Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Terlalu Banyak

Aku pingin mengeluh, tapi pada siapa? Pada sesama manusia, belum kutemukan yang bisa memahami "sampah" yang menumpuk di cairan otakku. Pada Tuhan, kok aku merasa sangat malu. Telah diberiNYA aku banyak hal. Sangat banyak dan sedikit pengecualian yang wajar.

Aku bukan tipe pendiam tapi juga bukan tipe yang terlalu terbuka. Serba tanggung mungkin. Lelah, penat, kosong, "terjajah", terlalu diharapkan, terlalu dijadikan tempat bergantung. Padahal I'm just human being, just me, fietha.

From nothing to be something, lama aku berfikir...akhirnya aku tau rasanya menjadi seseorang yang dulunya sepi kemudian tiba-tiba dikerubungi keramaian yang sebelumnya tak terjamah. Seperti koin uang yang punya dua sisi, begitu pula perasaanku. Di satu sisi aku senang, aku gembira, aku merasa diperhatikan, dibutuhkan dan...berguna. Namun, di sisi lainnya...aku sedih. Aku kangen berat sama "kebebasan" genuine yang dulu kudekap erat. Kebebasan yang sekarang berwajah lain, nisbi.

pic is taken from here
Terlalu lekat keramaian yang mengelilingiku, wajah-wajah penuh harap, dan seakan menjadi orang yang sakti, aku bisa membaca harapan-harapan itu dengan jelas. Jelas sekali hingga aku tak sampai hati untuk menolak mewujudkan harapan itu satu per satu.

Setiap harapan bersanding dengan pengorbanan. Kesunyian dan kesenyapan dulu merupakan teman yang menyenangkan untuk menjalani pengorbanan. Tapi kini, pengorbanan menjelma serupa monster yang lebih seram dan buruk rupa dari pocong, kuntilanak atau sederet hantu dan setan negri ini. Begitu menyeramkan dan menghisap energi tak sesuai porsi. Tenagaku terkuras tak terkendali, tak ada supply yang memadai.

Hanya menunggu waktu saja untuk limbung dan tersungkur. Aku lelah, aku ingin istirahat dengan nyaman seperti dulu dalam buaian mesra bening yang sejuk. Surga imajiner yang hanya tampak olehku saja...

No comments:

Post a Comment