Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Meditasiku Part 1


Hal yang terlintas pertama kali ketika saya mendengar kata meditasi adalah yoga, India dan Hindu. Saya tidak pernah tertarik dengan aktifitas ini tapi juga tidak  antipatif. Suatu hari saya mendapatkan pesan singkat dari seorang sahabat yg bersama-sama berlatih silat. Isinya saya direkomendasikan untuk mengikuti pelatihan kerokhanian oleh pelatih kami pada jam sekian di tempat anu. Saya mengetahui bahwa organisasi silat ini memiliki tahap latihan yang lain selain olah gerak. Sehingga ketika saya mendapat kesempatan baik itu, saya tidak mau membuangnya percuma.
Singkatnya, pelatihan ini menitikberatkan tidak pada raga tapi pada jiwa. Pada latihan kedua, saya sudah mulai memahami tujuan dan manfaat latihan ini. Dari beberapa metode latihan, saya jatuh hati dengan sesi meditasi. Awalnya saya pikir meditasi itu hanya duduk dan “menghilang”. So simple. Ternyata tidak sesederhana itu, saya mengalami berbagai hal mengejutkan dalam perjalanan mempelajarinya.
Beberapa orang mendefinisikan meditasi dengan berdoa. Boleh sih menyamakannya demikian, akan tetapi menurut saya ada pengertian berbeda antara keduanya. Berdoa adalah kegiatan “berbicara” dengan Tuhan. Karena dalam berdoa, manusia selalu meminta, bercerita tentang ini itu, menangis tersedu-sedu, menyesali sesuatu dan lain sebagainya. Intinya komunikasi dari manusia ke Tuhan. Sedangkan meditasi menurut saya adalah kegiatan untuk “mendengar” Tuhan [Tuhan ke manusia]. Butuh usaha yang luar biasa kuat untuk melakukan meditasi. Dan saya akan menceritakan pengalaman ini kepada anda.
Pelatih saya mengajarkan beberapa tehnik dalam bermeditasi. Yang pertama adalah memfokuskan mata pada satu titik terang diantara kedua alis. Sialnya, saya paling tidak mahir pada tehnik pertama ini. Kepala saya langsung diserang pusing hebat karena saya merasakan mata saya menjadi juling dalam gelap karena “dipaksa” mencari titik terang yang nangkring ditengah-tengah alis tadi. Belum lagi efek mual yang berpotensi mengeluarkan sarapan pagi dan kaki yang tiba-tiba mati rasa kesemutan. Berangkat dari rasa frustasi tersebut, saya putuskan untuk melakukan metode kedua yaitu berkonsentrasi pada naik turunnya nafas.
Mengingat karakter saya yang serampangan ga bisa diam, metode kedua ini adalah yang paling ringan dan cocok buat saya.Diumpamakan kita menarik nafas dalam sebuah garis imaginer oval dan titik berat fokusnya adalah pada tarikan nafas di kedua ujungnya. Awalnya saya megab-megab heboh penuh penderitaan [tetep ada efek dodolnya], tapi lama-lama saya bisa mengatur ritme keluar masuk nafas dan imaginasi saya berjalan mulus.  Metode terakhir adalah membaca kata-kata suci atau suku kata yang diulang-ulang. Bagi yang muslim, bisa mengucapkan (dalam hati) hu...Allah, yang lainnya boleh menyebut  nama Tuhannya masing-masing.  Pengulangan kata-kata ini punya tujuan, yaitu membuat pikiran melakukan sesuatu dan membawa kita ke situasi lain.
Sewaktu kuliah dulu, saya pernah ikut teater kampus khusus untuk mahasiswa jurusan sastra Inggris. Kami diajari meditasi di alam bebas. Percaya deh, ini jauh lebih menyiksa. Baru semenit mata terpejam dg maksud hati ingin berkonsentrasi, tiba-tiba [maaf] saya merasakan ada seekor semut yang entah datang dari mana [mengingat lokasi meditasi adalah alam bebas, malam hari pula] berjalan cuek di perut saya. Geli, gemas, takut digigit dan setiap gerakan semut yang cuma seekor itu jadi terasa nyata benar di permukaan kulit saya. Alhasil, bukannya bermeditasi dg tertib,detik berikutnya saya malah mencak-mencak disertai lolongan kegelian sambil berlari keluar dari lingkaran teman-teman. Menciptakan kesemburatan luar biasa dan yang paling menyedihkan, malam  itu kami semua ga jadi meditasi. Saya terlanjur mengacaukan suasana dan membuat dosen teater manyun karena programnya diacak-acak mahasiswi kurangajar semester 4 bernama fietha.

to be continued dunk ...

No comments:

Post a Comment