Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Salah Berbeda

Hi...

Lama ga nulis, trus kangen, trus niat mau nulis, pas kebuka halaman untuk posting mendadak blank. Apakah sebegitu flatnya hidup sampe-sampe nulis aja bisa macet?

Hmm...mulai sari curhatan temen aja deh soal politik dan pertemanan. Jakarta sedang menuju pilgub, ada 3 calon yg sekarang lagi gencar-gencarnya kampanye. Well, apa menariknya? Kalo buat aku sih ga ada, karena ya begitulah pilkada, pilgub atau pemilu. Sama aja, penggalangan opini publik, berantem sana sini, rame pokoknya. Riuh rendahnya perpolitikan negeri ini memang ga pernah mati. Dan bolehlah apatis dikit sama politik karena selain buta, aku juga pengennya tetep waras, melihat segalanya secara holistik, ga parsial.

Balik ke curhatan temen, katanya gegara perdebatannya soal salah satu cagub, pertemanan yang uda berlangsung selama bertahun-tahun mendadak pupus. Bahkan akun dia diblock. Nelangsa. Kapan terakhir bangsa ini mencintai perbedaan?? 

Di salah satu wawancara, seorang artis Indonesia yang udah mendunia-Anggun, mengatakan, kalo dia diberi sebuah kesempatan menjadi duta, dia pengen jadi duta apa? Jawaban yg cukup lugas dan menyentuh hati saya, "aku pengen jadi duta toleransi. aku ingin menyuarakan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat toleransi tertinggi di dunia."

Sesederhana itu. 

Ada berapa banyak pertemanan bahkan persaudaraan yang patah di tengah jalan cuma gara-gara berbeda pilihan, berbeda keyakinan, berbeda pandangan?? banyak. Dan kita masih saja ga menyadari bahwa kita memang dilahirkan berbeda, uda dari jaman behula. Mau diseragamin ampe gila pun ga bakalan bisa. Yang Maha Kuasa yang mendesign kita seperti ini. Jangan lancang melangkahi Dia untuk mengubah keberagaman ini menjadi sewarna, apalagi mengatasnamakan Dia yang Maha Segalanya. 

Jangan-jangan apa yang selama ini kita anggap benar, tidak seutuhnya benar. Kebenaran cuma milik Dia. Kita cuma bisa menafsirkan dari segala perspektif yang terbatas. keterbatasan manusia yang sombong dan merasa paling dan sudah benar. lebih baik dibilang apatis tapi masih waras menjaga keberagaman, kedamaian dengan sesama daripada dianggap suci tanpa empati.

Semoga insan yang mau dan ingin selalu menjadi bijaksana dalam hidup tak makin drastis berkurang. menjadi bijak pada diri sendiri dulu, baru kepada yang lain. Menjadi damai dan mendamaikan, bukannya menjadi bara yang menyulut api kian berkobar dan membakar habis damai. Semoga masih banyak pribadi yang mengerti dan tau kapan saatnya diam dan berhenti. Berhenti melangkahi takdir, berhenti menjadi Tuhan. Kembali menjadi manusia, seperti hakekat yang sudah digariskan olehNYA. 

ps: Selamat Tahun Baru 2017

No comments:

Post a Comment