawa ini jadi kaget. Dan itu masih di depan stasiun.

Yang terjadi kemudian adalah mas2 supir kopajanya minggir. Wah...berantem nih. Kalo aja aku ga piket hari ini, rasanya kalem2 aja liat orang berantem. Tapi, kalo si supir berantem itu berarti waktu tempuh ke kantor akan lebih lama, aku telat piket, mengacaukan tim. Jadi kuputuskan untuk membuka mata lebar-lebar, dan melihat dg seksama.

Kendaraan yg brisik tadi nyatanya adalah bus jemputan sebuah instansi pemerintah . Warnanya item dengan tulisan istitusi tiga suku kata berwarna kuning kunyit. Si supir bus item menyalip kasar, trus loncat keluar. Dengan muka yang uda kayak kepiting rebus, bapak2 gendut ini menghampiri supir kopaja yg umurnya mungkin masih 20an. Menggedor pintu sambil nunjuk2. Tak lupa ngeluarin kata2 kasar," Hey monyet...bla bla bla....". Tak peduli meski sopir kopaja berkali-kali mints maaf dengan sopan (atau takut?entahlah).

Melihat dari penampilan si sopir bus item yang meledak-ledak itu kayaknya kok kurang pas ya perilaku begitu. Masa iya, abdi negara segitunya. Ga manner, bikin malu aja. Apakah dia merasa derajatnya lebih tinggi? Apakah dia tuli hingga permintaan maaf pun tak digubrisnya?? Ini nih yang bikin image abdi negara rusak.

Untungnya ribut-ribut itu ga berlarut-larut. Mungkin hanya sekitar 5 menit aja. Tapi entah kenapa kejadian remeh itu membekas sangat di kepala. Hari gini masih aja ada arogansi murahan kayak tadi. Hih...makan tu seragam. Makan tu bus item *eh

Tulisan remeh ini hanya sebagai self reminder bahwa ga ada gunanya sifat arogan. Semua manusia diciptakan setara. Justru perilaku mulialah yang bisa mengangkat harkat dan derajat kita.

No comments:

Post a Comment