Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Kangen "Kalian" Berdua








Jawa Timur adalah propinsi dimana saya berasal. Hampir sepuluh tahun saya meninggalkan tanah kelahiran, meski tidak sepenuhnya pergi, tapi saya pikir saya tidak cocok lagi disebut tinggal di sana hehe. Bekerja di ibu kota negara ini, menghabiskan hari dengan rutinitas yang konsisten, berbaur dengan ritme orang-orang metro seringkali membuat saya merasa jenuh dan penat. Manusiawi sekali jika saya merasakan kesepian yang teramat dalam ketika kejenuhan sudah mencapai ubun-ubun. Saya bukan pecinta wisata Mall seperti kebanyakan orang-orang Jakarta, saya lebih suka menghabiskan waktu dengan "dolan" ke pegunungan yang sejuk, pantai yang alami, atau hanya sekedar ngangkring bersama teman-teman sableng saya.

Kalau ada yang bertanya, anda asli mana? Saya akan menjawab, Lumajang Jawa Timur. Akan tetapi kota kecil yang berhawa sejuk ini rupanya tidak mendapat publikasi yang layak. 90% orang yang mendengar kota kelahiran saya itu langsung menyambung pertanyaan dengan "hmm..itu di mana ya?". Maka dengan sabar saya akan memancing wawasan orang tersebut dengan melempar balik pertanyaan "tahu gunung tertinggi di Jawa ga?". Kalau lagi-lagi orang tersebut tidak tau maka sekali lagi saya akan bertanya "Kalau gunung semeru pasti tau kan??Lumajang tuh ada di kaki gunung semeru, sebelahan sama Malang." Pertanyaan dan pernyataan terakhir ini mungkin terdengar sedikit bernada geregetan dari saya.

Nah, kalau ada yang iseng nanya, "mo mudik /pulang kampung kemana?." Dengan senang hati saya akan menjawab Yogyakarta. kenapa? karena lebih dekat daripada Jawa Timur hahaha. sebenarnya alasannya adalah saya punya ikatan bathin dengan kota gudheg ini. Di kota ini saya punya komunitas yang menyenangkan, punya saudara yang kacau tapi hangat :D dan di kota ini juga saya mengalami banyak keajaiban. Maka saya meresmikan kota ini sebagai kampung halaman kedua dalam hidup saya setelah Lumajang. Saya jatuh hati dengan keanggunan Yogya yang teduh.

Jika saya kangen dengan kota Lumajang, saya akan chatting dengan teman, atau keluarga yang masih tinggal di sana. Kadang saya juga hang out dengan teman-teman SMP yang juga dicemplungkan takdir di Kota Jakarta ini. Tapi ada satu lagi yang saya lakukan yaitu nonton video si Ikin grammar Suroboyoan. Sebuah film karya komunitas film indie yang sarat unsur budaya lokal Suroboyo (Jawa Timur), isinya lucu, gokil, keren, bikin ngakak tapi tidak melupakan nilai positif kemanusiaannya. Video ini jadi favorit komunitas di Yogya karena memang ada beberapa teman yang juga berasal dari Jawa Timur. Setelah menonton beberapa seri film ini biasanya saya sudah senang dan terobati sudah rasa kangen.

Film indie Yogya?
Kalau Yogyakarta, saya suka kangen kebersamaan dengan teman-teman di sana. Kebersamaan kami bisa dibilang sederhana dan sehat. Sederhana dan sehat karena tidak ngeluarin banyak uang; kami biasa ngumpul-ngumpul untuk olah raga, main ke sudut Yogya yang tentu saja kebanyakan gratisan, dan sekali-kali ke pantai. Ngobrol dari soal remeh-temeh sampai politik pun kejadian di angkringan langganan kami. Yogya yang bebas macet, orang-orangnya yang menyenangkan, ritmenya yang serius tapi santai, dan multikulturnya yang selaras dengan perkembangan jaman. Harmoni ini yang tidak saya temukan seatom pun di Jakarta.

Seandainya ada film indie juga dari Yogya, maka saya dengan senang hati akan berburu di dunia maya untuk menjadikannya koleksi pribadi guna menggusur sepi dan rasa kangen (baca: homesick). Adakah film yang mengangkat budaya lokal tapi dikemas modern khas anak muda dari Yogya?? Karena selamanya saya akan menjawab "Saya berasal dari Lumajang, Jawa Timur dan akan mudik ke Yogyakarta." (^-^)

*kangen kamu dan kalian semua

No comments:

Post a Comment