Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

The Winning Team one

Seminar TV One di UGM
Ini pengalaman saya yang awalnya menjengkelkan tapi jika saya ingat lagi ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Pada 16 Februari 2010 saya ikut Seminar yang diadakan oleh TV One di UGM. Tujuan saya hanya dua, pingin tau dan penasaran bagaimana TV yang masih bayi ini bisa pesat perkembangannya dan pingin ketemu presenter Tina Talisa yang menurut saya bawel dan menggemaskan. Menggemaskan bukan karena pembawaannya yang [katanya] cerdas tapi justru saya seringkali sebal melihat cara dia membawakan acara.

Di akhir acara, di meja registrasi ada formulir pendaftaran Kampus One. Iseng-iseng saya pun ngisi tuh formulir. Tanpa niat yang tulus dan basmalah, saya ngumpulin  formulir. Hampir tiga bulan berlalu, di minggu ketiga bulan Juni 2010 saya mendapat sms dari manajemen TV One, isinya saya diundang untuk tes tulis dan wawancara program Kampus One. Kampus One merupakan program pendidikan dan pengembangan calon karyawan TV One selama 6 bulan yang direkrut dari lulusan beberapa universitas terkemuka di Indonesia.

Lagi-lagi saya berspekulasi, saya pun berangkat ke Jakarta. Untuk pertama kali saya masuk kantor stasiun televisi ini plus bonus ketemu sama presdirnya, Ardi Bakrie [sumpah geli bgt kalo inget ini]. Ada 7 sesi tes yang harus dilewati, tes pertama sampai ketiga berhasil dilewati. Dari 76 peserta hanya tersisa 20 peserta saja. Minggu depannya, saya kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani tes selanjutnya. Sampai akhirnya tinggal dua kali tes lagi dan peserta pun tinggal 3 orang.

Bisa dibayangkan, kami bertiga sudah dag dig dug dan membayangkan akan memakai seragam merah abu-abu dengan emblem TV One di dada. Sebelumnya kami sudah diberitahu jika kami lolos sampai tahap akhir maka kami akan menjalani pendidikan selama 6 bulan dengan sistem gugur per 3 bulan. Kami juga akan dikontrak selama 2 tahun dengan syarat-syarat yang ketat. Tibalah wawancara dengan user dari HRD. Pertanyaan bukan lagi soal motivasi, personifikasi, atau misi tapi lebih ke wawasan umum. Satu dua pertanyaan bisa saya jawab dengan baik [menurut saya lo], dan yg saya takutkan kejadian. Saya diminta memperagakan/ melakukan reportase. OMG! I couldn't do it. 

Saat itu saya berbicara pada diri saya sendiri "Fietha, this is the most expensive interview ever. Make it worthed." Maka entah bagaimana warna muka saya waktu itu dengan sisa keberanian, wawasan dan "kendablekan" saya pun melakukan reportase. 


~disambung di posting lanjutnya ya, uda kepanjangan nich~

No comments:

Post a Comment