Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Selamat Jalan Temanku


Yurike Nareta, temanku semasa SMP pergi ke pangkuan Ilahi pada Sabtu siang kala matahari bersinar terik pukul satu. Innalillahi wa innailaihi Raji'uun. Tak banyak yang tertinggal di memoriku tentang Rike, begitu kami memanggilnya, selain dia siswi yang pintar, cantik, ramah, populer dan sedikit eksklusif. Bapaknya seorang guru SMA dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Rike beruntung lahir di tengah keluarga yang berada. 

Lulus SMA Rike melanjutkan sekolahnya di STT Telkom. Lulus, dia bermaksud langsung bekerja saja. Tapi karena beberapa hal akhirnya dia mencoba kuliah sambil kerja di Jember. Namun, sepertinya kuliah bukan pilihan hatinya, akhirnya dia tak melanjutkan studinya. Memilih menikah dengan seorang bintara kepolisian. Mempunyai dua orang anak dan hidup bahagia. 

pic is taken from here
Cerita sederhana itu masih nempel di pikiranku dan baru berhenti ketika Sabtu, 30 Juli 2011 seorang sahabat mengirimkan pesan singkat berisi berita duka. Ada nama Yurike Nareta dalam barisan kata-kata duka itu. Tak percaya, aku membalas sms itu dengan agak marah, aku ga mau bercanda dengan kematian. Tapi, kabar duka itu benar adanya. She's gone.

Diabetes Melitus Tipe 1 mengantarkan Rike ke peristirahatannya yang terakhir dengan damai. Meninggalkan dunia yang telah sesak dengan masalah ini, meninggalkan jagoan-jagoan kecilnya juga orang-orang yang menyayanginya. Selamat Jalan temanku sayang, semoga engkau dilancarkan, diterangi dan dimudahkan dalam perjalanan abadimu. We love you ...

No comments:

Post a Comment