Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Meditasiku part 2


Tiga hari pertama latihan meditasi benar-benar membuat saya senewen. Duduk tegak, diam, dan tenang adalah aktifitas which is not me. Wajar kalau dalam 30 detik saja saya langsung disergap rasa bosan, marah, gelisah, sedih, gemas, dan kesemutan tiada tara. Berganti-ganti emosi itu, sehingga 10 menit serasa seharian lamanya. Saya merasa pikiran saya liar melompat-lompat tidak jelas, dari masa lalu yang jauh kemudian melompat ke masa depan yang tidak saya ketahui setitik pun. Pikiran saya tidak mau disiplin ke satu arah. Kegiatan menggali masa lalu dan mengaduk-aduk masa depan ini pun selalu saya alami setiap saya bermeditasi.
Saya was-was, jangan-jangan saya tidak sukses bermeditasi. Sampai akhirnya ada percakapan ringan antara teman yang bernama Arya dengan senior. Dia mengatakan bahwa selama ini dia seperti terjebak di dua alam, alam gaib/ilahi dan juga alam logika keilmuan. Sehingga dia merasa berada di tengah-tengah tidak bergerak. Senior kami tidak menyalahkan Arya, itu tahapan yang memang harus dilewati. Dengan latar belakang keilmuan yang kuat [mahasiswa], kami tentunya lebih suka berpikir realistis dan berpedoman pada logika nalar yang masuk akal.

Beliau kemudian menjelaskan dengan sabar pada kami bahwa tubuh manusia itu terdiri dari anatomi harafiah dan anatomi puitis. Anatomi harafiah itu dapat dilihat dan terbuat dari tulang, gigi serta daging. Sedangkan anatomi puitis tidak dapat dilihat [kasat mata] dan terbuat dari energi, ingatan dan iman [kitab suci menyebutnya sebagai ruh]. Karena meditasi ini bertujuan mengolah anatomi tubuh yang puitis maka sebisa mungkin kita tidak menggunakan intelektualitas kita karena pikiran-pikiran tersebut akan memadamkan keIlahian yang ada di dalam jiwa kita dengan perdebatan tanpa ujung.         
Sampai saat ini saya masih terus berusaha belajar dan memperbaiki meditasi saya. Saya bermeditasi di malam hari sebelum tidur demi mendapatkan suasana sunyi setiap hari. Kini [setelah perjuangan aneh dan melelahkan tadi] saya bisa berdamai dengan waktu dalam bermeditasi. Saya meningkatkan rentang waktu meditasi dari hari ke hari. Dari 10, 15, 30, 45 menit sampai akhirnya satu jam [ini sudah sebuah prestasi gemilang buat saya ^^]. Meski demikian, kadang-kadang saya terkaget-kaget sendiri karena merasa ketiduran di tengah meditasi :D.
Satu hal yang saya peroleh dari meditasi adalah ternyata tempat untuk jiwa beristirahat dengan tenang [selama kita masih hidup] adalah hati. Ego yang selama ini menguasai jiwa bisa ditekan dan dikendalikan--dengan tidak mengesampingkan doa dalam ritual keagamaan--melalui  meditasi. Hati menjadi peka dengan apa pun di sekitar kita dari segala dimensi. Bahwa ada efek lain dari meditasi yang “aneh”, yah ... saya anggap itu bonus  ^,^

~selesai~

No comments:

Post a Comment