Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

My Sweet Escape

Pagi hari, saat kabut dan embun masih transparan menutup bumi Lumajang yang lengang, aku meregangkan beberapa bagian tubuh untuk melemaskan otot dan mengambil sepeda lipat milik ayahku. Kukayuh sepeda itu pelan menyusuri jalanan desa yang masih sepi. Tak lupa kunyalakan musik dari HPku untuk menemani perjalanan ini.

Melewati pasar, belok kanan kemudian ada satu tikungan di depan sana, refleks aku menolehkan kepala ke kiri...Di ujung sana ada rumahmu, masih ingatkah kamu ketika aku usil main rame-rame ke rumahmu dan merusak acara masak ayam gorengmu? Aku Ingat.

Aku membalikkan arah, menyusuri kembali jalanan aspal dekat kantor polisi desa, saat itu aku naik motor kenceng dan melewati gerombolan anak-anak SMP yang sedang berjalan pulang dari latihan gamelan. Kamu salah satu dari mereka. Masih ingatkah apa yang kamu tulis dalam surat pertamamu setelah kejadian itu? Aku Ingat. Kamu minta aku tak terlalu ngebut, berhati-hati kalo berkendara, dan...pake jaket.

Di depan SD dekat rumahku, dibawah sebuah pohon waru, aku tersenyum. Masih ingatkah waktu kamu memintaku untuk ikut ke sebuah pusat perbelanjaan kota dengan alasan ingin beli kemeja? Aku ingat. kamu ingin aku yang memilihkan satu kemeja sesuai dengan seleraku. Anehnya, aku masih belum "ngeh" kalo itu signal bahwa kamu menyayangiku. Aku menganggapmu sebagai sahabatku, tak lebih sampai kejadian "aneh dan lucu" di alun-alun kota terjadi ... menarik sekali.

Saat melewati areal SMP tempat kita menghabiskan 3 tahun masa remaja, ingatkah kamu saat dengan kenakalan luar biasa aku nyembunyiin jaketmu di semak belukar saat malam api unggun?? Aku ingat. Meski aku masih menganggapmu sama seperti semua temen-temen cowokku yang lain, rupanya kamu sudah menyimpan rasa merah jambu. Lucu sekali.

Angin pagi itu berdesir pelan tapi membawa hawa dingin segar yang luar biasa bersih. Menggiring ingatanku ketika kamu dengan malu-malu mengatakan kamu menyayangiku sejak kelas 1 SMP dulu, menyimpannya rapat sampai setelah pengumuman kelulusan SMA. Kamu menunduk seperti melukis sesuatu di atas tanah di bawah kakimu. Memakai kemeja biru donker rapi, warna favoritku. Dan kamu meminjamkan jaket tebalmu padaku padahal kabut sudah mulai turun dan menebal. Kamu menunggu jawabanku dengan cemas  di atas motor yang membawa kita turun, ingatkah caraku menjawabmu saat itu? Aku ingat. Sebuah ucapan "bismilah", setitik air mata haru dan selingkar peluk di pinggangmu.

Matahari mulai muncul dan menimpakan sinar keemasannya pada kulit Semeru yang biru, membawaku pada alam masa kini ... Masih ingatkah kata-kata perpisahan penuh air mata sebulan sebelum kamu menikah? Aku ingat, kamu bilang "Aku akan selalu menjadi milikmu sampai kapanpun, tak akan berubah." Manis sekali, tapi aku hanya bisa memberimu seuntas senyum terakhir yang susah payah kubangun untukmu. Sedih.

Kamu. Suporter yang menyemangatiku dalam menggapai cita. Membesarkan hatiku kala aku kalah bertanding silat. Menasehatiku saat aku terlalu sibuk dan lupa makan. Mengingatkanku untuk tak melalaikan kewajiban lima waktu dan tahajud.

Kamu. My traveling partner ever. Mengajakku berani mengunjungi tempat-tempat yang aneh dan menyenangkan. Sering kita bertemu dengan keajaiban-keajaiban sepanjang perjalanan. Seru.

Kamu. Orang termanis sedunia. Tak pernah kamu ragu mengenalkanku pada siapapun dengan kata-kata meyakinkan dan tegas, "kenalkan, ini Fietha, calon pendamping saya." Meski kita masih terlalu muda, bahkan aku masih semester 4. Kamu ga peduli dengan pelototan mataku sesaat setelah kamu mengatakan kalimat tadi. Setelahnya kamu pasti mengatakan, "Ga papa, biar dia tau kalo aku uda ada yang punya." lengkap dengan senyum dan kedipan nakalmu. Sejujurnya aku senang, kamu: gentle.

Kamu. Mengajakku beribadah bersama dengan tenang. Lantunan ayat-ayat Allah terdengar menyayat hati, menentramkan qalbu saat kamu menjadi imamku di depan sana. Kamu selalu mengusap kepalaku saat kucium punggung tanganmu. Kamu: teduh.

Kamu. Tak pernah menunjukkan rasa cemburu ketika aku harus bejibaku dengan cowok-cowok teman silat atau kuliah. Karena kamu tau sedari kecil aku  tomboy atau mungkin memang kamu lebih suka membiarkanku meraih apapun yang aku gemari dengan leluasa. Kamu: tulus.

Masih banyak hal yang aku sadari tentangmu justru saat kamu menikah tepat di hari ulang tahunku. Kamu bilang, "Ini untuk mengenangmu selalu dalam hati dan jiwaku." Kamu: terlalu kusayangi.

Dan akhirnya, kita selalu bertemu dengan tak sengaja. Kamu selalu tersenyum padaku senang. Katamu, "Kamu hebat, selalu hebat!". Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalananku dulu. Best times, bad times, semuanya terlewati dengan segala lika likunya...Tuhan tau, kita memang hanya bisa saling menguatkan dari tempat dan waktu yang berbeda.

Kuakhiri perjalanan bersepedaku, kembali ke rumah dengan senyum bahagia. Cukuplah semuanya dijadikan kenangan yang indah tanpa cela. Karena kita semua terus bertumbuh dewasa dan merdeka. It's all about my heart and yours, our stories behind...


Kenmochi Chiemi

No comments:

Post a Comment