Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

po-li-ga-mi


Poligami, satu kata yang hampir semua wanita/perempuan akan antipati bahkan hanya dengan membaca atau mendengarnya saja. Ada banyak pendapat, opini, atau tanggapan dari orang-orang mengenai hai ini, ada yang menilai poligami sebagai suatu hal yang menjijikkan dan mencerminkan buruknya akhlak manusia berkedok agama, tapi ada pula yang menganggapnya sebagai sesuatu yang positif bahkan wajar di tengah era bebas seperti saat ini (menghindari perzinahan).

Kalau boleh saya bertanya kepada anda-anda yang telah dan sedang merencanakan poligami, sesungguhnya apa motif dan alasan dasar anda berpoligami?

Ketika ada seseorang yang mendasarkan perilaku poligaminya pada ajaran agama, kok saya merasa tersinggung. Manusia mengimitasi atau lebih tepatnya mengatasnamakan sunnah Rasul a.k.a ibadah dengan poligami dengan  menyebutkan ayat-ayat dalam kitab suci Al Quran demi memperkuat dasar perilakunya.

Saya tidak akan mengingkari bahwa agama Islam memang mengatur dan menyebutkan dalam Al Quran mengenai poligami. Tetapi apakah benar, anda-anda semua ini berpoligami dengan maksud dan tujuan ibadah?? Coba anda renungkan kembali secara terperinci. Pikirkan beberapa rangkaian kata ini; 
penyaluran hasrat sexual yang menggebu, ketertarikan sexual kepada perempuan lain yang bukan mukhrim di luar sana.
Rasulullah saw (mohon maaf jika pemahaman saya ini masih dangkal) memang melakukan poligami di masanya. Akan tetapi beliau melakukan ini memang untuk ibadah. Buktinya? Hanya 2 istri saja yang benar-benar beliau kumpuli setiap malamnya yaitu Siti Khadijah (istri pertama) dan Siti Aisyah (istri termuda). Bagaimana dengan istri-istri yang lain? Para wanita beruntung itu dinikahi oleh Rasulullah sekali lagi demi ibadah semata yaitu untuk mengangkat derajat dan status sosial, memerdekakan, dan menolong mereka dari kesusahan.

Ide untuk berpoligami sejatinya tercetus pertama kali tidak dari Rasulullah melainkan dari istri beliau Siti Khadijah yang merasa dan menyadari bahwa dirinya tak dapat memberikan keturunan untuk meneruskan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Maka beliau menganjurkan kepada Rasulullah untuk menikahi Siti Aisyah.

Kembali ke era saat ini, apakah anda-anda kaum lelaki juga berpikiran dan bertujuan demikian? Coba anda renungkan kembali, karena sungguh sangat tidak bijak jika poligami hanya dilakukan berdasarkan tarikan hasrat dan dorongan sexual semata. Esensi dari poligami itu sendiri menjadi hilang dan menjadi banyak keburukan yang ditimbulkannya. Lagi-lagi agama ini dicap buruk. Dan apakah yang membuat sampul agama ini buram dengan coreng moreng gelap? Tak lain karena perilaku umatnya sendiri yang jauh dari tuntunan yang sebenarnya.

*bahan renungan untuk para poligamer sejati dan poligamer wanna be



No comments:

Post a Comment