Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Brother Fitnah

Udah aku (bosen pake saya sekarang pake "aku" ajah hehe) ceritain kan kalo aku ini pegawai baru di Kemenkeu??kalo belom, harap baca di postinganku sebelumnya. Nah,  pada awal bulan April aku dapet tugas untuk hadir dalam rapat bersama perwakilan IDB [Islamic Development Bank] di gedung Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu. Rapat ini tentang persiapan acara yang akan diadakan oleh IDB bekerja sama dengan Kemenkeu tentunya. 

Soal rapatnya ga perlu aku tulisin ya di sini b'coz ada yang lebih menarik cuy. Perwakilan IDB berjumlah dua orang, Khaled A. Nazer dari Jedah dan Razak Ratne dari Malaysia. Kenapa aku bilang menarik, kan selama ini aku tau budaya "greeting" orang Arab cuma dari tipi tuh, nah waktu rapat itu aku jadi tau live-nya. Orang Arab selalu cipika cipiki jika bertemu dengan tamu, saudara, teman dll. tapi tunggu, yang aku bicarain ini adalah kaum lelakinya ya.

Trus apa istimewanya?? Masalahnya, cipika cipikinya tuh bukan pipi ketemu pipi saudara-saudara, tapi pipi ketemu bibir. Dan yang paling bikin aku amazed disitu adalah bunyi yang dihasilkan dari proses ini (baca kecupan) sangatlah keras dan kalo di Indonesia tuh [biasanya] dilakukan oleh sepasang kekasih atau suami istri deh. Bunyinya tuh yang mak "cuph!!" dengan volume 15 ukuran remote tipi. Ah andai waktu itu bisa divideo-in hahaha gokiL abeess (norak luar biasa diriku).

Satu lagi yang berbeda, pak Nazer ini selalu menambahkan kata brother sebelum menyebutkan nama lawan bicaranya. Yah sama kayak kita yang menyebutkan nama pak/ibu sebelum menyebutkan nama orang lain. Lucu yah? Tapi ada momen yang bikin aku agak gimanaa gitu, waktu meeting selesai kan ada makan siangnya tuh. Nah, si brother Nazer ini ngajak aku dan temenku (sama-sama perempuan dan dari Humas) ngobrol. Kira-kira begini dialognya:

  • Bro Nazer: Assalamualaikum ladies, I am Nazer and this is my namecard. (doi nyerahin kartu nama pada kami);
  • Fietha: oh Waalaikumsalam, sir (mo bilang brother tapi orangnya uda tua, dilema gitu ceritanya). Thank you very much. I am sorry I don't have mine.
  • Bro Nazer: It's OK. What's your name? Are you from Public Relation, right?
  • Fietha: Yes, we are from PR. I am Fita (setengah mati bersikap sopan sambil berjabat tangan)
  • Bro Nazer: Sifa..?
  • Fietha: No, it's Fita (mulai berpikir ni orang pendengarannya mungkin terganggu kali ya, karena kami berhadapan)
  • Bro Nazer: Fitrah?
belum sempat aku jawab tiba-tiba doi nyeletuk lagi
  • Bro Nazer: Fitnah?
Temenku yang dari tadi serius langsung nutup mulut dan bahunya terguncang, bukan karena gempa tapi dia setengah idup nahan tawa ala kuntilanaknya demi menjada kesopanan.  
  • Fietha: (syok gila!) Fitnah? It's ef-ai-ti-ei (dengan mata agak berkaca-kaca karena ni orang berani-beraninya mengganti namaku menjadi FITNAH dengan semena-mena )
  • Bro Nazer: ow.. Fita. sorry (manggut-manggut, mungkin biar ga dilempar piring oleh gadis yg sedikit murka di depannya ini). Would you come to Hotel Kempinski to continue our discussion at 4? coz we still need more information from you and some brothers from d Ministry of Finance.
    Fietha: Sure, Sir. We will be there at 4 (terpaksa senyum palsu demi kesopanan, sekali lagi demi kesopanan, sekali lagi ah..demi kesopanan sodara-sodara!). 

Dan seterusnya dialognya berubah ke topik sayur asem. Ternyata ni orang Arab suka banget sama sayur asem. Sampai-sampai doi nyatet nama tuh sayur di note kecilnya. Katanya kalo sampai Jedah dia mau nyari masakan itu di resto Indonesia. hahaha...seleranya ternyata sama aja wkwkwkw

Jadi begitulah hal unik yang aku temui bersama bule Jedah. Perbedaan budaya selalu melahirkan decak kagum dan mengantarkan pada kesadaran dalam diri bahwa berbeda itu memang indah. mantab kn bro??

No comments:

Post a Comment