Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Lagi, kisah teladan di Indonesia



Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dengan alasan agar menjadi contoh bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

Sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan ke panitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagiaan dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di Indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.

Cerita ini saya copy dari fb teman, lagi jadi hot topic juga kayaknya sekarang. Hmm...gimana ya bilangnya....sedih, kecewa dan miris dengan keadaan si nenek. Udah miskin, kelaparan, didenda. Terlepas itu fakta atau fiksi, saya setuju dengan ibu hakim yang masih punya hati nurani. Dia tetap adil tapi tidak mengesampingkan sisi kemanusiaannya. Masih perlukah kita berdebat soal hukuman bagi koruptor? Masih haruskah kita memperlakukan istimewa penjahat kerah putih yang bermuka sok inocent, perut gendut, kekayaan seabreg dan sejuta alasan lainnya.... Tolonglah, para koruptor itu jangan hanya diem aja dipenjara, suruh mereka kerja sosial. Hukuman seperti itu lebih efektif. Kirim mereka ke area kumuh, tempat orang mencari 2000 perak aja susah. Tempat orang mo berobat aja ga mampu...biar para koruptor itu tau, betapa sakitnya ditipu dan dikhianati!

No comments:

Post a Comment