Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

10 Negara Paling Menderita Kegemukan


Dunia kini menyadari bahwa obesitas telah menjadi epidemik baru yang mulai mengancam dan menggerogoti kesehatan dan kesejahteraan manusia. Obesitas atau kegemukan telah menjadi musuh baru bagi kesehatan karena secara nyata telah dibuktikan bahwa kegemukan memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan. Penumpukan lemak yang berlebih pada tubuh akan menghambat metabolisme tubuh dan menjadikan tubuh rentan terhadap penyakit seperti kolesterol, hipertensi dan jantung.
WHO menyatakan bahwa pada tahun 2015, jumlah penderita obesitas di dunia diperkirakan akan mencapai 2,3 miliar jiwa. Angka ini berarti menunjukkan kenaikan sebesar 50% dari tahun 2005 yaitu 1,6 miliar jiwa. Salah satu indikator lonjakan penderita obesitas ini adalah kenaikan permintaan produk dan angka timbangan badan. Jika angka timbangan badan biasanya berkisar 100-125 kg, kini telah meningkat menjadi 180 kg.
Definisi obesitas atau kegemukan yang menjadi standar internasional adalah seseorang dengan Body Mass Index (BMI) di atas 25. Berikut daftar negara-negara penderita obesitas di dunia yang dirilis oleh WHO:
1.      Nauru [95%]
Dengan luas wilayah sekitar 21 kilometer persegi, Nauru dapat dikatakan sebagai negara republik terkecil di dunia. Negara yang terletak di kawasan Samudera Pasifik ini merebut perhatian dunia ketika WHO menemukan fakta bahwa tak kurang dari 95% warganya memiliki BMI di atas 25 atau dengan kata lain 95 orang dari 100 penduduk Nauru menderita obesitas.

Sebelum tahun 1922, Nauru adalah sebuah negara miskin dengan sebagian besar warganya bekerja sebagai petani dan nelayan. Kelaparan menjadi hal yang lazim dialami oleh negara yang kala itu sangat rentan terhadap perubahan cuaca ini. Namun pada 1922 keadaan berbalik 180 derajat ketika cadangan fosfat yang sangat besar ditemukan di negara kecil ini. Perusahaan tambang berbondong-bondong datang ke negara berpenduduk sekitar 10.600 jiwa ini.

Perusahaan-perusahaan tambang tersebut memberi royalti yang sangat besar terhadap penduduk sehingga mampu mengubah pola hidup penduduk Nauru menjadi sangat konsumtif. Jika tadinya buah dan ikan merupakan makanan favorit, kini makanan Barat yang penuh lemak dan gulalah yang menjadi favorit. Masyarakat Nauru saat ini sangat bergantung pada impor makanan dari Amerika, Jepang dan Australia.

2.      Mikronesia [92%]
Mikronesia adalah negara di kawasan Pasifik yang terdiri atas ratusan pulau kecil. Pada dasarnya makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat Mikronesia sangat sehat, seperti ikan, ayam, umbi-umbian, dan buah-buahan. Namun, budaya Mikronesia menjadikan makanan sebagai salah satu faktor utama dalam setiap acara adar maupun kenegaraan.

Makanan menjadi titik utama dalam setiap perayaan, termasuk di dalamnya distribusi makanan dalam jumlah yang sangat besar. Makanan juga menjadi salah satu faktor penentu hierarki dalam masyarakat karena mencerminkan kekayaan dan kemurahan hati. Tak heran jika hal ini menjadikan makan adalah “hobi” sebagian besar masyarakat Mikronesia.

3.      Kepulauan Cook  [92%]
Kepulauan Cook merupakan negara kepulauan kecil di wilayah Pasifik. Luasnya hanya sekitar 240 kilometer persegi dengan populasi hampir 20.000 jiwa. Kepulauan Cook mengalami apa yang dialami oleh negara-negara di kawasan Pasifik lainnya seperti Nauru dan Mikronesia, kegemukan. Sekitar 92% warga kepulauan ini mengalami obesitas. Pergeseran pola makan dari makanan sehat ke makanan ala barat menjadi penyebabnya. Pola kebudayaan yang berkembang di kepulauan ini juga memiliki andil besar. Mereka menganggap “big is beautiful”. Makin gemuk seseorang, maka ia dinilai makin cantik dan makmur.

4.      Tonga [92%]
Negara ini juga terletak di kawasan Pasifik. Obesitas yang melanda negara-negara di kawasan Pasifik juga turut melanda Tonga. Masyarakat Tonga banyak yang menderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung. Meski masyarakat Tonga menyadari bahwa makanan impor mengandung gula dan lemak yang tinggi sehingga buruk bagi kesehatan, tetapi mereka tetap memilih makanan ini karena harganya yang murah dan persediaannya melimpah.

5.      Niue [84%]
Negara yang dijuluki “karang Polinesia” ini juga terletak di kawasan Pasifik. Masyarakat Niue juga terjangkit makanan impor dan mulai melupakan makanan tradisionalnya. Mereka bisa makan sekali dalam sehari, tetapi dalam porsi yang sangat besar. Di Niue, makin gemuk seseorang, maka ia dianggap makin kaya.

6.      Samoa [83%]
Kebudayaan Samoa memiliki peran penting dalam merebaknya obesitas. Di Samoa, orang yang bertubuh kurus cenderung dipandang sebelah mata. Mereka dianggap miskin dan mengidap penyakit berbahaya. Sebaliknya, orang-orang yang gemuk adalah orang-orang yang sehat, gembira, dan mapan. Masyarakat Samoa menjadikan makanan sebagai salah satu alat tukar serta lambang kasih sayang dan cinta

7.      Palau [81%]
Palau merupakan negara kepulauan di kawasan Pasifik dan letaknya cukup dekat dengan Indonesia. Negara yang kini dipimpin oleh Johnsong Toribiong ini pun tak lepas dari cengkeraman obesitas. Palau mengalami euforia makanan impor yang mengandung lemak dan gula tinggi sehingga mempengaruhi kesehatan penduduknya. Melihat penduduknya menderita obesitas, sang presiden kemudian mencanangkan gerakan “green revolution.” Ia mengharuskan warganya untuk menanam sayuran di pekarangan mereka sebagai persediaan makanan.

8.      Amerika Serikat [79%]
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara maju yang termasuk di dalam daftar ini. Lebih dari satu dekade warga negara Paman Sam bergelut dengan obesitas. Pola makan dan pola hidup mereka dapat dikatakan yang paling buruk di dunia. Merebaknya restoran cepat saji dan pola hidup instan yang dilakukan masyarakat AS menjadi dua faktor yang sangat mempengaruhi tingkat obesitas. Hal ini  mengakibatkan anggaran kesehatan untuk mengatasi penyakit ini melonjak drastis.

9.      Kiribati [77%]
Lagi-lagi salah satu negara yang terletak di kawasan Pasifik menjadi penderita obesitas. Kiribati berpenduduk 93.000 jiwa, dengan hampir 70.000 warganya menderita obesitas. Makanan cepat saji merupakan penyebab utama dari merebaknya penyakit ini di negara yang luasnya 811 kilometer persegi  tersebut. Terjadi pergeseran pola makan yang cukup buruk, dari makanan bernutrisi tinggi ke makanan yang nutrisinya rendah.

10.  Dominika [76%]
Jika pergi ke Dominka [Karibia], jangan heran jika disana-sini banyak orang yang berbadan ekstra subur, karena sebanyak 76% penduduk Dominika memang menderita obesitas. Lagi-lagi pola makan yang tidak sehat serta porsi makan yang jumbo menyebabkan penyakit ini tak terhindarkan lagi.

sumber: Warta Ekonomi No.03/XXIII/7-20 Februari 2011

No comments:

Post a Comment