Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Tangis itu pecah sudah di Medan

Medan, Sumatera Utara menjadi destinasiku selanjutnya setelah Palembang. Yang terbayang di pikiranku hanya Danau Toba dan Bika Ambon. Buta lokasi seperti biasa. Kali ini aku harus terbang dengan Garuda terpagi, pukul 05.45. Sehari sebelum keberangkatan, aku masih harus ikut kegiatan konsinyering di hotel Lumire. Sebenarnya konsinyeringnya tiga hari, berhubung aku harus DL keesokan harinya, jadinya cuma bisa ikutan sehari doank.

Maka, pukul empat pagi, aku uda stand by di lobi hotel dan bersama 2 orang lainnya kami naik taksi menuju bandara. Jalanan ibukota masih lengang, sepi dan tenang. Andai Jakarta bisa seperti itu tiap hari...sepakat kami berandai demikian. Perjalanan yang biasanya ditempuh 1-1,5 jam hanya dicapai 35 menit saja. Bayangkan, betapa banyak waktu yang penduduk Jakarta habiskan di jalan!

Sampai di bandara, kami masih harus menunggu satu orang teman lagi yang langsung berangkat dari Tangerang. Ayahnya sedang kritis di rumah sakit. Sebenernya dia sudah mengundurkan diri dalam event ini, namun tak ada seorang pun di kantor yang bisa menggantikan posisinya. Kegiatan ini dilaksanakan di empat kota besar, jadi semua pegawai sudah ter-plot masing-masing. Terpaksa temenku ini ikut dengan harapan dan pasrah bahwa ayahnya akan baik-baik saja. Pesawat kami pun take off tepat pukul 05.55 WIB. Waktu perjalanan Jakarta-Medan adalah 1 jam 49 menit, itu yang kubaca di layar LCD kecil di depanku. Rupanya penerbangan pagi merupakan penerbangan dengan jarak tempuh terpendek, jadi otomatis waktu jelajahnya juga paling cepat.

Sampai di Medan, seperti biasa aku memperhatikan bandara kota ini. Masih jauh lebih bagus bandara Palembang daripada Medan. Bandara kota ini jauh lebih kecil dan maaf, agak jorok menurutku. Mungkin ke depan akan dibangun lebih baik lagi. Di Bali dan jakarta sudah terpampang denah dan proyeksi bandara itu pada tahun 2014. Dan aku harap bandara Polonia Medan juga merupakan salah satu bandara yang akan mengalami rehab total megadahsyat tersebut.

Kami dijemput oleh pegawai Kemenkeu Medan. Seteleh sarapan, kami pun mulai bergerak sesuai dengan tugas masing-masing; mengurus dokumen dan bahan, menyiapkan venue, dan yang paling penting melakukan konfirmasi kehadiran undangan. Kami baru check in hotel pada pukul 14.00 WIB. Ketika masuk kamar, temenku yang ayahnya lagi sakit ini curhat, katanya waktu di pesawat tadi dia ngerasa kakinya ada yang nendang ato megang...padahal samping kanan kirinya lagi tidur dan orang yang di depannya juga ga mungkin nendang kaki dia. Dia pikir itu sebuah firasat. Entah kenapa aku ngerasa ayahnya akan pergi tak lama lagi. 

Pukul 10 malem, ketika kami sedang rapat kecil untuk persiapan final, telpon temenku berbunyi...dan...it was from her mother telling her that her father had passed away. Dia menangis, kami mengakhiri rapat saat itu juga. Aku menemaninya masuk kamar, dan...tangisnya bener2 pecah sudah. Sambil terisak dan tertelungkup dia atas pembaringan, temanku ini bilang kalo dia sudah dapet firasat kalo ayahnya akan meninggal, dia ingin mendampingi ayahnya, tapi dia juga ga bisa ninggalin kerjaan karena ga ada yang bisa gantiin dia. Dia takut ayahnya belum punya bekal yang cukup di "sana" karena memang sakaratul mautnya agak panjang dan terlihat susah. Kemudian temenku bangkit dan ambil air wudhu, sholat tobat. Disela sujudnya kembali dia terisak, setelah salam tangisnya kembali membahana, menyayat hati. Aku memeluknya,,,mencoba memberinya ketenangan dengan membisikkan istighfar. Kami beristighfar, tapi temenku sudah tak sanggup lagi ... dia hanya menangis dan menangis. Sesekali aku juga menitikkan air mata, aku ga tega..bagaimana jika aku di posisi dia. 

Kami semua berkoordinasi dengan cepat. Teman yang di Jakarta kami kabari, mereka langsung me-reschedule penerbangan untuk temenku ini. Kami benar-benar berduka, kami merasa bersalah kenapa dia harus diberangkatkan ke Medan. Dan Alhamdulillah kami dapet penerbangan terpagi untuknya besok. Aku menunggui temenku ini, selesai shalat dia pamit tidur. Aku tau dia ga bakal bisa tidur,,,sengaja aku matikan semua pencahayaan kamar kecuali kamar mandi. Aku tau seseorang akan dengan sangat leluasa bisa meluapkan emosi di kala dia merasa sendiri. Aku ingin tak tampak untuknya. Sesaat kemudian, dia bilang "Fit, aku mau baca surat pendek untuk ayahku, ga papa ya kalo aku bersuara?". Aku menghela napas panjang (menahan tangis iba), "Iya nil, bacalah sebanyak yang kamu mau. anggap aku ga ada ya...". Maka terdengarlah lantunan surat-surat pendek, lirih, satu per satu dan akhirnya bercampur dengan isak tangis yang kembali menyayat hati. Aku menemani temenku ini sampai akhirnya dia tertidur pulas, mungkin karena kecapekan. Aku memencet tombol light di jam tanganku; pukul 3 pagi.


3.30, kami sudah bangun. Aku mengantarkannya ke bandara, berdua saja..di perjalanan dia meminta maaf karena harus melimpahkan semua tugasnya ke aku. Duh,,,betapa sedihnya, masih sempat dia minta maaf segala. Semua proses cek in dll segera kuurus begitu tiba di bandara. Dan sekali lagi kami berpelukan sebelum akhirnya dia meninggalkanku. Sungguh, sejak berita kematian ayahnya, suasana jadi berbeda. Kami jadi ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke Jakarta. Ga ada antusiasme untuk jalan-jalan apalagi foto-foto. Medan, mungkin lain kali aku akan menjelajahi cantikmu, karena kali ini kami dirundung mendung... 

Semua akan kembali kepadaNYA pada waktu yang telah ditentukanNya...
Dari tiada, kembali ke tiada

Tribute to my friend, Nilam
Kenmochi Chiemi

No comments:

Post a Comment