Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Highly recommended movie: Rectoverso

Telat banget nonton plus bikin tulisan tentang si Rectoverso ini (gara-gara sakit kemarin). Tapi gatel banget ni tangan pingin kasih komen after watching it. Seperti postinganku sebelumnya, film ini sangat ditunggu karena novelnya yang dahsyat. Mereview dari karya Dee sebelumnya yang sukses diangkat ke layar lebar, rectoverso sepertinya ga jauh beda suksesnya dengan pendahulunya.

As you know, ada lima judul yang dirangkai menjadi satu kesatuan cerita. Kelimanya punya satu inti yang sama yaitu "Cinta yang tak terucap", sesuai dengan tagline pada poster filmnya. Cinta diam-diam yang tak dapat diungkapkan karena berbagai alasan. Here they are:

Malaikat Juga Tahu
Pemain: Lukman Sardi (Abang), Prisia Nasution (Leia), Dewi Irawan (Bunda) dan Marcell Domits (Hans)
Sutradara: Marcella Zalianty
Penulis Skenario: Ve Handojo

Kisah Abang ,lelaki paruh baya pengidap autisme, yang jatuh cinta kepada Leia, salah satu penghuni kos di rumah ibunya (Bunda). Cinta Abang pada Leia terungkap ketika Bunda menemukan secarik kertas berisi tulisan Abang untuk Leia:
 "Seratus itu sempurna. Kamu satu, lebih dari sempurna",
Tapi cinta itu tentu saja tak bersambut karena Leia lebih memilih mencintai Hans (adik Abang). Dan disinilah klimaks dari cerita ini, kita akan melihat bagaimana depresinya Abang yang begitu kehilangan Leia, wanita yang membuatnya jatuh cinta dengan jiwanya tapi tak punya cara mengungkapkannya karena keterbatasannya sebagai pengidap autis.

Menurutku, cerita ini yang paling jos gandhos (minjem kata2nya soimah :p). Ceritanya simple, kuat, acting pemainnya JUARA....apalagi adegan terakhir dimana Abang memeluk Bunda dan bilang "mau satu ma...mau satu..." itu beneran bikin mewek maksimal. Gilak ni cerita sejuta jempol deh.

Firasat
Pemain: Asmirandah (Senja), Dwi Sasono (Panca), Widyawati
Sutradara: Rachel Maryam
Penulis Skenario: Indra Herlambang


Firasat bercerita mengenai sebuah Klub Firasat yang diketuai oleh Panca. Di sana, Senja adalah salah satu anggotanya. Klub Firasat mengajarkan para anggotanya untuk lebih mengerti tanda-tanda yang sering diberi alam semesta. Senja tersiksa dengan kemampuannya merasakan sesuatu (baca:Firasat) yang akan terjadi. Firasat membuatnya takut, karena dulu dia pernah punya firasat buruk akan kepergian ayah dan adiknya. Dia gagal menahan ayah dan adiknya pergi dan akibatnya mereka meninggal dunia. Pengalaman spiritual ini menghantuinya dan kali ini dia merasakan bahwa Panca (laki-laki yang diam-diam dia sayangi) akan pergi sama seperti ayah dan adiknya. Dia mencoba menahan Panca yang harus terbang ke Padang menjenguk ibunya yang sakit.

Entah pemahamanku yang salah atau gimana, di versi novelnya yang akan meninggal adalah Panca tapi di filmnya ini ternyata yang meninggal justru Senja. Ini kejutan buatku. Kalau kebanyakan orang ga suka cerita Firasat ini, aku malah suka banget. Filosofinya dalem: firasat itu tidak bisa mengubah apapun, firasat itu ada untuk membuat kita bisa menerima. Saat kita menerima, kita juga belajar berdamai dengan hidup. Kata-kata puitis dan filosofis ditutup dengan ending yang beda dari novel plus chemistry pemainnya juga oke beud membuat kisah ini menarik. I love it!

Curhat Buat Sahabat
Pemain: Acha Septriasa (Amanda) , Indra Birowo (Reggie), Tetty Liz Indriati (Ibu Reggie)
Sutradara: Olga Lydia
Penulis Skenario: Ilya Sigma dan Priesnanda Dwi Satria

Dikisahkan ada dua sahabat yaitu Amanda dan Reggie. Reggie mencintai Amanda, namun dia hanya memendamnya. Reggie adalah pendengar setia Amanda, lebih tepatnya sih "tempat sampah" curhatan kisah cinta Amanda yang tak pernah berakhir manis. Reggie selalu ada untuk Amanda kapanpun Amanda butuh. Kutipan Amanda:
"Aku nggak butuh apa-apa lagi. Aku tuh cuma pengen orang yang sayang beneran sama aku, yang mau datang ke rumah kalau aku sakit. Jam berapa aja... bawa segelas air putih." 
Namun pada curhatan terakhirnya, Amanda sadar, bahwa Reggielah yang selalu ada untuk dirinya.

Ini kisah paling ringan di antara empat kisah yang lain. Kisah yang gampang sekali ditemui di kehidupan sehari-hari, tentang sepasang sahabat berbeda jenis yang salah satu jatuh hati pada sahabatnya sendiri. Aku pernah mengalami ini dulu jaman SMA hahahaha, lucu banget. Acha Septriasa pas banget mainin perannya, bahkan menurutku kisah ini lebih acceptable daripada di novelnya. Adaptasi sempurna :)

Cicak di Dinding 
Pemain: Sophia Latjuba (Saras), Yama Carlos (Taja), Tio Pakusadewo (Irwan)
Sutradara: Cathy Sharon
Penulis Skenario: Ve Handojo

Diawali dengan hubungan ONS, Taja seorang pelukis berbakat jatuh cinta dengan Saras, seorang wanita sosialita. Saras dengan free life style-nya sempat menghilang ketika Taja akan mengutarakan perasaannya, kemudian mereka bertemu lagi dalam pameran lukisan Taja. Saras ternyata akan menikah dengan Irwan, sahabat yang sudah dianggap seperti kakak oleh Taja. Awalnya Saras mengingkari perasaannya terhadap Taja, namun ketika dia melihat hadiah perkawinan dari Taja berupa lukisan cicak di dinding kamarnya, di saat itulah dia menyadari perasaan cintanya pada Taja. Kenapa cicak? Karena cicak itu melekat dengan tembok dan cicak itu sebetulnya menjaga manusia dari gigitan nyamuk, tapi terkadang keberadaannya tidak diinginkan.

Well, kisah ini menampilkan adegan-adegan romantis tapi kena juga di hati. Bagaimana melepas orang yang sangat dicintai menikah dengan sahabat/kakak sendiri.  Aku suka lukisan "glow in the dark"nya Taja yang kuereeen plus soundtrack Cicak di Dinding yang dinyanyikan merdu oleh Dira Sugandi (lagu bisa didengerin di sini).  Lovely 

Hanya Isyarat
Pemain: Amanda Soekasah (Al), Hamish Daud (Raga), Fauzi Baadila
Sutradara: Happy Salma
Penulis Skenario: Key Mangunsong

Bagi yang ga suka sama film yang agak "mikir", mungkin "Hanya Isyarat" ini agak bikin gimana gitu. Karena semuanya disajikan secara metafor, puitis dan kayaknya ga mungkin terjadi di dunia nyata. Tentang Al yang jatuh cinta dengan teman backpackernya, Raga. Selama perjalanan mereka, Al hanya bisa menikmati punggung Raga saja, bahkan Al ga tau warna mata Raga. Hingga suatu malam Al berkesempatan duduk semeja dengan Raga dan tiga orang backpackers lainnya untuk berlomba bercerita hal yang paling menyedihkan. Akhirnya Al bisa tau warna mata Raga: it's hazel. Dan itu sudah membuat Al senang luar biasa tanpa ingin mengungkapkan perasaannya.  Al memenangkan lomba itu tapi sekaligus tau kalau ia tidak akan pernah memenangkan hati Raga.

Well, sebagai alumni sastra (hueks), aku suka kisah ini. Ceritanya yang sebenernya sederhana tapi disajikan dengan pemaknaan yang dalam. SIPP!
Nih, kutipan kata-kata Al:
"Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang aku sanggup menikmati bayangannya dan tidak akan pernah bisa aku miliki. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekelebat kemudian menghilang sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat, sehalus udara, setipis awan atau hujan..."


Gosh! it is the longest post I've written. OK, kelima kisah ini ga disajikan per cerita loh ya. Jadi kelimanya digabung, di-blend, di-mix sedemikian rupa tapi alur cerita tetep kuat. ga berantakan. Highly recommended pol2an buat kamu yang haus film dalam negeri yang berkualitas. Selamat menonton guys :)


2 comments:

  1. rencana seh mau nonton... tapi masih dibandung nih... jare apik.. nurut awakmu wes... tapi lek elek ijolono tiketku nonton sak manganx pisan...hahaha

    iq_read@yahoo.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan lupa bawa tisu opo kanebo pisan... ^^v

      Delete