Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Instan=online


Jakarta ulang tahun ke-484 tahun, sebagai pendatang di Ibu kota negara ini, aku ga tau banyak tentang perubahan wajah kota ini [selain yang diberitakan di televisi]. Yang aku rasakan adalah Jakarta bisa mengubah cara berpikir setiap warganya. Terutama para pendatang yang tentunya berlatar beragam budaya yang berbeda-beda. Yang tadinya naik motornya tertib, jadi ga tertib. Main srobot sana, srobot sini. Yang dulunya ga hobi nyalain klakson mobil secara membabi buta, sekarang uda memperlakukan klakson kayak alat musik hari-hari aja. Yang ga suka jajan, jadi hobi shopping and selalu update mall mana yg lagi ada diskon gedhe-gedhean.huft...

Sebagai pendatang, aku belajar banyak hal dari pendatang lain yang senior. Tata kota Jakarta yang semrawut, kemacetan tak teratasi, polusi yang memperpendek usia paru-paru, tindak kejahatan yang terus meningkat, semua kondisi tersebut mentasbihkan waktu sebagai sesuatu yang paling berharga plus mahal. Maka orang-orang pun memutar otak dan mencari cara untuk lebih mengefektifkan waktunya akibat dari tuntutan jaman [di Jakarta] yang semakin kompleks. 

Lahirlah budaya instan di Jakarta. Orang-orang berusaha menciptakan [lebih tepatnya memakai] alat-alat atau teknologi-teknologi yang dapat membantu manusia dalam memperoleh sesuatu secara cepat. Aku yang tadinya ga peduli dengan internet banking, kartu debet, kartu kredit, akhirnya mau ga mau harus melek dengan benda-benda tadi. Mo beli tiket pesawat, tinggal online, beli buku juga online, tiket kereta juga online, pulsa? sms ke teman di lantai 11 yg kebetulan bisnis pulsa hehehehe. Semuanya dibikin praktis, cepat dan efisien, ga repot, ga rempong...

Kalo dipikir-pikir sih memang ada plus minusnya ikut arus instan tadi. Plus-nya ya itu tadi praktis. Bayangkan aja, untuk beli buku di gramedia aja, kita musti ke mall yang ada gerai gramedianya. Ke mall musti naik kendaraan, kalo jalurnya padat it will take time. Belum lagi polusi, panas, debu yang siap mengendap di badan. Kesehatan kan investasi paling mahal. Sedangkan minusnya, kita jadi kurang bergerak. Yang paling bahaya adalah kecenderungan menjadi konsumtif. Mereka yang gagal memanaj keuangannya, akan jatuh dalam kelompok orang yang konsumtif dan penghutang. Kenapa? Tak semua orang yang hidup di Jakarta dan terlihat kaya tu bener-bener kaya lho. Kartu kredit yang mudah didapat kerap kali memakan korban. That's why, aku masih pikir semilyar kali untuk menggunakan kartu kredit. Aku masih bertahan dengan kartu debet biasa aja. Lebih mudah mengontrol diri sendiri gitu.

Semoga aku dan para new comers lainnya menjadi manusia online yang baik dan bijak...hihihihi. Happy birthday Jakarta!

*sedang order beberapa buku lewat toko buku online =)

2 comments:

  1. Yes... Keren, Mbak. Harusnya kapan2 saya dikirimi buku. Lewat online aja mesennya. Hehe. BTW, kalo sekarng yg berubah dari sampean apa ya? Jgn2 naek motor jd ugal2an. Haha

    ReplyDelete
  2. ngg...naik motor bukan ugal2an tapi lebih gesit aja liat celah.soalnya kl g gt,g bakalan bisa lewat..maceet. hehehe
    yang berubah...semakin mikir praktis sepertinya. hihihi, yg bs nilai kan orang lain Malik. Termasuk kamu, menurutmu aku berubah ga?

    ReplyDelete