Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Tuntas Rantau 1 Menara

Kecepatan membacaku sepertinya menurun, biasanya satu novel tebel bisa aku habiskan maksimal 3 hari dari sejak tanggal pembelian. Bahkan untuk novel yang super favorit, bisa kulibas (caelah libas) dalam sehari saja *sombong. Rantau 1 menara yang berisi kurang lebih 400 halaman ini baru bisa aku rampungkan hari ini, yap genap 11 hari sejak buku itu "mendarat" di meja kerjaku. Too long ...

Buku ini special karena didalamnya banyak sekali pengalaman-pengalaman hidup penting yang diceritain penulis (baca: A. Fuadi). Tentang tumbangnya orde baru, tentang karir jurnalistiknya di "Derap" (media cetak yang pernah diberedel selama orba), tentang kisah romantisnya, tentang beasiswa yang akhirnya melemparnya ke Dream Land Amerika yang membuatnya menyaksikan dahsyatnya peristiwa 11/9 silam. Secara keseluruhan, buku ini seirama dengan buku-buku biografi tokoh besar macam pak Habibi. Diawali dengan perjuangan dari nol sampai kemudian menjadi sukses. Tapi setiap tokoh punya cerita sendiri, punya keunikan sendiri dan punya sudut pandang sendiri. Inilah yang menurutku akan sangat membedakan satu buku (biografi) satu dengan yang lain.

Bagian favoritku adalah ketika Alif mulai menjalani karirnya sebagai jurnalis di media yang membela kebenaran anti sogokan dalam bentuk apapun. Dia menceritakan detil proses dirinya digodok selama 6 bulan untuk menjadi seorang pewarta yang matang dan anti suap. Bagaimana menyajikan berita (baca: kebenaran) kepada masyarakat berdasarkan riset, data dan fakta tetapi tetap memiliki seni penulisan yang baik. Sesuatu yang mungkin saat ini sudah jarang dimiliki media (apalagi infotainment).

"Mantra" Man saara ala darbi washala -Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan,  menjadi jantung dari kisah perantauan Alif dalam buku ketiganya ini. Tapi dari 400 halaman tadi ga semuanya serius kok, ada juga taburan jokes2 khas "pribumi" yang kadang-kadang bikin de javu juga sama masa lalu. Intinya, buku terakhir dari trilogi Negeri 5 Menara ini berisi full perjuangan hidup Alif yaitu karir, pasangan jiwa, dan yang terpenting penentuan akan dimana hidup ini akan bermuara. That's why this book entitled Rantau 1 Muara hehehe *sok teu

Membaca kisah tokoh hebat selalu memberi lecutan semangat. Setidaknya itu yang selalu aku rasakan setelah menamatkan lembar terakhir dari kisah petualangan orang lain. Mengambil hal yang baik dan menertawakan yang kurang baik hahahaha.....semoga buku ini bisa memacu semangat aku, atau kita semua yang uda membacanya untuk lebih maju lagi. Seperti harapan pak Habibie:
"Andaikan banyak anak bangsa yang mempunyai kesempatan dan pengalaman seperti mereka (Alif dkk), akan beruntunglah bangsa Indonesa dalam mewujudkan masa depannya yang maju dan sejahtera, yang disegani dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain."
Selamat membaca...... ^.^v

No comments:

Post a Comment