Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Cukuplah



Tak seorangpun tau apa yang akan terjadi padanya satu detik ke depan.

Seorang teman dekat secara tiba-tiba menghubungiku di pagi-pagi buta. Menceritakan uneg-unegnya sambil berurai air mata. Berharap dapat mengurai tali temali yang terlanjur terajut keliru. Aku? cukup menjadi pendengar, pembaca dan tukang analisa rajutan keliru tadi. Membantunya mengulang rajutan dari awal. Hebat!

Seringkali aku mendapati seorang sahabat yang melemah karena himpitan masalah usang. Lirih menghamburkan luka-luka perihnya, berceloteh seperti anak kecil habis jatuh dari belajar sepeda. Minta diobati dan dibelikan permen untuk mengeringkan luka-luka tadi. Aku? Cukup menjadi seorang "ibu" jadi-jadian dan menyanggupi permintaannya; beberapa tetes obat merah dan sekeping lolipop.

Sore-sore, ada sahabat yang dulu pernah sedekat mata dengan alis tapi sekarang sejauh mata dengan telinga  mengirimkan pesan singkat. Bercerita betapa membingungkannya hidupnya. Secara kasat mata dia terlihat bahagia dan lengkap, tapi dia menuliskan kalimat demi kalimat seperti curhat pada sebuah buku diary yang jauh bertolak belakang dengan "penampakan kasat mata" tadi. Bertanya padaku tentang berbagai kemungkinan dan rencana yang aneh dan ga masuk nalar. Aku? Cukuplah menjadi penasehat yang berusaha memberi saran yang masuk akal dan aman untuknya. Karena sadar atau tidak, dia sedang menggenggam bara di kedua telapak tangannya. Terlalu lama menggigil kedinginan membuatnya nekad bermain bara sekedar untuk menghangatkan diri.

Pagi hari yang biasa, jantungku berdegup tak biasa. Degubannya tak beraturan seperti baru saja melihat hantu secara live. Kuteguk pelan susu coklat hangat seperti biasanya, menyalakan komputer di meja kerja seperti hari-hari sebelumnya, mengecek email, facebook dan berita online seperti biasa. Still, jantungku tidak mau diajak ke jalan yang benar [baca: normal]. Bukan, kupastikan ini bukan karena insomniaku. Aku pernah mengalami insomnia lebih buruk dari pada yang ini. Aku mulai panik, ada rasa khawatir yang menjalar pelan. Rasa itu kian membesar dan menjadi sebuah firasat, firasat buruk. Aku tak bisa pura-pura tenang lagi, aku mengetik pesan singkat ke beberapa orang terdekat dan tersayang, berharap mereka baik-baik saja. Tanganku mulai gemetaran, aku kedinginan dan ketakutan. 

Beberapa saat kemudian, ternyata mereka baik-baik saja, Alhamdulillah. Aku? Cukuplah menanti kehadiran si "tenang" yang berjalan anggun dan pelan. Menunggu sesuatu yg akan terjadi di depan. Pasrah.

*Pagi ini Jakarta nampak suram, sesuram perasaanku, winter hasn't come yet but i felt it already.

[updated] Sore dua jam sebelum jam pulang kantor, seorang teman memberitahukan sesuatu yang membuatku shocked. Jadi ini yang membuat perasaanku ga tenang dari pagi? Masih belum yakin apakah itu berita buruk ato baik, tapi sebagian temen kerja menilainya berita baik. Ok baiklah, setidaknya aku sudah bersiap dari pagi hari. Pfuhh...terima kasih sudah membuat radarku berbunyi lebih awal Tuhanku tersayang. 

Menantang Keberanian


Dalam sembarang waktu dan ruang
Telah disediakan untukmu
Medan untuk berperang
Beranikah engkau menghunus pedang?

Dalam sembarang waktu dan ruang
Telah disediakan untukmu
kebajikan dan kebatilan
Beranikah engkau membuat pilihan?

Dalam sembarang waktu dan ruang
Telah disediakan untukmu 
Rasa percaya dan ragu-ragu
Beranikah engkau mengalahkan ketakutanmu?

Dan dalam sembarang waktu dan ruang
Adalah dirimu sendiri yang memegang penuh
Semua arah dari delapan mata angin
Beranikah kau menetapkan tujuan?

Berikanlah soal yang mustahil dipecahkan
Hanya mereka yang berani menantang semua ketidakmungkinan
Yang akan keluar dari ketakutan yang mengungkungnya
Mereka yang tak dapat disurutkan oleh bimbang, 
tak dapat dinisbikan oleh gamang

~ Kenmochi Chiemi ~

Berpikir KerdiL ~ go to hell feodalism!


Ini tulisanku yang paling emosional kurasa. Sebuah kekecewaan yang menumpuk dan sudah ga bisa ditahan lebih lama lagi. Astaghfirullah, Tuhan maafkan hambamu jika terlalu keras atau mungkin Kau anggap kufur nikmat. 

Ketika aku baru masuk ke institusi ini, meninggalkan dunia swasta yang sempat kucicipi sejenak, Menteri dan wakil menteri menyambut kami dengan pidato yang tidak begitu panjang tapi sangat mengena. Inti dari pidato pemimpin kami tersebut adalah bersikaplah profesional, teruslah belajar dan mengaktualisasi diri, masuk institusi ini bukanlah sebuah akhir akan tetapi merupakan awal untuk berjuang ke level selanjutnya. Kami masih fresh, jadi kami diminta membawa budaya segar yang tak terkontaminasi dengan budaya feodal. Dan yang paling penting dan tertancap kuat di tempurung otakku adalah "Jangan pernah takut menghadapi apapun jika kalian benar. Tuhan selalu bersama mereka yang jujur dan membela kebenaran. Terakhir, jangan pernah bermain dan melibatkan diri dalam dunia politik, karena politik itu kejam dan kotor," kata ibu wakil menteri menutup pidato disertai gemuruh tepuk tangan dari kami, pegawai baru yang sebagian besar pernah bekerja di swasta dan beruntung bisa masuk ke dalam institusi negara. 

Setelah tujuh bulan bekerja dan beradaptasi dengan lingkungan kerja, barulah aku memahami apa yang dimaksudkan para petinggi institusi kami tersebut. Budaya feodal pegawai era orde baru yang penuh dengan "upeti" nyata-nyata kami hadapi sekarang. Para generasi tua yang enggan bekerja jika tidak ada "upeti" itu masih saja bergentayangan di institusi yang mengawali reformasi birokrasi ini. Betapa memuakkan dan sungguh menyakitkan. Menahan hak orang lain dengan alasan sentimentil yang ga masuk akal dan sama sekali ga intelek menurutku. Aku dan teman-teman seangkatan yang memang dari awal vokal dan berusaha bersikap kritis dengan aksi "kotor" para generasi tua ini malah disudutkan, diintimidasi dan ditahan haknya.

Kami salah apa? Salah kalo kami ingin mengubah "budaya aneh" yang terlanjur mengakar ini? Bukankah institusi ini sudah tampil dengan balutan reformasi yang necis? Aaarrgggh...menurutku, untuk menghilangkan budaya feodal, satu-satunya cara adalah dengan mengganti para pengguna budaya itu dengan generasi yang baru TOTALLY. Yang masih punya idealisme murni, yang masih menjalankan segalanya on the right track. Jika tidak, para feodal lovers itu akan menurunkan budayanya secara kontinue dari generasi ke generasi [sekarang aja ada yang ketularan penyakit feodal itu]. Efeknya? Indonesia ga bakal keluar dari corruption habit, Gosh amit-amit jabang baby deh.

Terngiang di kepalaku beberapa bait lagu penuh makna milik Iwan Fals...
Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh ya

*Semoga Allah, Tuhan YME mengampuni mereka yang selalu berbuat curang dan semena-mena terhadap hak orang lain. Amin

Instan=online


Jakarta ulang tahun ke-484 tahun, sebagai pendatang di Ibu kota negara ini, aku ga tau banyak tentang perubahan wajah kota ini [selain yang diberitakan di televisi]. Yang aku rasakan adalah Jakarta bisa mengubah cara berpikir setiap warganya. Terutama para pendatang yang tentunya berlatar beragam budaya yang berbeda-beda. Yang tadinya naik motornya tertib, jadi ga tertib. Main srobot sana, srobot sini. Yang dulunya ga hobi nyalain klakson mobil secara membabi buta, sekarang uda memperlakukan klakson kayak alat musik hari-hari aja. Yang ga suka jajan, jadi hobi shopping and selalu update mall mana yg lagi ada diskon gedhe-gedhean.huft...

Sebagai pendatang, aku belajar banyak hal dari pendatang lain yang senior. Tata kota Jakarta yang semrawut, kemacetan tak teratasi, polusi yang memperpendek usia paru-paru, tindak kejahatan yang terus meningkat, semua kondisi tersebut mentasbihkan waktu sebagai sesuatu yang paling berharga plus mahal. Maka orang-orang pun memutar otak dan mencari cara untuk lebih mengefektifkan waktunya akibat dari tuntutan jaman [di Jakarta] yang semakin kompleks. 

Lahirlah budaya instan di Jakarta. Orang-orang berusaha menciptakan [lebih tepatnya memakai] alat-alat atau teknologi-teknologi yang dapat membantu manusia dalam memperoleh sesuatu secara cepat. Aku yang tadinya ga peduli dengan internet banking, kartu debet, kartu kredit, akhirnya mau ga mau harus melek dengan benda-benda tadi. Mo beli tiket pesawat, tinggal online, beli buku juga online, tiket kereta juga online, pulsa? sms ke teman di lantai 11 yg kebetulan bisnis pulsa hehehehe. Semuanya dibikin praktis, cepat dan efisien, ga repot, ga rempong...

Kalo dipikir-pikir sih memang ada plus minusnya ikut arus instan tadi. Plus-nya ya itu tadi praktis. Bayangkan aja, untuk beli buku di gramedia aja, kita musti ke mall yang ada gerai gramedianya. Ke mall musti naik kendaraan, kalo jalurnya padat it will take time. Belum lagi polusi, panas, debu yang siap mengendap di badan. Kesehatan kan investasi paling mahal. Sedangkan minusnya, kita jadi kurang bergerak. Yang paling bahaya adalah kecenderungan menjadi konsumtif. Mereka yang gagal memanaj keuangannya, akan jatuh dalam kelompok orang yang konsumtif dan penghutang. Kenapa? Tak semua orang yang hidup di Jakarta dan terlihat kaya tu bener-bener kaya lho. Kartu kredit yang mudah didapat kerap kali memakan korban. That's why, aku masih pikir semilyar kali untuk menggunakan kartu kredit. Aku masih bertahan dengan kartu debet biasa aja. Lebih mudah mengontrol diri sendiri gitu.

Semoga aku dan para new comers lainnya menjadi manusia online yang baik dan bijak...hihihihi. Happy birthday Jakarta!

*sedang order beberapa buku lewat toko buku online =)

H-O-A-X

Kaskuser atau yang suka online pasti tau kata-kata ini; H-O-A-X. Hoax diartikan sebagai pemberitaan palsu. Pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Bisa ga ya disamain sama fitnah? 

Eniwei, aku mau protes sama yang bikin kata hoax ini. Entah karena enak diucapin, dibikin bahan joke atau menjadi kata yang berhasil merepresentasikan emosi tertentu bagi penggunanya, kata-kata ini melambung bak selebriti di grup teman-temanku di kantor [khusus angkatan kami]. Dikit-dikit hoax, no picture=hoax, ...hoax,hoax dan hoax. Awalnya mungkin tidak ada dampak aneh-aneh, tapi pada akhirnya kata ini pun memberikan kutukannya. 

Hari ini 29 orang hampir berantem hanya gara-gara kata-kata "hoax". Berita yang jelas-jelas fakta diisukan hanyalah sebuah hoax. Timbullah ketidakpuasan, sakit hati karena dituduh menyebarkan hoax, bisik-bisik najong sampe yang paling ekstrim langsung nulis hoax di wall FB temen. Sungguh mengerikan. Ada yang sampe hampir nangis dan sangat ga terima. Persaudaraan dan pertemanan hampir hancur. Semua larut dalam situasi yang sangat ga nyaman. 

Hari ini aku belajar, bahwa mulutmu adalah harimaumu tu 1000000% benar. Kesalahpahaman akibat komunikasi yang kurang baik berpotensi menghancurkan persahabatan, pertemanan dan rasa saling menghormati antara satu dengan yang lain. Yang paling mengerikan adalah timbulnya rasa benci level tinggi. Padahal sebelumnya ga pernah ada berantem2, ngotot2an ampe teriak2 kayak di pasar. Hanya karena 1 kata yaitu "hoax" terlupakan semua ha-ha-hi-hi selama setengah tahun ini. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk ga pernah lagi menggunakan kata hoax dalam kamus pergaulanku. Cukuplah mereka yang membuktikan bahwa kata hoax itu memiliki daya hancur yang luar biasa berbahaya. So guys, note this, please becareful with your words. Because words are sharper than the Arabian sword. Trust me!

Up date negaraku tercinta ~ UU SJSN


Kemarin aku dapet disposisi untuk menghadiri sebuah diskusi tentang Undang-undang Sistem Jaminan Sosial Nasional [SJSN] yang diselenggarakan oleh Layanan Kesehatan Cuma-cuma [LKC] Dompet Dhuafa. Aku sempat search sebentar sebelum berangkat ke tempat diskusi di kawasan Kebayoran Baru tersebut. Ya biar nyambung aja gitu dengan flow diskusinya nanti.hehehe

Thanks God, setelah pembukaan, acara diawali tentang selayang pandang UU SJSN oleh prof. Dr. Hasbullah Thabrani, Guru Besar FKM UI. Beliau ngejelasin panjang lebar tentang UU ini, dan kenapa Indonesia butuh Jaminan Kesehatan yang merata dan menjamin seluruh rakyat tanpa membedakan strata sosial seperti yang saat ini terjadi. Dengan cerdas beliau membandingkan sistem Jamkes negara ini dengan negara-negara lainnya seperti Amerika, Jerman, Belanda, Jepang, Muangthai Singapura, bahkan Malaysia. Dan betapa aku terkejut karena memang negara ini sangat salah sasaran dalam setiap kebijakannya.

Baru aku tahu kalau angka kematian Ibu dan bayi yang baru lahir di negara kita ini menempati urutan wahid se-Asia. Maan...seASIA!!! jadi 60% kasus kematian ibu dan bayi dia Asia tuh terjadi di Indonesia! Di Amerika, pemerintahnya memberikan semacam kupon belanja kepada para ibu yang sedang hamil dan kupon itu hanya dapat dibelanjakan untuk susu, vitamin, daging dan makanan yang bergizi tinggi untuk dikonsumsi oleh calon Ibu dan bayinya [sebuah contoh yang sangat baik untuk ditiru]. Karena setiap bayi yang lahir di Amerika adalah berkebangsaan Amerika [secara otomatis], maka Amerika tidak mau punya SDM yang ga pinter plus ga berkualitas. Nyatalah bahwa investasi bernilai sangat tinggi itu sebenarnya bukanlah pada uang, tapi pada SDM yang berkualitas. Indonesia? meski UU SJSN sudah disahkan sejak 2004, pelaksanaannya tidak pernah jalan karena DPR dan pemerintah masih memandang investasi masa ini sebagai sebuah BEBAN. Sibuk berdebat panjang tak berkesudahan. Aneh banget si negara ini.

Jika UU SJSN ini berjalan, maka seluruh rakyat akan mendapat kartu sehat yang sama. Mo miskin atau kaya, di kota atau di desa, kartunya sama, pelayanannya juga harus sama. Ada lima Jaminan yang akan didapatkan oleh setiap warga negara ini yaitu Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian. Dari mana negara dapet dananya? Dana SJSN didapat dari iuran/tabungan wajib setiap penduduk yang mempunyai penghasilan di atas garis kemiskinan. Iuran tersebut berbeda2 didasarkan pada prosentase upah/gaji agar semua mampu mengiur. Bagaimana dengan yang miskin? Mereka akan dibayari dulu dg APBN/APBD, akan tetapi setelah si miskin sudah mampu [ga miskin lagi] maka dia wajib mengiur. Keren kan? 

Bayangkan, di negara tetangga yang kita benci dunia akhirat [baca Malaysia], biaya yang diperlukan untuk rawat jalan di Rumah sakit pemerintah hanya sebesar 1 ringgit [ Rp.3000 ]. Itu uda all in, uda periksa dan obatnya. Kalau rawat inap? Hanya 3 ringgit aja [Rp.5000] per harinya. All in juga. Itu berlaku sejak Malaysia merdeka [thn 1957] sampai sekarang. Harga tidak berubah. Indonesia?? Don't ask!!! Masuk rumah sakit, bukannya segera ditangani, malah dimintai KTP dulu, bayar uang masuk [masih untung pasiennya ga keburu tewas mengenaskan]. Belum lagi nanti ada biaya kunjungan dokter, obat-obatan, layanan kamar dan bla..bla..bla... Well hallooow ini Rumah Sakit Pemerintah gitu, harusnya melayani masyarakat, bukannya jualan. NO PROFIT. Lain ceritanya kalo RS swasta, ngeruk uang sebanyak2nya tuh halal.

Aku berpikir, kenapa sih negara ini selalu salah sasaran? Kebijakannya sudah bagus, sistem juga ga jauh beda dengan negara lain. Bahkan, sistem perpajakan kita tuh sama persis kayak negara adidaya Amerika. Tapi kenapa selalu "gagal"? SDM kita hanya segelintir saja yang pinter [kecerdasan emosionalnya], bener-bener bisa berpikir secara baik ke depan. Kita sangat jauh tertinggal dengan negara2 lain di Asia macam Jepang, Singapura atau Malaysia sekalipun. Asal tau aja, pemegang IQ tertinggi dunia tuh bukan dari Jerman atau Amerika sodara2, mereka semua dari ASIA, yaitu JEPANG, SINGAPURA, dan KORSEL!!!

Indonesia?? Ambil napas panjang dulu deh...

Moon over my Obscure Little Town


Stranger
stranger
Someone stranger
Standing in a mirror
I can't believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid

I'm so afraid
of loosing someone I never have
crazy, oh, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December


What a deep and beautiful poetry, the poet must be a very crazy lover and be suffering. Love gives a lot of sensational feelin'.

minta dibawain apa fi?




Seorang teman mengirimkan sms, "fi aku mau ke Amerika bulan depan, nitip apa?" Temanku ini seorang akademisi yang sangat beruntung mendapatkan beasiswa selam 12 hari ke Amerika. Setelah mengucapkan selamat atas prestasinya, iseng aku nulis "beliin tas cewek deh".

Temenku itu ga bereaksi, dan diamnya itu membuatku berpikir jangan-jangan nih orang pingsan atau mlongo ga bisa balik2. Hahaha, aku akhirnya ngetik lagi sms buatnya, "Ga jadi tas deh, aku nitip bawain daun maple dan novel yang di dalamnya harus ada coretan dari Mike.Thanks ya b4." Mike/ Michael adalah seorang teman yang baik, tinggal di NY dan beberapa kali main ke Indonesia. Sekarang dia udah pensiun dan menikmati hari tuanya dengan plesiran atau doin something fun. Aku kangen sama candaan ni bocah tua botak [seringkali aku memanggilnya bald man sewaktu kami bercanda], bule memang suka seenaknya panggil nama. Dia memanggiku dengan fifi.

Tas cewek tidak bisa menandingi mahalnya sebuah novel dengan coretan2 usil seorang teman di Amerika sana [Mike], setidaknya itu yang aku pikirkan. Lagian, aku juga ga bisa pake tas cewek, ransel Eiger lebih nyaman dan cocok dipundakku. Tas cewek terlalu feminim dan jelas bukan aku banget hehehe. Temenku menyanggupinya kecuali daun maple. karena kemungkinan besar pohon maple-nya sedang ga punya daun hahahaha. Aku sangat terobsesi dengan daun maple, menurutku tuh daun seperti punya story untuk diceritakan. Karena di Indonesia ga ada, jadi aku bisanya cuma bermimpi dan berharap, one day I will pick the leaf by myself. Amin.

Adakah sang pencerah di sekitar kita?


Aku baru aja selesai nonton film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo. Iya iya, tu film emang udah lama tayangnya...tapi dengan tidak mengurangi rasa nasionalisme, aku memang sangat selektif dalam soal nonton film Indonesia. Soalnya hanya segelintir cineas negeri ini yang punya kualitas yahud. Jidatku sering berkerut kalo lewat daerah pasar senen karena disana ada baliho film lokal gedhe2 dengan judul yang menurutku bikin mual aja dan makin ga masuk akal. 

Back to Sang Pencerah, I love the film alot. Bukan karena settingnya yang di Jogja, tapi lebih pada pesan moral yang ingin disampaikan. Bahwa pemuda dari masa 100 tahun yang lalu aja punya rasa keingintahuan yang luar biasa, punya kemauan untuk berubah dan mengubah lingkungan yang dianggap melenceng. Intinya dia [Ahmad Dahlan] masih peduli dengan lingkungannya.

Compared to present time...aku jadi sangat malu dan prihatin. Pagi-pagi aku baca berita dari Surya online yang sekarang memang lagi heboh. Kasus nyontek masal di Surabaya, Jawa Timur [lihat disini]. Miris sekali melihat kenyataan bahwa negara ini sudah terlalu terpuruk jauh dan mengalami degradasi mental yang sangat luar biasa. Bagaimana bisa, orang [seorang ibu] yang menanamkan kejujuran pada anaknya malah dituding sebagai biang keladi. Bahkan ramai-ramai orang berteriak "usir!usir!!", menggapai si ibu dan menarik-narik paksa kerudungnya sampai hampir terlepas. Padahal si ibu tadi adalah salah seorang yang PEDULI.

Hanya untuk lulus UN, guru dan pihak sekolah yang seharusnya menanamkan kejujuran terhadap anak didiknya malah mengajari kecurangan. Aku ingat sewaktu  masih SD dulu, EBTANAS berlangsung sangat tertib di sekolahku. Sekolahku adalah sekolah desa, tapi aku sangat bersyukur bahwa sekolah kecil dan terpencil itu tidak menjual kejujuran demi nilai bagus di atas kertas. Beruntunglah aku dan teman-temanku yang tidak pernah diberikan simulasi mengedarkan jawaban dari satu siswa ke siswa lainnya. Terima kasih bapak dan ibu guruku nun jauh di desa sana atas pendidikan moral yang aku sadari sekarang menjadi berharga layaknya emas dan intan.

Duh, mau jadi apa negara ini kalau kecurangan terang-terangan ditanamkan sejak kanak-kanak? Bagaimana bisa negara ini terbebas dari korupsi? Aku mulai meragukan kembali pandangan bahwa korupsi itu bukanlah budaya negara ini. Kemana nilai-nilai luhur yang menjadi warisan nenek moyang bangsa beradab ini? Di mana rasa malu yang dulu menjadi karakter bangsa Pancasila ini?

Dengan berat hati aku berani mengatakan bahwa bangsaku ini, Indonesia Raya ini, NKRI ini adalah bangsa yang SAKIT dan butuh pertolongan SEGERA. Adakah Sang Pencerah di sekitar kita??

Be Honest
Even if others are not
Even if others will not
Even if others cannot
Those who walk honestly, walk securely

Belajar Kegigihan Sung-bong Choi [Korea's Got Talent]

Bagi kamu atau siapa saja [termasuk aku], video ini merupakan media yang sangat baik untuk merefleksi diri. Ketika aku mulai mengeluh dan kurang bersyukur, aku akan nonton video ini. Percaya deh, setelah nonton ni video, kamu bakal sangat bersyukur dengan keadaanmu sekarang.



Aku translatin ya dialognya:
Karakter dalam video ini diantaranya :
C : Sung-bong Choi; J-1: juri wanita berambut panjang, J-2: Juri wanita rambut pendek, J-3: juri laki-laki

Ada seorang pria biasa  bersiap-siap untuk tampil di panggung 

  • C: Saya 22 tahun, dan nama saya Choi, Sung-bong. Saya hidup dalam keadaan sangat susah. Saya masih merasa tidak nyaman ikut dalam kompetisi ini. Saya hanya ingin menjadi seperti orang lain. Saya tidak dapat bernyanyi dengan baik. Tapi ketika saya bernyanyi, saya merasa seperti menjadi orang yang berbeda 
  • J-1: Halo 
  • C   : Halo, saya Choi, Sung-bong dan saya berusia 22 tahun 
  • J-1: profesi anda?
  • C   : saya pekerja biasa. 
  • J-1: Ketika saya melihat form aplikasi Anda, Anda membiarkan kolom "keluarga" tetap kosong. Kenapa? 
  • C  : Saya ditinggalkan di panti asuhan ketika berusia tiga tahun, dan ketika berusia 5 tahun, saya melarikan diri dari panti asuhan tsb setelah dipukuli. 
  • J-2 : Lalu bagaimana Anda hidup sejak saat itu? 
  • C : Saya menjual permen karet atau minuman energi di jalan. Saya memiliki kehidupan [jalanan] ini selama sepuluh tahun. 
  • J-1 : Apakah Anda tinggal dengan orang lain ? 
  • C : Tidak, saya sendirian 
  • J-1 :Jadi, Anda tinggal sendiri sejak Anda berumur 5 tahun? 
  • C : Ya. Saya hidup seperti itu selama sepuluh tahun. Saya tidur di tangga atau toilet umum selama 10 tahun seperti gelandangan. 
  • J-1 : Apakah anda sekolah?
  •  C : Tidak. saya mengambil GED [semacam kejar paket C] untuk SD dan SMP dan SMA adalah sekolah  pertama yang pernah saya masuki.
  •  J-1 : wow, Anda luar biasa. Anda akan bernyanyi hari ini?
  •  C : ya 
  • J-1 : Anda menikmati kegiatan bernyanyi?
  •  C : Daripada berkata "Saya bernyanyi karena saya menikmatinya," [saya lebih suka menyebutnya] "Saya suka menyanyi karena itu adalah hal pertama yang saya sukai setelah hidup menggelandang. Saya bukan penyanyi yang bagus, tapi saya hanya suka bernyanyi.  
  • J-1 : Mari kita dengarkan nyanyian Anda.

Choi bernyanyi dan tak hanya para juri, semua penonton pun dibuat kagum dengan suara emasnya...dan inilah komentar para juri.

  • J-1 : Saya hanya ingin memelukmu ... 
  • J-2 : kenapa Anda mau menyanyi? 
  • C :  Saya banyak mengalami hal buruk semasa kecil, seperti .. saya pernah dijual ke suatu tempat. Suatu  hari ketika saya menjual permen karet di sebuah klub malam, saya melihat seorang penyanyi bernyanyi di panggung.  klub malam biasanya memiliki pertunjukan  musik yang menarik kan? Saya terpesona oleh penyanyi yang bernyanyi dg sangat tulus tersebut. Sejak itu, saya mulai menyanyi 
  • J-2 : Jadi, Anda ingin menjadi seorang penyanyi?
  •  C ; Iya 
  • J-2 : Saya melihat Anda memiliki kemampuan yang sangat baik. Apakah Anda pernah mengikuti sekolah/kursus vocal?
  •  C :  Andai saya punya kesempatan, saya akan berlajar [secara formal]. Saya hanya mendengarkan dan berlatih sendiri [otodidak]. 
  • J-2 : Tidak peduli bagaimana nantinya nasib Anda di kompetisi ini, Saya ingin memberikan bantuan pada Anda untuk mendapatkan pelatihan vokal [formal]. Terima kasih atas penampilan Anda yang memukau. 
  • J-3 : Saya pikir Anda bisa mengatakan [pada saya] betapa hebatnya penampilan yang telah Anda suguhkan dengan melihat reaksi penonton tadi. Anda telah melakukan pekerjaan yang besar!
  •  J-1 : ok, saatnya membuat keputusan 
  • Semua Juri ; ya, ya, ya 
  • J-1 : selamat! Anda lolos ke putaran berikutnya! 
  • Host : sekarang, Anda memiliki ratusan orang yang akan bersorak untuk Anda. Dan Anda akan memiliki ribuan orang yang akan bersorak setelah episode ini ditayangkan. Jika Anda melakukan yang terbaik sampai akhir kompetisi ini, Anda tahu jumlah penduduk Korea, kan? lebih dari 50 juta orang akan bersorak/ mendukung Anda. Dan jika Anda berusaha sangat keras, saya pikir 6,5 miliar orang di dunia akan menjadi penggemar Anda. Jangan pernah berpikir Anda sendirian. Berjuanglah, Sung-bong. Anda telah melakukan hal besar, Sung-bong. Aku sangat bangga padamu. 
  • J-2 : terlepas dari kehidupannya yang  keras, ia sangat bersemangat berjalan menuju apa yang benar-benar dia inginkan. bahkan mereka yang berbakat pun jarang memiliki gairah seperti itu. 
  • J-3 : nada suaranya  menarik pikiran pendengar dengan ajaib
  • J-1 : Saya sangat senang bertemu dengannya. Saya hanya ingin dia bahagia, mulai sekarang!
Kenapa dia bernyanyi dengan sepenuh jiwa?? coba baca lyric dari Lagu berjudul Nella Fantasia  [dalam Fantasi] yang dia nyanyikan ini:

Nella fantasia io vedo un mondo giusto,
Li tutti vivono in pace e in onestà.
Io sogno d'anime che sono sempre libere,
Come le nuvole che volano,
Pien' d'umanità in fondo all'anima.

Nella fantasia io vedo un mondo chiaro,
Li anche la notte è meno oscura.
Io sogno d'anime che sono sempre libere,
Come le nuvole che volano.
Pien' d'umanità in fondo all'anima.

Nella fantasia esiste un vento caldo,
Che soffia sulle città, come amico.
Io sogno d'anime che sono sempre libere,
Come le nuvole che volano,
Pien' d'umanità in fondo all'anima.

artinya
Dalam fantasi saya, saya melihat sebuah dunia yang adil,
Dimana semua orang hidup dalam damai dan kejujuran.
Aku bermimpi jiwa yang selalu bebas,
Seperti awan yang mengambang,
penuh dengan perikemanusiaan dalam jiwa.

Dalam fantasi saya, saya melihat dunia yang cerah
Dimana setiap malam hanya ada sedikit kegelapan .
Aku bermimpi jiwa yang selalu bebas,
Seperti awan yang mengapung.
penuh dengan perikemanusiaan dalam jiwa.

Dalam fantasi saya ada angin hangat,
Yang bernafas ke dalam kota, seperti seorang teman.
Aku bermimpi jiwa yang selalu bebas,
Seperti awan yang mengambang,
penuh dengan perikemanusiaan dalam jiwa.

My words:
Ketika dia menyanyi, aku seperti bisa merasakan apa yang dia rasakan. Suara indah yang datangnya dari hati. Bahkan ketika semua orang tercengang dan bersimbah air mata [aku juga hiks], Choi terlihat biasa saja...tidak larut dalam suasana orang2 yang berempati padanya. Kehidupan keras telah membentuknya menjadi manusia dengan kegigihan dan ketabahan luar biasa. Dia hidup sebatang kara sejak berumur 3 tahun, berjuang hidup di jalanan selama sepuluh tahun. Hebatnya, dia masih punya kemauan, mimpi dan tekad untuk mengubah nasibnya. Dia buktikan itu dengan usahanya mengikuti kompetisi Korea's Got Talent. Semoga video ini menyadarkan kita yang kurang bersyukur, agar menjadi manusia yang selalu bersyukur, punya tekad dan kemauan kuat untuk menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Idola baruku: Hatsune Miku

Aku ga peduli meski dibilang telat atau katrok...yang jelas aku lagi jadi penggemar berat "makhluk' yang lahir dari teknologi super sophisticated plus creative ini. Jangan dipikir ini adalah tokoh kartun, animasi atau komik seperti kebanyakan. Makhluk satu ini punya jiwa, punya ekspresi, dan suara yang indah. 

Hatsune Miku (初音 ミク) adalah Vocaloid 2 Jepang pertama di Seri Karakter Vokal Vocaloid 2  yang diciptakan oleh Crypton Future Media. Jadi Miku merupakan karakter penyanyi yang suaranya terbuat dari Vocaloid - semacam software suara. Vocaloid ini dianggap paling populer dan terkenal. Nama judul dan karakter dari software ini dipilih dengan mengkombinasikan Hatsu (, pertama), Ne (, suara), dan Miku (未来, masa depan) sehingga berarti "suara pertama dari masa depan." Data untuk suara itu diciptakan oleh sampling suara Saki Fujita (藤田 咲, Fujita Saki), seorang aktris suara Jepang [wikipedia.com].
 
Coba deh liat live concertnya berikut ini:

Pertama kali nonton ni video, mataku ga bisa lepas dari sosok hologram cantik yang sedang beraksi di atas panggung sungguhan dan ditonton orang-orang sungguhan pula. Penontonnya heboh dan hafal bait demi bait lagu yang sedang Miku dendangkan. GILA!!! Aku terpesona, ndoweh poL....kereeen. Berkali-kali aku putar ulang tu video, tapi tetep ga ada bosen-bosennya. Miku tetep luar biasa. Gerakannya alus banget kan? Uda kayak manusia aja. 
Aku jadi berandai-andai, kalo semua penyanyi diganti pake vocaloid...kita ga bakal denger lagi tuh berita duka atas kematian penyanyi A atau B. Suaranya akan abadi, wajahnya ga bakal berubah, tetep cantik atau ganteng. Bajunya bisa diganti-ganti sesuka hati dengan model dan karakter sesuai dengan imajinasi. Kereeeen...

Sayang, konsernya cuma ada di Jepang, Singapura, dan California. Doi belom pernah ke Indonesia. Semoga one day Miku bakal manggung di Indonesia, I'll be the first getting the ticket hahahahaha....



"Kenmochi Chiemi"(剣持 千恵美)Part 2

Sehari sebelum Hiro meninggalkan Indonesia, kami berfoto di Tugu

Mungkin karena merasa jatuh cinta dengan Indonesia, Hiro meminta pada kami untuk memanggilnya dengan nama Indonesia. "Tolong panggil saya Imam,"ujarnya suatu hari. Maka kami pun terbiasa memanggilnya dengan mas Imam [diambil dari penggalan namanya sendiri  "Imamura"]. 

Ketika akhirnya Hiro harus meninggalkan Indonesia, kami mengantarkannya ke Airport beramai-ramai. Kami menghadiahinya sebuah kipas berlambangkan logo Perisai Diri. Kipas berwarna merah menyala itu dia dekap dan dia perhatikan dengan mata berkaca-kaca. "Saya senang sekali...terima kasih...terima kasih..." katanya sambil membungkuk. Saat itulah aku merasa sangat terharu. Indah sekali persahabatan ini. Aku berjanji pada Hiro, akan tetap keep in touch by FB atau surat elektronik. Saat gempa dan tsunami melanda Jepang, kami memberondong FB Hiro dengan berbagai pertanyaan bernada cemas, ingin tau keadaan dia sekeluarga. Dan syukurlah Hiro selamat.

Hari ini aku "ngobrol" dengan Hiro lewat message FB. Awalnya kami saling bertukar kabar, Hiro mengabariku akan ke Indonesia setelah Ramadhan. Bayangkan, Hiro bahkan tau dan masih ingat bahwa di Indonesia ada bulan puasa yang disebut Ramadhan :). Kemudian iseng aku membuat sebuah nama Jepang untuk diriku sendiri. Aku bertanya pada Hiro apakah nama yang aku buat itu sudah benar dll. Sayangnya dua kata yang aku buat hanya satu yang benar. Inilah penggalan percakapanku dengan Hiro:

Nh, Japanese name system has original one as much as Indonesian. Like girl name, "-wati" or "-y-", Japanese use "-ko""-mi""-ka". And the pronunciation is confined by Japanese "kanji" character, which was imported from Chinese character. So unfortunately you can't use the name.. I'm sorry.

However I can make a name from "***" and "***" pronunciation with some changings.[untuk tanda * maaf aku ga bisa kasih tau nama ciptaanku hihihi malu]

↓↓↓(result)

"Kenmochi Chiemi"(剣持 千恵美)

Family name: Kenmochi 剣持 means "puting a sword"
First name: Chiemi 千恵美 means ribuan berkat dan ribuan kecantikan

"tha" can be read in "cha", and I did exchange "a" to "i" like Japanese sound.
How about this? haha.

Aku sangat berterima kasih dan senang sekali dengan nama "buatan" Hiro ini. Dan aku sangat terharu dengan paragraf terakhir yang ditulisnya: 

So thanks so much keep in touch with me, because whenever I communicate with my Indonesian PD friend, I have to fight to keep from crying. hahaha/

See you soon in Indonesia!!

Akupun membalas tulisan sahabatku ini :

I'll keep in touch with you because [mark this] "you will always be part of PD UGM family 4ever".

see u soon Hiro, take care ^^,

Now on, I have two names; Fietha and Kenmochi Chiemi. I love both. Terima kasih sobat. Nama yang sangat indah...persahabatan memang indah ya :) Keluarga, sahabat, teman dan ilmu adalah harta yang sangat tidak ternilai. Apalagi sih yang manusia cari di dunia ini selain itu semua? Karena jika empat hal itu terpenuhi, maka dengan sendirinya hidup kita akan menyenangkan untuk dilalui dan dinikmati. Tull ga sob?

Hiroyuki Imamura [mas Imam] bersama Jalu Tathit

"Kenmochi Chiemi"(剣持 千恵美)Part 1

Baru kemarin aku nulis tentang persahabatan. Today, aku merasakan kembali kehangatan seorang sahabat. Namanya Hiroyuki Imamura, dari namanya saja sudah bisa ditebak, iya dia berasal dari negeri Sakura Jepang. Aku ketemu dengan bule Jepang ini sewaktu masih berdomisili di Yogyakarta, sekitar setahun yang lalu. Hiro adalah mahasiswa pertukaran antara Indonesia dengan Jepang. [kalo ga salah] dia menghabiskan setahun penuh di Indonesia untuk mempelajari Bahasa Indonesia dan beberapa mata kuliah budaya lainnya. 

Silat menjadi magnet bagi Hiro untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Kami menyambutnya dengan hangat karena kami sangat senang jika silat bisa digemari dan ditekuni orang-orang luar negeri. Ketika pertama datang ke UKM [sekretariat silat], kemampuan bahasa Indonesianya masih kurang bagus, namun seiring berjalannya waktu juga interaksi secara kontinue dengan kami, Hiro pun dapat berbahasa Indonesia dengan jauh lebih baik. Ketekunannya, kedisiplinannya juga keramahannya membiaskan karakter orang Jepang seperti yang selama ini dikenal berkarakter kuat dan santun oleh seantero dunia. 

Jujur, aku banyak belajar dari sahabat yang satu ini. Dia tidak pernah malu bertanya tentang apa saja yang dia tidak mengerti. Aku masih ingat, ketika itu Hiro bertanya apa bedanya setan dengan roh? Aku terhenyak, pertanyaan yang mungkin akan sangat mudah dijawab oleh orang Indonesia yang penuh dengan mistik ini. Tapi tidak dengan Hiro, seperti kita ketahui mayoritas orang Jepang beragama Shinto. Jadi mereka tidak mengenal konsep roh seperti kita. Bagi orang Jepang Roh=hantu, setan, iblis. 

Maka aku menjelaskan dengan perlahan konsep roh dan hantu dari perspektif orang Indonesia. Bahwa roh itu adalah bagian dari manusia, sedangkan setan, iblis atau hantu merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda. Hiro menyimak penjelasanku dengan serius, kemudian dia bertanya lagi. "Fita, bagaimana bisa roh menjadi bagian dari manusia?" Aku berpikir sekali lagi, mencari-cari cara yang lebih gampang dicerna. Aku mengambil kertas kosong, kemudian aku gambar raga manusia asal-asalan sebanyak dua lapis. Aku jelaskan pada hiro, lapis pertama [yang dalam] adalah roh, dan lapis kedua [bagian luar] adalah badan/raga kasar manusia. Jika "badan" yang dalam itu pergi, maka manusia akan mati/meninggal. Itulah yang seringkali kita sebut roh.

Hiro cepat-cepat mengeluarkan note kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Note itu berisi berbagai informasi, vocabulary bhs Indonesia dll dimanapun dia menemukan hal-hal yang baru. Kemudian Hiro menggambar raga manusia persis seperti yang aku lakukan sebelumnya. Trus dia memberi keterangan sama persis seperti yang aku jelaskan. Setelah itu berkali-kali Hiro mengucapkan terima kasih atas penjelasanku tadi. Dia seperti menemukan teori baru yang sangat hebat gitu. Aku jadi terheran-heran dengan reaksi yang heboh seperti itu. haahaha, lucu sekali.

Hiro mengangkat Silat dalam tugas akhirnya. Kami menjadi objek penelitiannya, kami memberikan bantuan apapun yang Hiro butuhkan seperti buku-buku referensi, wawancara dengan pelatih atau pengurus organisasi tingkat propinsi dll. Hiro juga aktif mengikuti setiap pertandingan silat di Jogja, meski tidak ikut bertanding tetapi Hiro sangat antusias merekam berbagai pertandingan silat. 

bersambung ***

Harga Supermahal sebuah Kepercayaan


Kepercayaan merupakan hal yang paling mendasar untuk membentuk sebuah hubungan, terlepas apa bentuk hubungan tersebut. Hubungan sebagai pasangan, orang tua dan anak, pekerjaan atau sebagai sahabat. Kepercayaan biasanya diberikan kepada seseorang yang dinilai mampu serta bijak dalam menjalankan serta memegang kepercayaan tersebut. ya ga?

Apa jadinya jika kepercayaan yang telah diberikan disalahgunakan, tentu berakibat fatal yang membuat jalinan silaturahmi terputus, hubungan persahabatan menjadi sirna, hubungan kerja akan berakhir, serta banyak lagi akibat yang akan timbul dari penyalahgunaan tersebut. Yang paling parah mungkin pencemaran nama baik dan juga kerugian yang harus ditanggung oleh pihak tertentu.Penyimpangan kepercayaan bisa terjadi karena berbagai sebab, seperti karena dipaksa oleh keadaan, lupa/khilaf (yang disengaja atau tidak) dan lain sebagainya. Menjaga kepercayaan memang bukan suatu yang ringan, tetapi apapun bentuknya suatu kepercayaan akan terasa indah bila dijalankan dengan bijak dan penuh tanggung jawab.

Menurutku, di dunia ini sebenarnya ga ada yang bisa dipercaya. Kenapa? Tentu saja karena kita semua [manusia] ga ada yang sempurna. Setebal-tebalnya iman, sediem-diemnya perilaku/ sifat seseorang, seintrovert apapun manusia, bagiku tetep aja masih ada celah untuk mengkhianati sebuah kepercayaan. Manusia [secara teori] adalah makhluk sosial. Butuh makhluk lain untuk berinteraksi. Jadi sangat dimungkinkan terjadi pertukaran informasi yang rahasia, tertutup atau tabu untuk di-share. Cuma soal waktu aja untuk terungkap. Jadi, it's ok jika suatu saat nanti rahasiamu bisa bocor atau terkuak. Yang terpenting adalah gimana kita bisa melepaskan beban psikologis dengan menceritakan uneg-uneg pada sahabat.

Aku selalu menganggap sahabat itu adalah makhluk terdekat setelah keluarga inti. Bahkan kadang-kadang melebihi keluarga. Imbasnya, tentu saja rasa percaya yang tinggi terhadap sahabat juga sebaliknya. Sahabatku percaya penuh terhadapku. Berbagi curhatan yang sifatnya "top secret" tu uda kayak jadi ritual wajib, menu yang ditunggu-tunggu. Ada kenikmatan tersendiri ketika seorang sahabat mau mengeluarkan uneg-uneg terdalamnya kepadaku. 

Ada yang menyebut, mendengarkan curhatan sahabat tuh seperti menjadi keranjang sampah. Big No for me. Justru, saat seorang sahabat bisa mencurahkan apa yang dia rasakan dengan terbuka, sebanyak dan sepanjang apapun ceritanya, bagiku itu sebuah hal yang teramat mahal harganya. Sepertinya tidak penting lagi aku bisa kasih solusi atau jalan keluar dari permasalahan dia. Karena dengan mendengarkan saja, sahabat akan merasa senang dan nyaman. Merasa diperhatikan, merasa didahulukan kepentingannya. 

Dari kepercayaan sahabat, aku banyak belajar tentang kehidupan. Hal-hal yang belum aku alami, sudah terlampaui, atau yang sama-sama sedang dirasakan. Betapa dahsyatnya rasa saling berbagi pengalaman, perasaan dan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu yang harus segera dicari jalan keluarnya. Seberat apapun hidup kita, selama masih ada sahabat,,,semuanya akan terasa lebih ringan.
Sebuah kepercayaan dari sahabat sangat berarti bagiku, karena sahabat tak akan saling mencurigai satu sama lain. Saling mengerti dan memahami perasaan, pemikiran dan cara pandang sahabatnya. Terima kasih sahabat-sahabatku, uda menjadikanku tempat curhat, tempat nangis, tempat numpahin beragam emosi dan tempat berbagi kegembiraan sepanjang masa. I'm special because you are special either. This close friendship is too valuable, too beautiful, and too meaningful untuk dilepaskan...la..la..la..keep our friendship alive friends..muach