Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Sejati


Hidup itu pilihan. Tapi memilih untuk tidak membuat pilihan adalah juga sebuah keputusan. Ketika kita berhadapan dengan pilihan, tidak selamanya ada yang sesuai dengan yang kita maui, yang kita ingini. Mungkin saja kita justru memilih untuk mengambil pilihan yang tidak ada dalam pilihan-pilihan itu. Lantas kita menjadi berbeda. Dan apakah menjadi berbeda itu salah?

Melawan arus bukanlah sebuah keputusan yang nyaman.  Kita harus berhadapan dengan kemapanan, akar budaya dan adat istiadat. Menabrak kewajaran yang terlanjur menjadi sesuatu yang umum di masyarakat. Harus berani terbentur tembok nilai-nilai sosial. Menerpa badai adalah sebuah ketidakwarasan. Kematian hanya satu-satunya pilihan yang ada. Lantas, haruskah kita memilih kematian?

Tapi, memilih untuk berani melakukannya juga bukan berarti sebuah kisah kepahlawanan. Memilih untuk menjadi sang buaya dalam cerita si kancil, mungkin bukan keputusan yang terbaik. Tapi berani memilih untuk menjadi yang tidak dipilih adalah sebuah bukti kesejatian cinta. Dan aku memilih yang sejati. Mengikuti kata hati, meski menyakitkan, meski menyesakkan, meski harus menghadapinya sendiri. Aku masih percaya bahwa kesejatian ini akan bersamaku, aku tak peduli dengan kebohongan apapun di luar sana. Aku tutup mata dengan mereka yang hanya memandang setengah hati dan melihat ini sebagai benda jamahan saja, hanya sebagai pelabuhan sejenak untuk melepas hasrat atas nama cinta. AKU TAK PEDULI. Kamu dan kalian boleh begitu, silahkan saja.

Pasrah itu sebuah sikap penerimaan karena ketidak berdayaan dalam mengubah keadaan yang ada. Sedangkan ikhlas adalah sikap penerimaan karena kerelaan dan memahami keadaan yang ada.Bukan Karena tak berdaya. Aku tak tahu apakah aku pasrah atau ikhlas dengan pilihan ini. Sakit yang merajam bertubi-tubi, sedikit rasa manis yang tak seimbang dengan perih,,,selalu ada benih harapan dalam kesejatian. Aku masih ingin bertahan dengan kesejatian itu...aku masih bisa bertahan sedikit lagi...masih bisa.

4 comments:

  1. Hidup memang hanya berisi pilihan-pilihan. Mau memilih yang mana itu terserah kita. Yang terpenting semua ada risiko dan pertanggungjawabannya masing2.

    Ada satu hal yang mungkin berbeda. Kalau aku selama ini selalu merasa ada banyak pilihan yang sesuai denganku. Dalam hal apapun. Meskipun orang lain belum tentu beranggapan sepertiku. Sampai saat ini aku masih yakin kalau sebenarnya mbak Fieta punya banyak pilihan yang sesuai. Tapi sepertinya mbak Fieta masih khawatir dg pandangan orang lain. Padahal orang lain tidak bertanggungjawab atas pilihan2 kita. Semoga saya tidak lancang ngomongnya... Hehe. Semoga bisa melihat pilihan2 yang masih tersembunyi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih Malik...iya nih, lagi mencari pilihan-pilihan yang mungkin belum ketemu hahahaha kayak game hide and seek aja deh. Orang lain memang tidak bertanggungjawab atas pilihan2 kita, mereka tidak berhak :)

      Delete
  2. lha opo'o kok bingung? menentukan pilihan itu memang sulit apalagi saat kita menjalaninya. Tuhan kita masih sama kan? So berdialoglah dengan Tuhan agar pilihan-pilihan kita dapat menenteramkan semua orang yang "sedikit" memberi perhatian terhadapmu jeng pitha, yaah meski pada akhirnya mengecewakan mereka, tetapi yang penting tidak salah dirimu untuk melangkah... dan akhirnya cerdas-cerdaslah dalam berdoa dan melangkah.... mergo aku salah doa dan salah langkah...hiks..hiks... :(

    ReplyDelete
  3. hmm..ono sing curcol iki ceritane hahahaha....iyo Ngga, terlalu banyak cabang tp sebenernya arahnya yo mung kui2 wae. Durung iso keluar dari hal yang aku pikir sudah lama aku tinggalkan..lah, malah tambah ngealntur tekan endi2 iki wkwkwkwkw

    ReplyDelete