Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Memilih..



Bagaimana kamu memaknai kata "memilih"? Sebuah kata kerja yang menurutku paling banyak digunakan dalam hidup manusia. Jadi cuma manusia yang masih hidup saja yang bisa memilih, yang sudah mati, ya sudah...merdeka dari pilihan. Kalo kamu bertanya, kenapa kita harus memilih? Sederhana aku menyumbang jawaban, "karena kamu hidup, that's it".
“Hidup itu pilihan. Setiap pilihan memiliki resiko.”
Kalimat itu sungguh sederhana tapi tidak dengan maknanya. Kalo kita mau melepas rasa malas untuk berfikir, memikirkan kalimat di atas merupakan kelelahan otak yang luar biasa. Kalimat itu akan membelenggumu untuk beberapa waktu dalam kesunyian dan kungkungan: hidup, pilihan dan resiko.

Ketika membuka mata di pagi buta sampai menutup kembali memeluk malam, betapa banyak pilihan yang kita buat. Seperti saat ini, aku memilih untuk menulis ini ketika pekerjaanku masih 90% selesai, aku memilih ke klinik untuk berobat meski hanya flu dan batuk biasa aja. See, besok aku akan melakukan banyak sekali "memilih-memilih" yang lain lagi..lagi..dan lagi, begitu seterusnya sampai jiwa ini bener-bener kehilangan haknya untuk memilih karena telah ditentukan untuk meninggalkan raga.
"Jadi apa susahnya memilih?"
Tak ada tempat senano pun untuk bersembunyi dari pilihan. Sekecil apa pun sesuatu itu, pilihan tetap menjadi pilihan. Kukuh. Tidak akan pernah terhapus. Pilihan membutuhkan satu kepastian. Satu jawaban. Tidak akan pernah menjadi ini dan itu.

Bersahabatlah dengan pilihan dan resiko, karena hidup tak akan pernah lepas dari itu semua.


Memilih adalah soal kemampuan bukan soal kesempatan. Memilih adalah soal kemauan, bukan soal ketersediaan pilihan itu sendiri. Pilih yang bisa kamu pilih, cintai yang harus kita jalani..

Kenmochi Chiemi

No comments:

Post a Comment