Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Penampilanmu Menipu!

*

Ini kejadian 2 hari yang lalu sore2, di bank Mandiri Cabang Kemenkeu, tokoh cerita: aku, temenku, seorang tersangka dan security.

Jadi waktu itu aku dan temenku pergi ke bank Mandiri di kantor kita dengan maksud untuk membeli token dan mengaktifkan e-banking. Nah, untuk make token, account internet/ e-bankingnya kan harus aktif dulu. Kita berdua diminta mbak CS-nya untuk registrasi e-bankingnya lewat ATM yang letaknya ada dalam gerai Bank Mandiri tersebut. 

Temenku registrasi duluan, tapi pin dia salah terus sampe 3x. Nyerah, akhirnya aku yang maju registrasi. Di belakangku antrian mulai agak panjang. Ada sekitar 4 orang yang ngantri. Temenku yang penasaran kenapa akunnya ga bisa diregisterin, berdiri di sebelahku untuk ngelihat step-step yang aku lakukan. Di belakang antrian, pak security yang ramah sedang mengatur lalu lintas antrian. 

Aku tidak mendapati masalah apapun dalam melakukan registrasi alias sukses. Masalah pun muncul, ketika aku menunggu kartu ATM-ku keluar tiba-tiba dari belakangku udah nyundul aja bapak-bapak [sekitar 30an usianya] nyodorin kartunya ke mulut ATM. Hey, kartuku bahkan belum keluar!!! 

Aku refleks bergeser ke samping karena tuh bapak-bapak deket banget, busyeet. Ga manner banget sih ni orang, begitu kata hatiku. Temenku ga kalah sewot, dia langsung nyeletuk ke tuh bapak "Eh Bapak, biasa aja donk ga usah buru-buru gitu. Temen saya ini kan belum selesai. Gimana sih, ga manner banget!!." Tuh bapak ga peduli and begitu kartuku keluar, dia langsung aja masukin kartunya tanpa basa basi. Ga ada raut malu atau bersalah di wajahnya.

Setelah keluar dari barisan orang yang antri, aku perhatikan tuh bapak2. Postur tinggi, berjenggot tipis, celana ngatung, dan pake nametag Kemenkeu! OMG aku syok, tu orang adalah pegawai Kementerian Keuangan sodara-sodara [menurut lo??] ... aku ga terima. Gimana bisa sih kemenkeu nerima orang yang ga punya tata krama gini. Hatiku mengutuk diri sendiri, mengingatkan bahwa salah kalo menilai orang dari "kemasannya". Secara "penampakan" luar sih tu bapak-bapak memang alim, sholeh, imam masjid atau apalah. Bo' kelakuannya...jauuuh. Kata temenku, "tau ga Fit, tuh orang tadi mepet banget ke lu. Bukan apa ya, harusnya dia ga sedekat itu kalo di ATM, lagian lu kan tadi masukin PIN, harusnya dia memalingkan pandangan ato apa kek...eh malah dia liat-liat. Ga sopan banget!!", temenku masih emosi.

Aku ga menjudge semua yang berpenampilan kayak bapak tadi kelakuannya ga manner, tapi memang sekali lagi SALAH besar kalo menganggap orang-orang yang berpenampilan alim ala ikhwan akhwat pasti moral dan etikanya baik juga. 

Temenku yang masih emosi langsung datengin pak satpam, "pak lain kali kalo ada customer yang ga manner itu tolong diingetin. Masa iya orang belum selesai uda nylonong aja gitu." Pak satpam yang memang tadi menyaksikan kejadian itu menjawab," Iya mbak, tadi sudah saya tegur, katanya dia takut mbaknya mo make ATMnya lagi. kan tadi mbak gagal registrasinya." 

Oalaah...harusnya si bapak tuh ngomong baik-baik donk. Lagian temenku juga ga mau make ATM itu lagi kok. Dia cuma mau liat step-step yang aku lakukan. Temenku itu juga ga pegang kartu, cuma dompet aja [kartu ATM uda dimasukin dompet]. Apa ga malu, tuh ATM ada di dalem gerai banknya, ga ada sekat apapun. Jadi kelakuan ga mannernya itu diliat banyak orang, terekam CCTV...gosh...bener-bener ga habis pikir

Sebaik apapun penampilan anda, semuanya ga akan ada artinya jika perilaku anda tidak mencerminkan kebaikan penampilan tadi. Semua yang membungkus anda itu hanya simbol, simbol itu bisa diartikan palsu kalo perilaku anda jauh dari nilai-nilai dari simbol yang anda usung. Plis deh pak, kita tuh orang Indonesia, orang Timur, saya spesifikkan lagi ya ...umat Islam, mbok ya perilakunya jangan kayak manusia jaman purba yang ga ngerti tata krama, ga ada adabnya. Semoga perilaku ga baik itu berubah suatu hari nanti dan jangan sampe tu perilaku buruk dicontoh orang lain. Amin   

Kenmochi chiemi

*picture’s taken from here 

Menunggu = Sabar

Hari ini kerjaan humas numpuk banget, aku ulangi NUMPUK BANGET. Dari pagi sampe sore, jadwal para pejabat yang harus kami "urus' sangat padat. Pontang-panting kami menyebar bagi-bagi tugas, pagi-pagi sudah rapat perubahan APBN, trus ada perpisahan untuk 3 pejabat yang pensiun, rapim, dan press conference Badan kebijakan Fiskal. pfuuh...

Sesuai schedule, aku hari ini melakukan koordinasi dengan stakeholder kami [sebuah media cetak] yang akan melakukan wawancara dengan Bapak sekretaris jenderal. Sejak dua minggu yang lalu aku sudah berkoordinasi dengan sekretaris pak setjen, dengan unit yang berkompeten dengan topik yang diangkat media tersebut dan melakukan analisis tentang kapasitas media tersebut. 

Dan finally didapat tanggal yang memungkinkan wawancara dilakukan yaitu selasa 26 Juli 2011. Tapi karena pak setjen ada rapim juga pendampingan menteri di DPR, wawancarapun di-reschedule hari ini. Dan disinilah tragedi ini terjadi. Pada waktu yang sudah disepakati, yaitu pukul 1 siang, pak setjen tiba-tiba meng-cancel wawancara. Meminta tim reporter diarahkan ke unit lain saja. Padahal tim reporter sudah stanby di ruangan humas, menunggu dari satu jam sebelum waktu yang disepakati.

Ya Tuhan, aku benar-benar ga habis pikir. Jadi pejabat itu emang segitu sibuknya ya? Antara capek, sebel, juga perasaan ga enak dengan dua orang reporter yang uda rapi jali nunggu hampir dua jam itu, aku pun melaporkan ini kepada atasanku. Atasanku sedikit marah padaku, tapi aku jelasin dengan detail kejadiannya dan alhamdulilah beliau mengerti dan berbalik ga nyalahin aku. 

Bukan karena atasan yang marah-marah yang membuatku sedih, tapi aku sedih melihat dua orang reporter tadi. Mereka reporter dari media sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Bukan tipe jurnalis yang suka asal, mereka sangat rapi, santun dan sabar banget nunggu. Aku pernah mengalami apa yang mereka alami, menunggu sesuatu yang ga jelas hingga akhirnya pun menyakitkan. Berulangkali aku meminta maaf pada bapak-bapak reporter tadi, dan memberikan solusi sesuai dengan arahan atasan yaitu mengganti wawancara dengan tanya jawab secara tertulis saja. Kembali aku yang ngurusin. 

Humas, PR, di sinilah sekarang aku nyemplung. Aku masih sangat dangkal tentang profesi ini. Harus banyak belajar lebih keras lagi...

ps: kepada bapak2 reporter, sekali lagi mohon maaf ya...

My Beloved "Funny" Sister

"Fit ,,, kata dokter Fany positif tumor," seru bundaku ditelepon kemarin sore. 

Sebuah berita yang sehari sebelumnya tak ingin kudengar. Hari Senin, bundaku mendapati adikku menangis di dalam kamar pagi-pagi. Ketika ditanya, dia menunjukkan ada sebuah benjolan di payudaranya yang terasa nyeri tiga hari belakangan. Bundaku panik, lantas segera meneleponku. Aku sedang mengamati aneka berita online di kantor ketika bunda menelpon.

Aku berusaha menenangkan bundaku, membantu mencari langkah-langkah yang tepat untuk memeriksakan adikku itu. Akhirnya malam harinya adikku dibawa ke dokter dan memang benjolan itu bukan benjolan biasa. Tumor payudara, sebuah penyakit yang akhir-akhir ini sering menghinggapi wanita bahkan yang belum menikah sekalipun. Adikku adalah seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di kota Malang, masih belum genap 21 tahun, bagaimana bisa penyakit ini ngendon dalam tubuhnya?

Aku berharap adikku mendapat penanganan medis yang terbaik. Jangan seperti aku dulu, yang operasi usus buntu aja kena malpraktek. RSD di kota kelahiranku sangat tidak bisa diandalkan apalagi untuk penyakit seperti ini. Keluarga kami berencana membawa adikku ke Rumah Sakit Surabaya. Alatnya jauh lebih lengkap dan modern. Aku hanya bisa berdoa, dan memberi dukungan pada bunda untuk tetep kalem. Adikku butuh bunda yang kuat untuk bersandar.

Pada Fany adikku, sampai sekarang aku masih belum tega untuk berbicara. Kami biasanya kalo bercanda suka ga jelas, topik bisa melebar kemana-mana...pokoknya lucu banget hahaha, jadi aku ngerasa aneh aja kalo dengerin dia nangis. Aku takut ikutan nangis, so aku putuskan untuk ngobrol beberapa hari lagi setelah dia agak tenang. Sabar ya adikku sayang, kita akan berusaha, berikhtiar yang terbaik untukmu. Semakin mendekat ke Allah ya...hanya Dia yang Maha Kuat, Maha Penyembuh dari segala penyakit.

Ya Rabb, please cure my sister ...

It's my cosmos, how's yours?

"Coba tebak, siapa yang mengejar, menyerah untuk ditangkap, tapi dilepas tanpa diberi pegangan, dihempaskan ke dalam lumpur??" *

Metafora yang bagus sekali untuk menggambarkan kehancuran fatal dari sebuah kepercayaan. Manusia memang aneh, ketika dia kesepian, terluka dan minta disembuhkan, begitu ada sang penyelamat seakan si pahlawan itu adalah Tuhan yang bisa dengan satu "kun" saja bisa memenuhi semua permintaan sang penderita. Padahal wujudnya juga masih sama, yaitu manusia biasa yang punya keterbatasan, yang punya perasaan tetapi mau berjuang.

Ada banyak kisah yang tak sempurna, retak dimana-mana, juga hancur berkeping tak bersisa. That's life, mate. Dalam kosmos masing-masing dari kita akan ada banyak puzzle yang berwarna gelap, remang dan muram. Tak perlulah dibuang, letakkan saja puzzle-puzzle pesakitan itu sebagai penanda, sebagai pinggiran atau sebagai ujung dari pola yang ingin kau bentuk. Biarkan dia di sana untuk mengingatkanmu kelak bahwa kau tumbuh tak hanya dari suka, canda, dan tawa saja tetapi juga dari tumpukan luka, jatuh dan air mata. Dengan begitu kau, aku dan kita semua akan mahfum bahwa manusia memang harus terus berputar, berproses, berotasi sesuai dengan kehendakNya. 

Nikmati saja rotasi ini, biarkan mencair pelan dan menguap direnggut si raja waktu. Suatu hari nanti kita akan melihat rangkaian puzzle dalam kosmos kita dengan sedikit senyum atau bahkan ledakan tawa membahana, menertawakan betapa lucunya kita dulu, betapa buruknya rupa kita, hingga terguling-guling di lantai. Kita akan saling menertawakan satu sama lain dan berseru:

"Kawan, ini kosmosku ... bagaimana dengan kosmosmu??"


~Kenmochi Chiemi~
*mengutip dari curahan hati  penuh energi seorang yang berjiwa besar
 

Keep on Floating

I don't wanna miss even one song to dance on the floor
coz' I enjoy dancing with you
So let's dance all the night
Shut your eyes
And feel the chemicals collide spreading in the air
If you could see it
the color is blue, sparkling around us

I got a couple of problems
A thousand puzzles running through my head
But I think that you could solve them
You're always just one step ahead
I've had a couple heartbreaks
But you're telling me that it's alright
'Cause all the others were mistakes
Just mistakes to throw away

Your finger pointed above
Asking me to follow the point
The sky is exploding
and you invite me to keep on floating
enjoying the glory of universe
and the wink of the brightest star
arising slowly in our heart

~Kenmochi Chiemi~

for my brother AWT, I know you can be tougher than before. You are my strong brother, right? Be strong bro, coz u deserve the best one.
 

Kekeringan Lokal

Aku uda pernah curhat ini di akun facebookku, tapi ga detil sih. Jadi daripada nganggur, let me write it down here mate.

Kosanku terletak di pusat kota, boleh dibilang begitu, daerah yang padat percampuran antara perumahan, pertokoan, pertigaan, perempatan, per...pokoknya gitu deh. Sebelah barat kosku ada stasiun kecil bernama Juanda, Sebelah Utara  ada Pasar Modern yang uda ada dari jaman Belanda disebut Pasar Baroe, sebelah Timur sekitar 10 menit ada stasiun Senen dan Selatannya ada Masjid Istiqlal. Kosan ini sebenarnya sebuah ruko tiga lantai yang akhirnya diset sedemikian rupa menjadi rumah kos yang masing-masing lantai ada 5 kamar. 

Letaknya yang strategis dan dekat dari kantor membuatku betah. Delapan bulan yang lalu setelah melakukan pemberkasan di gedung Ditjen Bea Cukai, aku langsung hunting kos-kosan. I have no idea of this area. Jakarta Pusat, yang aku tau Jakarta tuh ya cuma monas atau paling-paling istana negara. Maka setelah survei kantor tempat aku kerja nanti, akupun nekat jalan kaki menyusuri gang demi gang, tanya kanan kiri, nyasar-nyasar ga jelas, sampai akhirnya menemukan kos-kosan ini. Harganya lumayan murah untuk kelasnya, Rp. 500.000. Eits...jangan dibandingin dengan harga kosan di Jogja, jauuuuh.... dua bulan pertama aku jalan kaki dari kos ke kantor. It took 15-20 minutes only on foot. Rutenya, keluar dari gang, ke jalan besar, nyebrang, trus menyusuri trotoar Istiqlal, nyebrang lagi ke Lapangan Banteng, masuk ke lapangan banteng, dan voilaa!! nyampe kantorku deh. So simple, ga pake macet-macetan deh.

Mendengar keluhan dari temen-temen yang selalu terimbas macet baik berangkat maupun pulang kerja, aku tentu sangat bersyukur tinggal di kosku yang sekarang, dan tambah lagi aku sekarang uda naik motor, jadi perjalanan bisa cuma 7-10 menit aja [kadang kalo lagi kalap/kumat ngebutnya bisa nyampe 5 menit aja]. 

Well, itu kelebihannya sodara-sodara. Lets move to the shortage of my lovely boarding house. Kamarku ada di lantai tiga, nomer dua dari depan. Bangunan kosku ini di bagian Timurnya ga ada yang menghalangi dari sinar matahari. It means the wall absorb the sunlight maximally during the day. Jadi kalo pulang kerja, nyentuh tembok, temboknya terasa hangat mendekati panas. Akibatnya, kamarku uda kayak oven raksasa yang bahkan kalo kamu duduk 5 menit aja bakal ngeluarin keringat kayak lagi sauna. Hawa panas ini akan bertahan sampe pagi menjelang. Aku ulangi SAMPE PAGI, so salah satu faktor yang memperparah insomniaku adalah si oven raksasa ini.

Kekurangan selanjutnya baru aku rasain hari Kamis dan Jumat kemarin. Kosan ini ga pake PAM, jadi air yang kami pake sehari-hari berasal dari sumur bor, ga tanggung-tanggung ada dua sumur yang ditanam/digali tepat di teras depan (tentu aja ditutup). Dan di hari yang naas itu kedua sumur tersebut kering. Maka, tanpa babibu lagi aku pun berinisiatif mandi di kantorku tercinta. Kantorku memang asyik, di setiap lantai ada kamar mandi yang modern, ada toilet duduk, jongkok [untung ga ada tolet kayang juga hahaha] dan shower untuk mandi juga beberapa wastafel dengan kaca segede gaban untuk narsis ampe mampus. Jadi dengan riang gembira pun aku mandi disana, tentu datang ke kantornya pagi banget, jam 6. OBnya aja baru datang jam 6.15...hebat pisan deh akyuu...

Kalo artis aji mumpung, aku juga ga mo kalah donk aji mumpungnya. Mumpung ada fasilitas, ga cuma mandi, tapi aku juga keramas...sebenernya mo sekalian nyuci juga hahahahaha. Maka jadilah dua pagi berturut-turut aku mandi di kantor, jadi bahan tertawaan teman sekantor karena biasanya yang suka mandi kantor tuh para cowok ato paling ga hari Jumat setelah olah raga bersama. Jadi inget masa-masa mandi di UKM Silat UGM dulu... habis latihan mandi trus ngangkring. Apakah aku malu? Big NO, daripada kagak mandi coba? 

Alhamdulillah, setelah dibor lebih dalem lagi, akhirnya air sumurnya uda keluar. Semalem, Jakarta juga habis diguyur hujan yang lumayan deras. Semoga air bisa meresap ke dalam lapisan tanah dengan baik. This is Jakarta, the capital city of INDONESIA where anyone can live and make living here. People has to survive against the environment damage. I do have a dream that someday the capital city will be relocated to a healthier place. Jakarta sudah sekarat luar dalem sekarang...bener-bener s e k a r a t.

K e t i k a

Disela detik-detik diamku
Kadang aku ingin kau berbisik
"Bangkitlah di segala cuaca"

Dalam hening lamunku
Ingin kudapati engkau duduk disampingku
Lalu berkata..
"Tak akan ada samudra diantara kita"

Dan ketika aku diam di sudut gelap nan muram
Ingin kumelihatmu mengulurkan tangan
Seraya berucap..
"Jangan takut, aku disini. Semua akan baik-baik saja"

~Kenmochi Chiemi~

renungan untuk saudaraku

Saudaraku, renungkanlah ini
Ada orang yang tak perlu bersusah payah dan bersimbah darah serta air mata untuk mencapai tujuannya. Mereka kita sebut sebagai orang-orang yang beruntung. Membuat hati menjadi iri dan bertanya-tanya, bagaimana bisa?

Segala sesuatu di dunia ini selalu berpasangan, maka lihatlah,,, ada pula mereka yang harus jungkir balik, mempertaruhkan segalanya, untuk menggapai mimpinya. Tak jarang mereka jatuh dalam kegagalan, lagi dan lagi... Kita jadi berfikir, betapa tidak adilnya ini..

Tapi hanya satu yang membedakan mereka dengan orang-orang yang beruntung, yakni kegigihan dan kepandaian meredam emosi yang meluap-luap. Mereka yang sukses dengan kerja kerasnya selalu berusaha untuk seimbang. Emosi dan logika berjalan beriringan tanpa bersentuhan, seperti rel kereta api yang membentang tak pernah bersinggungan.

Hidup itu perlu emosi dan logika saudaraku. Maka marilah kita mencoba mengimbangkannya. Tak perlu terlalu imbang di titik tengah tapi yang utama adalah logika selalu beriringan dengan emosi.

Yuk kita bersama-sama untuk hidup seimbang dalam hal apapun. Renungkan segalanya dengan seimbang, maka kamu akan punya kekuatan untuk membuat langkah ke depan dengan mantab dan jauh dari serpihan ragu. Lihatlah segalanya lebih dewasa, lebih bijak dan lebih logis lagi.

Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi di depan saudaraku... pikirkanlah segalanya sampai tanak dan lunak. I'm here to support u whenever you need my back up.

to my brother in his confusion...
Ini salam perpisahanku untukmu. Sedalam apapun rasa,pada akhirnya juga harus berujung, terpaksa dan dipaksa berhenti sampai di sini. Aku, sekali lagi terlalu dalam menyimpan ini untukmu. Terlalu dalam sampai tak mampu disimpan lagi. Cinta adalah interaksi antara aku dan kamu. Tak mungkin akan tercipta sempurna jika hanya ada aku saja atau kamu saja. Aku memilih menjadi tuna netra meski mataku baik-baik saja. Rasa ini membuatku menjadi orang yang seharusnya memilih obat merah bukannya air garam untuk mengobati luka.

Kalo boleh aku akan simpan ini sendiri, melindunginya dari terpaan angin, deraan hujan. Kuanggap kamu tak pernah ada setapakpun dalam hidupku, begitu juga aku, aku akan pergi seterusnya dari bagian hidupmu. Kupikir kamu takkan merasakan perbedaan dan perubahan apapun sepeninggalku. Karena aku memang tak pernah ada. Tak pernah ADA.

Begitu banyak yang aku ingin bicarakan denganmu, banyak yang ingin aku bagi bersamamu. Banyak sekali. Tapi mungkin ini memang sudah saatnya.

Selamat tinggal matahariku, bersinarlah, berpendarlah selalu untuk semesta.

Air kehidupan akan terus mengalir. Dan aku senang menjadi setetes air yang menguap hilang tanpa jejak.

Satu kehormatan yang terlalu besar untuk bisa mencintai seperti ini..

*Sebuah surat lama, antik dan hampir tekoyak terlipat sekedarnya di dalam laci rumah berhantu

maboy


Ada sebuah cermin yang teronggok sendirian di tengah aula berbentuk oval. Cermin itu nampak usang, berpinggiran emas, ukirannya berlekuk indah. Tingginya sekitar dua meter, lebarnya satu setengah meter, cukup untuk memandang seluruh ragamu.

Tak ada penerangan yang menyorot cemin itu, hanya seberkas sinar dari atap aula yang terbuat dari kubah kaca. Sinar yang hanya mampu digantikan oleh sang surya: rembulan. Remangnya cahaya rembulan yang jatuh tepat di permukaan cermin itu menimbulkan efek puitis cermin. Cermin itu terlihat berkilau diantara gelap, meski debu menutupinya tipis-tipis. 

Seorang malaikat bersayap patah sebelah sedang berdiri termangu didepan cermin itu. Sayapnya terluka dan berdarah ... keperakan. Dipandanginya pantulan dirinya satu per satu, dia seperti mencari sesuatu...sesuatu yang lama ia pertanyakan dan perdebatkan dengan nuraninya sendiri. 

Sepasang kakinya kokoh, tubuhnya menjulang sempurna, bahunya kekar, tangannya liat, semuanya tampak tak bercela. Hanya sebelah sayapnya saja yang baru saja patah, tak seluruhnya tapi cukup kentara terlihat dari kejauhan ... timpang. Lalu dia bertanya pada bayangannya " Seandainya aku tak menerima Keangungan cintaMU kepadaku, apa yang akan terjadi kepadaku?? " 

Dia menunduk, mencengkeram angin kemudian sekali lagi berkata "Seratus kehidupan telah aku lalui, aku ingin menjadi yang berbeda. Aku ingin mencicipi kesalahan sedikit saja, sekali saja."

Cermin, ukirannya indah, berkilau dan bermandi cahaya bulan, diam membisu menjadi saksi mati si malaikat yang sedang tersapu badai hatinya. Yang sedang meratapi dirinya, dengan mencoba menjadi sosok lain. Yang tak percaya bahwa dirinya sungguh istimewa. Cermin, memandang malaikat yang kini berlutut dan tertunduk dalam, tak lagi berani menatap bayangannya sendiri di hadapannya. Sepertinya dia mulai menitikkan air mata, memeluk lututnya di bawah sinar rembulan malam yang senyap. 

Andai saja cermin mampu berkata, maka dia akan mengeluarkan suara "Wahai malaikat tangguh, tak seharusnya kau bertindak bodoh dan putus asa dengan melukai dirimu sendiri. Lihattak sadarkah dirimu bahwa dirimu sudah sangat luar biasa dan berbeda. Kamu istimewa. Janganlah kau racuni dirimu. Berdamailah dengan semua kepedihan, tantanglah semua nasibmu di depan."

surat tak bertujuan

Kepada siapapun di sana,apapun kamu,,,

Saya punya permintaan,
1. Bolehkah saya minta satu keajaiban secara cuma-cuma?
2. Tolong mudahkan langkah saya untuk mengumpulkan semua kekuatan saya.
3. Saya ingin dikenang sebagai saya yang seperti ini.tanpa embel2 apapun. Saya yang minimalis.

Terima kasih. Saya sudah tidak ingin apa-apa lagi.

Best regards,
Kenmochi chiemi

Rafting [Arung Jeram]

Edisi fun


Setelah puas dengan permainan paintball, maka rombongan kami bergerak meninggalkan hotel menuju Citarik, Sukabumi. Tujuannya? Rafting atau biasa disebut arung jeram. Dari hotel [Bogor] ke Sukabumi cukup memakan waktu yang lumayan. Kurang lebih tiga jam, karena jalanan yang macet. Weekend gitu...

Hal yang ga mengenakkan pun terjadi, supir kantorku tu entah mabok ato senewen, bawa mobilnya rock and roll. nginjek gas sama rem kayak nginjek kecoa. Asli kasar abiss. Alhasil perutku mual, bukan karena macet ato jalan yang berkelok2. Kalo uda kayak gitu, pertolongan pertama [dari diri sendiri] adalah dengan memuntahkan isi perut. Karena kalo dibiarin justru malah tambah bikin pusing. Mobil kami dan dua bus lainnya berhenti di pom bensin. Thanks God, then  I thrown all my digested food out. Lega, abis itu beli sprit, jurus pamungkas.

Setelah menempuh perjalanan yang berkelaok-kelok akhirnya kami sampai juga di kawasan arung jeram Citarik, Sukabumi. Makan siang plus shalat, trus langsung deh nyemplung. Rafting atau arung jeram merupakan olah raga air yang sangat fun. Bermain-main dengan arus yang kadang tenang kadang deras, nabrak batu bahkan perahu flip [terbalik]. Ga perlu takut kalo ga bisa renang, soalnya setiap orang diwajibkan memakai pelampung. Setiap perahu karet juga ada pemandunya. Jadi just having fun-lah pokoke.

46 orang dibagi dalam 11 kelompok. Satu kelompok berisi 4-5 orang plus pemandu.And this is it!! Meluncurlah perahu karet kami, setiap ngelewati arus yang rada ekstrim, maka aku dengan tiada sungkan secuilpun teriak-teriak, ngakak-ngakak heboh. Belum pas di beberapa spot, ada petugas EO yang sengaja ambil foto kita-kita. Mas pemandunya pun ngasih aba-aba "See the cam and pooooseeee!!! Jiaah...kami nyengir dengan berbagai gaya. Yang dayung diangkatlah, kaki diangkat, piss, atau berlagak mo bunuh diri hakakakak. Seru abiss.

Kami memilih jarak tempuh terpendek yaitu 5 km, selama 1 jam. Jarak terjauh tuh 19 km selama 4 jam, lebih asyik tuh. Ada di sebuah area yang paling dalam dan paling tenang arusnya. Kita diminta nyemplung "dengan hormat" disana..aku bilang dengan hormat karena beberapa perahu lain yang dalemnya cowok semua malah dibalikin perahunya sama mas pemandunya... mas pemandunya kasihan kali yee, ma kita2 yang kece ini. Baru kali itu aku pake pelampung. well, ternyata enak juga pake pelampung, beneran bisa ngapung men [menurut looo??].

Setelah 5 menit berenang kesana kemari, perjalanan dilanjutin, 10 menit kemudian kami nyampe finish. Di Finish uda menunggu bapak-bapak yang ngasih kita satu biji kelapa muda. Hmm...asyik banget menikmati kelapa muda sambil ketawa ketiwi sama temen-temen berbagi pengalaman barusan. Ada yang ngejengkang di perahu, ada yang kelempar keluar perahu, ada yang celananya sampe robek...pokoknya macem2 deh. Sore itu meski lelah, ga ada yang ga senyum. Everybody's smiling.

Kelapa muda abis, kita diangkut pake mobil pick up untuk kembali ke start. ternyata jauh juga...one day, kita janjian untuk rafting lagi. Rame-rame, bergokil ria, basah-basahan sambil nantang arus...ketemu biawak yang nangkring di atas batu dan...teriak sekencengnya biar beban menguap ga berbekas. Seketika aku jatuh cinta dengan olah raga ini...I'm in love babe....

My First Paintball

Edisi fun
 
Jumat-Sabtu kemarin aku ikutan otbon yang diadain oleh bagian unit kerjaku. Ni acara diperuntukkan bagi wartawan ekonomi yang biasanya mangkal di kemenkeu. Kami berangkat dari kantor jam 5 sore, nginep di Bogor karena acara seminar oleh PIP untuk wartawan diadakan di hotel tsb dan keesokan harinya dilanjutin rafting/ arung jeram di Citarik Sukabumi.


Pagi-pagi, hari Sabtu, kami sarapan. Kemudian dilanjutkan dengan game yang pertama yaitu Paintball. Dari namanya kayaknya lucu ya, paint=cat, ball=bola. Jadi permainan ini adalah perang-perangan menggunakan senapan dengan peluru berbentuk bola berisi cat. Meski "cuma" cat, tapi kalo kena tembak rasanya seperti ditusuk ciiin...sakit. Permainan yang cuma aku tau dari infotainment, gara2 tuh acara nampilin seleb yang hobi main begituan, juga program tv yang fenomenal Be A Man ini ternyata seru juga. Jadi dalam satu tim ada 8 orang. satu orang bakal jadi presiden. Nah, tugas yang 7 orang lainnya adalah melindungi presiden supaya ga tertembak. Sekali presiden tertembak, maka tim tersebut dinyatakan kalah. Jika yang tertembak si rakyat, maka presiden cukup menyentuh, menepuk rakyat tersebut, maka si rakyat bakal idup lagi.

Sebelum peperangan dimulai ...
meski kalah tetep senyum ciin...

Maka "perang" pun dimulai.... dari markas kita berpencar dan berlindung dibalik sebuah tameng. Seruu abis, ada yang kena tembak di lengan, kaki, dada, muka dan kepala. Kaki setengah badan ke atas sudah berpelindung. Cuma yang repot kalo kena bagian bawah badan seperti kaki dll. Sakitnya ga ketulungan. Timku kalah dooonk..hahaha tapi sensasi perang dan tembak-menembak itu yang bikin gokil. Kalah atau menang mah ga masalah.

Kalo ada paintball lagi, aku mo ikutan aahhh...lumayan bisa ngelampiasin stress dg membabi buta secara sah hahahahahaha

Sindrom Pensiun

Edisi Curhat
 
Aku dapet curhatan lagi ... menarik. Sebelumnya aku sangat bersyukur ini tidak terjadi padaku, tapi pada orang lain. Semoga aku tidak pernah ngalamin ini. Amin

Temenku, sebut saja si Joko, ini punya atasan yang dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki masa pensiun. Joko bertugas sebagai jurnalis instansi kami. Jadi dia kerjanya udah kayak belalang tempur gitu, menclok sana, menclok sini. Pagi dimana, sore dimana [dimana donk???]. Nah, dalam sistem dan aturan kerjanya, setiap melakukan tugas peliputan dalam dan luar kota akan selalu ada uang transport. Somehow, awal-awal dia memang mendapatkan uang transport itu. Tapi beberapa bulan terakhir dia sama sekali ga mendapatkan haknya. So, sering dia pake uang sendiri untuk naik taksi atau nebeng siapa gitu. Yaa..kalo sekali si ga papa n ga seberapa kali ya, nah kalo saban hari kan bisa jebol juga kantong. 

Nah, anehnya, si ibu atasan Joko ini punya kebiasaan janggal. Setiap uang perjalanan dinas cair, dia bakal ambil tu uang, trus dia potong sesukanya, baru deh dikasih ke anak buah. Bahkan lebih ekstrim, kadang dia ambil semuanya. Sebagai bawahan yang masih baru masuk, baru beradaptasi, tentung Joko ga tau apa-apa dan meskipun tau, dia juga ga bisa berbuat apa-apa.

Apakah ini sindrom pensiun? mungkin saja, karena si ibu atasan ini juga gemar nyempilin diri ke kegiatan unit lain yang sama sekali bukan areanya. Aji mumpung, mumpung jadi atasan, mumpung masih bisa jalan-jalan ke luar atas nama tugas/ dinas. Padahal, doi juga cm ikut-ikutan doang. Lha iyalah, kalo tugas liputan, yang ngeliput kan pasti anak buah. Atasan cuma nonton doank.

Si ibu ini boleh dibilang sedang galau. kayaknya belum ikhlas kalo mo pensiun. Tapi apa iya sindrom ini bakal jadi menakutkan dan berdampak pada yang masih "waras"?

bersambung soalnya mo berangkat ke citarik nih...

[update] Oke aku lanjutin, informasi yang aku dapet si ibu atasan Joko bakal pensiun per 1 Agustus ini..hoolooh..pantesan aja doi getol banget pingin ikut ke Bogor and Citarik kemarin. Padahal disana doi cuma duduk-duduk aja, trus cuma setengah hari. Aneh banget, surat tugasnya ga setengah hari kan. tapi dua hari! Aku prihatin sama si Joko, sebagai sesama pegawai baru..tentunya kita punya semacam ikatan bathin gitu dengan teman.

Mencoba menganalisa, apakah orang yang bakal pensiun itu demikian? Sikapnya jadi lebay, alay trus sadis. Yang dulunya kayak robot, tiba-tiba akan mangkrak dari keteraturan. Perlu konsultasikah para nearly pension/retired worker ini? Sederet sikap yang extraordinary tadi malah dianggap sebuah kewajaran. Meskipun banyak pihak yang tersakiti, terampas hak-haknya. Yup, harusnya memang ada program konsultasi ke seorang psikolog atau psikiater sekalian buat mereka yang mo pensiun. Hal ini untuk menghindarkan adanya perubahan sikap yang esktrim sesaat menjelang pensiun dan setelah pensiun.

To Joko, my men, sabar yo fren...counting down aja and semoga penggantinya jauuuuuuuh lebih baik. Amin

Seni menjadi editor [abal-abal]

Edisi wow
 
Suatu hari seorang senior yang meja kerjanya deket ma mejaku memanggil. "Fit, lagi banyak kerjaan ga?" Aku cuek, bukan karena sombong or jual mahal tapi memang beneran kagak denger. Aku lagi menikmati What The Hell-nya Avril Lavigne pake headset. Jadi suara sayup-sayup dangdut doi kalah jauh sama suaranya mbak Avril yang hingar-bingar mengancam memecahkan gendang telinga.

Sadar aku ga bereaksi malah manggut-manggut ga jelas, akhirnya si Komar [nama sengaja disamarkan untuk menghindari permintaan tanda tangan mendadak] nyolek bahuku. Aku …"What the heelll…!!!" Latah kumat hahaha…. "Ada apa mas Komar?" Hehehe malu.

"Bisa minta tolong ga Fit, lagi sibuk ??" akhirnya Komar bersuara setelah lima detik kaget dengerin latahanku. "Owh…uda selesai kok mas kerjaanku. Bisa..bisa…emang mo ditolongin apa mas?" jawabku pasang muka serius [padahal biasanya muka laper].  Komar memberikan tiga lembar tulisan ukuran A4, font-nya Times New Roman 12, spasinya 1 ..tsaaah…lengkaap.

Jadi Komar ini punya bakat terpendam, dalam jiwanya hidup seorang penulis. Nah, sekarang-sekarang ini jin penulisnya itu lagi kumat. Dia mencoba menulis sebuah artikel tentang isu ekonomi yang lagi in, panas, meresahkan umat gitu deh. "Tolong bacain ini yah, kasih masukan, kritikan, koreksi dan pandangan kira-kira ini layak masuk koran Investor Daily ga? Satu lagi, ini sense-nya apa," Komar mengakhiri kalimatnya dengan senyum berharap and sok imut. "Hokeh…ta baca dulu ya mas."

Sesuai dengan request, aku baca tulisannya Komar dari paragraf pertama sampe terakhir, dari kiri ke kanan. Mencoba [dengan sangat keras, sekali lagi sangat KERAS] memahami beberapa istilah yang sama asingnya dengan bakteri yang ada di ususku, secara aku kan anak sastra gitu. Kurang familiar sama istilah ekonomi [bilang aja bego].  Kasih masukan berupa koreksi, pemilihan kata, tanda baca dll. Dan yang terakhir, mengambil kesimpulan, nih artikel tone-nya apa. Beres, cuci kaki trus bobo siang deh…hahahaha ga lah, sekitar 26 menitan lebih 12 detik, aku colek bahu Komar [gantian nih ceritanya…hihihi]. "Mas Komar…uda selese nih.."

"Gimana-gimana..." kata Komar. "Jadi aku uda kasih beberapa koreksi, ga banyak sih kayak beberapa singkatan yang sebaiknya diurai karena ga semua orang tau ntu singkatan sama beberapa pemilihan kata aja. Overall bagus, tone-nya juga positif dan netral. Ga memihak pemerintah atau non pemerintah. SIP, aman terkendali!! Layak muat menurut saya hehehe. Gud lak yaa..”

Dan Komar pun mengirimkan tulisannya, bisa ditebak…dimuat 2 hari kemudian [karena memang menurutku tulisannya bagus]. "Fitaaa....tulisan gue dimuat di Investor Daily... " begitu serunya sambil ngacung-ngacungin koran. Norak sih tapi dengan mengesampingkan itu semua ... seneeeng banget ngelihatnya [ngacungin dua jempol untuknya sambil nyengir]. Di kantorku setiap pagi selalu numpuk berbagai macam koran dari dalam negeri sampe luar negeri untuk dibaca. Tulisan Komar terpampang di Koran Investor Daily dengan muka tembemnya di tengah-tengah tulisan [baca: foto]. Keren abiss.

Sejak saat itu, aku menjadi editor jadi-jadiannya Komar. Kemarin tulisannya dimuat lagi dan itu tulisan ketiganya bulan ini. Nominal yang didapetin juga sepertinya lumayan, lebih dari gaji pokok kita hahahaha. Hal positif yang aku dapetin dari Komar selain menjadi editor abal-abalnya adalah aku jadi kecipratan semangat dan memberi semangat buat Komar juga diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang digemari. Apapun itu, baik yang menghasilkan atau "tidak", kepuasan bathin sudah menjadi reward yang akan didapatkan. Dijamin!. Terima Kasih teman kerjaku, seniorku, uda ngajarin aku pengalaman yang luar biasa. Gokiil…

Apartemen for Rakyat

Edisi Wow
 
Seorang teman membawa selebaran [promo] apartemen dengan judul di atas. Kalo jaman pak Habibie jadi presiden, namanya apartemen bersubsidi. Apartemen dengan harga yang [katanya] jauh lebih murah di kelasnya. Temenku tadi baru menikah, jadi sekarang dia lebih "serius dan fokus" dalam menata hidup termasuk keuangan.

Maka jadilah doi rajin ngumpulin brosur-brosur rumah, apartemen atau sekedar browsing di dunia maya demi mendapatkan rumah idaman. Jakarta, sekali Jakarta. Kota sejuta kesemrawutan dunia ada di sini. Bahkan untuk membeli sebuah rumah mungil aja [disini] membutuhkan waktu seumur hidup bagi pegawai pemerintah macam kami. Rumah mini yang keadaannya uda kayak wahana rumah hantu aja harganya bisa sampe 750 juta. Bisa bayangin rupa uang sebanyak itu bro? Bisa buat mandi kali tu duit.

Alhasil, para kaum menengah lebih memilih [dengan terpaksa If I may add] hunian di daerah sub urban macam Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Termasuk kami-kami ini [nantinya], tapi aku jadi agak tertarik dengan Apartemen for Rakyat tadi. Selain yang letaknya di tengah kota yang tentu agak deketlah sama kantor, harganya juga lumayan. Untuk yang tipe satu Bedroom harganya 220-an juta, 2 bed room 240-an juta. Aku sampe cengo', mlongo abis liat digitnya…garuk-garuk tanah saking stress-nya mikir dari mane dapet duit segitu banyaknya yak?? >0< [tiba-tiba terdengar backsound "Andai ku Gayus Tambunaaan…. :p]

DP nya aja masing-masing 64 juta dan 70 juta, belum cicilannya per bulan yang 1,6 juta and 1,75 juta [selama 15 tahun!!]. Pikir  aja, dengan nominal segitu, kita bisa bangun rumah model sinetron kan di kampung? Aaarghh… bikin mules perut nih. Aku jadi ikut-ikutan mikir akhirnya, ikut-ikutan sibuk berkalkulasi gaji, tunjangan, utang, impian, de el el. Kok jadi ribet sendiri ya??

Kalo boleh request ni buat presiden 2014-2019 [semoga aja Ibu Sri Mulyani yang jadi hehehe], dibanyakin lagi donk apartemen for rakyatnya di Jakarta…tapi jangan mehong-mehong yak [baca:mahal bikin mo bunuh diri]. Biar kita-kita yang "terpaksa" bermukim di Jakarta kota sejuta kesemrawutan ini bisa bernafas lega. Bisa tercukupi kebutuhan papan [rumah]nya. Masa iya kerjanya di Jakpus, rumahnya di Bogor. Jauh amat, kita-kita kan ga mau ni usia kita cuma habis di jalan. Ga menyaksikan matahari terbit dan matahari tenggelam, ooh betapa ruginya.... [alay]

Holoooh….berdoanya uda ampe bermuka melas kayak cinderella dianiaya kepada Allah SWT nih…eksekusinya?? Embohlah, sing penting happy walau di gubuk derita..halah…tambah ngelantur aku. Pokoknya gitu deh. Doa sejuta umat yang pastinya highly recommended to be approved nih hehehe [maksa!].

the last post

Edisi blue spark


Pagi yang sejuk dan segar, kamu keluar dan berdiri di balkon lantai tiga. Menyambut udara pagi, secercah sinar mentari dan tentu saja angin semilir peninggalan sang malam. Pagi ini kamu hanya ingin bercengkrama dengan angin dan berbagi cerita … tentang dia.

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia yang serupa racun, membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta sedemikian rupa. Dia, yang nyata sekaligus absurd. Dia …

Sebagian dari dirimu menginginkan dia hadir setiap saat desir rindu mengganggu. Tapi sebagian lagi menyesalkan sensasi magis yang hadir kala kalian bertemu dengan tak biasa. Betapa setetas air mata yang jatuh pun terhitung, tak ada yang sia-sia, segalanya pasti akan bermuara pada sebuah samudra yang tak berbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala.

Kalau saja kekuatan kosmik mampu berdiri stagnan di satu titik, maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang segenap keberadaannya hanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal yang lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya.

Tapi, hidup ini cair, semesta ini bergerak. Realitas berubah . Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita mengikuti arusNya yang jujur  tetapi penuh rahasia.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Karena sebenarnya cinta itu hidup, bukan sekedar maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Lepas saja.

Dia, yang tidak pernah sekalipun menyimpan gambarmu, pasti tidak tahu seperti apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok ditengah keramaian secara diam-diam tanpa terusik apapun. Dia, yang selalu kamu rindukan senyuman serta gelak candanya, pasti tidak pernah paham mengapa kamu bersedia mengulur waktu hanya untuk mendengarkannya berbagi kesah. Dia, yang tidak mungkin ada ketika kamu sangat butuh dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia. Dan kamu hanya mampu berbagi kesedihan itu dengan selembar kertas, dengan malam-malam yang pasrah digusur pagi, dengan temaram lampu yang sengaja kau padamkan. Dengan gelap yang dilumat sepi.

Ketika desir angin pagi membangunkanmu, masih saja kamu membatu tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Hatimu tak pernah beranjak dari meragu. Kamu, yang merasakan apa yang dia rasakan, yang mendamba untuk mengalami, yang akhirnya luruh dalam rengkuhan pagi berbalut angin dan sejuknya senyum magis. Dan kamu, yang selalu merebahkan diri pada pangkuan sepi, memberanikan diri untuk membeku dalam kobaran api, sendiri. Membingkai hari-harimu menjadi satir; menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak lucu.

~Kepada mereka yang masih akrab dengan insomnia dan kepada mereka yang masih setia dengan satir menawannya~

*thanks to Dee, you've reanimated the magical words on me, let's collaborate sist ahahaha ngawur.

Bocah

Edisi blue spark




Sore-sore ada suara gaduh anak-anak kampung bermain bola plastik. Asyik sekali tampaknya. Lapangan bola voli yg tak seberapa luas itu tak mengurangi keseruan oper mengoper bola. Riuh dengan tawa dan teriakan penuh ambisi mencetak gol.

Menonton bocah-bocah bersimbah keringat itu menjadi sebuah hiburan gratis khas kampung. Wajah-wajah lugu dan polos itu tak akan gampang ditemui lagi setelah mereka beranjak dewasa sepuluh atau lima belas tahun nanti.

Saat mereka dewasa nanti, masing-masing dari mereka diharuskan memiliki sikap yang dibuat seakan-akan karakter asli. Penuh kepura-puraan. Tak selepas dan sejujur saat ini. Kenapa? Entahlah, manusia dewasa memang aneh. Kejujuran lekat dengan keterasingan. Mungkin manusia dewasa tak sanggup terasing, masih ingin rame-rame seperti masa bocah dulu. Beruntunglah mereka, para manusia dewasa, yang tetap menghidupkan ruh masa kanak-kanaknya, tanpa harus melahirkan dengan paksa karakter-karakter murni tersebut.

Adzan maghrib menghentikan permainan seru itu. Mereka pun berbondong-bondong pulang dan berjanji untuk bermain lagi esok hari. Sore-sore di lapangan voli ini. Indahnya.

Di Sebuah Telaga

Edisi blue spark


Di sebuah telaga yang sejuk, kupilih sebuah batu yang letaknya dibawah pohon yang daunnya rimbun, teduh. Tak ada hal khusus yang aku lakukan di sana. Riak air yang tenang, udara yang segar serta kawanan kijang yang mampir sebentar untuk melepas dahaga menjadi alasan kenapa aku gemar membuang waktuku di sini.

Tapi kali ini, aku acuh pada mereka. Yang kubutuhkan hanya air bening yang menenggelamkan bebatuan ini. Kupandangi pantulan diriku di air yang nyaris tak bergerak itu. Itukah aku?

Sekelebat peristiwa bermunculan, satu per satu. Bayangan ilusi itu seperti nyata dan aku menikmatinya. Sampai di satu titik, aku terhenti lama. Tiba-tiba aku ingin menderita amnesia. Lupa pada semua yang pernah terlewati. Karena dengan begitu I wouldn't get the bleeding cut again. Cermin itu pun memburam, mataku tergenang oleh air...aku tak sanggup lagi menatap "cermin" itu. Tubuhku terguncang pelan.

Aku biarkan air ini jatuh bergabung dengan air telaga tanpa suara. Telaga ini telah membuatku tak dapat bersembunyi lagi dari perubahan dan gejolak hati. Telaga ini mengijinkanku untuk sejenak bercermin. Wajah ini terlihat merona kala disulut cinta, menangis saat bathin kehilangan kata dan cahaya, memerah saat dihinggapi amarah. Dia bersuara apa adanya..sesedehana itu. Tak perlu sembunyi-bunyi apalagi berpura-pura acuh saat peduli.

Sungguh, aku ingin amnesia saja.

untitled



Untuk pertama kalinya kita menapak kosmos yang sama bersama. Seberapa lama? Sayangnya cuma kamu yang tau jawabannya. Aku menggamit tanganmu untuk menyusuri jalan setapak dengan semak belukar setinggi lutut di kanan kirinya. Jalan ini seperti tak berujung, tapi kita tak pedulikan itu.

Wajahmu tak secerah dulu, redup dan sedikit tergambar semburat cemas. Kamu ...berbeda. Aku menunggu, menunggumu melimpahkan air bah di balik redupmu itu. Membiarkanmu menyandarkan beban sejenak yang mengalir deras seperti banjir bandang. Tumpah ruah.

Kita masih berjalan lambat-lambat di jalan setapak kala matahari kian tenggelam. Meninggalkan siluet senja bertabur awan-awan tipis menggantung enggan. Perlahan kulepas genggamanku. Aku tau kamu sudah akan pergi, lagi. Aku menatap punggungmu yang kian menjauh tanpa bergeser sedikitpun. Sampai kamu tak tampak lagi, menghilang bersama sang surya.

Aku tertegun. Gemuruh lautan emosi yang sedari tadi teredam sunyi tak dapat dibungkam lagi. Bulir-bulir air mata menjadi bahasa yang jelas menerjemahkan semua. Bukan pergimu yang kutangisi, tapi dirimulah yang merajam hati. Aku seperti baru saja menghabiskan beberapa saat dengan orang asing yang serupa denganmu. Siapakah kamu? Kenapa tak se-inci pun aku mengenalmu?

Rembulan menegurku, rupanya terlalu lama aku terpaku di situ. Kubalikkan badanku, melangkah cepat-cepat sambil berbisik pada angin "mungkin aku terlalu peduli". Celakanya, aku masih ingin menunggumu...kembali.

Misteri

Edisi blue spark



Misteri ini aku anggap usai. Terpecahkan di detik-detik yang tak kuharapkan. Berbicara denganmu mengundang sampah-sampah dihatiku muntah tanpa hambatan. Tapi siapa kamu? Hidup memang terkadang buta menentukan siapa yang layak dan tidak layak. Pantaskah manusia mengeluh atas kelayakan itu? Sebatas harapan yang selalu terhembus lemah setiap menutup mata dan sedetik setelah mata ini kembali terbuka keesokan harinya. Dan bahkan di tepian waktu ini aku tak berani lagi merangkai harapan seperti kemarin, kemarinnya lagi dan entah berapa kemarin. Karena aku sadari bahwa manusia selalu berevolusi, hidup ini tak pelak akan mengubah kanal alirannya jika memang sudah waktunya. Berjalan begitu terus tak dapat ditentang atau dipertanyakan.

Misteri ini aku anggap usai. Tak peduli sekuat apapun getaran ini akan mengusik kembali di masa yang masih abstrak. Selama hati kamu yang memanggil, aku bisa tahu siapa yang kamu maksud. Arus misterius ini memang sudah harus dibiarkan mengalir sesukanya. Berhenti menjadi hantu dalam dimensi yang tak tersentuh. Let it go, let it flow.

Perlukah pendamping dalam Zikir ?

Edisi curhat



Kemarin sore sebelum jam kantor usai, seorang teman bertanya padaku, "Bahaya nggak sih kalo kita berzikir tanpa ada pengawasan atau mentor?". Kuhentikan sejenak kegiatan ketik mengetikku di komputer dan beralih fokus ke temenku ini. "Maksudnya?" kataku. "Tadi gue bertemu Bapak-bapak gitu, negur gue kalo berzikir harus ada yang ngawasi. kalo ga bisa gila," begitu temenku curhat.

Topik ini jelaslah masuk ranah agama, dan aku sadar diri aku bukan ahli dalam bidang itu. Maka seperti biasa aku mencoba mengurai lagi "masalah" temenku tadi. "Trus efek omongan Bapak tadi ke kamu apa?" kataku. "Ya kan selama ini gue berusaha berzikir terus," jawabnya. Aku buru-buru menimpali, "Tujuan kamu zikir tu apa?". Kemudian temenku tadi mengaku kalo selama ini dia merasa tipe orang yang cepet panik dan kalut. Dia berharap dengan berzikir akan sedikit mengurangi sifatnya tadi, menjadi pribadi yang lebih tenang. 

Sekali lagi aku bertanya,"Tujuanmu udah bagus, trus masalahnya dimana?". Dia menjawab, "Kalo misalnya gue berzikir terus-terusan sampe ribuan kali gitu apa gue ga bakalan gila?". Oalah, ternyata itu masalahnya "takut".

Karena aku bukan ahli agama maka aku cuma ngasih pandangan dari sesama orang yang belajar agama. Aku bilang ke temenku ini bahwa zikir itu bisa diartikan macem-macem, ada yang ngartiin doa, terapi jiwa, alat untuk mempertajam intuisi dan konsentrasi, untuk pengobatan bahkan yang paling mengerikan [bagiku] untuk jimat. "Islam itu fleksibel", aku setuju banget dengan kutipan tadi. Islam itu ga ribet, manusianya aja yang bikin ribet. 

Semuanya bertunas dari niat, jika niat zikir itu untuk menenangkan gejolak emosi maka lakukanlah untuk itu. Pasrahkan pada Allah melalui zikir tadi karena hanya Dialah yang berkuasa untuk membuat kita up or down. Masalah ada orang yang gila karena zikir, menurut aku itu bukan zikirnya, tapi karena niat dan tujuannya bukan lagi pada Allah. Katanya ada orang yang berzikir sampe 1000 kali trus bisa melayang...hmm...sebaiknya kita belajar lagi soal meditasi dan berapa lapis alam yang akan terlewati dalam meditasi tersebut. Maka akan terjawab kenapa orang tersebut "merasa" tubuhnya melayang. 

Sekali lagi, aku bukan ahli agama. Tapi agama juga bisa dinalar dan dilogika dalam beberapa hal. Semoga pertukaran pendapat atas zikir tadi bisa membawa manfaat buat kami. Dan kalaulah ada kesalahan, semoga Yang Maha Tau akan segera memberikan pencerahan. Jadi perlukah pendamping dalam berzikir?? Biarkan urusan ini menjadi ranah diri anda dengan Dia semata saja.

*Hanya orang Gila yang menganggap banyak berzikir mengakibatkan Gila!

Begadang Bareng Kedai 1001 Mimpi

Edisi baca-baca 





Hanya butuh empat hari bagiku untuk menyelesaikan [membaca] 443 halaman novel anyar berjudul Kedai 1001 Mimpi karya Valiant Budi. Dari halaman pertama, aku sudah ga bisa lepas dari novel ini. Buku ini merupakan kisah nyata Vibi [panggilan Valiant] ketika dia nekad menjadi TKI ke Arab Saudi demi memenuhi ambisinya dalam menulis. Kevalidan data dan fakta memang jauh lebih membuahkan hasil daripada sekedar khayalan. Menurutku, si Vibi ni emang salah satu orang yang sedang sakit gila no 33. Masa kuliah dan lulus dari fakultas hukum tapi milih jadi barista [PSK=Peracik Susu Kopi :)] di Saudi cuma untuk nulis?? Sebagai catatan, si Vibi nih mengawali karier sebagai penyiar, lalu editor dan juga seorang penulis. Dia juga pernah menjadi web administrator dan creative director lho. Kurang apa coba? Dasar edan.

Di buku ini Vibi ceritain kisah nyatanya dari dia proses sebelum berangkat ke Saudi, ditempatin di kota Dammam, sampe akhirnya balik ke Jakarta. Berbagai culture shock bertubi-tubi dia alami. Tentang kelakuan orang Saudi yang betapa mereka sangat angkuh dan kebal hukum. Angkuh karena merasa orang Islam yang paling benar juga paling tinggi derajatnya dan kebal hukum karena bagi mereka yang patut dihukum tu cuma para pendatang. Peraturan seolah cuma dibuat untuk pendatang. [kam]preet!!! Dan yang paling miris lagi disini banyak sekali peristiwa yang mencerminkan bahwa segala kelakuan mereka gak berkelas dan jauh dari nilai Islam.

Sangat terasa sekali perbedaan budaya antara Indonesia dengan Arab. Menguap sudah gambaran orang Arab, yang katanya kerabat dekat Nabi Muhammad , sangat Islami, dan bermartabat itu. Ternyata kita memang harus memisahkan dengan tegas antara budaya dengan agama. Antara Saudi dan Islam sebagai entitas yang jauh berbeda. Yang paling kocak sekaligus bikin jijay bajaj adalah ternyata disana banyak homo ya ciin ...  rupanya kaum nabi Luth yang dulu uda ditenggelamkan di dasar laut mati masih aja beredar di masa kini...Hahahahaha....eh Astaghfirullah...

Bekerja sebagai barista yang gradenya lebih tinggi dikit dari PRT ternyata tidak menghindarkan si Vibi dari perlakuan diskriminatif dari partner maupun atasannya. Dia banyak cerita tentang kebobrokan sistem kerja kedai kopi internasional tempat dia kerja disana. Bayangin aja susu basi harus tetep dipake. Begitu pula gelas kertas dan tissue bekas pake dengan alasan perusahaan sedang dalam kesulitan. Padahal itu hanya akal-akalan aja demi mengejar bonus akhir tahun. Belum lagi ada pegawai yang suka nyelipin upil di muffin atau bahkan ngeludahin racikan kopi yang dibuatnya kalau ketemu pelanggan yang cerewet. Hiiiy!

Nah yang paling menarik di sini adalah tentang cerita-cerita ajaib para TKI kita di sana. As we know, TKI selalu dielu-elukan disini dengan jargon abadi "pahlawan devisa". Trus kalo ada kasus, selalu pemerintah yang disalahkan. Well, di buku ini kita bisa temuin fakta-fakta dan sisi lain tentang mereka. Memang banyak TKI kita yang mengalami berbagai penyiksaan dan pelecehan. Alasannya [menurutku] karena mindset orang Saudi masih lekat bahwa PRT=budak. Mereka merasa berhak melakukan apa aja terhadap budaknya. Secara, hukum hanya berlaku buat pendatang kan?

Vibi menggambarkan disini kalau budaya kekerasan itu sudah dialami orang Saudi sejak kanak-kanak. Ada anak kecil yang ditampar berkali-kali oleh bapaknya dengan alasan sepele di tempat umum. Remaja putri yang dibakar hidup-hidup karena ketahuan berfoto bersama pacarnya yang tuh foto bahkan ga ada mesra-mesranya lho. Yang paling ekstrim adalah kejadian kebakaran yang melanda sebuah sekolah putri. Karena panik, sebagian besar pelajar putri tersebut lupa memakai burkahnya. Tapi jahatnya, pemadam dan polisi setempat malah menyuruh mereka kembali ke ruangan [yang tengah terbakar] untuk mengambil kembali burkahnya. Alhasil, banyak yang meninggal sia-sia dalam kejadian tsb. Kekerasan didukung oleh keadaan alam yang keras itu kemudian membentuk karakter orang Saudi menjadi bar-bar begitu. Meski demikian ada juga karakter Arabian yang baik dalam cerita Vibi ini.  Eniwei, TKI kita juga gak semuanya baik-baik lho. Vibi menemukan beberapa profesi lain seperti homo komersial, penari tiang dan juga [maaf] PSK. 

Ada banyak ironi dan ketidakadilan yang diterima oleh saudara2 kita yang bekerja di sana, seperti orang Indonesia dianggap bodoh, ga bisa bahasa Inggris, ga mungkin nonton film barat atau nyanyi lagu barat juga gaptek. Bahkan derajat orang Indonesia masih di bawah orang Pinoy [sebutan untuk tenaga kerja dari Filipina]. Kalo ada masalah, misal terjadi kasus kehilangan atau kekerasan, maka mereka dengan seenaknya bisa memutarbalik fakta. Dan posisi orang Indonesia adalah paling lemah. Ga heran kalo banyak banget warga kita yang mengalami kekerasan lahir dan bathin. Kenapa? Akar dari semua itu adalah pendidikan. Mereka yang dengan sejuta mimpinya pergi ke Arab menjadi TKI sebagian besar kurang "siap tempur". 


Buku ini sukses dunia akhirat membuatku melek, ngakak plus mlongo [saking shock-nya]. Uniknya semua kejadian baik yang lucu, aneh maupun mengerikan itu dituturkan penulisnya dengan kocak, ringan dan positif [tidak menghujat apalagi menggurui]. Mungkin bahasa kerennya disebut 'comical' kali ya. Alurnya mengalir bebas dan celetukan/ceplosannya tu so natural. Kayak guyonan dengan sahabat dekat di warung kopi atau kantin kantor. Aku seperti melihat kejadian itu secara langsung, penggambarannya detil dan ga mengada-ngada.

Membaca novel ini seperti menikmati secangkir kopi, ada sensasi manis dan pahit secara bersamaan. All kinds of emotion is mixed up magically here. Setelah merampungkan halaman terakhir, aku sangat tersadarkan akan satu hal bahwa meskipun negara Indonesia kusut dan banyak masalah, tapi ga ada negara yang sesantun, berbudaya dan bermartabat selain Indonesia. Negara super majemuk ini masih ramah untuk ditinggali. Alhamdulillah.

*Buku ini highly recomended bagi kamu yang pingin berwawasan luas and ga terjebak dengan stereotip geje tentang TKI dan Arab Saudi. ga percaya? baca aja! :)

Sebuah curhatan ringan

Edisi wow

miss u all :D
 "Bundaaa Fitaaa....kangen"..sapaan khas nan manja seorang adik di organisasi silat sesaat setelah aku memasuki gelanggang olah raga kampus. Si pemilik suara tadi menghambur ke arahku, menjabat erat tanganku kemudian memelukku akrab. "piye kabare nduk??" cuma itu yang bisa aku ucapkan untuknya... Betapa tempat ini selalu membuatku ingin terus kembali. Mungkin sapaan akrab tadi salah satu penyebabnya. Setelah itu bergantian teman-teman menyalamiku, semua ramah, semua senang, semua tersenyum. Ah..tahulah aku penyebab rasa kangen ini, yaitu mereka semua, saudara2ku.

Sedang ada sebuah even di gelanggang, tapi ketika aku datang, pertandingan baru saja rampung. Digantikan oleh aktifitas latihan reguler yang agak khusus yaitu persiapan ujian kenaikan tingkat. Tak lepas mata ini memandang seragam putih-putih itu, tampak menyenangkan dan menggoda. Sayang sekali aku tidak membawa seragamku kala itu. Badanku meronta minta digerakkan, tapi apalah daya, masa iya latihan silat pake celana jins? Jadilah aku penonton setia di tepi arena melihat mereka semua latihan. Menakjubkan!

Ditengah-tengah sesi, seorang pelatih mendekatiku seraya berkata "tolong dicek donk gerakan seni tunggalnya dik Tathit, besok dia mo berangkat ke Surabaya." Si kecil yang kini telah beranjak dewasa itu tampak kurang bergairah. Aku mengangguk, "nanti setelah hening penutup" begitu ucapku. Setelah hening penutup, aku melangkah masuk hall, bergabung dengan Tathit. Jagoanku ini tampak berbeda, ada yang aneh dari setiap gerakannya.

Kemudian bersama Angga, pelatih Tathit yang sekarang, dan dua orang pelatih silat lainnya, kami pun melihat performa tathit. Di ujung hall sana tengah duduk kedua orang tua tathit, memantau. Maka mengalirlah gerakan demi gerakan seni tunggal. Performa pertama, kedua sampai ke enam, semuanya belum menunjukkan top performance. Aku bingung, kenapa banyak penurunan gerak, interval kacau, ekspresi nol dan power drop? Tathit bergerak sekenanya, raga itu seperti tak berjiwa. Kosong. Angga bukanlah pelatih ecek2, bahkan dia juga atlit propinsi DIY. Jadi jelas ini bukan karena pelatihnya.

Catatan waktu selalu jauh dibawah target, maka kami berdiskusi, mencari celah dan solusi. Aku dekati Tathit, dulu aku bisa memeluknya, bercanda rame ngobrol ngalor ngidul soal penggemar-penggemarnya di sekolah dan makan es krim. Tapi sekarang jadi agak canggung karena dia bukan anak-anak lagi. Aku ajak ngobrol, mengajaknya mengoreksi dirinya sendiri, mencari dimana letak kesalahan dan kekurangannya. Mengingatkannya lagi bahwa seni tunggal bukan hanya sekedar kerapihan teknik, tapi ada jiwa seni yang harus dimainkan disana. Bahwa di setiap gerak ada perpaduan seni dan serangan, dan bahwa betapa pentingnya ekspresi sebagai bentuk dari komunikasi pesilat dengan orang yang menontonnya. Seni tunggal butuh passion, dan itu yang sekarang tampaknya hilang dari Tathit. Kosong dan datar saja.

Kutanyakan pada Angga, apa penyebab "kelesuan" itu? Angga menggeleng tak tahu, "kadang dia bagus kadang juga acuh" begitu katanya. Maka aku berusaha mengulang metode jaman Tathit SD. Beberapa kali dalam gerak lambat (evaluasi), aku memberinya pujian ketika dia melakukan gerakan dengan benar, bertepuk tangan ketika dia berhasil memberi power dalam setiap gerakan menyerang, memberi ritme saat interval, dan mengacungkan jempol ketika dia melihat ke arahku dan pelatih lain tanda meminta persetujuan tentang gerakan yang dia tampilkan. Pokoknya aku jadi super berisik [padahal emang biasanya juga berisik hahaha]. Angga sesekali ikut menimpali dan mengoreksi [ikutan berisik], kami berdua berusaha memberikan latihan [terakhir]  terbaik untuknya. 

Penghargaan kecil dan "cerewet" tadi ternyata membuat performa terakhirnya (performa ke 7) menjadi jauh..jauuuh lebih baik. Dia seperti kembali dari negeri antah berantah. Mendekati sempurna. Aku dan Angga melongo sekaligus puas dengan penampilan itu. Maka tak sungkan-sungkan aku memeluknya dan mengacak rambutnya "ngunu lho le, keren..." begitu kalimat spontanku ketika dia selesai performa. Sebentuk senyum tampak jelas di wajah lelah itu, dia telah kembali.

Dari adik kecil yang beranjak ABG ini aku belajar sesuatu, bahwa betapa manusia memang membutuhkan sedikit sanjungan dan penghargaan atas usaha dan kerja kerasnya. Penghargaan itu seperti energi segar yang dapat menggerakkan kembali semangat untuk kemudian memaksimalkan kemampuan pada titik tertinggi.  siapapun orang itu memang butuh motivasi, penghargaan dan sanjungan yang sesuai dengan kadarnya. Ga peduli perempuan atau laki-laki. Bahkan anak kecil dan remaja pun butuh sanjungan, butuh diakui kemampuannya. 

Hhhh...perhatian, kasih sayang dan dukungan sekecil atom pun ternyata berdampak dahsyat dan luar biasa. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa hal sekecil itu bisa sangat berarti. Selamat berjuang adikku sayang, lakukan yang terbaik. Bahwa nanti menang atau kalah, you're always be the best!!


*for my little Thatit
[update] Tathit belum berhasil lolos dalam grup-nya. Tapi menurut Angga, dia tampil maksimal dan bagus sekali. Aku bangga.