Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Demotivated

Hai, on board lagi aku.
It is about the scholarship I've written earlier. How can I say, it is cancelled. Boleh cari padanan kata lain kali ya...tepatnya dipaksa untuk mundur alias ga ngedaftar. Kenapa? Jawabannya cuma dua kata; SUBJECTIVITY AND ARROGANCE

Ini cerita basi yang harus aku tulis karena kalau disimpen terus bisa bikin sakit jantung. Bea siswa luar negeri itu adalah kesempatan bagi mereka yang pingin maju, pingin pinter, pingin move on, pingin dinamis. Setidaknya menurutku begitu. Sebuah organisasi, mau pemerintah atau swasta, yakin seribu persen bakal kuat dan maju kalo orang-orang yang didalamnya, bukan cuman pimpinannya, itu qualified. Bagi yang beragama Islam, udah ada sabda Rasulullah yang intinya sebuah urusan (pekerjaan, masalah dll) akan berhasil di tangan ahlinya. Nah, bagaimana bisa jadi ahli? Jawabannya BELAJAR. Dimana? di mana aja di muka bumi ini. Kapan? Kapanpun anda punya kesempatan dan niat. Betul ga sih??

Program bea siswa luar negeri ini merupakan komponen Kesempatan. Dan kesempatan itulah yang paling langka. Melewatkan kesempatan, sama aja menyia-nyiakan rejeki, peluang untuk maju. Fyi, program ini adalah terbuka untuk siapa saja meski ada jalur khusus bagi civil servant. Tapi bukannya khusus ga pake tes, semuanya harus berkompetisi beberapa tahap untuk bisa meraih tiket belajar tadi.

Cita-cita untuk bisa sekolah lagi ini mendadak menjadi buram sebelum akhirnya bener-bener gelap gulita setelah niat yang udah membara disiram dengan air es...langsung mati ti ti....menyedihkan. Alasannya? "Karena anda sudah pernah S2, ngapain S2 lagi?" Kalau udah seperti itu, aku sudah males arguing. Pernyataan itu sudah menunjukkan bagaimana kerangka berfikir si pembuat statement.

Ibarat kalah di rumah sendiri sebelum bertarung melawan pejuang lainnya di medan laga yang sebenarnya, satu per satu dari kami yang udah on fire untuk mendaftar akhirnya mundur dengan terpaksa, nggondok luar biasa, mengutuk sistem yang dibangun seenaknya oleh satu pihak, dan mengolok masa depan. Seorang teman jaman kuliah dulu pernah bilang, "kita bisa ngebedain kualitas dosen bahkan hanya dari asal universitasnya. Kalau dosen tsb udah pernah kuliah/belajar di luar negeri pasti cara mengajar dll sangat menyenangkan, ga kolot dan open terhadap masukan dan pertanyaan mahasiswa. Kalau dia lulusan dalam negri, ya pasti ga mau dikritik, mau menangnya sendiri, ga mau mengakui kesalahannya." Dan aku sangat mengamini diskusi ringan kami tersebut.

Ga mendiskreditkan yang lulusan dalam negri sih, toh aku juga lulusan dalem negri S2 nya, cuma hal yang kami obrolkan tadi memang benar. Alasannya? Simple, orang/akademisi yang pernah belajar di luar negeri akan lebih terbuka pemikirannya. Mereka lebih tau sistem pendidikan ataupun cara2 yang dipake di luar negeri sono yang jauh lebih efektif tentunya. Bisa membandingkan perbedaan2 tersebut dengan keadaan di dalam negeri untuk kemudian diambil yang baik-baik untuk diterapkan di dalam negeri. Pada intinya, mereka tak lagi menjadi katak dalam tempurung...mereka uda bertransformasi menjadi pangeran atau putri yang cakep.

Aku sendiri sangat kepingin untuk bisa belajar ke luar negeri. Pingin tau gimana sistem belajar di negara-negara maju itu. Pastinya akan lebih banyak masukan, pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga. Sayangnya niat untuk maju ini diboikot, dibajak dengan semena-mena. Belajar itu hak asasi manusia, bukan hak atasan atau siapapun yang memegang kuasa. I-r-o-n-i-s

No comments:

Post a Comment