Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Fake Smile


Di dalam mobil Keenan menatapku, aku memberikan senyum palsuku padanya. Ingin aku mengatakan padanya bahwa aku membutuhkannya, menginginkannya selalu di sampingku. Ahh...mata itu sungguh lembut dan teduh memandang jauh ke depan, ke jalanan yang kami lalui.
 
Aku mengutuk kebodohanku sendiri, bagaimana bisa aku di sini, bersama Keenan untuk bertemu dia? Gadis yang setiap saat Keenan ceritakan dengan binar-binar cinta? Gadis yang aku gambar bebas dalam imajinasiku kala Keenan berceloteh. Aku berani bertaruh, dia pastilah cantik. Dia punya segalanya...yang aku tak punya. Sesekali Keenan melemparkan canda, tapi aku tak mampu merasakan apapun kecuali gemuruh di dada ini. 

Keenan mengaku bahwa dia begitu jatuh cinta, begitu buta, begitu gila. Itu juga yang aku rasakan, aku juga begitu ...jatuh c-i-n-t-a. Begitu lama, begitu sunyi, begitu rahasia. Ingin rasanya menghentikan laju mobil ini sejenak dan membiarkan Keenan tau apa yang ada dalam benakku. Bahwa dialah alasan tetes-tetes air mata jatuh di atas senar-senar gitarku. Dialah satu-satunya alasan aku selalu melempar harap pada bintang-bintang jatuh. Dan dialah lagu yang terus aku nyanyikan dalam mobilku, dalam kamarku, dalam diaryku, dalam hari-hariku.

Kami turun dari mobil, Keenan berjalan di sampingku. Langkah kami bertambah santai tapi nafasku seperti tertahan, mendadak sesak. Di samping pohon palem aku berhenti, membiarkan Keenan berjalan sendiri menuju gadis pujaannya. Oh laki-laki itu sungguh sempurna, tanpa celah. Keenan menoleh sebentar padaku, kuacungkan dua ibu jariku mengiringi langkahnya. Keenan tersenyum dan mengangguk, manis sekali. Gadis itu menunggunya di sebuah bangku di bawah pohon berdaun lebat dengan akar-akar kokoh seperti mencengkeram bumi.  Malam ini cuaca cerah, bintang-bintang tampak seperti pecahan kaca yang tersebar semburat di langit. So perfect!

Keenan, sebaiknya gadis itu memegangmu erat-erat dan memberikan semua cintanya padamu. Karena mata indahmu itu tak boleh tertutup kabut setipis apapun, gumamku. Aku bergegas kembali ke dalam mobilku, pulang. Kusambangi kamarku, mematikan lampu serta meletakkan gambar Keenan di bawah bantalku. Berharap aku dapat segera terlelap menyingkirkan sejenak bayang indah satu-satunya orang yang mampu menghancurkan hatiku. Menata hatiku kembali untuk mendengar celoteh riang Keenan tentang pertemuan pertamanya dengan gadis pujaannya esok hari...

*inspired by some puzzles in some cosmos

No comments:

Post a Comment