Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Thank You for Remembering Me


Di tengah hiruk pikuknya media yang memenuhi sebuah ruangan di gedung thamrin Bank Indonesia, ponselku berbunyi, ada satu pesan masuk. Tak langsung kubuka karena aku masih ngobrol sama salah satu wartawan media online. Pak Mentri tak kunjung muncul, acara jadi molor setengah jam dari jadwal.

Aku baru membuka sms itu ketika acara sudah dimulai. Guess what, ini sms dari teman lama. tak ayal, kami pun saling bertanya kabar, kesibukan dan juga rencana ke depan. Dia berada di Yogyakarta, dia pikir aku masih di sana. Well, honestly I'd love to go there but ... I couldn't. 

Sambil melihat FB dia bertanya ini itu, tentang nenekku yang sakit, tentang SK dan tes kesehatan, dan tentang operasi amandel. It was like years we've never talked, and yes we were. Sungguh menyenangkan "bertemu" dengan pribadi ini. Aku mengagumi cara berpikirnya, cara dia memaknai hidup dan caranya memecahkan masalah. Sangat dewasa dan sering aku tiru juga hahahaha

Someday, saat dia main ke Jakarta, dia berjanji untuk menemuiku. Aku sudah membayangkan betapa serunya pertemuan itu nanti. Teman lama yang sekian tahun lenyap, tentu akan membawa segudang cerita seru kan? Berbagi cerita secara langsung, sebuah aktifitas yang kurasa hilang dari diriku akhir-akhir ini (tentu saja selama di Jakarta). Dan janji temanku ini seperti menyadarkanku betapa kakunya hidupku saai ini. 

Mungkin aku sekarang uda mulai bertransformasi menjadi robot, rutinitas yang kian teratur, mobilitas yang monoton dan rasa malas yang makin menggila. Malas kemana-mana, malas ini males itu. Jadi inget curhatan seorang teman kerja yang ingin dimutasi ke daerah asalnya, Mataram. Dia mengeluh, betapa mahalnya hidup di Jakarta. Makan mahal, rumah mahal, bahkan waktu pun menjadi sangat mahal juga. Selalu aku bilang, manusia mungkin cinta dengan zona nyaman, tapi sudah nature-nya manusia untuk bergerak dan beradaptasi dengan situasi dan lingkungan yang baru untuk menciptakan zona baru. Dan ternyata adaptasiku di Jakarta ini boleh dibilang diujung kegagalan. Belum sukses hahaha....

Malah nglantur, intinya, sedikit "hai" dari teman itu ternyata seperti guyuran air zam-zam di tenggorokan yang kering. Menyegarkan, menyadarkan, membawa kesenangan. Terima kasih temanku sayang, for remembering me and sharing your story. You're so kind and special.


Kenmochi Chiemi

No comments:

Post a Comment