Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

The Winning Team two

lanjutan one ...

Kalau saya ingat-ingat, reportase yang saya lakukan waktu itu lebih mirip dagelan yang agak lebay. Bagaimana tidak, seenaknya saja saya mengambil tema unjuk rasa. Harusnya unjuk rasa kan heboh dan isunya juga bagus, nah yang saya laporkan/beritakan malah unjuk rasa di kota kecil Lumajang dengan isu penolakan calon bupati lagi. Nama calonnya ngawur, jalannya ngawur, dan semuanya berakhir sepi. pokoknya memalukan deh, saya yakin muka saya jelek abis [emang uda jelek ].

Kata manajer HRD, setelah saya dipersilahkan duduk, "kamu punya talenta, percaya diri kamu sudah ada, kontennya lumayanlah sebagai pemula tapi ... ", sampai disini saya menahan napas, "Setahu saya Lumajang tidak seheboh itu kalo ada demo." What?! saya syok . Kok bapak ini tau ya? Gawat, ketahuan deh bo'ongku, begitu dialog bathin saya. "Kenapa? Jangan kaget, perkenalkan nama saya ****, saya juga dari SMA 1 Lumajang, alamat saya di desa ************" beliau menyebutkan sebuah desa pelosok , lebih ndeso dari desa saya yang jalannya aja ga semuanya beraspal. 

Maka sayapun melongo, syok abis. Kalo difoto pasti bisa menangin lomba fotografi sedunia. Pak manajer kemudian bercerita kesana-kemari tentang perjalanannya dari desa kecil sampai bisa menjadi Manajer HRD. Suasana pun mencair, saya bisa mengeluarkan karakter saya yang rame dan "ga formal." Sampai tibalah saat keputusan yang ditunggu-tunggu, lolos atau berhenti sampai disini. "Saya tahu kamu punya potensi, tidak mungkin kamu sampai tahap ini kalau kemampuanmu tidak baik. Tapi kami membutuhkan fresh graduate fit. Kalau saya pribadi menilai, kamu layak menjadi bagian dari TV One, tapi saya harus komit dengan peraturan bahwa kampus One hanya diperuntukkan untuk fresh graduate S1. Jadi saya mohon maaf ya, saya harap kamu bisa mendapatkan tempat yang jauh lebih baik dari TV One. ups, jangan lupa, lebaran main ke rumah saya ya."

So, itulah akhir perjuangan saya di TV One. Saya sempat sakit hati dengan keputusan itu, saya pun melontarkan pertanyaan [protes lebih tepatnya] kepada manajer HRD tsb."Seharusnya saya tidak dipanggil atau diloloskan dari tes pertama pak." Ini didorong dari emosi saya karena udah bolak-balik Jogja-Jakarta sampai tiga kali, menghabiskan dana yang tidak sedikit, dan proses ini sudah menguras emosi dan otak saya sedemikian rupa sehingga saya merasa kesal dan "tertipu". Begitu pula dengan dua peserta yg lain, kami bertiga sama-sama gagal

Tapi setelah beberapa bulan berlalu, saya mendapatkan banyak hikmah dari pengalaman ini. Pertama, perjuangan itu tidak boleh dihitung-hitung.Just do your best whatever the result will be. Kedua,apa yang kita harapkan tidak selamanya tercapai. Dan jika memang tidak tercapai, Tuhan [ternyata] menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan lebih cocok buat kita. Ketiga, semakin banyak pengalaman yang kita punya, semakin tenang kita menjalani apa pun di depan kita. Dan yang terakhir, saya bersyukur tidak menjadi bagian dari salah satu televisi swasta tersebut karena sekarang saya malah sering bekerja sama dengan berbagai media televisi yg tentu saja jauh lebih menyenangkan dan menantang.


Kru TV One dalam salah satu acara yang diadakan Humas Kemenkeu
   

2 comments:

  1. Alhamdulillah... Untungnya sampean ditolak di TV ONE ya. Kalau tidak, gak mungkin skrg bisa sampe di Kemenkeu. Ternyata memang tidak ada yg namanya kebetulan. Semua pertemuan membawa pesan bwt kita. Semangat, Mbak...!

    ReplyDelete
  2. betoooL Malik, semuanya seperti uda digariskan oleh Dia. Tinggal kita mau belajar mengerti dan memahami di mana sebenarnya kita berada saat ini. Sudah di track yg seharusnya atau malah keluar jauh??hehehe. Sama dengan penyesalan yang selalu datang di akhir, kebanyakan dari kita juga baru memahami jalan Tuhan setelah kita dicoba berkali-kali olehNya. Semangat juga buat Malik!!!

    ReplyDelete