Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

what kind of symbol on your jacket?

Ketika masyarakat majemuk berinteraksi dengan masyarakat lain yang berbeda budaya dan latar belakang, maka simbol-simbol verbal atau nonverbal secara tidak langsung dipergunakan dalam proses tersebut. Penggunaan simbol-simbol ini seringkali menghasilkan makna-makna yang berbeda dari pelaku komunikasi, walau tak jarang pemaknaan atas simbol akan menghasilkan arti yang sama, sesuai harapan pelaku komunikasi tersebut.


Simbol memiliki kesatuan bentuk dan juga makna. Sehingga simbol dapat dibedakan menjadi simbol-simbol universal, simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan tertentu, dan simbol individual (Hartoko-Rahmanto, 1998 : 133). Berkaitan dengan teori-teori tersebut, kita seringkali men-generalisasikan bahwa simbol mewakili apa yang disimbolkan secara mutlak. contohnya saja, kalo seorang pemain bola mengenakan perekat seperti gelang di lengannya itu menandakan bahwa pemain tersebut merupakan kapten tim, anak memakai baju merah putih berarti siswa SD dsb.

Nah, saya baru menyadari bahwa setiap individu memilih secara sadar, setengah sadar bisa juga, pada simbol apa yang ingin dia lekatkan pada dirinya. Secara sadar, untuk menunjukkan jati diri dan eksistensi sedangkan setengah sadar karena ngantuk aja mungkin hehehe [mulai ngaco].

Ada dua peristiwa kecil yang membuat saya "melek" akan pentingnya simbol. Pertama, kejadian di sebuah mall kecil di Jember, Jawa Timur. Waktu itu saya hendak membeli sesuatu, perasaan saya ga enak karena saya merasa ada yang membuntuti saya. Saya berpikir dengan keras, utang bulan kemarin udah dilunasi, buku perpus uda dibalikin, kompor udah dimatiin...apa yang salah? Maka sayapun berinisiatif mempercepat langkah, ga seru aja kalo di tengah2 keramaian terjadi perkelahian antara si penguntit dengan sekuriti karena rebutan nganterin saya pulang *lho  

Ternyata doi juga ga kalah cepet nguber saya, dan waktu hampir naik eskalator pundak saya dijawil seseorang. saya menoleh:
"maaf, saya kira Fitria. Bukankah ini jaketnya Fitria? Dari Smuda kan?" kata mas penguntit.
"owh...Fitria tu kakak saya. Ni jaket emang punya dia hehehe biasa adik kan suka banget ngrampokin barang2 kakaknya," sahut saya malu-malu ketahuan minjem. 
"Iya, pantesan kok dari belakang ga mirip Fitri gitu. yauda salam ya buat kakaknya dari **** kelas **," si penguntit insaf and cabut meninggalkan saya.

Jaket kakak saya memang keren, paduan serasi warna biru donker [warna favorit saya] dengan krem. Ada bordiran mirip logo Slank [kupu-kupu] gitu, tapi kalo diamati bukan s-l-a-n-k tapi i-p-a-5. Modelnya pun lagi in, kayak Jaket yang dipake Nick Carter BSB di video klipnya as long as you love me. Bener-bener "nyeni" banget menurut saya kala itu. Bukannya jera, seingat saya tuh jaket berakhir dengan hilang entah kemana


Peristiwa kedua terjadi beberapa bulan yang lalu. Tepatnya ketika saya dan teman-teman [seangkatan] humas dapet pelatihan jurnalistik dari pak Anggito Abimanyu. Anggito Abimanyu adalah salah satu dosen ekonomi di UGM, setelah mengundurkan diri dari Kemenkeu, beliau aktif menulis dan kembali menjadi dosen di UGM. wew!! saya adalah salah satu penggemar beliau, selain ganteng [teteeep yaa] orangnya juga humble and yg paling penting cerdas banget. Beliau menjelaskan hal-hal yang berbau ekonomi dengan begitu simple dan langsung disertai kasus per kasus. Jadi meski saya ga pernah kuliah ekonomi, saya jadi agak "mudheng" gitu dengan apa yang terjadi dengan perekonomian dunia dan Indonesia. 

Pelatihan dilaksanakan di gedung AA Maramis, gedung peninggalan jaman Londo yang masih dirawat dan dilestarikan Kementerian Keuangan sampai detik ini. Karakteristik bangunan kolonial adalah berdinding tinggi, tebal dan kokoh. Membuat udara di dalam gedung dingin dan sejuk layangnya ruangan ber-AC. Nah, anehnya di ruangan tersebut malah dipasangin AC 6 biji yang brr....dingin gila! Untung saya bawa jaket ijo. Jaket dari komunitas silat yang saya akui lumayan hangat di musim hujan, panas banget di musim kemarau [ya iyalah..]. 
tampak depan

tampak belakang
Namanya juga jaket silat, di punggungnya ada tulisan Silat PD UGM, di bagian dada sebelah kiri ada lambang organisasi dan di lengan kanan atas ada logo UGM. Tidak bermaksud apa-apa selain kedinginan, saya pun pake tuh jaket. everything goes smooth till ... I thought he knew the logo. Saya seneng banget pak Anggito menegur meski ada candaan dikit di akhir "lho, yang dari UGM kok cuma satu??"


bersama Bpk. Anggito Abimanyu...


Setelah kejadian tersebut, saya mulai memperhatikan satu per satu jaket saya. Karena simbol, logo, apapun yang kita pakai pada akhirnya akan menunjukkan identitas diri si pemakai. Simbol dapat berdiri untuk suatu institusi, cara berpikir, ide, harapan dan banyak hal lainnya.Dan saya tidak mungkin membiarkan simbol yang "salah alamat" pada apa pun yang saya pakai. Salah-salah bisa dikira zaskia adya mecca, hanna tajima atau bahkan [bagi yg bener2 khilaf] bisa dikirain istrinya pangeran William....duh...


so, what symbol on your jacket then??

No comments:

Post a Comment