Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Novel itu brilian!

For the last three days, I was addicted to those two writers.

Membaca, kata kerja yang satu ini seringkali ditulis manis dalam kolom hobby atau kebiasaan seseorang. Di facebook, email, bahkan CV seringkali kata ini muncul. Selain memperoleh informasi tentang sesuatu yang khusus dan problematis, ada yang beranggapan membaca adalah kata yang paling "aman" dan "nyaman" untuk menunjukkan jati diri atau memperkuat nilai pribadi kepada orang lain yang ingin mengenal kita lebih dekat di kolom hobby.

Ada pula yang menggunakan "membaca" sebagai wahana untuk mengatasi masalah (ok, saya lebih suka menyebutnya lari dari masalah) dan untuk menghindarkan diri dari ketakutan juga penyakit tertentu (yang terakhir ini terlalu lebay I guess). Kenapa? bukankah orang-orang jaman sekarang suka sekali melarikan diri dari masalah dengan cara yang berbagai rupa? Saya tidak membicarakan mereka deh, bicarain diri sendiri aja

Saya mendapatkan kenikmatan emosional tiada bandingan dengan membaca novel. Bukannya apatis dengan bacaan lainnya seperti koran, essay dll, tapi I like novel the most. Alasannya sederhana saja, novel itu imajinatif. Saya bisa bermain dengan imajinasi pribadi selama membaca lembar demi lembar halaman novel yang sedang saya baca. Tidak percaya? Well, one day (semasa kuliah) saya terlibat dialog singkat dengan teman saya tentang sebuah novel yang kebetulan sama-sama kami baca. Kami punya pandangan berbeda tentang isi novel tersebut, teman saya yang melankolis menilai novel tersebut sungguh romantis, sedangkan saya yang agak sinting menganggap novel itu lucu dan bikin mules . See? novelnya sama, akan tetapi dua kepala yang membacanya menangkap pesannya dengan sudut pandang yang berbeda. Itulah keindahan novel, pembaca bebas menginterpretasikan kisah di dalamnya dengan imajinasi masing-masing tanpa peraturan perundang-undangan pernovelan (emang ada UU pernovelan?). We hold our freedom!

Emosi saya seringkali bermutasi silih berganti, kadang saya bisa ngikik kayak kuntilanak, ngakak kayak liat videonya Briptu Norman (ngaku kalo uda nonton videonya berkali-kali), bersemangat kayak mau demo, bete sampe muka ditekuk 13 lipet, mewek ala sinetron bahkan ada yang sampe bikin pingin pup... *dua yg terakhir kalo ceritanya bener-bener extraordinary kok hehe*.  Novel memang sangat memanjakan pembacanya, ada yang ceritanya berat macam politik, sejarah dan science, tapi ada juga yang ringan dan seru seperti cerita percintaan, detective, ataupun horor (bolehlah horor dimasukin ke jenis ringan hehehe sadis!)

Tiga hari terakhir ini ada dua penulis muda yang masuk dalam daftar idola saya; Indra Herlambang dan Raditya Dika. Mereka berdua tu brilian, gokil, dan apa adanya. Tulisannya daily banget tapi selalu ada pesan baik di setiap bab-nya. Mungkin saya sedang butuh hal-hal yang bikin perut mules dan pipi kejang karena ngakak berguling-guling . Mungkin juga saya memang dilanda bosen dengan bacaan berat nan memusingkan otak. Membanca karya mereka membuat saya senang dan bahagia. Apa lagi yang saya harapkan selain dari dua kata terakhir tadi; senang dan bahagia.

So, jika ada yang meremehkan, mengecilkan atau menghina dina novel, saya akan langsung kasih satu kalimat pernyataan " How pathetic you are" *dengan tatapan sinis ala tokoh antagonis sinetron yg ga tamat-tamat.*  Karena novel itu adalah representasi mahakarya pembuatnya yang sungguh luar biasa mengaduk-ngaduk suasana hati, pikiran dan perasaan pembacanya. Kalau anda ingin melihat dunia tanpa beranjak seinci pun dari tempat duduk anda (mengutip dari novel The Namesake-nya Jhumpa Lahiri), maka bacalah novel. Tak ada salahnya anda keluar sebentar dari dunia amburadul anda untuk sejenak masuk ke dunia super menarik novel. You won't regret, trust me

2 comments:

  1. Pernah dilakukan penelitian di dunia, tapi sy lupa sumbernya :). Dalam penelitian itu disebutkan bahwa tidak ada suatu negara pun yg maju, kecuali masyarakatnya adalah pelahap karya sastra, termasuk novel. Bahasa mudahnya, negara2 yg maju di dunia ini bisa dipastikan masyarakatnya doyan baca karya sastra. Karena dari situ semua pesan bisa tersampaikan.

    ReplyDelete
  2. Anda Benar saudara Malik. seorang teman dekat pernah bilang padaku "Ih, mahasiswa kok bacaannya novel. harusnya yg dibaca tu buku2 teori, bkn yg cemen gtu".terus terang aku tersinggung. tp setelah temanku ini pulang dari luar negeri, dia baru sadar bahwa orang2 di eropa maupun amerika suka skali & memuja novel. kurang maju apa cb dua benua itu?hahaha temanku tu malu sendiri jadinya.

    ReplyDelete