po-li-ga-mi
Poligami,
satu kata yang hampir semua wanita/perempuan akan antipati bahkan hanya dengan
membaca atau mendengarnya saja. Ada banyak pendapat, opini, atau tanggapan dari
orang-orang mengenai hai ini, ada yang menilai poligami sebagai suatu hal yang
menjijikkan dan mencerminkan buruknya akhlak manusia berkedok agama, tapi ada
pula yang menganggapnya sebagai sesuatu yang positif bahkan wajar di tengah era
bebas seperti saat ini (menghindari perzinahan).
Kalau boleh saya bertanya kepada anda-anda yang telah dan sedang merencanakan poligami, sesungguhnya apa motif dan alasan dasar anda berpoligami?
Ketika
ada seseorang yang mendasarkan perilaku poligaminya pada ajaran agama, kok saya
merasa tersinggung. Manusia mengimitasi atau lebih tepatnya mengatasnamakan
sunnah Rasul a.k.a ibadah dengan poligami dengan menyebutkan ayat-ayat dalam kitab suci Al
Quran demi memperkuat dasar perilakunya.
Saya
tidak akan mengingkari bahwa agama Islam memang mengatur dan menyebutkan dalam
Al Quran mengenai poligami. Tetapi apakah benar, anda-anda semua ini
berpoligami dengan maksud dan tujuan ibadah?? Coba anda renungkan kembali
secara terperinci. Pikirkan beberapa rangkaian kata ini;
penyaluran hasrat sexual yang menggebu, ketertarikan sexual kepada perempuan lain yang bukan mukhrim di luar sana.
Rasulullah
saw (mohon maaf jika pemahaman saya ini masih dangkal) memang melakukan
poligami di masanya. Akan tetapi beliau melakukan ini memang untuk ibadah.
Buktinya? Hanya 2 istri saja yang benar-benar beliau kumpuli setiap malamnya
yaitu Siti Khadijah (istri pertama) dan Siti Aisyah (istri termuda). Bagaimana
dengan istri-istri yang lain? Para wanita beruntung itu dinikahi oleh
Rasulullah sekali lagi demi ibadah semata yaitu untuk mengangkat derajat dan
status sosial, memerdekakan, dan menolong mereka dari kesusahan.
Ide
untuk berpoligami sejatinya tercetus pertama kali tidak dari Rasulullah
melainkan dari istri beliau Siti Khadijah yang merasa dan menyadari bahwa dirinya
tak dapat memberikan keturunan untuk meneruskan perjuangan Rasulullah dalam
menyebarkan Islam. Maka beliau menganjurkan kepada Rasulullah untuk menikahi
Siti Aisyah.
Kembali
ke era saat ini, apakah anda-anda kaum lelaki juga berpikiran dan bertujuan demikian?
Coba anda renungkan kembali, karena sungguh sangat tidak bijak jika poligami
hanya dilakukan berdasarkan tarikan hasrat dan dorongan sexual semata. Esensi
dari poligami itu sendiri menjadi hilang dan menjadi banyak keburukan yang
ditimbulkannya. Lagi-lagi agama ini dicap buruk. Dan apakah yang membuat sampul
agama ini buram dengan coreng moreng gelap? Tak lain karena perilaku umatnya
sendiri yang jauh dari tuntunan yang sebenarnya.
*bahan
renungan untuk para poligamer sejati dan poligamer wanna be
Comments
Post a Comment