Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Negeri 5 Menara - the movie

Sabtu, 10 Maret lalu aku memutuskan untuk nonton film yang diangkat dari Novel Trilogi karya Ahmad Fuadi "Negeri 5 Menara". Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata penulisnya. Novel ini berkisah tentang perjalanan anak rantau dari tanah Minang, bermimpi kelak akan sehebat B.J. Habibie dengan menempuh pendidikan di ITB. Tapi mimpinya seperti buyar ketika orang tuanya memintanya untuk melanjutkan studinya ke Pondok Pesantren setelah SMP. Alif, nama tokoh utama, mengalami kebimbangan yang luar biasa, tarikan emosi dan egoisme khas remaja yang akhirnya terkalahkan oleh kepatuhan terhadap orang tua.

Pondok itu berada di pelosok Jawa Timur, Ponorogo. Dalam novelnya, A Fuadi menamai ponpes itu dengan Pondok Madani, meskipun semua orang tau kalo ponpes itu sebenernya ya Ponpes Modern Gontor. Penulis mengisahkan seluk beluk metode pembelajaran ala pesantren modern yang sungguh menakjubkan. Aku punya kakak kelas yang menimba ilmu di sana. Dan memang hanya mereka yang punya kemampuan dan tekad yang gigih yang bisa bertahan di ponpes tersebut. Ada pula seorang tetangga yang anaknya menjadi "maaf" depresi karena tak kuat menjalani proses belajar ponpes ini. Jadi sungguh salut dengan mereka-mereka yang bisa berjuang dalam tekanan yang luar biasa.

Kembali ke filmnya, dari awal mo nonton, aku tak berharap ni film akan sedahsyat novelnya. Hukum adaptasi karya sastra memang demikian. Tak akan sam persis dengan novelnya. Hanya akan diambil potongan-potongan peristiwa yang dianggap menonjol oleh sutradara dan dirangkai dengan benang merah agar tetap utuh. Dari angka 1-10, kalo boleh menilai sih, film ini aku kasih 6 deh. Why? Bagi yang uda baca novelnya, tentu akan mengharapkan filmnya akan sehebat novelnya kan? Dan menurutku nilai-nilai perjuangan dalam belajar dan sistem ponpes yang super disiplin kurang dieksplor. Jadi kayak flat aja gitu. Memang ada beberapa scene yang menguras emosi tapi jika dibandingan film adaptasi serupa macam Laskar Pelangi, film ini kurang greget. 

Tapi, mengesampingkan beberapa kekurangan tadi, pesan moral yang diusung dalam film ini sudah bagus. "Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil)" merupakan ruh novel dan film ini. Kalimat berbahasa Arab tadi seumpama kompas kehidupan bagi Alif dan lima sahabatnya . Setelah menonton apalagi membaca novelnya, penonton dan pembaca akan merasakan kekuatan "mantra" Man Jadda Wajada. So, film ini layak ditonton oleh berbagai kalangan, ga cuma anak-anak aja. Karena ada banyak nilai-nilai positif lainnya seperti kepemimpinan dan character building.  Selamat Menonton ....

No comments:

Post a Comment