Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

cintronnkk

Cinta adalah ketika kau menyingkirkan perasaan, napsu, dan romantika dalam persahabatan. Dan menemukan bahwa kau masih peduli pada orang itu. Memberi seseorang seluruh cintamu bukanlah suatu jaminan bahwa seseorang tersebut akan mencintaimu kembali! Jangan mengharapkan cinta kembali! Hanya tunggulah, cinta itu akan tumbuh dalam hatinya, tapi jika hal itu tidak terjadi, tampunglah cinta itu dalam dirimu.

Hanya butuh 1 menit untuk dapat suka dengan seseorang, hanya butuh 1 jam untuk menyukai seseorang dan 1 hari untuk mencintai seseorang tapi butuh waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang [ST 12 beud]. Pergilah untuk seseorang yang membuatmu tersenyum karena hanya butuh senyuman untuk membuat hari yang gelap terlihat terang.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya. Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping. Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Ada masanya dalam hidup ketika kamu merasa sangat merindukan seseorang dan kamu berharap dapat mengambil dia dari mimpimu dan memeluknya dalam kehidupan nyata! Bermimpilah apa yang kamu ingin mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah apa yang kamu ingini karena kamu hanya mempunyai satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan semua hal yang kamu ingin lakukan. Ingat, hanya satu kesempatan saja, hanya sekali saja!

Lambretta kok ya dipiara =(

Dua hari terakhir aku bikin account baru di Bank Mandiri dan BRI for the purpose of salary hehehe. Tampaklah perbedaan yang mencolok antara keduanya. Tidak bermaksud melebihkan dan mengurangkan salah satu dari bank tersebut, satu kalimat yang pantas untuk menggambarkan mereka yaitu clink vs lambrettaaaa.

Di bank Mandiri pelayanannya efisien dan lumayan cepat, tidak bertele-tele pokoknya so simple-lah. proses pembuatan dll cukup 20 menit aja. Sedangkan di Bank yang satunya...OMG jangan ditanya deh, lambreeetaa!!! Aku dan teman-teman sepakat untuk mengakali "kelambretaan" itu dengan datang lebih pagi bahkan banknya masih tutup. Kami datang dan ngambil nomer antrian. Udah dateng pagi2, tetep aja dapet no urut 27. 

Nah, karena pelayanan CS untuk satu orang aja bisa lebih dari 30 menit, maka aku dan temen2 pun memilih untuk kembali ke tempat kerja. Meskipun tuh bank berada di areal yang sama dengan gedung kami, tapi tentunya kami ga bisa donk ninggalin kerjaan demi nungguin antrian yang lama gila gitu. Mana hari ini bagianku ada press con menteri lagi, jelaslah ga bisa ditinggalin kewajibannya.

Pukul 13.00 aku bersama 2 orang teman yang lain kembali ke bank. Dan betapa kecewanya kami melihat kenyataan yang menyebalkan. Ada ibu2 yang baru datang, tanpa ngambil nomer antrian, nylonong ke CS dan langsung bla..bla..bla... Udah pelayanannya lambreta, ga tertib, loading sistemnya lemot...aaarrtrgggghhhh bikin emosi jiwa. Satpam penjaga pintu yang bertugas mencetin nomer ternyata berbuat curang, masa temanku yang dapet nomer antrian 61 tiba-tiba bisa dapet no 31?? Temenku bilang dia bisa begitu karena "minta tolong" ke satpamnya. Whooott???!!!

Sungguh aku sangat2 kecewa dengan bank ini. Mungkin karena PNS payrol-nya ke situ jadinya tuh bank jadi songong. kayak kita butuh beud gitu ke dia. Masa ga ada standar pelayanannya sih. CS-nya ngetik kayak baru belajar komputer,,,lamaaa gitu. trus antrian bisa dipotong seenak udelnya. begitu satpamnya ditanya, kenapa ibu itu bisa langsung trobos ke CS tanpa ambil nomer, eh si satpamnya cm bilang "yah untuk kepentingan2 tertentu memang ga perlu antri mbak". Padahal setelah si ibu pergi, satpamnya ngambil nomer antrian sbg formalitas untuk si ibu tadi. Bah...aturan macam apa ini??

Semoga kekecewaan ini tidak bertahan lama, mungkin ni bank masih belum bisa seprofesional bank2 swasta. Tapi ya jangan keterlaluan donk. Indonesia, tolong ilangin budaya mengerikan ini

Moon River


Moon River, wider than a mile
I'm crossing you in style someday
Oh, dream maker, you heart breaker,
wherever you're going I'm going your way 
Two drifters off to see the world
There's such a lot of world to see
We're after the same rainbow's end
Waiting 'round the bend
My huckleberry friend
Moon River and me

my special weekend

Mengobati rasa kangen pada Jogja dan teman-teman, aku pergi liburan ke sana weekend lalu. benar-beanr Nekad, kenapa? Seminggu sebelum hari H aku uda ke stasiun KA untuk book tiket, dari tiket kelas ekonomi, bisnis, sampai eksekutif semuanya ludes tak bersisa. Aku baru nyadar kalo weekend ini bukan weekend biasa tapi long weekend. Ada tanggal merah di hari Jumat yang berarti banyak orang yang akan keluar dari Jakarta.

Aku jadi dongkol, menyesal kenapa ga booking dua minggu sebelumnya aja. Kesempatan terakhir adalah beli tiket on the spot, pada hari H. Meski dapet tiket berdiri, tapi lumayanlah daripada ga dapet sama sekali gitu. Aku ga mau "bayar atas" karena selain malu, aku uda pernah bayar dua kali lipat karena ga pegang tiket hahaha. Efek jera yang memang membikin jera. H-2 ada temen yang nawarin untuk pulang bareng rombongan sesama pegawai menuju Jogja, carter bis ceritanya. Tanpa pikir panjang I said YES. Malangnya, pada hari H, si koordinator mengabarkan bahwa tiket habis. haduuwh...kembali ke plan yang pertama deh, beli tiket on the spot.

Hari H, aku uda bawa tas ransel kesayangan waktu berangkat kerja. Rencananya sih, pulang kerja langsung cao ke stasiun KA. Aku mo naik Senja Utama Jogja (kelas Bisnis). Jam 17.15 aku uda ngantri di depan loket karcis, tapi kok loketnya belum buka ya? aku uda mulai curiga, jangan2 ... dan benar juga, beberapa menit kemudian ada mbak2 petugas tiket yang dengan tenang nempel secarik kertas di kaca loket bertuliskan "Maaf, penjualan tiket ditiadakan karena  sudah melampaui kapasitas maksimal". Mampus!!!

Ditengah kepanikan, aku memacu motor ke Gambir. Ga tau kenapa aku punya feeling kalo di gambir pasti masih ada tiket untukku. Ga kebayang kalo aku musti ga berangkat hanya gara2 ga dapet tiket. Dan voilaa aku dapet tiket dong, meski mahal (kelas eksekutif) aku ga peduli. Bagiku segalanya akan terbayar lunas dengan menghabiskan waktu di Jogja nanti (and it was!). 

Akhirnya aku nyampe juga di Jogja jam 5.15 pagi. Jogja masih basah oleh air hujan yang mengguyurnya 2 jam lalu. Perasaan senang, gembira, lega membuatku  tak pernah bosan "pulang" ke kota ini. Teman-teman PD Ugm sudah siap menanti untuk mencicipi birunya pantai Indrayanti dan Siung.

Ngabisin waktu dengan ngobrol santai, dengerin curhatan teman-teman, menikmati angin pantai yang semilir dan berbagi mimpi serta harapan. bercanda, tertawa, kadang-kadang juga sedikit sedih (dengerin yang curhat sedih) ...ah aku benar-benar menyayangi teman-temanku.

Esok harinya kami latihan silat, ada surprise kecil, teman kami yang beberapa bulan ini bekerja di luar Jawa ternyata mudik. Wah senang sekali, andai beberapa teman yang lain juga mudik pasti tambah seru. Pelajaran weekend kemarin adalah kalo mo mudik, musti pesen tiket maksimal 2 minggu sebelum hari H, kalo dicurhatin temen jangan lupa bawa tisu, dan kalo ada teman yg kerja di luar pulau pulang, jangan sungkan nagih oleh-oleh (*lho).

Ada kata-kata bijak, tiga hal yang paling berharga di dunia adalah kasih sayang, keluarga & persaudaraan, dan kebaikan. Bagiku, teman dan sahabat adalah salah satu harta termahal di dunia ini. Kehangatan dan sambutan dari setiap teman adalah energi yang luar biasa dan tak tergantikan untuk kembali menggerakkan asa yang sempat redup atau bahkan sedikit mati suri. Bersama teman-teman dan sahabat aku temukan kasih sayang dan kebaikan tiada banding. "Aku sayang kalian teman-teman. hope we'll have another weekend to spend" ^^


semua tersenyum senang

geng cantik

gerombolan si berat :p

Dibalik Kesalahan Ada Kesadaran

Hari ini saya diingatkan oleh pengalaman berharga seorang teman sekantor. It is human who makes mistake, right? Manusia punya keterbatasan sehebat apapun dia, sehingga sangatlah manusiawi jika seorang manusia membuat kesalahan dalam hidupnya.

Di unit tempat saya bekerja salah satu tugasnya adalah membuat siaran pers mengenai kebijakan Menteri. Nah, teman saya (sebut saja Senja, nama disamarkan) mendapat tugas tersebut. Senja juga pegawai baru sama seperti saya, dia pintar, cantik dan menyenangkan. Hari itu load kerjaan dia memang lagi tinggi-tingginya. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia handle secara bersamaan.

Siaran Pers yang kami buat tidak serta merta langsung diupload ke portal kementerian, prosesnya tidak sesimple wartawan media cetak maupun online. setelah selesai disusun, siaran pers itu akan diperiksa sampai tiga kali, mulai dari eselon 4 (kasubag), eselon 3 (kabag), sampai yang terakhir adalah eselon 2 (kepala biro/karo). Mekanisme ini memang diciptakan untuk memperkecil tingkat kesalahan baik konten, pemilihan kata maupun tanda baca.

Kembali ke Senja, pekerjaan Senja sudah rampung. Maka Siaran Pers (SP) buatannya pun melewati serangkaian mekanisme tadi. so far so good, dan SP tersebut diupload ke portal kementerian. Keesokan harinya terjadilah kegemparan di ruangan kami, pak Karo memanggil Senja. Ternyata ada kesalahan kecil namun fatal pada SP buatan Senja. Anehnya, tak seorangpun dari 3 lapis pemeriksa (yang saya sebutkan) mengetahuinya. Kebijakan Menteri yang berlaku sejak bulan X 2010- bulan Y 2011, tertulis bulan X 2011-bulan Y 2011. Hanya penulisan tahunnya saja yang salah.

Tidak ada peringatan super kasar dari kepala biro kami, atau kabag kami. Beruntung Biro ini berisi orang-orang yang bijaksana dan intelek. Jadi semuanya diselesaikan dengan baik, elegan dan tanpa kepanikan berlebihan. Kesalahan sepele itu menjadi sangat fatal karena SP ini berhubungan dengan kebijakan yang berkekuatan hukum dan mempengaruhi orang banyak tentunya. Kesalahan sekecil apapun akan berefek tidak baik bagi masyarakat.

Tak hanya Senja, seluruh pegawai di unit ini pun tersadarkan bahwa kami harus hati-hati dalam bekerja karena sedikit kesalahan akan berdampak luas di masyarakat. konsekuensi humas memang berat.

Pelajaran yg dipetik hari ini adalah konsentrasi, fokus dan sungguh-sungguh mutlak diperlukan dalam dunia kerja. Apalagi jika pekerjaan anda menyangkut kepentingan orang seIndonesia Raya ini. Berusahalah bekerja dengan sempurna. terima kasih teman, kesalahanmu tidak mustahil menjadi kesalahan kami juga suatu hari nanti. Tapi berkat kamu, kami tersadarkan untuk lebih berhati-hati dan lebih mempertajam kemampuan diri. Semoga tidak ada lagi kesalahan - kesalahan yang kita buat di masa yang akan datang.

Insomnia

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Penyebabnya seringkali adanya oenyakit atau akibat permasalahan psikologis.

Saya adalah salah seorang yang hidup dengan gangguan tidur ini. Kalau diingat-ingat sih, saya mengalaminya udah lama. Tapi baru nyadarnya setelah pindah ke Jakarta. Mungkin dulu gara-gara pola tidur saya yang "njomplang" waktu kelas 3 SMA (sok menganalisa diri sendiri). Kelas 3 SMA saya mengubah pola tidur saya yang tadinya jam 9 malam-5 pagi menjadi 7 malam sampe 10 malam. kok bisa? kegiatan les yang padat membuat saya punya ide pembagian ngawur itu.

So, kegiatan saya di sekolah dimulai pukul 6 pagi (les tambahan pada jam ke nol), jam 7-1 siang pelajaran biasa, jam 2 siang - 4 sore kembali les tambahan. Pulang nyampe rumah udah jam 5 sore, saya beristirahat, shalat dll sampai jam 7 malam. Nah, jam 7-10 malam saya tidur. kemudian 10 malem - 5 pagi saya belajar. Gila kan? percaya atau ga, pola itu saya jalani selama satu tahun penuh.  bukannya ga ada konsekuensi, badan saya akhirnya bobol juga pertahanannya. Seminggu di rumah sakit karena tipes akhirnya menjadi reward dari kekacauan pola hidup saya itu.

Akan tetapi pola itu terbawa ke masa kuliah dan sampai sekarang. Hanya bedanya sekarang saya udah kerja. Waktu kerja saya adalah 7.30-17.00. Anehnya, pola tidur saya tidak bisa mengikuti ritme yang baik. Saya bangun jam 4.30 pagi, berangkat ke kantor jam 7, pulang kerja nyampe kos 17.30. Setelah itu saya akan tetap melek sampe jam 2 malem (bahkan pernah sampe jam 3.30). Badan saya capek, pikiran juga capek, tapi tetep aja ga bisa tidur. what's wrong with me?

Berbagai cara mulai dari minum susu, makan mie, baca, nonton tv, internetan, ngegame, dengerin instrumental, joged2, nyanyi2 sampe meditasi sudah saya lakukan (hanya 1 yg tdk saya lakukan; minum obat tidur). still, insomnia loves me badly. Bulan kedua di Jakarta, saya berjalan kaki dari kos-kantor tiap hari. Saya melewati Lapangan Banteng yang didalamnya ada taman2nya gitu. Seringkali saya melewati orang-orang yang cuek bebek bobok di atas rumput, bangku atau bersandar di bawah pohon. puleees banget. hah, iri dan dengki beud (pengaruh sinetron ga mutu).

Pernah sih insomnia berhenti sekali yaitu ketika kegiatan saya sangat padat tapi teratur. Kejadian ini berlangsung hanya tiga bulan saja yaitu ketika saya membantu salah seorang teman melatih silat pada seorang anak SD untuk persiapan PORSENI. Kebetulan waktu itu saya sedang menyusun thesis dan bener2 limit time. why? karena laptop, mp4 dan flash disc saya ilang dicolong maling keparat ga sopan dan penuh dosa ituwh (dendam kesumat). saya ga punya back up sama sekali padahal tenggat waktu tinggal 3 bulan (saya sudah ngerjain thesis sampe bab 3, jd harus ngulang lagi dari awal). Pada saat yang bersamaan juga, organisasi silat UGM dalam masa TC untuk menghadapi kejurnas dan entah kesambet apa para pelatih dan teman2 malah nunjuk saya jadi manajer. Lengkap sudah, tiga sasaran dalam waktu yang bersamaan.

Maka saya memutuskan membuat manajemen waktu yang super ketat dengan tujuan biar ga keteteran dan tiga kegiatan itu bisa berjalan harmonis. Pagi pukul 8 sampai 4 sore saya mengerjakan thesis di American Corner, 4.15-8 malam berjibaku dengan silat, nongkrong di UKM sampe jam 9. 10 melem-4 pagi tidur, 4-6.30 shalat, nyuci, mandi,dll, begitu seterusnya setiap hari. Saya merasa sehat sekali waktu itu. Tapi begitu kejurnas usai, Porseni berakhir dan sidang thesis rampung, si insomnia kembali lagi dengan liciknya sampai sekarang.

Hmm ... what should I do?   

Yang coklat, yang ajaib

Hari ini Jakarta berganti-ganti rupa, pagi ceria, siang muram, entah malam nanti berubah jadi apa lagi (dua hari terakhir hujan plus petir yg gila2an kencengnya). eniwei, saya lagi bete nih di kantor. Kerjaan uda beres, maem uda, onlen jalan terus hehehe. Dua hari lagi ada long weekend, saya memaksakan diri untuk "menghilang sejenak dari kekejaman Jakarta. 

Tapi sebenarnya bukan itu siy topiknya (sadar kl uda ngelantur), saya mo membahas sodara sehati sejiwa semanis, setenar dan semahal saya yaitu coklat. Benda yang tercipta indah dari biji kakao ini telah membuat saya jatuh hati sejak sebelum TK. Kala itu, om saya yang super baik dan tidak sombong menghadiahi saya sebatang coklat berbungkus merah dan bergambar ayam jago. Kata om itu namanya coklat, dan sumpah tuh coklat habis mengenaskan tak bersisa dalam sekejab diiringi tangisan kakak yg rupanya ga dapet seupil pun dari saya hahahaha. 

Nah, dari situlah saya pun menggilai coklat. Bahkan dulu waktu SD saya sampe bela2in 3 hari ga jajan untuk membeli sebatang "jago merah". beranjak dewasa, tak hanya coklat batang yang saya gemari tapi ice cream, kue kering, minuman, puding, atau apapun yg berbahan dasar coklat tidak akan luput dari perhatian dan cinta kasih saya. Uniknya, coklat menjadi semacam pelarian saya dari hal-hal yg bikin nyesek di hati macam nilai ulangan yg jeblog, berantem ama anak eksul bola, jerawatan, putus cinta, kiriman telat, laptop ilang, hape dicolong penjahat tanpa tata krama dll (curhat beud).

Setelah makan/minum coklat saya akan merasa senang. EGP dah dengan keruwetan dunia, tsaah! Awalnya saya ga peduli kenapa coklat sampe segitunya membelai mood saya dari negatip ke positip (berlagak gbs bilang F), tapi setelah baca2 di internet, coklat memang punya kandungan ajaib. Setidaknya ada 2 zat yang membuat pemakannya feeling happy gitu; flavonoid dan theobromine. 

Flavonoid katanya sih kaya antioksidan yg fungsinya membersihkan badan kita dari monster radikal bebas. Sedangkan theobromine adalah stimultan pada sel saraf. Intinya, zat kedua inilah yang berperan untuk menimbulkan perasaan semangat dan segar. Bahasa kerennya sih mood elevating effect. So terjawab sudah kenapa kesintingan dan ketidakwarasan saya yang lebay bisa tiba2 kabur tanpa pamit after eating chocolate. Beberapa mantan pacar saya (deew berasa yg paling sering pacaran aje, pdhl...) seringkali nyodorin sebatang coklat, semangkuk es krim, atau sekaleng gedhe susu coklat (dua yang terakhir hoax!) demi menenangkan (baca menjinakkan) saya yg lagi ngambek atau kumat sintingnya. Guess what, cara ini selalu sukses berat hahahaha. 

Saya ingat, dulu (jaman SD gitu) ada seorang teman yang bertanya waktu kita asyik nangkring di pohon mangga depan rumah, "Kalo kamu kaya raya nanti, kamu pingin membuat apa?" Sambil ngemut biji buah mangga saya menjawab, "Bikin rumah dari coklat." ooohhh sedapnyee ...*bahasa malay copas ipin upin.* eengg...bisa ga ya mahar nikahan tu rumah dari coklat??

Akhirnya datang juga

Semoga ini tidak menyinggung pihak manapun, saya cuma mau curhat aja hehehe. Hari ini, Senin 18 ApriL 2011, dia yang kami tunggu-tunggu dengan perasaan tidak menentu, dengan berita yang simpang siur, ngawur dan geje akhirnya datang juga. Satu anak tangga telah terlewati, masih banyak anak tangga lain yang masih harus dilewati pffhh...

Ini dunia baru bagi saya dan teman-teman senasib dan sepenanggungan saya tentunya. Kami berlatar belakang berbeda, lulusan dari berbagai Perguruan Tinggi se-Indonesia, dengan pengalaman kerja yang beraneka ragam, somehow bersatu di sini, dibawah payung yang sama. 99% dari kami pernah bekerja di sektor swasta beberapa bulan bahkan ada yang udah beberapa tahun. Sehingga bolehlah dibilang kalo kami sudah terbiasa dengan atmosfer kinerja swasta yang "profesional", sangat profesional malah. 

Euforia kami perlahan sirna dengan kenyataan yang kami hadapi. Kami harus menghadapi sistem yang 180 derajat berbeda dengan sistem yang pernah kami alami di swasta. Saya sampai berfikir, apakah di negara lain juga seperti ini ya? 

Tahapan dan proses rekruitmen yang panjang dan melelahkan ternyata masih berlanjut setelah kami dinyatakan lolos tes wawancara. Mulai dari orientasi institusi, orientasi unit eselon 1, sampai orientasi unit yang lebih kecil lagi. Kami melakukan adaptasi kerja, mempelajari hal yang sama sekali asing dan belum pernah ada di tempurung otak kami sebelumnya. Sampai pada tahap yang paling krusial yaitu soal klasik sepanjang masa; uang.

Yes my friend, mungkin anda sudah mahfum dengan kata "rapelan" yang tentu saja hanya dialami oleh mereka yang berprofesi sebagai abdi negara (mungkin ini tabu untuk dibicarakan, tapi saya dengan semangat 45:9=5 ingin mengeluarkan uneg2 ini sekarang). Tahapan "neraka" yang harus kami lewati adalah CCPNS-CPNS-PNS (iya..iya, saya akan jelasin satu2).

CCPNS adalah (masih) Calon Calon PNS, ini adalah tahapan pertama yang kami masuki. Jadi selama Surat Keputusan (SK) CPNS belum diterima, maka status kami masih honorer. Entah siapa yang memulai, kami menyebutnya dengan istilah CCPNS. Lupakan gaji 80% sobat, karena gaji menggiurkan dan menggelitik jiwa itu baru bisa diterima ketika SK CPNS itu diterima. Dan thanks God, hari ini kami menerima SK kramat itu, so from this moment we are CPNS (yeeyyyyy!!! joged2 India). But unfortunately (gara2 sistem lagi) 80% kami baru akan cair 2 bulan lageee...gosh, do you think I am that patience?

Then, kami akan mengalami yang namanya Prajab (pra jabatan). Kata senior yang mengaku bijak sih itu adalah proses akhir yaitu para CPNS dikarantina selama dua minggu dengan pelajaran kayak jaman SMA trus ada juga materi fisiknya. Dan di hari terakhir barulah hidup dan mati kami untuk menuju penghilangan satu "C" lagi akan ditentukan dengan UJIAN. Diperkirakan kejadian itu akan berlangsung pada bulan Oktober (msh jauh ya cin..?). Just hold on, be stong and your fate will lead you to that final step. Satu lagi, Selama satu tahun ini kami terus diawasi dan diberi penilaian berkala. Jika memang kami dinyatakan layak, maka kami bisa mengikuti prajab tepat waktu, sebaliknya jika kami termasuk CPNS bermasalah (amit2 jabang baby boo) maka bisa jadi prajab kami ditunda.

Di era "onlen" ini, kami menghubungkan diri satu sama lain dalam grup jejaring sosial. 1507 CPNS baru pun bisa share apapun termasuk uneg2 yang bersifat sangat pribadi. Salah seorang teman yang berperangai keras dan ga sabaran sempat menyebar aroma demontrasi for the sake of "SK". Tapi, ada api selalu ada air, untunglah banyak juga tim Pemadam kebakaran, jadi ga sampe ada demo2 aneh nan mengerikan. Bisa dimaklumi sih, kami yang dulunya bekerja di sektor swasta selalu mendapat reward sesuai dengan pencapaian kami dengan tepat waktu. Tapi di sini, kami benar2 seperti menjalankan puasa ramadhan yang indah, bedanya ramadhannya hampir setahun. Bener2 diuji mental, jiwa dan raga deh. Banyak yang jatuh bangun karena sakit, mungkin metabolisme tubuh syok dengan perubahan dari surga ke neraka hehehe lebay.


Bagi Anda yang bercita-cita luhur untuk menjadi PNS Indonesia Raya Indah Permai ini, jangan pernah takut atau parno setelah membaca tulisan saya. Karena percayalah, setiap detik yang anda lewati dalam penantian itu akan terbayar kontan setelah anda disumpah setia pada negara atas Nama Tuhan YME. Jangan pernah putus asa, stress apalagi gila. Terima saja dengan sabar. Setidaknya itu yang dikatakan para senior kami. Hidup Indonesia!!!! Yeaaah.

Brother Fitnah

Udah aku (bosen pake saya sekarang pake "aku" ajah hehe) ceritain kan kalo aku ini pegawai baru di Kemenkeu??kalo belom, harap baca di postinganku sebelumnya. Nah,  pada awal bulan April aku dapet tugas untuk hadir dalam rapat bersama perwakilan IDB [Islamic Development Bank] di gedung Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu. Rapat ini tentang persiapan acara yang akan diadakan oleh IDB bekerja sama dengan Kemenkeu tentunya. 

Soal rapatnya ga perlu aku tulisin ya di sini b'coz ada yang lebih menarik cuy. Perwakilan IDB berjumlah dua orang, Khaled A. Nazer dari Jedah dan Razak Ratne dari Malaysia. Kenapa aku bilang menarik, kan selama ini aku tau budaya "greeting" orang Arab cuma dari tipi tuh, nah waktu rapat itu aku jadi tau live-nya. Orang Arab selalu cipika cipiki jika bertemu dengan tamu, saudara, teman dll. tapi tunggu, yang aku bicarain ini adalah kaum lelakinya ya.

Trus apa istimewanya?? Masalahnya, cipika cipikinya tuh bukan pipi ketemu pipi saudara-saudara, tapi pipi ketemu bibir. Dan yang paling bikin aku amazed disitu adalah bunyi yang dihasilkan dari proses ini (baca kecupan) sangatlah keras dan kalo di Indonesia tuh [biasanya] dilakukan oleh sepasang kekasih atau suami istri deh. Bunyinya tuh yang mak "cuph!!" dengan volume 15 ukuran remote tipi. Ah andai waktu itu bisa divideo-in hahaha gokiL abeess (norak luar biasa diriku).

Satu lagi yang berbeda, pak Nazer ini selalu menambahkan kata brother sebelum menyebutkan nama lawan bicaranya. Yah sama kayak kita yang menyebutkan nama pak/ibu sebelum menyebutkan nama orang lain. Lucu yah? Tapi ada momen yang bikin aku agak gimanaa gitu, waktu meeting selesai kan ada makan siangnya tuh. Nah, si brother Nazer ini ngajak aku dan temenku (sama-sama perempuan dan dari Humas) ngobrol. Kira-kira begini dialognya:

  • Bro Nazer: Assalamualaikum ladies, I am Nazer and this is my namecard. (doi nyerahin kartu nama pada kami);
  • Fietha: oh Waalaikumsalam, sir (mo bilang brother tapi orangnya uda tua, dilema gitu ceritanya). Thank you very much. I am sorry I don't have mine.
  • Bro Nazer: It's OK. What's your name? Are you from Public Relation, right?
  • Fietha: Yes, we are from PR. I am Fita (setengah mati bersikap sopan sambil berjabat tangan)
  • Bro Nazer: Sifa..?
  • Fietha: No, it's Fita (mulai berpikir ni orang pendengarannya mungkin terganggu kali ya, karena kami berhadapan)
  • Bro Nazer: Fitrah?
belum sempat aku jawab tiba-tiba doi nyeletuk lagi
  • Bro Nazer: Fitnah?
Temenku yang dari tadi serius langsung nutup mulut dan bahunya terguncang, bukan karena gempa tapi dia setengah idup nahan tawa ala kuntilanaknya demi menjada kesopanan.  
  • Fietha: (syok gila!) Fitnah? It's ef-ai-ti-ei (dengan mata agak berkaca-kaca karena ni orang berani-beraninya mengganti namaku menjadi FITNAH dengan semena-mena )
  • Bro Nazer: ow.. Fita. sorry (manggut-manggut, mungkin biar ga dilempar piring oleh gadis yg sedikit murka di depannya ini). Would you come to Hotel Kempinski to continue our discussion at 4? coz we still need more information from you and some brothers from d Ministry of Finance.
    Fietha: Sure, Sir. We will be there at 4 (terpaksa senyum palsu demi kesopanan, sekali lagi demi kesopanan, sekali lagi ah..demi kesopanan sodara-sodara!). 

Dan seterusnya dialognya berubah ke topik sayur asem. Ternyata ni orang Arab suka banget sama sayur asem. Sampai-sampai doi nyatet nama tuh sayur di note kecilnya. Katanya kalo sampai Jedah dia mau nyari masakan itu di resto Indonesia. hahaha...seleranya ternyata sama aja wkwkwkw

Jadi begitulah hal unik yang aku temui bersama bule Jedah. Perbedaan budaya selalu melahirkan decak kagum dan mengantarkan pada kesadaran dalam diri bahwa berbeda itu memang indah. mantab kn bro??

Tanda Tanya: "Masih Pentingkah Kita Berbeda?"

Jumat (15/4/2011) siang tadi, massa Front Pembela Islam (FPI) bergerak menuju ke kantor harianRepublika dan Lembaga Sensor Film untuk menyayangkan beredarnya film tersebut ke masyarakat luas. Beberapa poin di dalam film, seperti penampilan murtadnya salah satu sosok dan adegan lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan akidah Islam, menjadi penyebab pergerakan massa FPI tersebut. (Kompas.com)

Membaca judulnya saja sudah banyak mengandung tanya dan kontroversi. Saya sudah menonton film ini kemarin siang. Setelah menontonnya saya jadi sedih dengan keadaan negeri kita ini. Terbayang dulu pada masa penjajahan, bagaimana para pejuang yang berasal dari berbagai suku, agama dan etnis berjuang mati-matian tanpa meributkan dimanakah mereka menyembah Tuhan. Apakah di masjid, gereja, vihara atau pura. Kemerdekaan merupakan visi dan misi yang paling utama ketimbang soal perbedaan. 

Setting film ini diambil di kota Semarang, Jawa Tengah. Ada yang pernah ke Semarang? yup, di kota lumpia ini dapat kita temui berbagai klenteng, gereja maupun masjid. (mo narsis dulu ah, berikut tempat-tempat ibadah yang pernah saya kunjungi di Semarang)

Gereja tua G.P.I.B Immanuel ------------>










Pagoda Avalokitesvara-Watu Gong
Nah, film ini mengisahkan kehidupan keluarga-keluarga yang hidup berdampingan dalam lingkungan plural (dikelilingi oleh masjid, gereja dan klenteng). Keluarga pertama adalah keluarga Tan Kat Sun, pengusaha restoran Cina. Keluarga penganut Budha ini memiliki kesadaran dan rasa toleransi yang sangat tinggi terhadap tetangga, pelanggan maupun pekerjanya yang berbeda agama. misalnya; dia menyediakan menu yang halal di restorannya, alat masaknya dipisah untuk babi dan non babi, memasang tirai ketika bulan ramadhan, menyediakan waktu untuk pekerjanya yg muslim melaksanakan shalat, bahkan mereka menjawab salam yang selalu diucapkan oleh Menuk (pegawai).

Keluarga kedua adalah keluarga Rika, seorang perempuan yang memutuskan untuk bercerai karena tidak setuju dipoligami. Rika kemudian pindah keyakinan ke Katholik. Namun dia tetap membiarkan anak semata wayangnya, Abi, memeluk agama Islam. Abi tetap mengaji, shalat dll bahkan Rika masih mengajari Abi melantunkan doa-doa sesuai dengan agama Islam. 

Dan keluarga yang terakhir adalah keluarga Menuk dan Sholeh. Menuk adalah pegawai loyal restoran Tan Kat Sun. Soleh, suami Menuk, sangat cemburu kepada Ping Hen/ Hendra, anak Tan Kat Sun karena memang sebelum menikah dengan Soleh, Menuk pernah menjalin hubungan kasih dengan Hendra. Karena keyakinan yang berbeda, Menuk pun memilih mengakhiri hubungan itu.

O iya, hampir ketinggalan. ada tokoh yang paling saya suka di film ini; Surya. Seorang pemuda muslim yang bersedia memerankan tokoh Yesus dalam drama paskah, Yosef dalam drama natal dan Santaclause yang menghibur seorang anak yang sedang dalam keadaan kritis. Karakter Surya sangat bagus dan natural sekali. banyak perilakunya yang so daily dan tentu saya kadang-kadang menimbulkan tawa.

Menurut saya, film ini sangat edukatif terutama buat kita yang masih muda. kenapa? generasi muda Indonesia sekarang disinyalir mudah terkontaminasi jalan pikirannya dengan hal-hal yang kurang baik, dalam hal ini perbedaan. Berapa banyak pemuda kita yang direkrut teroris untuk misi bom bunuh diri? Berapa pemuda/i yang dicuci otaknya bahwa berbeda itu haram, najis dan harus jihad untuk menyeragamkan keyakinan?? Percuma kita mendengungkan kerukuran beragama jika dalam sehari-hari masih saja mencemooh agama lain, menganggap dan menilai agama lain lebih jelek. Kerukunan beragama yang telah dibangun dengan darah pendahulu cepat atau lambat akan lenyap tergantikan amarah menyala-nyala.

Saya  jadi malu dengan realitas ini, sepertinya kita memang sudah lupa bahwa pendahulu kita selalu menjunjung tinggi rasa toleransi dan perbedaan tanpa mengurangi atau menambah esensi dari setiap keyakinan. Bukankah negeri ini dibangun di atas perbedaan?? Lantas kenapa sekarang kita meributkan perbedaan? Mengutip dari Yenni Wahid dalam kompas.com "Masih banyak tugas sosial lain yang bisa kita urusi"

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, sebaiknya kita memaknai keragaman dan perbedaan ini dalam kasih sayang dan bingkai toleransi yang tulus. 


Saya bangga menjadi orang Indonesia yang plural tapi tetap damai! 

"wooow....toenk 3x!!!"

ok, jgn bayangin mbak X secantik ini ya :)
Beberapa tahun yang lalu saya mengantarkan adik kecil untuk bertanding silat di Jakarta. Bersama seorang teman dan saudara si adik juga beberapa teman orang tua adik kecil tersebut kami berangkat dari Jogja dengan mobil. Di tengah-tengah perjalanan (saya lupa daerah mana), mobil kami disalip oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang perempuan [selanjutnya disebut mbak X]. Sekilas penampilan mbak X sungguh menarik, fashionnya OK, rambutnya panjang, aroma parfum yang mak yuuss [padahal dia lagi naik motor lo,kok bisa kecium ya parfumnya??], body aduhai bak artis macam Luna Maya, beda tipis sama Angelina Jolie [ga percaya?? emang sedikit over dosis siy penggambarannya]. Maka teman saya pun melotot ketika sosok mbak X menyalip di samping mobil kami dg sejuta pesonanya.


Entah gimana ceritanya, giliran mobil kami yang akhirnya menyalip mbak X. Teman saya yang tadi melotot terpesona dengan mbak X tentu penasaran ingin melihat doi dari depan donk. Saya pun pingin tau reaksi teman saya tadi (latah penasaran juga gitu), tapi sedetik kemudian teman saya refleks berseru "toenk 3x !!!" dengan muka mlongo, malu, dicampur kayak adonan roti bolu coklat. Kami pun terpingkal-pingkal sampe keluar air mata saking lucunya . Jadi mbak yang tadi (sorry ya mbak) tampak belakang "wooooww ck..ck..ck" tapi tampak depan "toenk3x." silahkan interpretasikan sendiri dah maksudnya. 
ampuuun DJ!!!

efek kota

Tadi sepulang kerja saya mampir di sebuah minimarket untuk beli minuman dingin karena hawa Jakarta pusat yang panas. Biasanya saya langsung menghampiri kulkas tempat minuman dingin itu dipajang, kemudian bayar dan pulang. Tapi tadi saya malah muter-muter ga jelas dan langkah saya terhenti di depan rak yang memajang berbagai obat-obatan.

Mungkin sekitar 3 menit saya terpaku disitu, memandangi satu per satu jenis obat. Lama saya berpikir apakah saya akan mengambil salah satu obat itu atau langsung ke kasir aja. Tapi mata saya terhenti pada satu obat dengan bungkus degradasi hijau dan bergambar gandum. memukau dan tuh obat memanggil-manggil sambil teriak-teriak heboh "pick me..pick meeee!!!" (personifikasi yang lebay).

Sebenarnya itu bukan obat tapi semacam vitamin yang (menurut komposisi dan kegunaan yang tertera di kotak pembungkusnya) berfungsi sebagai antioksidan. Dalam pikiran saya terbayang udara kotor polusi yang sudah masuk tubuh saya dengan semena-mena selama di Jakarta (lagi-lagi saya mengeluhkan soal Ibukota yang super duper sinting ini ... huft) sehingga saya merasa perlu menghadiahi badan ini dengan penawar racun hebat berwujud kapsul hijau bening. Kenapa tidak makan buah saja? kali ini saya harus mengakui bahwa Jakarta berperan mengubah mindset saya, saya males ke pasar atau mall untuk beli buah. Butuh waktu dan biaya yg bikin bete jiwa dan raga. Jadi saya memilih yang instan saja..KAPSUL !!! hebbbbaaaaaat.

Akhirnya sayapun membeli kapsul-kapsul hijau itu (pasti sekarang mereka bersorak sorai karena akhirnya ada korban iklan yang membebaskan mereka dari minimarket). Niat saya mulia, ingin membuat badan ini sehat, bersih and so on hehehe (alibi yang bagus). Mari bereksperimen dengan vitamin E ini pemirsa!!. Dengan 16 kapsul di dalamnya, saya akan memantau hasilnya, mulai besok saya akan meminumnya.

Karena ini pengalaman pertama saya minum vitamin E, maka saya akan melakukan pemantauan ketat per hari. Apakah pencernaan saya terganggu, kulit saya gatal-gatal, pingsan atau ada reaksi aneh lainnya (masih aja lebay). Jika sehari saya meminum dua butir kapsul, maka saya akan memasukkan vitamin ini selama 8 hari ke depan. so wait for the result ya.

Novel itu brilian!

For the last three days, I was addicted to those two writers.

Membaca, kata kerja yang satu ini seringkali ditulis manis dalam kolom hobby atau kebiasaan seseorang. Di facebook, email, bahkan CV seringkali kata ini muncul. Selain memperoleh informasi tentang sesuatu yang khusus dan problematis, ada yang beranggapan membaca adalah kata yang paling "aman" dan "nyaman" untuk menunjukkan jati diri atau memperkuat nilai pribadi kepada orang lain yang ingin mengenal kita lebih dekat di kolom hobby.

Ada pula yang menggunakan "membaca" sebagai wahana untuk mengatasi masalah (ok, saya lebih suka menyebutnya lari dari masalah) dan untuk menghindarkan diri dari ketakutan juga penyakit tertentu (yang terakhir ini terlalu lebay I guess). Kenapa? bukankah orang-orang jaman sekarang suka sekali melarikan diri dari masalah dengan cara yang berbagai rupa? Saya tidak membicarakan mereka deh, bicarain diri sendiri aja

Saya mendapatkan kenikmatan emosional tiada bandingan dengan membaca novel. Bukannya apatis dengan bacaan lainnya seperti koran, essay dll, tapi I like novel the most. Alasannya sederhana saja, novel itu imajinatif. Saya bisa bermain dengan imajinasi pribadi selama membaca lembar demi lembar halaman novel yang sedang saya baca. Tidak percaya? Well, one day (semasa kuliah) saya terlibat dialog singkat dengan teman saya tentang sebuah novel yang kebetulan sama-sama kami baca. Kami punya pandangan berbeda tentang isi novel tersebut, teman saya yang melankolis menilai novel tersebut sungguh romantis, sedangkan saya yang agak sinting menganggap novel itu lucu dan bikin mules . See? novelnya sama, akan tetapi dua kepala yang membacanya menangkap pesannya dengan sudut pandang yang berbeda. Itulah keindahan novel, pembaca bebas menginterpretasikan kisah di dalamnya dengan imajinasi masing-masing tanpa peraturan perundang-undangan pernovelan (emang ada UU pernovelan?). We hold our freedom!

Emosi saya seringkali bermutasi silih berganti, kadang saya bisa ngikik kayak kuntilanak, ngakak kayak liat videonya Briptu Norman (ngaku kalo uda nonton videonya berkali-kali), bersemangat kayak mau demo, bete sampe muka ditekuk 13 lipet, mewek ala sinetron bahkan ada yang sampe bikin pingin pup... *dua yg terakhir kalo ceritanya bener-bener extraordinary kok hehe*.  Novel memang sangat memanjakan pembacanya, ada yang ceritanya berat macam politik, sejarah dan science, tapi ada juga yang ringan dan seru seperti cerita percintaan, detective, ataupun horor (bolehlah horor dimasukin ke jenis ringan hehehe sadis!)

Tiga hari terakhir ini ada dua penulis muda yang masuk dalam daftar idola saya; Indra Herlambang dan Raditya Dika. Mereka berdua tu brilian, gokil, dan apa adanya. Tulisannya daily banget tapi selalu ada pesan baik di setiap bab-nya. Mungkin saya sedang butuh hal-hal yang bikin perut mules dan pipi kejang karena ngakak berguling-guling . Mungkin juga saya memang dilanda bosen dengan bacaan berat nan memusingkan otak. Membanca karya mereka membuat saya senang dan bahagia. Apa lagi yang saya harapkan selain dari dua kata terakhir tadi; senang dan bahagia.

So, jika ada yang meremehkan, mengecilkan atau menghina dina novel, saya akan langsung kasih satu kalimat pernyataan " How pathetic you are" *dengan tatapan sinis ala tokoh antagonis sinetron yg ga tamat-tamat.*  Karena novel itu adalah representasi mahakarya pembuatnya yang sungguh luar biasa mengaduk-ngaduk suasana hati, pikiran dan perasaan pembacanya. Kalau anda ingin melihat dunia tanpa beranjak seinci pun dari tempat duduk anda (mengutip dari novel The Namesake-nya Jhumpa Lahiri), maka bacalah novel. Tak ada salahnya anda keluar sebentar dari dunia amburadul anda untuk sejenak masuk ke dunia super menarik novel. You won't regret, trust me

The Winning Team two

lanjutan one ...

Kalau saya ingat-ingat, reportase yang saya lakukan waktu itu lebih mirip dagelan yang agak lebay. Bagaimana tidak, seenaknya saja saya mengambil tema unjuk rasa. Harusnya unjuk rasa kan heboh dan isunya juga bagus, nah yang saya laporkan/beritakan malah unjuk rasa di kota kecil Lumajang dengan isu penolakan calon bupati lagi. Nama calonnya ngawur, jalannya ngawur, dan semuanya berakhir sepi. pokoknya memalukan deh, saya yakin muka saya jelek abis [emang uda jelek ].

Kata manajer HRD, setelah saya dipersilahkan duduk, "kamu punya talenta, percaya diri kamu sudah ada, kontennya lumayanlah sebagai pemula tapi ... ", sampai disini saya menahan napas, "Setahu saya Lumajang tidak seheboh itu kalo ada demo." What?! saya syok . Kok bapak ini tau ya? Gawat, ketahuan deh bo'ongku, begitu dialog bathin saya. "Kenapa? Jangan kaget, perkenalkan nama saya ****, saya juga dari SMA 1 Lumajang, alamat saya di desa ************" beliau menyebutkan sebuah desa pelosok , lebih ndeso dari desa saya yang jalannya aja ga semuanya beraspal. 

Maka sayapun melongo, syok abis. Kalo difoto pasti bisa menangin lomba fotografi sedunia. Pak manajer kemudian bercerita kesana-kemari tentang perjalanannya dari desa kecil sampai bisa menjadi Manajer HRD. Suasana pun mencair, saya bisa mengeluarkan karakter saya yang rame dan "ga formal." Sampai tibalah saat keputusan yang ditunggu-tunggu, lolos atau berhenti sampai disini. "Saya tahu kamu punya potensi, tidak mungkin kamu sampai tahap ini kalau kemampuanmu tidak baik. Tapi kami membutuhkan fresh graduate fit. Kalau saya pribadi menilai, kamu layak menjadi bagian dari TV One, tapi saya harus komit dengan peraturan bahwa kampus One hanya diperuntukkan untuk fresh graduate S1. Jadi saya mohon maaf ya, saya harap kamu bisa mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari TV One. ups, jangan lupa, lebaran main ke rumah saya ya."

So, itulah akhir perjuangan saya di TV One. Saya sempat sakit hati dengan keputusan itu, saya pun melontarkan pertanyaan [protes lebih tepatnya] kepada manajer HRD tsb."Seharusnya saya tidak dipanggil atau diloloskan dari tes pertama pak." Ini didorong dari emosi saya karena udah bolak-balik Jogja-Jakarta sampai tiga kali, menghabiskan dana yang tidak sedikit, dan proses ini sudah menguras emosi dan otak saya sedemikian rupa sehingga saya merasa kesal dan "tertipu". Begitu pula dengan dua peserta yg lain, kami bertiga sama-sama gagal

Tapi setelah beberapa bulan berlalu, saya mendapatkan banyak hikmah dari pengalaman ini. Pertama, perjuangan itu tidak boleh dihitung-hitung.Just do your best whatever the result will be. Kedua,apa yang kita harapkan tidak selamanya tercapai. Dan jika memang tidak tercapai, Tuhan [ternyata] menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih cocok buat kita. Ketiga, semakin banyak pengalaman yang kita punya, semakin tenang kita menjalani apa pun di depan kita. Dan yang terakhir, saya bersyukur tidak menjadi bagian dari salah satu televisi swasta tersebut karena sekarang saya malah sering bekerja sama dengan berbagai media televisi yg tentu saja jauh lebih menyenangkan dan menantang.


Kru TV One dalam salah satu acara yang diadakan Humas Kemenkeu
   

The Winning Team one

Seminar TV One di UGM
Ini pengalaman saya yang awalnya menjengkelkan tapi jika saya ingat lagi ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Pada 16 Februari 2010 saya ikut Seminar yang diadakan oleh TV One di UGM. Tujuan saya hanya dua, pingin tau dan penasaran bagaimana TV yang masih bayi ini bisa pesat perkembangannya dan pingin ketemu presenter Tina Talisa yang menurut saya bawel dan menggemaskan. Menggemaskan bukan karena pembawaannya yang [katanya] cerdas tapi justru saya seringkali sebal melihat cara dia membawakan acara.

Di akhir acara, di meja registrasi ada formulir pendaftaran Kampus One. Iseng-iseng saya pun ngisi tuh formulir. Tanpa niat yang tulus dan basmalah, saya ngumpulin  formulir. Hampir tiga bulan berlalu, di minggu ketiga bulan Juni 2010 saya mendapat sms dari manajemen TV One, isinya saya diundang untuk tes tulis dan wawancara program Kampus One. Kampus One merupakan program pendidikan dan pengembangan calon karyawan TV One selama 6 bulan yang direkrut dari lulusan beberapa universitas terkemuka di Indonesia.

Lagi-lagi saya berspekulasi, saya pun berangkat ke Jakarta. Untuk pertama kali saya masuk kantor stasiun televisi ini plus bonus ketemu sama presdirnya, Ardi Bakrie [sumpah geli bgt kalo inget ini]. Ada 7 sesi tes yang harus dilewati, tes pertama sampai ketiga berhasil dilewati. Dari 76 peserta hanya tersisa 20 peserta saja. Minggu depannya, saya kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani tes selanjutnya. Sampai akhirnya tinggal dua kali tes lagi dan peserta pun tinggal 3 orang.

Bisa dibayangkan, kami bertiga sudah dag dig dug dan membayangkan akan memakai seragam merah abu-abu dengan emblem TV One di dada. Sebelumnya kami sudah diberitahu jika kami lolos sampai tahap akhir maka kami akan menjalani pendidikan selama 6 bulan dengan sistem gugur per 3 bulan. Kami juga akan dikontrak selama 2 tahun dengan syarat-syarat yang ketat. Tibalah wawancara dengan user dari HRD. Pertanyaan bukan lagi soal motivasi, personifikasi, atau misi tapi lebih ke wawasan umum. Satu dua pertanyaan bisa saya jawab dengan baik [menurut saya lo], dan yg saya takutkan kejadian. Saya diminta memperagakan/ melakukan reportase. OMG! I couldn't do it. 

Saat itu saya berbicara pada diri saya sendiri "Fietha, this is the most expensive interview ever. Make it worthed." Maka entah bagaimana warna muka saya waktu itu dengan sisa keberanian, wawasan dan "kendablekan" saya pun melakukan reportase. 


~disambung di posting lanjutnya ya, uda kepanjangan nich~