Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Hello Bayiku ♡♡♡☆☆

Huft....setelah 31 hari, akhirnya bisa juga ngeblog. Ini soal pengalaman menakjubkan: menjadi seorang ibu.

1 Juni 2015
Perasaan uda sedikit khawatir, perkiraan lahir 25 mei uda sangat terlampaui. Tapi aku coba menenangkan diri dengan satu opini dari dokter Afra (dokter kandungan di RS Depok) yg bilang kalo HPL nya awal juni maksimal tgl 7 juni. Periksa ke bidan, bukaan masih satu.

2 Juni 2015
Bakda maghrib, priksa ke bidan. Di usg, baby uda gedhe banget. Ga ada space tersisa lagi buat dia. Air ketuban juga uda tinggal dikit. Pas diperiksa dalam, bukaan tetep satu.

Kata bu bidan, kalo sampe besok masih belum nambah bukaannya, jadi akan diinduksi infus. Aku setuju. Anything for my baby pokoknya. Tinggal nyiapin mental buat nahan sakit aja. Konon, induksi sakitnya lebih parah dari kontraksi normal.

3 Juni 2015
01.00 dini hari
Kebangun karena tiba-tiba terjadi kontraksi. Sakit tapi aku bersyukur,ini tandanya ga perlu induksi lagi. Kontraksi berikutnya terjadi secara kontinu.

06.00 pagi
Berangkat ke klinik bidan. Sesampainya di klinik, ternyata uda bukaan 3. Fix!! Ga jadi induksi. Alhamdulillaaaah :) kontraksi uda mulai terjadi secara rutin dan durasinya makin lama. Ditemani adik, aku ngelewati menit demi menit, jam demi jam. Masih sempet chatting sama temen kantor,haha hihi sama adik dan ibu yg nyusul ke klinik after working hour plus kakak yg bawa pasukan (baca: suami dan 2 anak laki2 yg alhamdulillah huru hara abis). Di dalam penantian dan kontraksi aku masih bisa makan camilan, minum cendol dan 4 botol air mineral. Belakangan aku baru tau kalo itu ga wajar, kata ibu, biasanya kalo uda kontraksi gitu calon ibu uda ga napsu lagi mkan minum apalagi becanda. Well, as i said to jejes, aku pengen lahiran dengan elegan wkwkwkwk *apacobak

17.00 sore
Frekuensi Kontraksi makin rapat, durasinya makin lama. Sakitnya? Ga usah ditanya, itu ga bisa didefinisikan atau dibandingin dengan apapun. Aku pindah ke ruang bersalin. Ditemani ibu dan 4 asisten bidan, perjuangan melelahkan dimulai. Level sakitnya kian bertambah apalagi di pinggang ya, "subhanallah" dah. Tiap kontraksi datang rasanya pinggang kayak mau copot. Ini ga lebay, beneran deh kalo uda tau gimana rasanya ngelahirin, rasanya ga habis rasa terima kasih dan hormat setinggi2nya buat ibu.

Sementara, nun jauh di Depok sana...suamiku lagi mahsyuk beli bebek. Dari awal pindah ke Depok,doi emang usaha banget ngebujuk aku buat punya peliharaan. Dari mulai ayam,kucing,ikan,kambing sampe bebek n angsa. Semuanya aku tolak. MAles banget. Eh giliran aku mudik,dia malah beli bebek.
Ga ada hubungannya yak...hehehe

18.23 waktu lumajang
Setelah tiga kali kontraksi puncak, bayiku lahir. Ga ada tangis oek2 kayak di film ato sinetron. Cuma satu kali suara erangan,trus diam. Sekilas kulihat, loh ... bayiku kok warnanya biru? Ternyata sekujur tubuhnya kelilit tali ari2. But everything was fine.

Moment yg paling membahagiakan adalah ketika Inisiasi Menyusui Dini. Bayi ditaroh di dada,aku bisa liat ekspresinya yg tenang,kayak org jatuh cinta pada pandangan pertama. Well,this is my baby boy. Makhluk yg selama 9 bulan lebih ada di perut, ngikut kerja, lembur, naik KRL, ah...so happy. Spontan aku menyapa, "hello bayiku"

Lahir dengan bobot 3,5 kg dan panjang 54 cm, beruntung sekali aku karena ternyata ga harus dijahit. Iya, ga ada yg robek. Alhamdulillah. Lahir normal tanpa jahitan adalah salah satu dari list doa yg selalu aku panjatkan kepada Tuhan semenjak hari pertama tahu hamil. Doa orang tua,saudara,teman dan orang2 yang mengenalku adalah energi besar yang bisa membuat segalanya mnjadi mudah dan dimudahkan.

Pesan moral dari tulisan ini adalah perjuangan seorang ibu itu ga bisa diganti,dibayar dengan apapun. Pertaruhan nyawa dalam melahirkan seorang bayi dan kemudian membesarkannya bukan tugas yang mudah. I love you ibu *nyesel banget pernah jadi anak bandel hehehe

No comments:

Post a Comment