Sejati
Hidup itu pilihan. Tapi memilih untuk tidak
membuat pilihan adalah juga sebuah keputusan. Ketika kita berhadapan dengan
pilihan, tidak selamanya ada yang sesuai dengan yang kita maui, yang kita
ingini. Mungkin saja kita justru memilih untuk mengambil pilihan yang tidak ada
dalam pilihan-pilihan itu. Lantas kita menjadi berbeda. Dan apakah menjadi
berbeda itu salah?
Melawan arus bukanlah sebuah keputusan yang
nyaman. Kita harus berhadapan dengan kemapanan, akar budaya dan adat
istiadat. Menabrak kewajaran yang terlanjur menjadi sesuatu yang umum di
masyarakat. Harus berani terbentur tembok nilai-nilai sosial. Menerpa badai
adalah sebuah ketidakwarasan. Kematian hanya satu-satunya pilihan yang ada.
Lantas, haruskah kita memilih kematian?
Tapi, memilih untuk berani melakukannya
juga bukan berarti sebuah kisah kepahlawanan. Memilih untuk menjadi sang buaya
dalam cerita si kancil, mungkin bukan keputusan yang terbaik. Tapi berani
memilih untuk menjadi yang tidak dipilih adalah sebuah bukti kesejatian cinta.
Dan aku memilih yang sejati. Mengikuti kata hati, meski menyakitkan, meski
menyesakkan, meski harus menghadapinya sendiri. Aku masih percaya bahwa
kesejatian ini akan bersamaku, aku tak peduli dengan kebohongan apapun di luar
sana. Aku tutup mata dengan mereka yang hanya memandang setengah hati dan
melihat ini sebagai benda jamahan saja, hanya sebagai pelabuhan sejenak untuk
melepas hasrat atas nama cinta. AKU TAK PEDULI. Kamu dan kalian boleh begitu,
silahkan saja.
Pasrah itu sebuah sikap penerimaan karena
ketidak berdayaan dalam mengubah keadaan yang ada. Sedangkan ikhlas adalah
sikap penerimaan karena kerelaan dan memahami keadaan yang ada.Bukan Karena tak
berdaya. Aku tak tahu apakah aku pasrah atau ikhlas dengan pilihan ini. Sakit
yang merajam bertubi-tubi, sedikit rasa manis yang tak seimbang dengan
perih,,,selalu ada benih harapan dalam kesejatian. Aku masih ingin bertahan
dengan kesejatian itu...aku masih bisa bertahan sedikit lagi...masih bisa.
Hidup memang hanya berisi pilihan-pilihan. Mau memilih yang mana itu terserah kita. Yang terpenting semua ada risiko dan pertanggungjawabannya masing2.
ReplyDeleteAda satu hal yang mungkin berbeda. Kalau aku selama ini selalu merasa ada banyak pilihan yang sesuai denganku. Dalam hal apapun. Meskipun orang lain belum tentu beranggapan sepertiku. Sampai saat ini aku masih yakin kalau sebenarnya mbak Fieta punya banyak pilihan yang sesuai. Tapi sepertinya mbak Fieta masih khawatir dg pandangan orang lain. Padahal orang lain tidak bertanggungjawab atas pilihan2 kita. Semoga saya tidak lancang ngomongnya... Hehe. Semoga bisa melihat pilihan2 yang masih tersembunyi.
terima kasih Malik...iya nih, lagi mencari pilihan-pilihan yang mungkin belum ketemu hahahaha kayak game hide and seek aja deh. Orang lain memang tidak bertanggungjawab atas pilihan2 kita, mereka tidak berhak :)
Deletelha opo'o kok bingung? menentukan pilihan itu memang sulit apalagi saat kita menjalaninya. Tuhan kita masih sama kan? So berdialoglah dengan Tuhan agar pilihan-pilihan kita dapat menenteramkan semua orang yang "sedikit" memberi perhatian terhadapmu jeng pitha, yaah meski pada akhirnya mengecewakan mereka, tetapi yang penting tidak salah dirimu untuk melangkah... dan akhirnya cerdas-cerdaslah dalam berdoa dan melangkah.... mergo aku salah doa dan salah langkah...hiks..hiks... :(
ReplyDeletehmm..ono sing curcol iki ceritane hahahaha....iyo Ngga, terlalu banyak cabang tp sebenernya arahnya yo mung kui2 wae. Durung iso keluar dari hal yang aku pikir sudah lama aku tinggalkan..lah, malah tambah ngealntur tekan endi2 iki wkwkwkwkw
ReplyDelete