Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Brain Wash

Dalam sebuah organisasi, adalah wajar jika terdapat perbedaan cara pandang. Organisasi tidak hanya berisi satu kepala saja, ada banyak kepala dengan potensi yang luar biasa di dalamnya. Bukankah lebih banyak ide, saran maupun masukan, sebuah organisasi akan menjadi semakin dewasa (baca: kuat)? 

Sayangnya sekuat apapun pembaruan yang berusaha ditegakkan, sisa-sisa feodalisme usang masih saja ada. Bagi yang berpikiran luas terbuka, hal-hal macam praktek brainwash itu adalah sebuah bencana, kriminalisasi intelegensia yang parah. Upaya rekayasa pembentukan ulang tata berpikir dan perilaku agar mau nurut terhadap cara-cara lama yang "trimo ing pandum" jelas ga bisa diterima di era serba terbuka dan demokratis saat ini. Mau di lingkungan masyarakat, lingkungan kerja atau lingkungan-lingkungan lainnya, yang namanya brainwash itu tetep aja keji.

Para ilmuwan berpendapat bahwa brain wash hanya bisa dilakukan dalam waktu yang lama secara berturut-turut, paling tidak selama 5-6 tahun. Perkembangan terkini, brain wash dapat dilakukan hanya dalam 6 bulan sampai 1 tahun saja. Mau tau buktinya? aksi pengantin bom bunuh diri akhir-akhir ini bisa dijadikan contoh nyata. Nah, dalam kasus tadi brain wash dilakukan dengan embel-embel agama dan tujuan jangka pendek dan jelas-jelas disebut aksi teror. Tapi bagaimana jika brain wash dilakukan di lingkungan kerja? Generasi demokratis, yang masih fresh yang tentunya sudah jauh berbeda pola fikirnya dengan generasi sebelum-sebelumnya, dipaksa menghapus pola pikir konstruktifnya agar bisa seirama dengan pola pikir kedaluarsa macam asal bapak senang, sesuai dengan arahan Bapak atau just do what your boss told you to! 

pic is taken from here


Apakah brain wash yang sudah dikenal sejak jaman Perang Dunia II ini mulai digandrungi lagi? Kenapa? Apakah ini menunjukkan bahwa mereka-mereka yang dulunya ngotot berteriak lantang soal reformasi, perubahan, menjunjung tinggi demokrasi sudah mulai loyo dan ompong. Tertabrak oleh benda ciptaan mereka sendiri dan kemudian berusaha mengembalikan semuanya kembali seperti jaman kegelapan? 

Tunggu dulu, kalau memang seperti itu, jelaslah mereka salah. Cobalah open minded. Tak selamanya yang muda itu amatir dan hijau. Ada kalanya yang tua/senior juga melewatkan sesuatu atau bisa jadi salah perhitungan. Kenapa tak berpikir positive bahwa dalam sebuah tim yang diutamakan adalah visi bersama bukan salah satu pihak semata. Mengapa tak berfikir bahwa ketika generasi muda itu diam, bukan berarti mereka sepaham atau setuju pada kehendak generasi lama. Bisa jadi generasi muda yang masih segar pola pikirnya itu menunggu momentum atau giliran untuk memutar keadaan, atau yang terburuk justru mereka berfikir apatis bahwa dengan berteriak atau memberi respon pun suara mereka tak akan didengar. Jadi buat apa bersuara jika nantinya hanya sia-sia, lebih baik diam, menonton, menikmati dan menunggu. Seperti halnya penonton bioskop, anteng duduk bareng-bareng dengan sekotak popcorn di tangan, menikmati alur cerita di layar lebar sambil sesekali tertawa, tegang ataupun menangis haru. Just enjoy the movie.


tribute to Indonesia's best generation