Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

PALSU!!


Seorang perempuan duduk seorang diri di bawah sebuah pohon bercabang banyak, rimbun daunnya sehingga cukup menyembunyikan tubuh mungilnya dari terangnya cahaya bulan purnama malam itu. Dia hanya bersandar, membujurkan kaki telanjangnya pasrah. Di depannya terhampar kerlip lampu nun jauh di bawah sana, berlomba kerlipnya dengan taburan bintang di angkasa malam. Yah, dia berada di sebuah bukit yang sepi ditemani sayup semilir angin malam yang hangat.

Parasnya bersih, namun matanya tampak sayu menyimpan sebuah kesedihan mendalam. Tak ada air mata di kelopak matanya, tapi bukankah jika seorang perempuan bersedih tetapi tak meneteskan air mata itu berarti dia sedang menangis di hatinya?? Tangisan yang hanya dia sendiri bisa mendengarnya. Jelas sekali hatinya baru saja terluka.

Tak dihiraukannya angin yang menampar tubuhnya, dia hanya menengadah ke langit, mencari sesuatu yang diyakininya indah, kuat dan memberinya energy untuk …kuat. Ada berjuta mengapa yang bergaung dalam hati dan pikirannya, mencoba mengurainya satu per satu untuk dicari jawabannya segera sebelum dia benar-benar mengeluarkan air mata.

Perempuan ini kuat, dia tak pernah disurutkan oleh gamang. Tapi untuk kali ini dia luruh, ingin dia mencari satu saja hal yang dia benci dari sosok yang sangat dia kagumi. Satu saja…namun rupanya tak ada satupun hal yang tak disukainya dari ”dia”. Dia terlalu menyayanginya. Orang melihatnya terlalu kuat bertahan, orang menilainya terlalu sesumbar menjaga hati….menjaga hati untuk seseorang yang sangat dicintainya di sana. Jauh di tempat yang tak bisa dijangkaunya lagi.

Dia meyakini hatinya masih bersatu dengan “dia”. Mereka masih bisa berkomunikasi dengan cara yang tak biasa. Energi yang mendorongnya untuk tetap kuat dan berlari menembus apapun di depannya adalah …”dia”. Begitu kuatnya energy itu sampai-sampai tak ada sumber energy lain yang dapat menggantikannya. Perempuan ini sudah manunggal dengan energy “dia”.

Sampai suatu malam, “dia” datang…mengecup keningnya, memberikan pelukan terhangat dan senyum termanis tak telupakan sepanjang masa padanya. Bercengkrama dengannya seperti dulu, membagi kisah berdua dalam buaian kasih sayang tanpa batas, luar biasa indah, luar biasa syahdu, luar biasa mesra. Memberinya berjuta bahagia tak terungkapkan, menghadiahi senyuman tak berkesudahan.

Tiba-tiba “dia” mengajaknya beranjak, menjejak ke sebuah padang ilalang….tempat asing. Meyakinkannya untuk tetap tinggal di sana, sementara “dia” bersiap pergi. Perlahan melepas genggaman tangannya, berkata “aku akan selalu ada untukmu sayang”. Dia berjanji akan mengawasinya dari jauh selama perempuan ini berjalan mencari energy baru. Mencari energy BARU! Itu yang “dia” inginkan darinya…

Si Perempuan berjalan perlahan, menunduk … membasahi jalan setapak yang dilaluinya dengan tetesan-tetesan air matanya. Sungguh sampai hati “dia” membuatnya begini. Rasa cinta yang terlalu dalam ini rupanya tak sedalam yang dia kira. Mungkin saja “dia” hanya berpura-pura sangat mencintainya, atau “dia” hanya tersaruk rasa kasihan dan iba saja,,,kecewa.

Perempuan itu tak pernah bisa mencerna kenapa sosok yang dicintainya sampai hati menyakitinya? Sampai hati berpura-pura mencintainya, sampai hati melepasnya di padang ilalang tak bertuan…kejam. Perempuan ini tak meminta apa-apa selain energy yang selama ini menyalakan semangat hidupnya, energy yang membuatnya senantiasa kuat dan hebat. Ternyata semuanya hanya fatamorgana,,,,palsu,,,,maya,,,,   

No comments:

Post a Comment