Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Mbok Sum dan Yogyakarta yang Istimewa 1

Yogyakarta, kota gudeg, kota pelajar, kota angkringan dan masih banyak lagi sebutan unik lainnya untuk kota indah ini. sebuah jargon berbau Internasional yang ada di dalam otak saya tentang Yogya adalah "the never ending Asia." selalu ada hal menarik dan nyentrik yang bisa saya temukan di kota Sultan ini, salah satunya adalah Mbok Sum.

Wanita sekitar 55 tahunan, sederhana, murah senyum, tinggi kurus dan cekatan ini begitu meninggalkan sesuatu yang mendalam bagi saya. sehari-hari beliau bekerja dari satu rumah ke rumah lainnya untuk menjalankan profesinya sebagai tukang pijit. jasanya laris dimanfaatkan orang-orang karena meski di usianya yang tidak muda tenaganya bisa melebihi perempuan 30 tahun lebih muda darinya.  satu dari sekian orang yang menjadi pelanggannya adalah saya.

Rutinitas dan kemacetan Jakarta membuat saya selalu ingin menghirup kembali alam Yogya dengan segala pernak-perniknya. dan hari itu, weekend, saya putuskan untuk "kabur" sejenak ke kota itu.  terpikir oleh saya untuk memanjakan diri [dg low budget tentunya], lama berpikir akhirnya saya putuskan untuk pijit saja. maka, dengan rekomendasi seorang yang kenal dengan mbok sum, sampailah saya di rumah mungilnya pagi itu. waktu baru menunjukkan pukul 08.30 pagi.

Mbok Sum menyambut saya dengan senyum teduhnya, mempersilahkan saya duduk. rupanya dia sedang mencuci baju. begitu saya mengutarakan maksud kedatangan saya, dengan sigap mbok sum mempersiapkan segala peralatan termasuk kamar tempat saya nanti merebahkan tubuh lelah saya untuk pasrah "diperbaiki" mbok Sum.

Kegiatan memijit pun dimulai, mbok Sum mengawalinya dengan ucapan basmalah, pelan tapi lingkungan yang sepi ini membuat ucapan lirih itu terdengar jelas sekali. Sambil memijat, mbok Sum mengajak saya ngobrol, dari hal yang remeh temeh sampai yang agak "berat". kira-kira inilah obrolan kami:

  • Fietha: mbok Sum udah lama mijitnya (jadi tukang pijit maksudnya)? *pertanyaan standar basa-basi*
  • Mbok Sum: wah, sejak saya masih muda, Mas. *Mas=panggilan utk menghormati, sm sprti Aden, Tuan. mbak masih kuliah atau uda kerja?
  • F: alhamdulillah, uda kerja mbok. tapi saya dulu pernah kuliah disini [Yogya], jadi saya sering main ke sini. Jakarta bikin pusing mbok.
  • MS: lha iyo to mbak, Jakarta kan macet dan ramai. saya liat di TV aja ngeri...
  • F: Iya mbok, belum lagi rawan penjahat. harus ekstra hati-hati. beda jauh sama di sini mbok.
  • MS: woo iya mbak, di Jogja tu penjahat sama yang bukan kelihatan bedanya.
  • F: maksudnya mbok?
  • MS: kalo di Jogja, yang namanya preman ya begitu penampilannya, kelakuannya, gampang dititeni (mudah dikenali). Tapi kalau di Jakarta kan ra cetho bedhane (tidak jelas perbedaannya) , penjahat sama yang baik sama-sama ganteng, ayu, rapi dan bersih ya mbak.  
  • F: *mulai ngerti arah pembicaraan mbok Sum* hahaha mbok Sum bisa aja, tapi emang bener mbok, di kota semuanya serba ga jelas. harus pintar-pintar menilai.
  • MS: saya ini orang bodho (bodoh) mbak, taunya cuma cari uang dan bersyukur Gusti Pangeran (Tuhan) maringi rejeki. sekarang apa-apa kok tambah mahal. orang-orang juga tambah aneh.
  • F: aneh gimana mbok?
  • MS: ya itu...sekarang sesama saudara kok ndak rukun. gampang berantem...saya sering liat di tv tu lo mbak. kok orang sekarang ndak ada welas asihnya..
  • F: *tertegun* iya ya mbok...
  • MS: apalagi yang kerjaannya ngusir pedagang, apa mbak namanya...satpol PP ya?
  • F: iya mbok
  • MS: apa ndak bisa ngomong baik-baik, asal bongkar sampe yang punya dagangan jerit-jerit, pingsan. mbok ya mikir, kalo dia (satpol PP) atau keluarganya dperlakukan begitu gimana...wong sama-sam cari makan, sama-sama susah. Saya ndak bakal ngasih restu kalau Anak saya mau jadi satpol PP. Mending jadi buruh atau tukang saja mbak, lebih berperikemanusiaan. ndak nyusahin banyak orang.
  • F: Untung di Jogja ga ada ya mbok ... (sadisme satpol PP)
  • MS: ohh... jangan sampe mbak. disini pedagang (wong cilik) dilindungi sama kanjeng Sultan.
  • F: *tersenyum, menangkap ada aroma kebanggaan dalam kalimat mbok Sum*

bersambung ya ...

2 comments:

  1. Semoga sultan tdk berusaha 'mengkhianati' rakyatnya lg ya. Mending tetap jd raja dibanding jd Presiden. Lebih byk manfaatnya.

    Satpol PP iku, terutama atasane yo aneh. Byk pedagang yg diusir dan byk lapak yg digusur katanya ga memenuhi perizinan. Tapi pedagang disana sebelumnya kok masih ditarik retribusi. Gak konsisten tenan...!

    ReplyDelete
  2. betoooll, uda pernah liat satpol PP Jakarta blm Lik?? lebih serem dari penjaga neraka ta pikir. Nyebelin abis penampakannya..

    ReplyDelete