Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

"Kenmochi Chiemi"(剣持 千恵美)Part 1

Baru kemarin aku nulis tentang persahabatan. Today, aku merasakan kembali kehangatan seorang sahabat. Namanya Hiroyuki Imamura, dari namanya saja sudah bisa ditebak, iya dia berasal dari negeri Sakura Jepang. Aku ketemu dengan bule Jepang ini sewaktu masih berdomisili di Yogyakarta, sekitar setahun yang lalu. Hiro adalah mahasiswa pertukaran antara Indonesia dengan Jepang. [kalo ga salah] dia menghabiskan setahun penuh di Indonesia untuk mempelajari Bahasa Indonesia dan beberapa mata kuliah budaya lainnya. 

Silat menjadi magnet bagi Hiro untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Kami menyambutnya dengan hangat karena kami sangat senang jika silat bisa digemari dan ditekuni orang-orang luar negeri. Ketika pertama datang ke UKM [sekretariat silat], kemampuan bahasa Indonesianya masih kurang bagus, namun seiring berjalannya waktu juga interaksi secara kontinue dengan kami, Hiro pun dapat berbahasa Indonesia dengan jauh lebih baik. Ketekunannya, kedisiplinannya juga keramahannya membiaskan karakter orang Jepang seperti yang selama ini dikenal berkarakter kuat dan santun oleh seantero dunia. 

Jujur, aku banyak belajar dari sahabat yang satu ini. Dia tidak pernah malu bertanya tentang apa saja yang dia tidak mengerti. Aku masih ingat, ketika itu Hiro bertanya apa bedanya setan dengan roh? Aku terhenyak, pertanyaan yang mungkin akan sangat mudah dijawab oleh orang Indonesia yang penuh dengan mistik ini. Tapi tidak dengan Hiro, seperti kita ketahui mayoritas orang Jepang beragama Shinto. Jadi mereka tidak mengenal konsep roh seperti kita. Bagi orang Jepang Roh=hantu, setan, iblis. 

Maka aku menjelaskan dengan perlahan konsep roh dan hantu dari perspektif orang Indonesia. Bahwa roh itu adalah bagian dari manusia, sedangkan setan, iblis atau hantu merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda. Hiro menyimak penjelasanku dengan serius, kemudian dia bertanya lagi. "Fita, bagaimana bisa roh menjadi bagian dari manusia?" Aku berpikir sekali lagi, mencari-cari cara yang lebih gampang dicerna. Aku mengambil kertas kosong, kemudian aku gambar raga manusia asal-asalan sebanyak dua lapis. Aku jelaskan pada hiro, lapis pertama [yang dalam] adalah roh, dan lapis kedua [bagian luar] adalah badan/raga kasar manusia. Jika "badan" yang dalam itu pergi, maka manusia akan mati/meninggal. Itulah yang seringkali kita sebut roh.

Hiro cepat-cepat mengeluarkan note kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Note itu berisi berbagai informasi, vocabulary bhs Indonesia dll dimanapun dia menemukan hal-hal yang baru. Kemudian Hiro menggambar raga manusia persis seperti yang aku lakukan sebelumnya. Trus dia memberi keterangan sama persis seperti yang aku jelaskan. Setelah itu berkali-kali Hiro mengucapkan terima kasih atas penjelasanku tadi. Dia seperti menemukan teori baru yang sangat hebat gitu. Aku jadi terheran-heran dengan reaksi yang heboh seperti itu. haahaha, lucu sekali.

Hiro mengangkat Silat dalam tugas akhirnya. Kami menjadi objek penelitiannya, kami memberikan bantuan apapun yang Hiro butuhkan seperti buku-buku referensi, wawancara dengan pelatih atau pengurus organisasi tingkat propinsi dll. Hiro juga aktif mengikuti setiap pertandingan silat di Jogja, meski tidak ikut bertanding tetapi Hiro sangat antusias merekam berbagai pertandingan silat. 

bersambung ***

No comments:

Post a Comment