Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Hilangnya Kelas Menengah Amerika

Beberapa dekade lalu Amerika mampu membuat iri seluruh negara di dunia dengan jumlah populasi kelas menengah yang sangat besar. Pasalnya, hal ini menjadi pendorong perekonomian mereka yang utama. Amerika pun menjadi negara penuh impian dan kebebasan. Menarik para imigran dari berbagai benua untuk meraih "American Dream".

Akan tetapi, kini semua itu hanyalah tinggal bongkahan sejarah. Kelas menengah di Amerika kini mulai mengecil, bahkan hampir menghilang. Salah satu contoh nyatanya adalah rasio gaji para eksekutif pada tahun 1950 yang jika dibandingkan dengan rasio gaji buruh adalah 30:1. Namun, kini angka tersebut berlipat sepuluh hingga lima belas kali menjadi 300-500:1. Wow, ini berarti telah terjadi distorsi yang sangat besar dan dahsyat.

Bahkan jumlah penduduk Amerika yang menggunakan kupon makan mencapai 40 juta jiwa dan angka ini diperkirakan akan naik menjadi 43 juta jiwa pada 2011. Kupon makanan adalah program dasar pemerintah federal guna mengatasi kelaparan. Paket bantuan ekonomi meningkatkan jumlah santunan sebesar 80 dollar AS per bulan untuk satu keluarga dengan empat anggota (mirip BLT di Indonesia). Di sisi lain, 10% rakyat Amerika menguasai 50% perekonomian. Artinya, telah terjadi disparitas yang parah di negara yang terkenal sebagai biang kapitalisme tersebut.

Apa penyebabnya? Globalisasi. Sesuatu yang semula sangat dielu-elukan bakal membawa kebaikan dan mampu membuat dunia menjadi lebih baik itu ternyata menjadi boomerang dan menghancurkan Amerika sendiri. Kini, tenaga kerja Amerika menjadi sangat tidak menarik bagi perusahaan-perusahaan dunia. Harga tenaga kerja Amerika sangat mahal dan memiliki persyaratan tunjangan yang memberatkan. Bisa ditebak, akhirnya perusahaan-perusahaan pun lebih memilih tenaga kerja dari negara-negara yang lebih murah seperti Cina, Kamboja dan Indonesia.

Satu kenyataan yang harus dihadapi tenaga kerja Amerika adalah meskipun mereka sangat pintar, ulet, kuat, dan loyal, mereka tetap tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja dari belahan dunia lain dengan bayaran yang lebih rendah. Sebagai contoh, para pekerja Amerika di sektor garmen harus bersaing dengan pekerja asal Cina dengan upah sekitar 86 sen per jam atau tenaga kerja asal Kamboja dengan upah 22 sen per jam. Kenyataan ini sungguh miris bagi para pekerja dari negeri Paman Sam.

Globalisasi yang awalnya digunakan sebagai senjata oleh Amerika untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, justru menjadi penyebab hilangnya kelas menengah di Amerika. Sekarang yang terjadi di Amerika adalah yang kaya makin kaya dan yang miskin makin merana. Tidak ada sistem perekonomian yang tidak mempunyai titik kelemahan dan tidak selamanya kejayaan selalu berpihak pada satu negara saja. Peta kekuatan ekonomi dunia kini mulai bergeser dan memulai era baru. Meskipun Amerika masih memimpin di urutan pertama, perlahan tapi pasti Cina mulai membayang-bayangi negara adikuasa tersebut dan berhasil menduduki urutan kedua negara dengan perekonomian terbesar dunia (berdasarkan nilai GDP) disusul Jepang. so, we will see, apakah Amerika dan negara-negara Eropa akan membuat perbaikan dan kejutan atau malah sebaliknya semakin menuju keterpurukan.

diramu dari sumber: warta ekonomi dan bataviase.co.id

No comments:

Post a Comment