Geng Cewek Pertamaku part 2
Aku yang tadinya alergi berteman sama perempuan akhirnya punya geng perempuan juga. Kegiatannya si ga jauh-jauh dari belajar kelompok. Aku inget banget pas dapet tugas bikin topeng dari bubur kertas. Itu ya, untungnya aku dapet temen kelompok Pipit. Asli. Kalo aja itu bukan tugas kelompok, mungkin ampe EBTANAS pun ga ada satu topengpun yang bisa aku bikin. Biar aku kasih tau ya, bikin topeng dari bubur kertas itu ga segampang buang angin. Prosesnya lama, bikin cetakan dulu dari lempung (tanah liat), abis itu bikin bubur kertas (ini ga bisa sekali jadi, kadang jadi kayak bubur apaan dah ga jelas), trus bikin lem dari tepung kanji, dan seterusnya. Sifat perempuan yang sabar dan telaten Pipitlah yang menyelamatkan kelompok kami dari kehancuran nilai merah. Kalo soal gambar peta, bolehlah aku sedikit sombong, kerjaanku paling rapi dan halus dibanding temen-temen yang lain *ini kalo ada yang baca bisa disambelin rame-rame*
Hampir tiap malam kami belajar kelompok, bergiliran dari rumah masing-masing, iya, belajarnya palingan cuma setengah jam, bercandanya 2 jam hahahahaha. Ow, jangan dilupakan juga nonton film laga fenomenal dari negeri tirai bambu, New Legend of Madam White Snake / Ular Putih/ Pai su cen (bener ga sih nulisnya?). Jaman itu, ketika kalau mau nonton SCTV, RCTI dan Indosiar kudu punya parabola, maka dimanapun lokasi kami belajar, jam 7 kami pasti berlarian ke rumah salah seorang teman yang punya parabola. Satu-satunya yang punya di lingkungan kami, mbak Hani.
Selain belajar, ada masa saat kami memutuskan untuk ikutan les bahasa Inggris. Kalo ga salah, si empunya les merangkap sebagai guru les, kak Dodik kami memanggilnya, promosi ke sekolah kami. Dan kami berempat pun tergiur, bukan karena ilmunya si awalnya, tapi karena ada satu alasan tambahan untuk belajar rame-rame berempat. Walaupun ruko tempat lesnya ada di desa sebelah, tapi kami bahagia-bahagia aja meski kudu naik sepeda sore-sore. Ada kalanya kami juga naik becak bertiga, Ira biasanya dianterin saudaranya. O iya, Ira ini rumahnya paling jauh diantara kami. Jadi seringkali dia berangkatnya ga bareng.
Masa-masa les Bahasa Inggris ini masa yang paling menyenangkan buatku. Mungkin saat itulah pertama kali aku jatuh cinta. Jatuh cinta dengan Bahasa yang kelak ternyata membawaku ke Jember, Yogyakarta, dan akhirnya ke Jakarta. Berkat ketiga sahabatku ini, les Bahasa Inggris yang kebanyakan anak merasa sulit, bosen, ngantuk, jadi menyenangkan. Kelewat menyenangkan bahkan. Aku ingat, ada beberapa temen yang pinter-pinter, yang katanya jago-jago menghapal, yang mewakili provinsi ini di Jakarta, malah mlipir pergi ga lanjutin les gegara kita berempat yang ributnya kelewatan heboh di kelas. Melalui tulisan ini, saya mewakili geng hura2 mohon maaf kepada sekawanan anak pinter tadi ya. Bukan maksud kami mendepak kalian, abis kaliannya juga serius amat sik. Learning a new language should be fun. eh kan uda minta maaf *salim satu-satu pake gorengan :)
Dan akhirnya, melalui perjuangan kami yang belajar dengan gegap gembira, didukung oleh guru kelas 6 yang killer (beliau sudah almarhum, semoga beliau bahagia di sana), akhirnya kami melewati EBTANAS dengan baik. Masuk SMP favorit se-desa bersama. Kebiasaan belajar bersama pun kami lanjutkan. Di SMP, kami mengikuti passion masing-masing. Bisa ketebak kan, Ika dan aku pastinya punya passion yang sama. Ikutan Pramuka sama OSIS, jadi petugas PKS juga. Sedangkan Pipit dan Ira, ngapain ya mereka? Olah raga enggak, OSIS juga enggak, Pramuka kelas 1 aja. Ng....kayaknya mereka jadi siswa SMP yang baik dan benar, sedikit suka bergosip (kalo ini kita berempat sih) dan masih lanjut les Bahasa Inggris juga.
Well, disamping masa puber yang sederhana di tahun 90-an, kami berhasil melewati masa SMP dengan seru. Naksir kakak kelas, ngebully temen seangkatan, ngerjain guru, nyontek ... you name it. Kami mengalami itu semua. *ah jadi kangen sama mereka
Hampir tiap malam kami belajar kelompok, bergiliran dari rumah masing-masing, iya, belajarnya palingan cuma setengah jam, bercandanya 2 jam hahahahaha. Ow, jangan dilupakan juga nonton film laga fenomenal dari negeri tirai bambu, New Legend of Madam White Snake / Ular Putih/ Pai su cen (bener ga sih nulisnya?). Jaman itu, ketika kalau mau nonton SCTV, RCTI dan Indosiar kudu punya parabola, maka dimanapun lokasi kami belajar, jam 7 kami pasti berlarian ke rumah salah seorang teman yang punya parabola. Satu-satunya yang punya di lingkungan kami, mbak Hani.
Selain belajar, ada masa saat kami memutuskan untuk ikutan les bahasa Inggris. Kalo ga salah, si empunya les merangkap sebagai guru les, kak Dodik kami memanggilnya, promosi ke sekolah kami. Dan kami berempat pun tergiur, bukan karena ilmunya si awalnya, tapi karena ada satu alasan tambahan untuk belajar rame-rame berempat. Walaupun ruko tempat lesnya ada di desa sebelah, tapi kami bahagia-bahagia aja meski kudu naik sepeda sore-sore. Ada kalanya kami juga naik becak bertiga, Ira biasanya dianterin saudaranya. O iya, Ira ini rumahnya paling jauh diantara kami. Jadi seringkali dia berangkatnya ga bareng.
Masa-masa les Bahasa Inggris ini masa yang paling menyenangkan buatku. Mungkin saat itulah pertama kali aku jatuh cinta. Jatuh cinta dengan Bahasa yang kelak ternyata membawaku ke Jember, Yogyakarta, dan akhirnya ke Jakarta. Berkat ketiga sahabatku ini, les Bahasa Inggris yang kebanyakan anak merasa sulit, bosen, ngantuk, jadi menyenangkan. Kelewat menyenangkan bahkan. Aku ingat, ada beberapa temen yang pinter-pinter, yang katanya jago-jago menghapal, yang mewakili provinsi ini di Jakarta, malah mlipir pergi ga lanjutin les gegara kita berempat yang ributnya kelewatan heboh di kelas. Melalui tulisan ini, saya mewakili geng hura2 mohon maaf kepada sekawanan anak pinter tadi ya. Bukan maksud kami mendepak kalian, abis kaliannya juga serius amat sik. Learning a new language should be fun. eh kan uda minta maaf *salim satu-satu pake gorengan :)
Dan akhirnya, melalui perjuangan kami yang belajar dengan gegap gembira, didukung oleh guru kelas 6 yang killer (beliau sudah almarhum, semoga beliau bahagia di sana), akhirnya kami melewati EBTANAS dengan baik. Masuk SMP favorit se-desa bersama. Kebiasaan belajar bersama pun kami lanjutkan. Di SMP, kami mengikuti passion masing-masing. Bisa ketebak kan, Ika dan aku pastinya punya passion yang sama. Ikutan Pramuka sama OSIS, jadi petugas PKS juga. Sedangkan Pipit dan Ira, ngapain ya mereka? Olah raga enggak, OSIS juga enggak, Pramuka kelas 1 aja. Ng....kayaknya mereka jadi siswa SMP yang baik dan benar, sedikit suka bergosip (kalo ini kita berempat sih) dan masih lanjut les Bahasa Inggris juga.
Well, disamping masa puber yang sederhana di tahun 90-an, kami berhasil melewati masa SMP dengan seru. Naksir kakak kelas, ngebully temen seangkatan, ngerjain guru, nyontek ... you name it. Kami mengalami itu semua. *ah jadi kangen sama mereka
Comments
Post a Comment