Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Cukuplah



Tak seorangpun tau apa yang akan terjadi padanya satu detik ke depan.

Seorang teman dekat secara tiba-tiba menghubungiku di pagi-pagi buta. Menceritakan uneg-unegnya sambil berurai air mata. Berharap dapat mengurai tali temali yang terlanjur terajut keliru. Aku? cukup menjadi pendengar, pembaca dan tukang analisa rajutan keliru tadi. Membantunya mengulang rajutan dari awal. Hebat!

Seringkali aku mendapati seorang sahabat yang melemah karena himpitan masalah usang. Lirih menghamburkan luka-luka perihnya, berceloteh seperti anak kecil habis jatuh dari belajar sepeda. Minta diobati dan dibelikan permen untuk mengeringkan luka-luka tadi. Aku? Cukup menjadi seorang "ibu" jadi-jadian dan menyanggupi permintaannya; beberapa tetes obat merah dan sekeping lolipop.

Sore-sore, ada sahabat yang dulu pernah sedekat mata dengan alis tapi sekarang sejauh mata dengan telinga  mengirimkan pesan singkat. Bercerita betapa membingungkannya hidupnya. Secara kasat mata dia terlihat bahagia dan lengkap, tapi dia menuliskan kalimat demi kalimat seperti curhat pada sebuah buku diary yang jauh bertolak belakang dengan "penampakan kasat mata" tadi. Bertanya padaku tentang berbagai kemungkinan dan rencana yang aneh dan ga masuk nalar. Aku? Cukuplah menjadi penasehat yang berusaha memberi saran yang masuk akal dan aman untuknya. Karena sadar atau tidak, dia sedang menggenggam bara di kedua telapak tangannya. Terlalu lama menggigil kedinginan membuatnya nekad bermain bara sekedar untuk menghangatkan diri.

Pagi hari yang biasa, jantungku berdegup tak biasa. Degubannya tak beraturan seperti baru saja melihat hantu secara live. Kuteguk pelan susu coklat hangat seperti biasanya, menyalakan komputer di meja kerja seperti hari-hari sebelumnya, mengecek email, facebook dan berita online seperti biasa. Still, jantungku tidak mau diajak ke jalan yang benar [baca: normal]. Bukan, kupastikan ini bukan karena insomniaku. Aku pernah mengalami insomnia lebih buruk dari pada yang ini. Aku mulai panik, ada rasa khawatir yang menjalar pelan. Rasa itu kian membesar dan menjadi sebuah firasat, firasat buruk. Aku tak bisa pura-pura tenang lagi, aku mengetik pesan singkat ke beberapa orang terdekat dan tersayang, berharap mereka baik-baik saja. Tanganku mulai gemetaran, aku kedinginan dan ketakutan. 

Beberapa saat kemudian, ternyata mereka baik-baik saja, Alhamdulillah. Aku? Cukuplah menanti kehadiran si "tenang" yang berjalan anggun dan pelan. Menunggu sesuatu yg akan terjadi di depan. Pasrah.

*Pagi ini Jakarta nampak suram, sesuram perasaanku, winter hasn't come yet but i felt it already.

[updated] Sore dua jam sebelum jam pulang kantor, seorang teman memberitahukan sesuatu yang membuatku shocked. Jadi ini yang membuat perasaanku ga tenang dari pagi? Masih belum yakin apakah itu berita buruk ato baik, tapi sebagian temen kerja menilainya berita baik. Ok baiklah, setidaknya aku sudah bersiap dari pagi hari. Pfuhh...terima kasih sudah membuat radarku berbunyi lebih awal Tuhanku tersayang. 

2 comments:

  1. Mudah2an tidak ada hal buruk yg terjadi... Hanya do'a yg bisa jadi harapan ketidakpastian.

    ReplyDelete