Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Mahalnya Sakit di Jakarta

Yesterday, adalah hari pertama aku masuk kerja. Pagi-pagi aku berangkat dari kos jalan kaki karena motorku aku titipin di basemen kantor sejak sehari sebelum mudik ke Jawa Timur. Kombinasi lelah, penat dan lupa makan sehari sebelumnya rupanya membuat system warning di tubuhku menyala nyaring...

Sekembali membeli sebungkus sarapan dengan beberapa teman, tubuhku perlahan menggigil. Soto ayam yang mengepul harum di depan mata tak lagi membawa daya tarik. Tak hilang akal, aku menyeduh teh manis untuk mengurangi rasa dingin yang kian merayap tak wajar. Ruangan berAC ini semakin dingin saja, tak seperti biasa.

Seorang teman yang baik menawarkan bantuan berupa obat masuk angin cair yang langsung aku teguk demi melawan demam dan meriang. Soto ayam hanya kucicipi lima sendok saja, sisanya kubiarkan teman-teman yang menyantapnya. Aku pasrah, ada acara halal bihalal dengan Menteri Keuangan yang harus diikuti seluruh pegawai instansi ini. Aku ga sanggup membayangkan harus ngantri panjang gila demi bersalaman dengan Menkeu dan para petinggi kemenkeu lainnya. Ow No!!!

Melihat mukaku yang tambah pucat, atasanku [yang juga sangat baik hati] menyarankanku untuk istirahat saja di kos, dan kembali waktu absen pulang aja..And yes of course aku nurut. Aku pulang ke kos dan berusaha istirahat dengan tenang di kamar. Time goes by tapi bukannya tambah baik, justru pusingku tambah dahsyat, mata berkunang-kunang, badan panas tinggi, perut mulai mual dan akhirnya muntah beberapa kali. Oh God, no more!!!

Detik-detik yang sangat tidak menyenangkan itu, aku berusaha mengalihkan perhatian dengan menonton TV. And you know, sometimes you turn into a mellow person once you got sick right? Aku ngerasa sendirian karena memang di kos ga ada siapa-siapa, ga ada yang perhatiin aku. Bener-bener feel sorry for myself. Tiba-tiba BB-ku berbunyi, seorang teman membaca status YM-ku dan mungkin kasihan denganku [ih sedih banget sih kata-katanya]. Maka akupun mengalihkan perhatian dari TV ke temanku itu. Tak hanya menemani ngobrol, temanku juga ngasih segerobak tips untuk menyembuhkan diri. Mulai dari kerokan, ngolesin balsem atau minyak angin, minum teh tawar panas, minum aneka soda dan yang terakhir mabok susu bearbrand...how cool is that?? Hahahahaha

pic is taken from here
Aku merangkak sendiri dalam kamar untuk mencari minyak angin, pelan-pelan karena kepalaku seperti udah ditimpukin gada-nya Bima bertubi-tubi. Sesekali aku berhenti untuk sekedar menahan mual yang kian menjadi. Ya Allah, sakit apakah aku?? Temanku mengingatkanku untuk makan siang, kembali aku nelangsa. Jangankan turun untuk cari makan, sekedar bangkit untuk buang air kecil ke kamar mandi aja aku harus berjuang agar ga limbung. Sangat melankolis, air mata mengalir tanpa komando. Mungkin karena suhu badanku yang kelewat tinggi juga karena perasaanku yang merasa sangat sendirian, so lonely.

"Coba 14022", tulis temanku di YM. Entah kenapa aku seperti sedang dirawat ayahku, nurut banget sama tuh 'sok sedap'. Sejam kemudian sup dan kentang goreng pesananku datang. Tapi hanya 10 menit bersarang dalam lambung, semua yang kumakan kembali keluar dengan sukses [baca:muntah]. Makin lemas, makin berkunang-kunang, makin geje. Semua saran temanku, kecuali soda dan mabok susu tadi, sudah aku coba. Pasrah, aku menunggu teman kosku pulang saja.

Pukul 17.30 temanku pulang, sholat Maghrib kemudian langsung cabut ke kantor untuk absen pulang. Afterwards, ke Rumah Sakit deket kantor untuk periksa. Sebuah rumah sakit swasta yang pastinya dari segi pelayanan jauh lebih baik dari RS Negeri [ini opini subjektif saya lo..hehehe]. Tak butuh waktu lama, aku masuk IGD, langsung ditensi tekanan darahnya, diukur suhu tubuhnya kemudian pak dokter eh panggil mas dokter aja deh soalnya masih imut xixixixi, memeriksa mata, detak jantung, perut, tenggorokan, pokoknya sangat intensif. Hingga didapat kesimpulan bahwa lambungku terserang maag, dan amandelku meradang. Dan karena mualku udah parah, aku diberi suntikan anti mual. Hmm...baru kuingat, kemarin aku cuma makan pagi doank!! Oke, it was my fault.

Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu, BAYAR. Di kasir seorang ibu dengan sigap memeriksa selembar coretan dari dokter, menghitung, kemudian menyebutkan angka, "Rp. 183.700 mbak". Aku pikir, okelah ini RS Swasta gitu, jangan pernah berharap murah. Aku keluarkan kartu debetku dan voila..done. Si ibu melanjutkan sambil tersenyum, "nanti obatnya diambil di sebelah sana ya, terima kasih." Kuikuti telunjuk si ibu yang mengarah ke counter APOTIK. Kuserahkan kuitansi ke mas2 yang jaga apotik, 5 menit kemudian namaku disebut, "Mbak Fita? Rp. 238.000,-" kata masnya kalem. WOTT??!! jadi yang 183 ribu tadi ternyata belom termasuk obat??!!!

Sok cool aku mengeluarkan dompet dan thanks God disana masih ada uang cash 300 ribu sisa lebaran kemarin. Pasrah aku serahin lembaran 50ribuan itu...dalam hati aku mengutuk, damn!! sakit begini doank bisa ngabisin 400 ribu?? Sungguh T E R L A L U.  Saat ini aku masih ngerasa sedikit pusing, tapi demi 400 ribu yang semalam berpindah tanpa toleransi, aku berjanji ga bakal ceroboh lagi untuk makan. Jakarta, kota yang sangat kejam, tak ada belas kasih bahkan untuk yang sakit. Semoga saudara2ku yang belum beruntung selalu diberi kesehatan di luar sana. Jaminan kesehatan memang sepenuhnya harus menjadi fokus utama pemerintah. Yang uda kerja gini aja uda kerepotan apalagi mereka yang masih belum mendapatkan kehidupan yang layak??

*Buat temanku yg kemarin uda mau nemenin aku selama "sekarat", Terima Kasih yang tak terhingga. Teman: semangatku. Selalu

Kenmochi Chiemi


No comments:

Post a Comment