Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Apartment hunting?


Antara bersyukur dengan sedikit mengeluh, rasanya aku memang harus memilih satu diantaranya. Jakarta, sekali lagi Jakarta bung, menyisakan sedikit ruang sempit untuk PNS macam aku ini bernapas. Dikepung dari segala arah oleh tembok-tembok metropolisme, menyudutkan kami-kami yang tak sudi disudutkan sejatinya, sungguh menyesakkan.

Ada pertanyaan menggelitik ketika aku pulang lebaran kemarin,
"what next?"
Yah, what next to do? I got the job, I got the salary, I got my living here at Jakarta, then the question turn to what next fietha?

Berderet daftar wanna be, wanna buy, wanna build, wanna..wanna...wanna...ngantri di benakku. As a single, it is my freedom to decide what next, right? It supposed to be easy, but it's not. Untuk semua wanna-wanna tadi memang tak kuat ditopang sendiri, I need a partner.

Apartment, it's my second wanna buy. The first one is motorcycle and I've got it already. bukannya sok metropolis, sok modernis, sok kece apalagi sok oke, apartemen saat ini bukan barang mewah lagi di Jakarta. Why, kemacetan yang kian menggurita parah memaksa para pekerja Jakarta untuk memilih hunian yang praktis dan yang paling penting tidak merampas quality time after working. Terbukti, di sebuah pemberitaan online, jumpah pembeli apartemen di Jakarta naik sebesar 10% tahun ini [lihat di sini], wow!!

Aku pernah cerita kan, rata-rata pekerja kantoran di Jakarta ini lebih memilih untuk membeli rumah di daerah pinggiran macam Bekasi, Tangerang, bahkan Bogor sana. for your information, setidaknya di kepalaku, itu adalah siksaan lahir batin yang akan merajam anda selama bertahun-tahun hingga masa pensiun datang. Bayangkan, seorang pekerja/pegawai harus berangkat pagi2 buta, ada yang jam 4 atau jam 5, naik KRL atau bus, sekitar sejam sampai di stasiun terdekat dengan kantor/jalur darat menuju kantor, setelah itu melanjutkan perjalanan lagi ke kantor menggunakan trans Jakarta, metromini, ojek atau angkot. Pulang kerja (sekitar jam 4-5 sore bagi yang ga lembur) akan melakukan proses yang sama, karena macet, prosesnya akan memakan waktu yang lebih lama. Sehingga sampai rumah, waktu mungkin sudah menunjukkan waktu jam 8 -9 malam Betapa perjalanan yang sangat melelahkan.

Bukannya pemalas, sebagai single saja aku udah males banget ngekos jauh2 dari kantor, apalagi tar kalo uda berkeluarga? Gila aja ketemu pasangan cuma say good night? That's what I call, sacrificing your quality time. Waktu, tidak akan pernah bisa diulang, tak ada momen yang benar-benar sama. Dan rupanya itulah yang dikorbankan para pekerja Jakarta, quality time.

Apartemen menjadi jalan keluar satu-satunya, mengingat harga tanah dan rumah di Jakarta yang semakin sempit ini sudah TIDAK MASUK AKAL sama sekali. Berpuluh-puluh tahunpun ga bakal bisa beli rumah di Jakarta. Mungkin itu juga yang memicu pejabat atau orang-orang yang ingin kaya melakukan tindakan korupsi.

Cari apartemen juga ga gampang, musti hati-hati, musti jeli, sabar dan teliti. Cari yang sesuai kantong, yang ga bakal bikin kita susah, yang tempatnya bagus, yang developernya bisa dipercaya. Pfuuh...tujuan utama adalah mendapatkan tempat berteduh, tempat menghabiskan quality time yang baik, karena hidup sungguh sia-sia jika hanya digunakan untuk mencari materi, ada baiknya menyeimbangkan diri dengan memberikan ruang yang adil untuk memanfaatkan quality time.

And here I go, seeking, hunting the apartment there...sumpah bikin pusing harganya hahahaha....

Kenmochi chiemi

Memilih..



Bagaimana kamu memaknai kata "memilih"? Sebuah kata kerja yang menurutku paling banyak digunakan dalam hidup manusia. Jadi cuma manusia yang masih hidup saja yang bisa memilih, yang sudah mati, ya sudah...merdeka dari pilihan. Kalo kamu bertanya, kenapa kita harus memilih? Sederhana aku menyumbang jawaban, "karena kamu hidup, that's it".
“Hidup itu pilihan. Setiap pilihan memiliki resiko.”
Kalimat itu sungguh sederhana tapi tidak dengan maknanya. Kalo kita mau melepas rasa malas untuk berfikir, memikirkan kalimat di atas merupakan kelelahan otak yang luar biasa. Kalimat itu akan membelenggumu untuk beberapa waktu dalam kesunyian dan kungkungan: hidup, pilihan dan resiko.

Ketika membuka mata di pagi buta sampai menutup kembali memeluk malam, betapa banyak pilihan yang kita buat. Seperti saat ini, aku memilih untuk menulis ini ketika pekerjaanku masih 90% selesai, aku memilih ke klinik untuk berobat meski hanya flu dan batuk biasa aja. See, besok aku akan melakukan banyak sekali "memilih-memilih" yang lain lagi..lagi..dan lagi, begitu seterusnya sampai jiwa ini bener-bener kehilangan haknya untuk memilih karena telah ditentukan untuk meninggalkan raga.
"Jadi apa susahnya memilih?"
Tak ada tempat senano pun untuk bersembunyi dari pilihan. Sekecil apa pun sesuatu itu, pilihan tetap menjadi pilihan. Kukuh. Tidak akan pernah terhapus. Pilihan membutuhkan satu kepastian. Satu jawaban. Tidak akan pernah menjadi ini dan itu.

Bersahabatlah dengan pilihan dan resiko, karena hidup tak akan pernah lepas dari itu semua.


Memilih adalah soal kemampuan bukan soal kesempatan. Memilih adalah soal kemauan, bukan soal ketersediaan pilihan itu sendiri. Pilih yang bisa kamu pilih, cintai yang harus kita jalani..

Kenmochi Chiemi

My Teddy Bear


Teddy Bear atau beruang Teddy, sudah lama aku tau sama boneka yang satu ini. Begitu terkenal, begitu banyak yang cinta. Bermula dari film drama Korea Princess Hour, aku mulai suka banget sama boneka ini. Jadi pingin punya, banyak sih dijual di pasaran, tapi bukan Teddy Bear. Teddy Bear asli berbeda dengan boneka beruang yang lain. Apa coba yang ngebedain? Sejarahnya. Bukan sekedar mengagumi lucunya tapi aku suka boneka ini karena dia punya asal-usul.

Teddy Bear ternyata berasal dari nama Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt. Berawal dari undangan hunting trip oleh gubernur Mississipi Andrew H. Longino pada bulan November 1902, ajudan Roosevelt telah mengikat seekor American Black Bear agar Roosevelt dapat dengan mudah mendapatkan bururan. Namun Roosevelt menolaknya karena menurutnya itu tidak menunjukkan sikap sportif. 

Kejadian tersebut kemudian digambarkan dalam kartun politik di The Washington Post oleh Clifford Berryman pada 16 november 1902. Terinspirasi oleh gambar kartun itu, Morris Michtom kemudian membuat sebuah boneka, memajangnya di etalase dengan menempelkan tanda "Teddy's Bear" atau beruang milik Teddy (panggilan Presiden Theodore Roosevelt) dengan ijin dari presiden sendiri. Kemudian berdirilah pabrik Ideal Novelty and Toy Co yang masih berdiri hingga kini. O iya, presiden juga memiliki boneka Teddy-nya ini untuk pertama kalinya.

Selanjutnya, boneka ini menjadi selebriti, semua orang ingin memilikinya. Sampai-sampai didirikan musium khusus untuk Teddy Bear di Petersfield, Hampshire, England pada tahun 1984, di Naples, Florida US pada 1990.

Well, harga boneka ini di Indonesia lumayan sih...jadi sementara waktu cuma bisa memandangnya di internet atau di mall. Sampai seseorang memberitahuku kalo di Hard Rock kafe menjual Teddy Bear ukuran tak terlalu kecil. Seluruh Hard Rock kafe di dunia menjual Teddy Bear. Maka, akupun request ke temenku yang sedang ada urusan di Bali untuk membelikannya untukku...and here he is...


Pake jumper bertopi, I name him Vasco...My first Teddy Bear, jika suatu saat nanti aku bisa ke luar negeri, aku akan mencari Teddy Bear lainnya biar si Vasco ada temennya dan yang paling penting setiap Teddy ini akan membawa historinya masing-masing untuk dikenang dan dinikmati keseruannya.

Kenmochi Chiemi

Tangis itu pecah sudah di Medan

Medan, Sumatera Utara menjadi destinasiku selanjutnya setelah Palembang. Yang terbayang di pikiranku hanya Danau Toba dan Bika Ambon. Buta lokasi seperti biasa. Kali ini aku harus terbang dengan Garuda terpagi, pukul 05.45. Sehari sebelum keberangkatan, aku masih harus ikut kegiatan konsinyering di hotel Lumire. Sebenarnya konsinyeringnya tiga hari, berhubung aku harus DL keesokan harinya, jadinya cuma bisa ikutan sehari doank.

Maka, pukul empat pagi, aku uda stand by di lobi hotel dan bersama 2 orang lainnya kami naik taksi menuju bandara. Jalanan ibukota masih lengang, sepi dan tenang. Andai Jakarta bisa seperti itu tiap hari...sepakat kami berandai demikian. Perjalanan yang biasanya ditempuh 1-1,5 jam hanya dicapai 35 menit saja. Bayangkan, betapa banyak waktu yang penduduk Jakarta habiskan di jalan!

Sampai di bandara, kami masih harus menunggu satu orang teman lagi yang langsung berangkat dari Tangerang. Ayahnya sedang kritis di rumah sakit. Sebenernya dia sudah mengundurkan diri dalam event ini, namun tak ada seorang pun di kantor yang bisa menggantikan posisinya. Kegiatan ini dilaksanakan di empat kota besar, jadi semua pegawai sudah ter-plot masing-masing. Terpaksa temenku ini ikut dengan harapan dan pasrah bahwa ayahnya akan baik-baik saja. Pesawat kami pun take off tepat pukul 05.55 WIB. Waktu perjalanan Jakarta-Medan adalah 1 jam 49 menit, itu yang kubaca di layar LCD kecil di depanku. Rupanya penerbangan pagi merupakan penerbangan dengan jarak tempuh terpendek, jadi otomatis waktu jelajahnya juga paling cepat.

Sampai di Medan, seperti biasa aku memperhatikan bandara kota ini. Masih jauh lebih bagus bandara Palembang daripada Medan. Bandara kota ini jauh lebih kecil dan maaf, agak jorok menurutku. Mungkin ke depan akan dibangun lebih baik lagi. Di Bali dan jakarta sudah terpampang denah dan proyeksi bandara itu pada tahun 2014. Dan aku harap bandara Polonia Medan juga merupakan salah satu bandara yang akan mengalami rehab total megadahsyat tersebut.

Kami dijemput oleh pegawai Kemenkeu Medan. Seteleh sarapan, kami pun mulai bergerak sesuai dengan tugas masing-masing; mengurus dokumen dan bahan, menyiapkan venue, dan yang paling penting melakukan konfirmasi kehadiran undangan. Kami baru check in hotel pada pukul 14.00 WIB. Ketika masuk kamar, temenku yang ayahnya lagi sakit ini curhat, katanya waktu di pesawat tadi dia ngerasa kakinya ada yang nendang ato megang...padahal samping kanan kirinya lagi tidur dan orang yang di depannya juga ga mungkin nendang kaki dia. Dia pikir itu sebuah firasat. Entah kenapa aku ngerasa ayahnya akan pergi tak lama lagi. 

Pukul 10 malem, ketika kami sedang rapat kecil untuk persiapan final, telpon temenku berbunyi...dan...it was from her mother telling her that her father had passed away. Dia menangis, kami mengakhiri rapat saat itu juga. Aku menemaninya masuk kamar, dan...tangisnya bener2 pecah sudah. Sambil terisak dan tertelungkup dia atas pembaringan, temanku ini bilang kalo dia sudah dapet firasat kalo ayahnya akan meninggal, dia ingin mendampingi ayahnya, tapi dia juga ga bisa ninggalin kerjaan karena ga ada yang bisa gantiin dia. Dia takut ayahnya belum punya bekal yang cukup di "sana" karena memang sakaratul mautnya agak panjang dan terlihat susah. Kemudian temenku bangkit dan ambil air wudhu, sholat tobat. Disela sujudnya kembali dia terisak, setelah salam tangisnya kembali membahana, menyayat hati. Aku memeluknya,,,mencoba memberinya ketenangan dengan membisikkan istighfar. Kami beristighfar, tapi temenku sudah tak sanggup lagi ... dia hanya menangis dan menangis. Sesekali aku juga menitikkan air mata, aku ga tega..bagaimana jika aku di posisi dia. 

Kami semua berkoordinasi dengan cepat. Teman yang di Jakarta kami kabari, mereka langsung me-reschedule penerbangan untuk temenku ini. Kami benar-benar berduka, kami merasa bersalah kenapa dia harus diberangkatkan ke Medan. Dan Alhamdulillah kami dapet penerbangan terpagi untuknya besok. Aku menunggui temenku ini, selesai shalat dia pamit tidur. Aku tau dia ga bakal bisa tidur,,,sengaja aku matikan semua pencahayaan kamar kecuali kamar mandi. Aku tau seseorang akan dengan sangat leluasa bisa meluapkan emosi di kala dia merasa sendiri. Aku ingin tak tampak untuknya. Sesaat kemudian, dia bilang "Fit, aku mau baca surat pendek untuk ayahku, ga papa ya kalo aku bersuara?". Aku menghela napas panjang (menahan tangis iba), "Iya nil, bacalah sebanyak yang kamu mau. anggap aku ga ada ya...". Maka terdengarlah lantunan surat-surat pendek, lirih, satu per satu dan akhirnya bercampur dengan isak tangis yang kembali menyayat hati. Aku menemani temenku ini sampai akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapekan. Aku memencet tombol light di jam tanganku; pukul 3 pagi.


3.30, kami sudah bangun. Aku mengantarkannya ke bandara, berdua saja..di perjalanan dia meminta maaf karena harus melimpahkan semua tugasnya ke aku. Duh,,,betapa sedihnya, masih sempat dia minta maaf segala. Semua proses cek in dll segera kuurus begitu tiba di bandara. Dan sekali lagi kami berpelukan sebelum akhirnya dia meninggalkanku. Sungguh, sejak berita kematian ayahnya, suasana jadi berbeda. Kami jadi ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke Jakarta. Ga ada antusiasme untuk jalan-jalan apalagi foto-foto. Medan, mungkin lain kali aku akan menjelajahi cantikmu, karena kali ini kami dirundung mendung... 

Semua akan kembali kepadaNYA pada waktu yang telah ditentukanNya...
Dari tiada, kembali ke tiada

Tribute to my friend, Nilam
Kenmochi Chiemi

Hai December


Dear You: Di Ruang Tunggu untuk Cinta

Suatu ketika di Ruang Tunggu untuk Cinta, Rindu dan Harapan pernah duduk bersama. Saling menggenggam jemari erat; mematri janji di atas keakuan perasaan yang merunduk pada keteduhan, juga cita-cita penyatuan.

Kini di Ruang Tunggu untuk Cinta, Rindu malah membuang wajahnya. "Aku takut terluka lagi!" lirih ucapnya. Di balik kelelahannya, Rindu masih ingin bertemu dengan Harapan yang telah ia tinggalkan. Harapan yang awalnya menumbuhkan tunas rindu bersemi dan merindang daun. Harapan itulah yang selalu menanak getarnya untuk terus mengeja rindu dan tanpa henti mencari majikannya ; Cinta!

"Dimana alamatnya?"
Di RUANG TUNGGU UNTUK CINTA, Rindu menghela bisu dan merasakan sendat di dadanya.
"Di sini!"
Harapan menuntun Rindu rebah di dadanya.
"Di sini, kita menanti!" 

*taken from Dear You-Moammar Emka, penulis yang ternyata melankolis juga...hahaha


Starting up this December with love, passion and a very high motivation to set my misterious puzzles 
Kenmochi Chiemi