Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

pose..pose..pose...


The End of May

heihooo....bulan ini bener-bener bulan tersibukku selama di Jakarta. Not physically but the non one. Mewujudkan impian yang tertunda, yang sebelumnya masih berupa kerangka, seperti strategi tempur yang sekarang pertempurannya uda dimulai.

Butuh keberanian, lobi-lobi (ini yang utama), informasi, dan bantuan orang-orang yang kalo misalnya aku dapet penghargaan gitu bakal aku sebutin satu per satu untuk dihadiahi ucapan terima kasih... Ini baru permulaan, masih panjang jalan yang harus aku lalui di depan sana...

here we go...
Setelah banyak survei tentang apartemen di Jakarta, membandingkannya dengan rumah...I came to my decision to choose house. Seseorang yang baik hati membantuku untuk survei perumahan mana yang "pas". Pas lokasinya, pas pengembangnya, pas lingkungannya dan yang paling penting pas di kantong....hahahaha hey, don't you think that we have to know our budget to buy property right?

Akhirnya aku harus menyerah dengan kenyataan bahwa menjadi seorang pegawai atau pekerja di ibu kota memang harus ikut arus. Hunian di ibu kota memang sangat menggiurkan dari segi waktu, tapi tidak dengan harga dan lingkungannya. Jadi memang harus memilih, mau punya rumah dengan konsekuensi jauh dan korban waktu, atau ngekos seumur idup tanpa punya investasi? I pick the first one for sure!

then, pergilah aku ke daerah pinggiran Jakarta ... BOGOR! Bukan di kotanya sih (itu mah jauh gilak!)...Tau Cikeas? yups, rumahnya pak esbeye, nah perumahan yg aku tuju terletak setelah cikeas, nama daerahnya Cileungsi...Tau Taman wisata buah "Mekarsari"? Nah, perumahannya pas di seberangnya.

Hmm.....masih panjang prosesnya... untuk sementara itu dulu ya...tar aku ceritain lagi gimana ribetnya mewujudkan mimpiku yang satu ini...ngos2an gilak!

Sejati


Hidup itu pilihan. Tapi memilih untuk tidak membuat pilihan adalah juga sebuah keputusan. Ketika kita berhadapan dengan pilihan, tidak selamanya ada yang sesuai dengan yang kita maui, yang kita ingini. Mungkin saja kita justru memilih untuk mengambil pilihan yang tidak ada dalam pilihan-pilihan itu. Lantas kita menjadi berbeda. Dan apakah menjadi berbeda itu salah?

Melawan arus bukanlah sebuah keputusan yang nyaman.  Kita harus berhadapan dengan kemapanan, akar budaya dan adat istiadat. Menabrak kewajaran yang terlanjur menjadi sesuatu yang umum di masyarakat. Harus berani terbentur tembok nilai-nilai sosial. Menerpa badai adalah sebuah ketidakwarasan. Kematian hanya satu-satunya pilihan yang ada. Lantas, haruskah kita memilih kematian?

Tapi, memilih untuk berani melakukannya juga bukan berarti sebuah kisah kepahlawanan. Memilih untuk menjadi sang buaya dalam cerita si kancil, mungkin bukan keputusan yang terbaik. Tapi berani memilih untuk menjadi yang tidak dipilih adalah sebuah bukti kesejatian cinta. Dan aku memilih yang sejati. Mengikuti kata hati, meski menyakitkan, meski menyesakkan, meski harus menghadapinya sendiri. Aku masih percaya bahwa kesejatian ini akan bersamaku, aku tak peduli dengan kebohongan apapun di luar sana. Aku tutup mata dengan mereka yang hanya memandang setengah hati dan melihat ini sebagai benda jamahan saja, hanya sebagai pelabuhan sejenak untuk melepas hasrat atas nama cinta. AKU TAK PEDULI. Kamu dan kalian boleh begitu, silahkan saja.

Pasrah itu sebuah sikap penerimaan karena ketidak berdayaan dalam mengubah keadaan yang ada. Sedangkan ikhlas adalah sikap penerimaan karena kerelaan dan memahami keadaan yang ada.Bukan Karena tak berdaya. Aku tak tahu apakah aku pasrah atau ikhlas dengan pilihan ini. Sakit yang merajam bertubi-tubi, sedikit rasa manis yang tak seimbang dengan perih,,,selalu ada benih harapan dalam kesejatian. Aku masih ingin bertahan dengan kesejatian itu...aku masih bisa bertahan sedikit lagi...masih bisa.

PALSU!!


Seorang perempuan duduk seorang diri di bawah sebuah pohon bercabang banyak, rimbun daunnya sehingga cukup menyembunyikan tubuh mungilnya dari terangnya cahaya bulan purnama malam itu. Dia hanya bersandar, membujurkan kaki telanjangnya pasrah. Di depannya terhampar kerlip lampu nun jauh di bawah sana, berlomba kerlipnya dengan taburan bintang di angkasa malam. Yah, dia berada di sebuah bukit yang sepi ditemani sayup semilir angin malam yang hangat.

Parasnya bersih, namun matanya tampak sayu menyimpan sebuah kesedihan mendalam. Tak ada air mata di kelopak matanya, tapi bukankah jika seorang perempuan bersedih tetapi tak meneteskan air mata itu berarti dia sedang menangis di hatinya?? Tangisan yang hanya dia sendiri bisa mendengarnya. Jelas sekali hatinya baru saja terluka.

Tak dihiraukannya angin yang menampar tubuhnya, dia hanya menengadah ke langit, mencari sesuatu yang diyakininya indah, kuat dan memberinya energy untuk …kuat. Ada berjuta mengapa yang bergaung dalam hati dan pikirannya, mencoba mengurainya satu per satu untuk dicari jawabannya segera sebelum dia benar-benar mengeluarkan air mata.

Perempuan ini kuat, dia tak pernah disurutkan oleh gamang. Tapi untuk kali ini dia luruh, ingin dia mencari satu saja hal yang dia benci dari sosok yang sangat dia kagumi. Satu saja…namun rupanya tak ada satupun hal yang tak disukainya dari ”dia”. Dia terlalu menyayanginya. Orang melihatnya terlalu kuat bertahan, orang menilainya terlalu sesumbar menjaga hati….menjaga hati untuk seseorang yang sangat dicintainya di sana. Jauh di tempat yang tak bisa dijangkaunya lagi.

Dia meyakini hatinya masih bersatu dengan “dia”. Mereka masih bisa berkomunikasi dengan cara yang tak biasa. Energi yang mendorongnya untuk tetap kuat dan berlari menembus apapun di depannya adalah …”dia”. Begitu kuatnya energy itu sampai-sampai tak ada sumber energy lain yang dapat menggantikannya. Perempuan ini sudah manunggal dengan energy “dia”.

Sampai suatu malam, “dia” datang…mengecup keningnya, memberikan pelukan terhangat dan senyum termanis tak telupakan sepanjang masa padanya. Bercengkrama dengannya seperti dulu, membagi kisah berdua dalam buaian kasih sayang tanpa batas, luar biasa indah, luar biasa syahdu, luar biasa mesra. Memberinya berjuta bahagia tak terungkapkan, menghadiahi senyuman tak berkesudahan.

Tiba-tiba “dia” mengajaknya beranjak, menjejak ke sebuah padang ilalang….tempat asing. Meyakinkannya untuk tetap tinggal di sana, sementara “dia” bersiap pergi. Perlahan melepas genggaman tangannya, berkata “aku akan selalu ada untukmu sayang”. Dia berjanji akan mengawasinya dari jauh selama perempuan ini berjalan mencari energy baru. Mencari energy BARU! Itu yang “dia” inginkan darinya…

Si Perempuan berjalan perlahan, menunduk … membasahi jalan setapak yang dilaluinya dengan tetesan-tetesan air matanya. Sungguh sampai hati “dia” membuatnya begini. Rasa cinta yang terlalu dalam ini rupanya tak sedalam yang dia kira. Mungkin saja “dia” hanya berpura-pura sangat mencintainya, atau “dia” hanya tersaruk rasa kasihan dan iba saja,,,kecewa.

Perempuan itu tak pernah bisa mencerna kenapa sosok yang dicintainya sampai hati menyakitinya? Sampai hati berpura-pura mencintainya, sampai hati melepasnya di padang ilalang tak bertuan…kejam. Perempuan ini tak meminta apa-apa selain energy yang selama ini menyalakan semangat hidupnya, energy yang membuatnya senantiasa kuat dan hebat. Ternyata semuanya hanya fatamorgana,,,,palsu,,,,maya,,,,   

Sesuwatu itu cokelat

Mendapati sesuatu yang unik pasti menyenangkan dan menghibur hati.
Seperti yang satu ini, unik banget plus kreatif.
Entah siapa si empunya ide, tapi hasil otaknya ini sungguh menarik.
Bisa membuat yang ngeliat langsung tertarik ingin tau ada apa sebenarnya di dalam "sesuwatu" itu.
Penasaran?? Let me introduce you to.....

ini dia cokelat sesuwatu banged hahahahaha

Bahkan keterangan nutrisinya juga menarik, unik, lucu

ini isinya, biasa saja rasanya, tapi kemasannya memang oke bgt deh

Where did I get it?
Temen kantorku habis dinas luar ke Batam. Dia menemukan coklat unik ini di sana.
So if you curious to taste it, go and find it at Batam guys....
Ini asli buatan Indonesia lho, kreatif ya?? INDONESIA!!!!

o iya, met hari buruh yaa....stop anarchism!!


Kenmochi Chiemi