Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Cinlok itu beneran ada??


Prajab uda seminggu berlalu, tapi rasa males, capek, dan hore-horenya masih berasa sampe sekarang. Well, this is me, in Jakarta. Bukan Manado lagi. Aku masih males mo cerita soal prajab, mo cerita apa yaa..yang lebih menarik dan lucu.

Gimana kalo cerita soal cinlok aja? Kayaknya seru ya...
Jumlah peserta prajab golongan III di Manado adalah 32 peserta, 27 laki-laki dan 5 perempuan.

Aku mulai dari unit kerjanya aja dulu ya,,,
Bea Cukai, unit yang mudah dikenali karena dari sekian unit eselon satu kemenkeu hanya bea cukai dan sebagian pajak yang memakai seragam dinas. Untuk unit-unit lain macam setjen, bkf, dja dll ga ada yang berseragam alias bebas bergaya apa aja [asal sopan tentunya] kecuali hari Rabu dan Jumat untuk Batik. Bea Cukai terkenal dengan seragamnya, disiplinnya, dan tentu saja pindah-pindahnya hahahha....Mereka mengalami beberapa kali tahap pendidikan dan latihan /diklat seperti prajab, DTSD dan SAMAPTA. Sedangkan kami, cukup prajab aja. Maka ga salah kalo attitude mereka berbeda dari kami, mereka lebih disiplin, lebih agak kemiliter-militeran. Secara dalam setiap diklat, mereka dididik oleh militer. Tak jarang kami terkaget-kaget dengan cara mereka berkomunikasi yang agak tegas dan selalu diawali dengan kata "siap". Lucu dan aneh.

Prajabil Manado punya dua perwakilan dari unit Bea Cukai, dua-duanya dari BC Jakarta. sebut saja namanya Andi dan Angga [nama sengaja aku samarkan yaaa demi keamanan semua pihak hakakakak]. Mereka berdua berperawakan tinggi, tegap dan dingin. Hanya si Angga memang agak sedikit lebih lembut daripada si Andi. Dalam berkomunikasi Angga lebih sedikit luwes meski masih saja pake awalan "siap" sebelum ngucapin kalimat yang panjang. Berbeda dari Angga, Andi terlihat lebih kaku, lebih pendiam, dan lebih "militer". Setidaknya itu kesan yang aku tangkap dari mereka berdua.

Hari demi hari kami jalani dengan melelahkan tapi menyenangkan juga. Berbagai kegiatan membuat kami semakin kompak, semakin rame, semakin nge-blend. Hingga pada suatu malam [kegiatan belajar di kelas berlangsung sampe 09.30 malam], seorang mentor menunjukku untuk membaca serangkaian kata-kata bijak yang mirip puisi berbahasa Inggris. Karena dari sekian prajabils, rupanya cuma aku doang yang lulusan Sastra Inggris dan "dipercaya" lidahnya lebih afdol ngucapin kata2 asing itu [agak lebay sih menurutku, teman yang lain pun pada fasih kok ber cas cis cus I believe]. Nah, dengan microfon, akupun membaca kata demi kata wise words dari layar LCD, seisi kelas hening ngedengerin sampe kata terakhir. Aku yakin mereka hening karena pada ngantuk hahahaha.

Setelah apel malam, jam istirahat. Aku menerima BBM dari seorang prajabil [kami telah bertkar PIN BB dan no HP seisi kelas]. Dari si Andi, si balok es yang menurutku seperti robot. Isi BBMnya singkat banget,


"Fita, suara kamu bagus banget." 

wowowo...sangat mengejutkan, seingatku aku ngobrol sama si Andi ini hanya sekali, itupun waktu permainan team building. Aku membalas sekedarnya, "terima kasih, tapi suaraku yang mana ya? yang waktu nyanyi itukah?hahahaha". Aku pikir ni anak pasti sedang mabok modul ato apalah sampe kurang kerjaan BBMin org selagi jam tidur. Sedetik kemudian BBku berbunyi, Andi lagi "Yang tadi bahasa Inggris". Dan aku cuma bengong aja, segera aku tarik selimut sambil bergumam ...ni anak rindu kampung halaman mungkin, parah.

Setelah hari itu, si Andi terus merhatiin setiap gerak-gerikku. Dia duduk di sudut kelas, sedangkan aku di deretan kedua dari depan, waktu senam pagi, waktu makan, waktu shalat subuh berjamaah...tanpa bicara! Bukannya GR, tapi kamu tentu akan ngerasain risih kan ketika diperhatiin orang lain dari kejauhan. Mendingan langsung ngomong aja ada masalah apa, mo berantem, mo traktir makan ato mo beliin pulsa gitu hahahaha ngaco!

Obrolan kedua akhirnya terjadi ketika kami disuruh lari 10 kali putaran, aku lari seperti biasa tanpa jeda...karena kalo berhenti akan tambah capek kan untuk memulai lagi. Hal ini justru membuat si Andi berani menegurku dengan kalimat iritnya, "Fita, kamu kuat banget ya staminanya." Aku? cuma cengengesan aja geje. Semakin aneh, semakin risih aku dengan temanku yang satu ini.

Setelah shalat Subuh berjamaah, ada kegiatan kultum/ kuliah tujuh menit. Jadi setiap hari ada dua orang yang maju ke depan untuk bercerita tentang dirinya. Nah karena no absenku 5, pada hari kelima aku maju. Aku ceritain dari Nama lengkap, tanggal lahir, latar belakang pendidikan, hobi dan perjalanan masuk kemenkeu juga gimana kerjaku di biro humas. Nah, waktu di bagian hobi, aku cerita bahwa aku gemar sekali sama olah raga tradisional asli Indonesia; silat...bla..bla..bla... Ternyata si Andi ini dulunya ikutan silat juga, MP. Topik ini kemudian jadi pembuka obrolan kami berikutnya...dari gerak-geriknya, aku agak curiga ni orang kayaknya uda mulai geje. Dia semakin intens merhatiin dari jauh, dia bukan tipe orang yang suka ngobrol dan rame. Jadi bagiku, ni orang serem abis.

Sampe malem2 tiga hari sebelum prajab usai, waktu kami semua sibuk dalem kamar masing-masing berkutat dengan modul dan latihan soal yang memabukkan itu. Si Andi sempet-sempetnya BBMin aku, ujung-ujungnya...aishiteru. Nembak! Wot??! Geje banget, dari dulu aku paling ga percaya sama yang namanya cinlok, bayangin aja, hanya dalam tempo 2 minggu seseorang bisa yakin dengan perasaannya kepada orang lain dan mendefinisikan perasaan itu dengan "cinta". Aneh dan ga masuk akal banget!!!

Maka, aku hanya ketawa, begidik ngeri dan ketakutan luar biasa. Secara tu orang ga pernah ngomong, diem, sukanya cuma ngeliatin dari jauh dan jeng..jeng..jeng...bilang suka?? come on!!

Seketika aku ingat sebuah kalimat bagus,
"Cinta itu diciptakan buta agar seseorang dapat mencintai tanpa batas"
Dan si Andi sedang mengalaminya, berawal dari keracunan suara, kemudian dia suka dengan keseharianku yang rame, cuek, dan katanya baik ke semua orang...[terima kasih atas penilaiannya Andi hahahaha]. For your information, si Andi ini lebih muda 2 tahun dari aku, tapi dengan bahasa iritnya itu dia bilang "Nabi aja selisih 15 tahun dengan Khadijah ga kenapa2". Sekali lagi aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

Well, ternyata cinlok itu memang ada, dan aku menyaksikannya dengan live ga pake siaran ulang. Percaya ga percaya, cinta memang membutakan dan membuat logika dikalahkan telak oleh rasa. Ini ceritaku dari Manado yang elok dengan Bunakennya....

Kenmochi Chiemi

4 comments:

  1. Gmn jadinya? Udah, terima aja, Mbak... Haha.

    ReplyDelete
  2. Hahaha...masih pantang menyerah orangnya sampe detik ini...dia belum nemuin penangkal racunnya Lik, pye jal ngunu kui? :D

    ReplyDelete