Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

ladies mini gathering


Mudik sriiii hahahaha

Tiap tahun ngumpul terus :D

Yeeeey,,,,moment mudik tiap tahun selalu kami manfaatkan untuk ketemuan, makan-makan sembari curhat sana-sini tentang hidup, tentang cinta, kadang juga tentang hal-hal yang ga jelas dan aneh hahahaha...


Kadang perempuan mempertontonkan kecerdasan pikirannya sekedar supaya tidak diremehkan oleh dunia, bukan untuk mengambil peran laki-laki. Kami tetap bangga pada kehalusan perasaan kami yang tidak dapat ditandingi oleh lelaki manapun...


K.C.

Menjelang Mudik


Mudik atau pulang kampung jadi menu wajib kalo uda lebaran. Berkali-kali sudah aku melakoni kegiatan mudik, tapi dua tahun terakhir menjadi acara mudik yang paling berkesan buatku. Why? Karena dua tahun terakhir aku mudik bukan lagi sebagai pelajar, tapi uda jadi pekerja. Lebaran tahun lalu aku kerja di Bekasi, atas nama pengiritan sedunia, mudiknya pake angkutan darat yaitu bus. Rutenya pun aku atur sedemikian rupa sehingga ga terlalu bikin badan capek. Aku mampir dulu di Jogja selama 2 hari untuk melepas capek, setelah itu lanjut lagi ke Jawa Timur. Meskipun begitu nyampe rumah, tetep aja badan rasanya remuk redam. Capeknya ga ilang sampe tiga hari...

Berbekal pengalaman tahun lalu, lebaran tahun ini aku memutuskan pulang dengan angkutan udara; pesawat. Mahal? Yoi banget, tapi sesekali ingin juga memanjakan badan yang selama ini dipaksa untuk tahan banting sama apapun. Kesehatan menjadi prioritas utamaku. Tiket pesawat sebenarnya bisa dipesan jauh-jauh hari, tapi karena dana terbatas, baru bisa beli bulan Juni kemarin. Itu aja harganya uda lumayan. Selalu ada yang dikorbankan untuk hal-hal yang lebih baik.

Jumat, 26 Agustus 2011 pukul 11.15 penerbangan GA 312 Jakarta-Surabaya akan mengantarkanku kembali menginjak tanah Jawa Timur. Aku uda janjian sama kedua sahabatku yang memang gawe di Surabaya untuk ngejemput aku di bandara plus mudik bareng ke Lumajangnya. Dari seminggu yang lalu aku uda nyicil baju dan apa aja yang mo dibawa pulang. Semua titipan orang rumah udah aku sisipin dalam koper. Sejenak aku ngerasa, "kok jadi mirip TKW yang pulang kampung si?" hehehe

Semoga perjalanan nanti semuanya lancar, aman terkendali. Amin.

Rampok di Siang Bolong

pic is taken from here

Kawan, apapun bisa terjadi di Jakarta. Tingkat kriminalitas di ibu kota sepertinya sudah ga bisa dinilai dengan angka-angka semata. Random, terjadi dimana-mana, di setiap sudut kota. Tuntutan hidup yang tinggi juga sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, tidak seimbangnya populasi penduduk kota dengan jumlah aparat penegak hukum dan keamanan membuat kriminalitas meluas dan merajalela tak terkendali.

Kosku yang terletak di kawasan penduduk rapat tak luput dari tindak kejahatan. Kali ini modusnya "mencari kos-kosan". Jadi ada dua pasang laki-laki dan perempuan [jumlahnya empat orang kan?], ngakunya nyari kos-kosan siang-siang sekitar jam 11-an. Satu pasang pertama kita sebut saja pasangan A, sepasang berikutnya kita sebut pasangan B. Nah, pasangan A ni minggu kemarin uda pernah ke kos. Dan kali ini mereka bilang mo jadi nempatin kamar yang minggu kemarin uda diliat.

Pasangan B belum pernah ke kos, mereka minta ditunjukin kamar-kamar yang masih kosong. Penjaga kos [perempuan/bagian bersih-bersih] yang polos dan sama sekali ga menaruh curiga, nganterin pasangan B ini ke lantai 2. Sayangnya mbak penjaga kos membiarkan pasangan A tetep di lantai 1. Karena kamar kosongnya ada dua yaitu di lantai 2 dan lantai 3, maka pasangan B ini minta ditunjukin kamar yang di lantai 3.

Di saat penjaga kos dan pasangan B di lantai 3 inilah pasangan A beraksi. Jendela kamar dicongkel paksa kemudian salah satu dari pasangan tadi [dugaanku sih yang perempuan] masuk ke dalam kamar dan mencari benda berharga. Itu mereka lakukan disemua kamar di lantai 1 dan 2. Total kamar yang dibobol adalah 6 kamar. Tapi untunglah dari sekian kamar tersebut hanya satu kamar yang kedapatan menyimpan uang tunai di dalam lemari. Karena yang diincar adalah uang tunai dan jam tangan. Barang-barang berharga seperti benda elektronik tidak diambil [mengingat modus dan waktu yang sempit].

Sementara pasangan A menggasak dan mengacak-acak kamar yang kosong ditinggal pemiliknya kerja, pasangan B dan penjaga kos ngobrol di lantai 3. Pasangan B berusaha ngajak ngobrol selama mungkin dengan penjaga kos. Tak lama kemudian pasangan A memanggil penjaga kos dari lantai 1, dan penjaga kos juga pasangan B pun turun ke lantai 1. Mereka kemudian berpamitan dan janji akan menghubungi lagi.

Penjaga kos ga curiga sama sekali karena jendela yang dicongkel tadi [di lantai 1] ditutup kembali dengan cara diganjal sobekan kertas kecil. Jadi sepintas ga ketahuan kalo tu jendela habis dibuka paksa. Kejadian itu baru terbongkar ketika salah seorang penghuni lantai dua yang jeli langsung histeria menyadari bahwa kunci jendelanya rusak [patah] dan terbuka sore-sore sepulang kerja. Maka hebohlah kami, yang belum pulang langsung ditelponin biar cepet pulang. Pemilik kos ditelpon. Bahkan akhirnya kami melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Mbak penjaga kos ikutan histeris, satu per satu penghuni yang kamarnya kebobolanpun berdatangan, karena memang waktu itu jamnya orang pulang kerja. Alhamdulillah hanya satu orang aja yang nyimpen uang di lemari, sementara yang lain ga ada yang nyimpen uang di kos. Duh, menjelang lebaran gini, para penjahat mulai beraksi. Serem abis, untungnya ga ada korban jiwa. Berabe kan kalo misalnya mbak penjaga dibekap, dikunciin dalem kamar mandi sementara kawanan perampok itu leluasa membongkar semua kamar kos.

Jakarta, semakin tampak mengerikan di mata saya...


Kenmochi Chiemi

Aku dan Polwan

Pic is taken from here

Begitu ngelihat wawancara live tentang pengamanan Mudik di Trans TV, aku langsung pingin nulis ini. Bodo deh, penting apa ga.

Orang tua adalah sepasang makhluk egois yang menginginkan generasi penerusnya mengikuti jejaknya. Setidaknya ini benar untuk para orang tua yang merasa diri mereka sukses dalam karir. Nah, ayahku adalah seorang abdi negara berseragam coklat tua, berpistol dan berkumis hehe, POLRI, sebutannya demikian. Profesi yang dulu sangat ditakuti, tapi sekarang udah "mingle" dengan masyarakat sejak bercerai dari TNI [dulu ABRI].Untungnya ayahku bukan polisi lalu lintas, karena polantas tu musuh seribu umat, termasuk aku hahahahaha

Dari ketiga putrinya, ayahku punya obsesi pingin menjadikan salah satunya POLisi WANita. Aku ingat banget cerita-cerita ayahku tentang enaknya menjadi polisi wanita, yang latihannya ga sekeras polisi prialah sampe ada uang khusus untuk make up. Anehnya, tak satupun dari kami, ketiga anaknya yang cantik-cantik ini, tertarik untuk mengikuti jejaknya menjadi polisi.

Kakakku waktu mo lulus SMP uda didaftarin di SMU Taruna oleh ayahku. Postur badan kakakku yang lumayan memenuhi syarat sepertinya bisa jadi tiket masuk. Tapi ayahku lupa, kakakku yang cantik jelita itu ga suka olah raga sama sekali. Cewek banget pokoknya, jadi pada tahap seleksi kesehatan khususnya tes fisik, doski gugur dengan sukses. Maka, satu kandidat penerus polisi gugurlah sudah..hehehe

Next, anak kedua, hey..itu aku!! Dari kecil, imut2, bayi sehat, pipi chubby, cerah ceria, suka banget mandi di kali, bantuin ayah benerin genteng ato masang antena ini menjadi kandidat kuat selanjutnya. Tapi ayah langsung lemes menghadapi jagoan keduanya ini bahkan tidak memenuhi persyaratan awal, yaitu tinggi badan. Kawan, ini sebabnya aku benci banget sama hal-hal yang menjadikan fisik sebagai persyaratan utama. Padahal, ayahku pernah cerita ke temannya di suatu siang, obrolan antar bapak2, sebenarnya dia pingin banget anak keduanya [akuu!!] jadi polisi [wanita]. Karena doi optimis, aku bakal lulus tes kesehatan juga tes intelegensia [ehem...pengakuan dari seorang ayah kalo anaknya ga bego2 amat hehe]. Cuma sayang banget tinggi badan menghalangi itu semua.

Mendengar [baca:nguping] perbincangan itu, aku bertekad akan membuat ayahku bangga dengan profesi lain. Mungkin itu yang menjadi bara semangat yang membakarku selama ini...

Terakhir, adikku. Si bungsu ini secara postur bisa banget jadi polwan. Maka ayah sangat berharap si bungsu mau "berkorban" meneruskan menjadi anggota Polri. Seperti dua kakaknya, adikku pun sama sekali ga berminat menjadi polisi. Bagi kami, Polisi itu ribet. Kalo lebaran kagak bisa libur. Kalo ada maling, paling repot, kalo ada demo paling benjol. Dan yang paling utama, ga bisa bergaya. Rambut harus pendek, kalo acara resmi tu rambut harus digembungin..iiih  Pokoknya jauh dari idaman deh. 

Jadinya bukannya daftar ke Akpol, adikku nerusin sekolah ke jenjang Perguruan Tinggi. Tapi ayahku masih ga ilang harapan, doi masih yakin bisa jadiin adikku polwan selepas dia lulus kuliah. Kini, harapan itu pasti ilang, adikku harus operasi angkat tumor di dadanya. Tentunya riwayat kesehatan ini akan menjadi penggagal utama kalo doski nglamar jadi polwan nanti.

Pagi ini, aku ngelihat "penampakan" polwan di Trans TV. Bo' tu polwan pake kawat gigi?? Sumpah aku sampe nganga abis ngeliatnya. How come? Kata ayahku, meski pisah dari TNI, di Polri masih tersisa aturan2 militer yang ketat. So, seharusnya polwan tuh ga bisa bergaya kan? Rambutnya ga boleh panjang kan? Giginya harus polos kan? Aku jadi ga sabar pingin nanya ke ayah soal ini pas mudik nanti. Apakah sekarang polwan harus gaul, harus cantik, harus kayak model jalannya, kalo perlu bikin tato kodok bawa pistol dipunggungnya? Kayaknya bakal ada perdebatan menarik nantinya ...

Dulu aku sebel dengan penampilan polwan yang jadul abis itu, tapi ketika sudah memahami tugasnya, justru polwan sekarang kok lebih kayak model ya? ga banget...hmmm

Kenmochi Chiemi

I N C U N A B U L A

Incunabula*, baik yang nyata ataupun yg imaginer, keduanya sudah tak punya wibawanya sama sekali. Incunabula sejati mungkin hanya bisa kita saksikan dengan gamblang di hari akhir nanti.

Incunabula di dunia sudah mengalami banyak renovasi di sana-sini sesuai dengan kepentingan penggunanya. Ada yang ditambah, ada pula yang dikurangi. Dipasangi hiasan berlapis emas agar tampak menarik dan tak ketahuan ketidakakuratannya.

Sadar atau tidak, setiap kita punya incunabula sendiri-sendiri. Melakukan perubahan sedikit-sedikit, menimang-nimangnya sejenak, kemudian meletakkan beban di kedua dudukannya untuk menakar mana yang lebih berat. Sisi mana yang akan diambil untuk diperjuangkan.

Incunabulaku, berwarna merah hati bertaburkan manik-manik merah muda dengan dua dudukan flat berbentuk kotak digantung rantai keperakan setiap sudutnya. Ada tulisan hitam glossy di atas ukiran sebentuk pita di ujung tuas utama yang berbunyi "Takarlah dengan nurani yang bening."

*bahasa Latin untuk "timbangan", tapi pada zaman sekarang kata tersebut hanya digunakan untuk buku-buku yang diterbitkan sebelum tahun 1500.

Kenmochi Chiemi

Terlalu Banyak

Aku pingin mengeluh, tapi pada siapa? Pada sesama manusia, belum kutemukan yang bisa memahami "sampah" yang menumpuk di cairan otakku. Pada Tuhan, kok aku merasa sangat malu. Telah diberiNYA aku banyak hal. Sangat banyak dan sedikit pengecualian yang wajar.

Aku bukan tipe pendiam tapi juga bukan tipe yang terlalu terbuka. Serba tanggung mungkin. Lelah, penat, kosong, "terjajah", terlalu diharapkan, terlalu dijadikan tempat bergantung. Padahal I'm just human being, just me, fietha.

From nothing to be something, lama aku berfikir...akhirnya aku tau rasanya menjadi seseorang yang dulunya sepi kemudian tiba-tiba dikerubungi keramaian yang sebelumnya tak terjamah. Seperti koin uang yang punya dua sisi, begitu pula perasaanku. Di satu sisi aku senang, aku gembira, aku merasa diperhatikan, dibutuhkan dan...berguna. Namun, di sisi lainnya...aku sedih. Aku kangen berat sama "kebebasan" genuine yang dulu kudekap erat. Kebebasan yang sekarang berwajah lain, nisbi.

pic is taken from here
Terlalu lekat keramaian yang mengelilingiku, wajah-wajah penuh harap, dan seakan menjadi orang yang sakti, aku bisa membaca harapan-harapan itu dengan jelas. Jelas sekali hingga aku tak sampai hati untuk menolak mewujudkan harapan itu satu per satu.

Setiap harapan bersanding dengan pengorbanan. Kesunyian dan kesenyapan dulu merupakan teman yang menyenangkan untuk menjalani pengorbanan. Tapi kini, pengorbanan menjelma serupa monster yang lebih seram dan buruk rupa dari pocong, kuntilanak atau sederet hantu dan setan negri ini. Begitu menyeramkan dan menghisap energi tak sesuai porsi. Tenagaku terkuras tak terkendali, tak ada supply yang memadai.

Hanya menunggu waktu saja untuk limbung dan tersungkur. Aku lelah, aku ingin istirahat dengan nyaman seperti dulu dalam buaian mesra bening yang sejuk. Surga imajiner yang hanya tampak olehku saja...

Doa yg Terjawab

Pic is taken from here

Sepulang kerja aku tiduran sambil nonton tv,sekitar 30 menit menuju bedug maghrib. Karena capek atau ga tau kenapa, aku ketiduran sampe-sampe adzan maghrib pun tak terdengar sama sekali oleh kupingku. Aku terbangun pada pukul 18.45, Maghribnya pukul 17.55. Tergopoh aku batalin puasa dan langsung ambil wudhu untuk shalat maghrib. Selesai shalat, aku memeriksa hape, ternyata ada sms masuk.

"Hallo sy ada kbr bru ni!Pemilik rmh yg bru sudah memutuskan kozt2an akan tetap brjlan sebagaimana dlunya hanya akan ada kenaikan harga kmr/ bulannya" Herlianto (Penjaga Kos)

Seperti diguyur air segar pegunungan, aku langsung melonjak kegirangan:
"Alhamdulillaaaah..." begitu kira-kira sorak sorai norakku. 

Baru tadi siang aku ngepost curhatan soal susahnya nyari kos yg normal di Jakarta (lihat di sini ), sore hari Allah udah ngabulin aja doa kita-kita yang lagi kebingungan ini.hahaha ga nyangka doanya bisa nyampe se ekspress ini, mungkin karena pas bulan Ramadhan kali ya. Cuma kos ini satu-satunya kosan yang normal dan sangat layak huni di daerah Pasar Baru dan sekitarnya. Terima kasih ya Rabb.

Huff...lega banget,sekarang ga perlu lagi hunting kos, mindahin AC dll. Padahal sebagian barang-barang uda aku pack, tinggal dikeluarin and diatur ulang deh hmm...I love it.Terima kasih Ya Allah...mwaah3x

Kenmochi Chiemi

Alegori untuk Teman

And when we're fighting together, We can take on the weather
I will keep you warm through, Every single storm you
Ever have to walk through, I will go before you
I will be the voice when you need someone to talk to
~T.Tempah-Invincible~

Saya kenal kamu tuh emang baru beberapa tahun aja. Tapi saya ngerasa kita bisa jadi teman yang baik. Teman selalu "saling" dalam beberapa hal, iya kan? Sharing, mau ga mau uda menjadi syarat mutlak dari sebuah pertemanan. Jika dua orang atau lebih mengaku berteman tapi mereka tak pernah melakukan interaksi yang dinamakan share/berbagi maka janganlah sebut hubungan itu sebagai pertemanan apalagi naik level yang lebih tinggi; persahabatan.

Dua kepala selalu punya pemikiran, ide, dan opini yang berbeda bahkan kadang bertentangan. Sangat bertentangan. Ada kalanya kamu menyinggung perasaanku, dan sebaliknya. Ada satu waktu kita bisa saling merasakan perasaan satu sama lain, tapi di lain waktu kita terputus komunikasi sama sekali. Sunyi.

Kalo boleh mengupamakan, teman itu serupa cermin. Memantulkan bayangan tanpa syarat, tanpa tendensi apapun, ... jujur. Dan saya sangat mengerti jika kamu perlahan menghilang, tak bersua, tak berjejak sedikitpun bagai embun yang menguap terusir cahaya mentari pagi. Memang seharusnya begitu, memang sewajarnya demikian. Teman tak perlu repot membagi apapun jika hati tak berkehendak, dan teman juga bisa melampiaskan apapun sesuai dengan kehendak. Saat kesepian, teman akan sangat berguna untuk memeriahkan suasana. Saat sedih, teman tentu akan menjadi badut penghibur yang lucu maksimal. Dan saat terhimpit, teman bisa menjadi tools yang bisa mengeluarkanmu dari himpitan itu, sadar atau tidak.

Well, teman, saya akan menjadi temanmu meski kamu telah membuangku jauh-jauh dari list pertemanan di hidupmu. Karena bagiku, dengan kamu peduli atau tidak, perasaan tulus selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Kedamaian hakiki adalah ketika ada orang lain yang bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian kita. Rasakan energi hangat yang akan mengepung hati dan jantungmu ketika ada orang lain yang berhasil tersenyum karenamu. energi itu disebut tentram. Hidup terlalu singkat untuk dibuang sia-sia dengan ketidakpedulian.   

*Untuk temanku yang hilang pedulinya, life is wacky now, isn't it?

Kenmochi Chiemi

Beberapa Design yang Saya Kagumi part 2

Berandai-andai tentang rumah impian di masa depan...hahahaha











Pictures are taken from  http://community.apartmenttherapy.com

Beberapa Design yang Saya Kagumi part 1





Pictures are taken from  http://community.apartmenttherapy.com

[Kos] Campur

pic is taken from here

Kalo aneka buah dicampur, dikasih susu kental manis, sirup dan es batu rasanya pasti mak nyuss...Apalagi aneka sayuran hijau, tempe, tahu, cingur dicampur dengan bumbu kacang plus petis item jadi rujak cingur ditaburi kerupuk udang atau keripik melinjo...pasti rasanya sedap

Tapi apa jadinya kalo ada kosan yang ... campur???

Kosan campur, dihuni cewek dan cowok, bukan hal baru bagiku. Di Jember dan Jogjakarta tempat aku kuliah dulu juga ada yang begitu. TAPI menjadi hal yang mencengangkan ketika aku harus pindah kos dan hunting kosan baru [di Jakarta], dari sekian kos-kosan yang aku survey, 99% kosan campur! Rasanya hopeless banget deh...

Bukan sok suci, sok bersih atau sok keren, aku baru sekali aja ngerasain kos campur yaitu kosan terakhirku di Jogja. Tapi campurnya disini bukan campur cewek cowok, tapi campur dengan keluarga. Jadi ada dua kamar [dari 5 kamar] yang disewa oleh sebuah keluarga. Aku pikir rasa dan suasananya pasti beda banget dengan kos campur cewek-cowok yang masih single. Resiko pelanggaran zona privasi akan sangat tinggi dan tentu saja mengkhawatirkan.

Beberapa kos campur yang aku survey, kebersihannya bener-bener di level NOL. Aku menyebutnya kumuh dan lebih ekstrim lagi kayak kandang. Ada puntung rokok tercecer di mana-mana, sepatu berantakan bahkan hanya ditumpuk sekenanya aja dalam kardus. Sampah juga berserakan, entah karena dikacauin sama kucing atau memang penghuni kos yang apatis. Belum lagi ada bau yang aneh-aneh di udara, kamar mandi juga digunakan bersama...iiihhh....jijay bajaj [ga bermaksud generalisasi kalo cowok tu jorok]. Dan yang paling mengerikan buatku adalah, tu kosan bener-bener campur secara harfiah. Jadi random gitu penempatan kamarnya, kamar A isinya cowok eh sebelahnya [Kamar B] isinya cewek. Ga habis pikir, apa enaknya sih ga punya privasi gitu?

Ini uda hari ketiga perburuanku, tapi masih aja belum ada kos yang cocok, khususnya kos cewek. Para pemilik kos di Jakarta rata-rata hanya   profit oriented aja [menurutku], pasalnya mereka ga peduli mo kosannya jorok kek, mo ada yang berbuat aneh-aneh kek [padahal ada peraturan dari RT, RW, Kelurahan yg ditempel di dinding/pintu setiap kamar], yang penting income lancar. Padahal setiap kos selalu dilengkapi dengan penjaga yang bertugas sebagai tukang bersih-bersih, cuci gosok dan juga kolektor uang kos. Yang punya kos? Mereka ga tinggal di rumah kosnyalah, kos-kosan merupakan salah satu ladang investasi minim cost pengeluaran bagi mereka. Taunya beres.

Jakarta memang keras, bahkan untuk mencari kos-kosan yang "normal" aja kayak nyari jarum dalam setumpuk jerami yang tertimbun tanah. Susyeeee minta idup. Orang terpaksa harus melabrak norma atau prinsip demi mendapat hunian [baca:kos] yang deket tempat kerja, minim ongkos dan murah. Aku belum siap untuk menjadi seperti itu, aku masih pingin hidup "normal" seperti sebelumnya. Ya Allah, tolongin aku dooonk...masa iya ga ada kos-kosan khusus cewek untukku. Satuuu aja...Please...

Kenmochi Chiemi

Terusir dari Kosan

Pic is taken from here
Mata uda mau menutup ketika pintu kamar diketuk dan terdengar namaku disebut. Mau tak mau aku bangkit, membuka pintu dengan mata separuh merem. "Yaa??"

"Malam mbak Fietha, maaf mengganggu. Jadi begini, kos-kosan ini udah dijual. Serah terimanya bulan depan, jadi seluruh penghuni kos diharapkan untuk pindah paling lambat awal bulan depan. Mohon maaf ya atas pemberitahuan yang mendadak begini. Saya juga baru tadi sore dikasih tau sama bos dan diperintahkan untuk memberitahu semua penghuni kos," kata penjaga kos hati-hati.


Seketika kantukku lenyap demi mendengar kalimat-kalimat penjaga kos. "Hah?? dijual??mendadak banget sih pak?" kataku syok. Teman sebelah kamarku juga ga kalah syoknya, dia sampe jalan ditempat grak gitu hehehe.

"Iya, makanya saya minta maaf tadi. Saya juga bilangnya gitu sama si boss. Makanya dikasih dispensasi sampe awal bulan depan pindahnya, soalnya kan bentar lagi lebaran," sahut penjaga kos.

"Ya tapi tetep aja terlalu mendadak pak, lagian kalo niatnya dijual, harusnya saya dikasih tau donk biar saya ga pasang ac duluan," aku uda mulai emosi jiwa.

"Iya mbak, mohon maaf," pak penjaga kos menunduk galau. Jadi kasihan ngeliatnya.

Baiklah, acara bobo malamku pun terganggu, aku berpikir keras gimana caranya bisa nemu kos baru dengan cepat. Secara kurang 14 hari lagi aku mudik, baru balik hari ke empat bulan depan. Deadline banget tuh. Langkah pertama adalah menenangkan diri di atas kasur, tarik napas dalem-dalem abis itu minum air putih pelan-pelan [alay]. Langkah selanjutnya, kirim message ke temen2 yang juga ngekos, cari info kali aja di kosan mereka ada kamar kosong. Apes, semua kosan temen uda pada full. Panik tingkat psikotes nih aku. 

Kepanikan melanda seluruh penghuni kos. Semua pada buka lappy and search di internet lokasi kosan di Jakarta. Ya Allah...bener-bener emosi jiwa. Cobaan bulan ramadhan kali ya? Sampe sekarang aku masih search kosan, susyeee abis. Ada yang deket, harganya mahal. Ada yang bagus, eh ternyata kos campur cewek-cowok. Ada yang keren,,,lha ternyata di Bandung. Kumaha eta? Sabar ...sabar... menghadapi yang punya kos-kosan tak beretika memang musti punya sejuta layer kesabaran......

Kenmochi Chiemi

Bioskop vs Masjid

Sudah sepuluh hari Ramadhan berlalu, dan sepuluh hari juga aku mengamati nuansa Ramadhan di sini [Jakarta]. Jakarta, aku ga tau berapa jumlah umat Islam disini, tapi aku sempat melakukan semacam mini riset kepada orang-orang yang aku kenal di sini khususnya mereka yang sejenis denganku; pendatang. Dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Hampir 3/4 dari responden mengaku ga sempat shalat tarawih. Alasannya pun beragam, ada yang ga keburu, ada yang capek, ada yang kejauhan sama masjid, dan yang paling parah adalah terlanjur buka di mall jadi sekalian nonton aja. Secara di mall kagak ada masjidnya gitu...

Bioskop memang sedang jadi primadona sekarang. Gimana enggak, wong polemik pajak dan bea cukai film ini baru aja mencapai kata sepakat. Jadi mulai akhir Juli, masyarakat uda bisa kembali menikmati film-film Hollywood macam Harry potter, Transformer 3 dll. Timing-nya pas banget, bulan ramadhan. Seperti jerawat yang meletus, animo penontop bioskop udah ngalahin antrian sembako gratis aja. Rame banget. 

Di Jakarta, anda ga bakal kaget dengan "kerusuhan" penonton. Tapi yang membuatku miris adalah ketika teman-temenku sendiri juga begitu, padahal mereka ga di Jakarta...hahahaha kiamat uda dekat pemirsa...baiklah, tarawih butuh sekitar sejam dan itu rasanya lamaa banget. Tapi kalo di Bioskop, "tarawihnya" bisa dua jam, dan rasanya cepeeet banget. Ga heran, banyak yang pilih "tarawih" di bioskop aja. Meski bayar and lama, berasanya cepet selesai ga bete. Hhh...manusia...manusia...

Menertawakan diri sendiri gampang ya...? Hahahahaha

Kenmochi Chiemi

Megah ga = normal

Baru saja aku ikutan tarawih di Masjid kebanggaan negri ini, Istiqlal. Sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki saja dari kosanku, tapi karena waktu yang mepet, kuputuskan bawa motor kesayangan. Gerbang Timur dibuka,jadi aku tak perlu memutar untuk memasuki kawasan Istiqlal.

Begitu masuk gerbang, terdengar adzan Isya'. Kupercepat memarkir motor yg tentu saja ngantri and ribet. Masuk teras, aku langsung nitipin sendal japitku di tempat penitipan. Sandal memang wajib dititipkan. Setelah itu aku bergegas naik ke lantai dua, disanalah shalat tarawih dilaksanakan. Untung tadi aku sempat wudhu dulu sebelum berangkat,jadi masih keburu.

Aku melangkah ke area wanita di sebelah kiri. Karena areanya sangat luas, maka wanita tak perlu didiskriminasikan ke lantai atasnya atau jauh di belakang. Aku suka pembagian ini. Di depan sudah ada pentas mini lengkap dg mimbar, di atasnya sudah ada banner super gedhe berwarna ijo (Kenpa sih banner keagamaan ga pernah ada yg warna pink atau ungu muda gitu) digantung pake tali berisi program-program pengurus masjid (baca:Kementerian Agama) selama bulan Ramadhan. TV LCD berukuran sedang bertebaran di dinding depan juga di pilar-pilar raksasa. Lampu penerangannya pun terang banget. Bo' ni masjid emang juara deh, bangga punya masjid yang keren gini.

Ketakjubanku terhenti ketika ada seorang laki-laki berjas dan berpeci rapi maju ke mimbar membawa semacam map yang mirip dipake buat baca UUD 45 waktu upacara bendera. Doi ternyata MC acara "tarawih" ini. Tuh map adalah jadwal acara selama terawih. Ga hanya itu aja, dia juga nyebutin nama-nama para donatur 3000 makanan buka puasa hari ini, jumlah uang sumbangan, program kementerian agama lengkap dengan nama menterinya (titelnya disebutin semua), pokoknya aneh banget deh. Ada baiknya kalo bersedekah, ga perlu diumumin gitu ya. Si MC cuap-cuap hampir selama 20 menit,,,sangat ga penting menurutku dan kok aku de javu ya? Berasa orde baru aja gitu. Kayak di shaf paling depan tuh ada pak Harto. Segalanya serba kaku, serba diatur sesuai dengan protokoler. Hey, ini masjid kan??

Shalat Isya berjalan tanpa cela. Setelah shalat Isya, mas MC maju lagi (hadee), trus doi baca map lagi. Nyebutin sebua nama qori kelahiran 1967, pendidikan terakhir, pekerjaan sampe prestasi-prestasinya di bidang MTQ. Bo' ngapaiiiin sedetil itu sih. Trus, si ibu pun bacain QS An Nisa': 58-61 (cuma 4 ayat!!). Abis ibunya baca ada tukang terjemahnya juga. And u know what, aku yakin 70% jama'ah wanita pada ngegosip ndiri-ndiri. Kaga dengerin 'penampilan' duo maut di depan. OMG, aku ngerasa berada di tempat yang salah, mo pindah ke barisan cowok kok ya ga enak. Secara, aku uda kadung berjilbab gitu.hehe

Selesai pembacaan Al Quran dan terjemahannya "acara" dilanjutkan dengan ceramah. Dalam otakku cuma ada satu pertanyaan, "Nih kapan sih tarawihnya dimulai???"

Sekali lagi MC maju ke depan, membaca lagi CV pak ustad yg mo ceramah which is wasting time a lot. Pak ustad ceramah, guyonannya ala ibu-ibu gosip. Bete, aku ngeluarin Al Quran, nerusin bacaan. Sumpah, saya merasa ini masjid yang...ga normal. Lebih aneh dari pohon mangga berbuah duren

Pak Ustadz lagi ceramah


Yang ditunggu2 pun tiba, shalat tarawih ... Yeeey (sujud syukur ). Sepertinya pake sistem 2 rakaat salam sebanyak 8 rakaat plus witir. Tapi aku ga tau pasti, soalnya setelah rakaat ke delapan, aku cabut. Ambil sandal, bayar. Keluar dari parkiran bayar. Ya Rabb, tiba-tiba saya pingin shalat tarawih di Masjid Kampus UGM atau di masjid desa saya nun jauh di Jawa Timur sana. Masjid Istiqlal ini kok lebih mirip gedung MPR/DPR ya? Saya merindukan masjid yang difungsikan hanya untuk berinteraksi dengan Allah, untuk bermunajah, untuk bersimpuh dan berserah. Bukan untuk berpolitik apalagi ajang pamer budi. Saya kecewa.

[update] Kata temenku ternyata di masjid ini ada dua macam shalat tarawih, 11 rakaat dan 23 rakaat. Masing-masing dipimpin oleh imam yang berbeda. Jadi imam yang pertama mimpin yang 11 rakaat. bagi jamaah yang pingin 23 rakaat, ga perlu ikutan witir imam pertama. Nah abis itu lanjut ngabisin sisa rakaat sampe genap 23. 

Kunci Kebahagiaan Ala Aa Gym


Kemarin sore Ditjen Anggaran ngadain kajian Ramadhan, yang ngisi Aa Gym. Kesempatan emas untuk ngeliat langsung tokoh agama nih. Niat awalnya memang udah salah hehehe. Acara diawali dengan shalat ashar, dan ceramahnya dimulai setelah shalat berjamaah.

Di ballroom gedung Dhanapala ini, kenorakankupun merajalela dan membabi buta. Uda datengnya telat (aku shalatnya di gedung Djuanda), nyelonong duduk di depan pula. Abis itu sempat-sempatnya aku nodongin BB and ceprat-cepret Aa 4 kali. Hahaha, namanya juga orang desa, biasanya kan liat Aa cuma di tipi doank gitu. Sadar ga ada yang senorak aku, akhirnya aku anteng lempeng ikutan dengerin tausiyah Aa. Fakta-fakta yang berhasil aku dapetin dari Aa Gym adalah:
  1. Ganteng, booo' Aa ga pake surban, peci, apalagi bandana gitu . Jadi beneran keliatan secara keseluruhan. Pantesan teh Rini jatuh cintrong ama beliau...hmmm
  2. Sederhana, liat deh penampilan doi. Biasa aja, santai beud. Ga kayak dai2 ato ustad2 yang sekarang lagi laris manis di TV. Sadar ga sih, ustad2 sekarang agak alay?
  3. Adem, dengerin tausiyahnya di tv aja uda bikin adem apalagi live? Uda balroomnya ac-nya kenceng plus suara Aa yang medok sunda bertone rendah. Duuh...jadi ngantuk *lho
  4. Easy listening and understanding, materi yang disampein Aa tuh mengena banget. Ga melulu kutip ayat and hadist. istilah gaulnya happening banget gitu. Yang hadir kemarin kan ga hanya pejabat yang tuir2, tapi juga pegawai baru yang masih cimit2 and imut2 macam awak hehehehe . Nah bahasa yang digunain, contoh kasus, juga style Aa mampu merangkul segala usia, segala kedudukan, segala gender. Aa mengkritik kebiasaan buruk bapak-bapak yang ngerokok, tapi juga ga lupa nyindir para wanita yang doyan shopping. Imbang, ga menggurui, mengajak berpikir dan merenung bersama, menempatkan semua manusia pada derajad yang setara. Mungkin itu yang ga dimiliki ustad lain kali yaa....
  5. Santun, apa yang anda harapkan dari Aa Gym selain kesantunannya yang...hmmm...patut diteladani? Ada ibu-ibu yang minta foto bareng Aa setelah pengajian bubar. Tapi dengan candaan renyahnya Aa menolak dengan halus. Halus banget malah menurutku. Aa menyalami hampir semua bapak-bapak yang hadir sepertinya. Ramah banget. Pokoknya ... gitu deh.
  6. Yang terakhir, Aa ga setinggi yang aku kira. Tingginya mungkin sekitar 160 cm-an. Beneran lho...kamera memang menipu   
 
Mengesampingkan semua di atas, Aa Gym menyampaikan materi yang sangat erat berkaitan dengan tauhid kita yaitu ikhlas. Dalam film Kiamat Sudah Dekat, tema utamanya juga tentang keikhlasan. Bahkan di film tersebut dikatakan bahwa Ikhlas adalah ilmu tertinggi yang paling susah untuk dicapai. Aa Gym memberikan langkah-langkah tentang ikhlas ini; Pertama, jangan ingin diketahui oleh orang lain. Kedua, jangan ingin dilihat oleh orang lain. Ketiga, jangan ingin dipuji. Keempat, jangan ingin dihargai. Kelima, jangan ingin dibalas budi.

Beberapa celetukan Aa yang membuatku berpikir adalah "Yang benar itu mencari rejeki atau menjemput rejeki?" Dari sejak lahir sampe sekarang kita selalu dilimpahi rejeki untuk tetap hidup. Sepiring nasi beserta lauk pauknya aja kalo ditelisik kan berasal dari antah berantah yang jauh dari kita. Jadi mengapa kita khawatir dan bergantung pada kekayaan, jabatan atau orang? Rejeki sudah disediakan oleh Allah, tugas kita adalah untuk menjemputnya dengan benar.Meyakini bahwa hanya Dialah tempat bersandar. Ketika hati sudah benar-benar yakin, maka keikhlasan akan menyertai.

Kenmochi Chiemi

Fake Smile


Di dalam mobil Keenan menatapku, aku memberikan senyum palsuku padanya. Ingin aku mengatakan padanya bahwa aku membutuhkannya, menginginkannya selalu di sampingku. Ahh...mata itu sungguh lembut dan teduh memandang jauh ke depan, ke jalanan yang kami lalui.
 
Aku mengutuk kebodohanku sendiri, bagaimana bisa aku di sini, bersama Keenan untuk bertemu dia? Gadis yang setiap saat Keenan ceritakan dengan binar-binar cinta? Gadis yang aku gambar bebas dalam imajinasiku kala Keenan berceloteh. Aku berani bertaruh, dia pastilah cantik. Dia punya segalanya...yang aku tak punya. Sesekali Keenan melemparkan canda, tapi aku tak mampu merasakan apapun kecuali gemuruh di dada ini. 

Keenan mengaku bahwa dia begitu jatuh cinta, begitu buta, begitu gila. Itu juga yang aku rasakan, aku juga begitu ...jatuh c-i-n-t-a. Begitu lama, begitu sunyi, begitu rahasia. Ingin rasanya menghentikan laju mobil ini sejenak dan membiarkan Keenan tau apa yang ada dalam benakku. Bahwa dialah alasan tetes-tetes air mata jatuh di atas senar-senar gitarku. Dialah satu-satunya alasan aku selalu melempar harap pada bintang-bintang jatuh. Dan dialah lagu yang terus aku nyanyikan dalam mobilku, dalam kamarku, dalam diaryku, dalam hari-hariku.

Kami turun dari mobil, Keenan berjalan di sampingku. Langkah kami bertambah santai tapi nafasku seperti tertahan, mendadak sesak. Di samping pohon palem aku berhenti, membiarkan Keenan berjalan sendiri menuju gadis pujaannya. Oh laki-laki itu sungguh sempurna, tanpa celah. Keenan menoleh sebentar padaku, kuacungkan dua ibu jariku mengiringi langkahnya. Keenan tersenyum dan mengangguk, manis sekali. Gadis itu menunggunya di sebuah bangku di bawah pohon berdaun lebat dengan akar-akar kokoh seperti mencengkeram bumi.  Malam ini cuaca cerah, bintang-bintang tampak seperti pecahan kaca yang tersebar semburat di langit. So perfect!

Keenan, sebaiknya gadis itu memegangmu erat-erat dan memberikan semua cintanya padamu. Karena mata indahmu itu tak boleh tertutup kabut setipis apapun, gumamku. Aku bergegas kembali ke dalam mobilku, pulang. Kusambangi kamarku, mematikan lampu serta meletakkan gambar Keenan di bawah bantalku. Berharap aku dapat segera terlelap menyingkirkan sejenak bayang indah satu-satunya orang yang mampu menghancurkan hatiku. Menata hatiku kembali untuk mendengar celoteh riang Keenan tentang pertemuan pertamanya dengan gadis pujaannya esok hari...

*inspired by some puzzles in some cosmos

AC cures my Insomnia

pic is taken from here

Salah satu problem yang aku alami selama di Jakarta adalah udara panas. Setiap pulang kerja, buka kamar langsung wuuzzz panaaasss...open raksasa ini kusebut kamar kosku selama 8 bulan terakhir. Udara panas ternyata membuat insomniaku tambah parah (rata-rata aku cuma bisa tidur selama 1-3 jam aja), and I know it well.

So, satu-satunya jalan keluar adalah melawannya. How? AC of course. Hampir 3 bulan aku menyisihkan gaji untuk beli AC. Dan akhirnya 22 July kemarin, kamarku resmi ber-AC...Horee...Alhamdulillah :D

Aku infokan padamu kawan, pengaruh AC ternyata memang sangat ampuh. Perlahan namun pasti, aku mulai bisa memperpanjang jam tidurku. Yang sebelumnya aku cuma bisa tidur maksimal 4 jam, sekarang aku bisa mendekati normal yaitu sekitar 6-7 jam. Kemarin aku membaca sebuah jurnal internasional kesehatan [setelah baca ulasannya di Tribun news], ternyata telah dilakukan penelitian kepada penderita insomnia akut/primer. Mereka diberi semacam kompres air dingin/ tudung plastik yang berisi air dingin di kulit kepala dan dahi pada jam tidur (malam). Hasilnya, penderita insom ini bisa lebih cepat tidur melebihi orang normal [beritanya bisa dilihat di sini ].

Normalnya, orang akan tertidur rata-rata dalam 16 menit, tapi pada penelitian tsb, penderita insom dapat terlelap lebih cepat yaitu 13 menit. WoW!! Jadi bolehlah aku simpulkan, AC telah mengurangi bahkan sepertinya berpotensi menyembuhkan insomniaku ini ... Thanks to Allah that gives me this fortune. Alhamdulilah sejuta kali.

Melihat orang-orang yang belum beruntung di luar sana, aku malu. Kok aku ngerasa kufur nikmat ya? Ah ... Semoga negara ini segera menjadi negara yang makmur, sehingga rakyatnya sejahtera merata. Mumpung bulan ini segala rupa doa diijabah (InsyaAllah), ga berlebihan kan meminta padaNYA secara gila-gilaan? Hehehe... :p

My First Ramadhan in Jakarta

pic is taken from here

Tahun kemarin aku menghabiskan bulan puasa di Bekasi, dan tahun ini aku bergerak lebih ke Barat lagi; Jakarta. Hari pertama dan kedua, aku belum bisa ikutan puasa, well...keistimewaan perempuanlah :)

Ada beberapa hal baru, meski ga baru-baru amat sepertinya, yang aku temui di sini. Pertama, jam pulang kantor maju 30 menit lebih awal. Kedengerannya menyenangkan, but it is not actually. Kenapa? Umumnya pegawai negeri kementerian lain dan pemda pulangnya justru jam 4 sore [masuknya jam 09.00]. Kemenkeu jam masuknya tetep 7.30, pulangnya 16.30 [biasanya 17.00]. Akibatnya bisa ditebak, yup jalanan super duper macet...semua orang berlomba-lomba ingin sampai di rumah sebelum bedug maghrib terdengar. Alhamdulillah kosanku ga begitu jauh, jadi siksaan macet yang memaksa stress dan emosi jiwa ga perlu terlalu panjang aku terima.

Kedua, cari makanan kudu berebut...ini kayaknya uda lazim dan biasa ya. Sejak jaman kuliah dulu emang begono kalo uda bulan puasa. Tapi aku menyiasati dengan memasak ... semoga bisa hehehe....

Ketiga, mercoon. Di gang kosanku banyak anak-anak kecil yang getol banget mainan mercon. Bahkan suara dar der dor uda terdengar seminggu sebelum puasa tiba. Risih, jantungan dan bikin uring-uringan banget. Untung aja aku ga sakit gigi, kalo ga ...grrrr. Disamping mengancam kuping, mercon juga membuat seisi kos khawatir. Pasalnya, Jakarta ni uda penuh sesak. Perumahan atau bangunan semakin merapat. Kalo percikan api mercon menyulut kebakaran [Naudzubillah semoga ga pernah] gimana coba? sapa yang mo tanggungjawab? Apa emaknya tuh bocah mau? So pasti enggak kan? Jakarta bukan desa yang masih punya banyak tanah lapang yang asyik buat main mercon. ...

Keempat, dari jaman TK, setiap aku nonton acara shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal [yang cuma disiarin TVRI only], aku pingiin banget suatu saat nanti ngerasain shalat tarawih di Masjid megah itu. Keinginan itu rupanya bisa terwujud saat ini, InsyaAllah. Jadi aku bakal nyoba shalat tarawih di Masjid terbesar se Asia Tenggara itu. Let see, apa yang bisa aku ceritakan nanti hehe

Sementara itu dulu yang bisa aku ceritain...I'll be back to share another Ramadhan story ... ^^,

Kenmochi Chiemi

Selamat Jalan Temanku


Yurike Nareta, temanku semasa SMP pergi ke pangkuan Ilahi pada Sabtu siang kala matahari bersinar terik pukul satu. Innalillahi wa innailaihi Raji'uun. Tak banyak yang tertinggal di memoriku tentang Rike, begitu kami memanggilnya, selain dia siswi yang pintar, cantik, ramah, populer dan sedikit eksklusif. Bapaknya seorang guru SMA dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Rike beruntung lahir di tengah keluarga yang berada. 

Lulus SMA Rike melanjutkan sekolahnya di STT Telkom. Lulus, dia bermaksud langsung bekerja saja. Tapi karena beberapa hal akhirnya dia mencoba kuliah sambil kerja di Jember. Namun, sepertinya kuliah bukan pilihan hatinya, akhirnya dia tak melanjutkan studinya. Memilih menikah dengan seorang bintara kepolisian. Mempunyai dua orang anak dan hidup bahagia. 

pic is taken from here
Cerita sederhana itu masih nempel di pikiranku dan baru berhenti ketika Sabtu, 30 Juli 2011 seorang sahabat mengirimkan pesan singkat berisi berita duka. Ada nama Yurike Nareta dalam barisan kata-kata duka itu. Tak percaya, aku membalas sms itu dengan agak marah, aku ga mau bercanda dengan kematian. Tapi, kabar duka itu benar adanya. She's gone.

Diabetes Melitus Tipe 1 mengantarkan Rike ke peristirahatannya yang terakhir dengan damai. Meninggalkan dunia yang telah sesak dengan masalah ini, meninggalkan jagoan-jagoan kecilnya juga orang-orang yang menyayanginya. Selamat Jalan temanku sayang, semoga engkau dilancarkan, diterangi dan dimudahkan dalam perjalanan abadimu. We love you ...

Bermain Bara


Seorang perempuan secara tak sengaja berteman dengan sahabatku, kemudian pertemanan itu menjadi akrab. Si perempuan terperanjat ketika menyadari bahwa sahabatku tadi mengenal mantan kekasihnya. Sebut saja si perempuan dengan nama Dina, Sahabatku bernama Dewa dan mantan kekasih Dina bernama Fandi.

Maka Dina pun menceritakan kisah kasihnya bersama Fandi. 

Dina dan Fandi bertemu dalam sebuah kelas kuliah yang sama, tempat Kuliah Kerja yang sama, dan akhirnya mereka pun sepakat untuk memadu kasih atas nama cinta. Dina sangat menyayangi Fandi dan begitu pula sebaliknya. Dina gemar sekali pada sebuah klub sepak bola internasional dengan seragam Biru Hitam. Mungkin itu yang membuat Dina begitu istimewa di mata Fandi.

Dimana ada Dina, disitulah ada Fandi. Kedua orang tua mereka sudah sama-sama merestui, tak ada halangan apapun yang membendung cinta kasih mereka berdua. Dina merasa Fandilah yang akan menemaninya menghabiskan usia, merenda masa depan dan mencipta bahagia bersama. Kalo Dina sakit, Fandi akan dengan setia menungguinya berjam-jam bahkan sampe pagi menjelang. Ibunda Dina bahkan telah memasrahkan Dina kepada Fandi. Dina bercerita, betapa sayangnya ibundanya pada Fandi.

Hingga suatu hari, Fandi bertemu Kinanti, seorang mahasiswi fakultas yang sama dengan Dina dan Fandi. Kinanti beberapa tingkat di bawah Dina dan Fandi. Tak hanya di kampus, Fandi juga merupakan senior Kinanti di sebuah organisasi intra kampus. Entah bagaimana ceritanya, Fandi jatuh hati pada Kinanti. Anehnya, Fandi dan Dina tetap berjalan seperti biasa, hubungan mereka masih seperti sebelumnya. Seperti tak terjadi apa-apa. Dina tak tahu menahu soal Kinanti dan juga sebaliknya Kinanti tentunya tak pernah tahu menahu soal Hubungan Dina dan kekasih barunya; Fandi.

Fandi mendua, menduakan hatinya pada dua perempuan yang membelit hatinya. Cinta apakah yang Fandi miliki di hatinya. Suatu hari Dina mengetahui Fandi mendua, sakit dan perih begitu hebat mengguncang bathin Dina. Guncangan itu menjadi luka psikologis yang mengganggunya melebihi penyakit fisik. Dina berkali-kali jatuh sakit. Ketika Fandi datang, sakit itu hilang secara ajaib. Dina mengaku, Fandi adalah segala-galanya baginya. Dia tak dapat melepaskan Fandi dari dirinya. Hubungan mereka sudah terlalu jauh dan mendalam. 

Melihat Dina yang kian melemah, Fandi tak tega melepaskan Dina. Maka Dina dan Fandipun tetap berkomunikasi dekat sampai detik ini. Sulit menggambarkan perasaan Fandi saat ini. Kepada siapakah cintanya berlabuh? Berulangkali Dina mencoba mengikhlaskan Fandi pergi, tapi berulangkali pula dia gagal. Tak ada seorangpun yang mampu menggantikan Fandi di hatinya. Kerap kali dia memajang foto mesranya dengan Fandi di facebook maupun BBM. Dia masih menyayangi Fandi sampai detik ini.

Bagaimana dengan Kinanti? Dina yakin bahwa Kinanti tak tahu kalau Fandi masih berkomunikasi aktif dengannya. Masih memperhatikannya seperti dulu, masih merengkuh cintanya seperti dulu. Dewa mendengarkan keluh kesah Dina dengan seksama. Prihatin dan juga terkejut yang Dewa rasakan. Bagaimana bisa seorang Fandi tega memperlakukan seorang Dina sampe sedemikian rupa? Tapi Dewa tak dapat berbuat apa-apa selain menjadi pendengar setia Dina. 

Fandi, sadarkah dirimu...ada dua hati yang sedang kau sakiti pelan-pelan disana?

*Untuk yang suka bermain bara..

Kenmochi Chiemi