Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

D' Elegance of Bengkulu part 2

~Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu yeey!!~

Begitu menginjakkan kaki di landasan pesawat Bandara Fatmawati Soekarno yang dahulu bernama Bandara Padang Kemiling [diresmikan menjadi Bandara Fatmawati Soekarno oleh Megawati Soekarnoputri pada 14 November 2001] ini saya melepas syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang Dia limpahkan pada seluruh penumpang dan kru pesawat. Satu jam yang lalu saya terjebak dalam hiruk pikuk Jakarta dan holaa...Bengkulu menyapa saya. Saya menghirup udara Bengkulu sesaat dan mengedarkan pandangan ke seantero bandara. Terpampang plang besar bertuliskan "Selamat Datang di Bumi Rafflesia Bengkulu" menyambut kami ramah, di salah satu sudut bandara ada segerombolan orang-orang yang berkerumun dan berdesak-desakan menonton pesawat. Rupanya menonton pesawat yang take off dan landing menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi mereka. Sama seperti orang-orang Jogja yang tiap sore nongkrong di sudut stasiun Lempuyangan bersama keluarga hanya untuk menghabiskan waktu santai.

Saya pun berfoto sebentar karena sekali lagi ini adalah DL pertama saya (^o^). Kami langsung mencari jalan keluar bandara, dan betapa blo'onnya kami karena ternyata bandara ini sangat kecil dan sempit sampai-sampai kami tidak perlu mencari tulisan Exit seperti di Jakarta untuk keluar [dan memang tulisan tersebut tidak ada!]. Di "teras" bandara kami bertiga berhenti, mencari-cari taxi. Tak lama seorang bapak menghampiri kami dan menawarkan jasa taxi. Setelah tawar-menawar harga, akhirnya kami memutuskan memakai jasa bapak tersebut. Alangkah terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa taxi yang dimaksud bukan taxi seperti kebanyakan. Mobil dengan merk xania sudah menunggu kami. "Pak, mobilnya kok bukan sedan ya?" saya membuka pembicaraan setelah duduk di dalam mobil. Sambil menyalakan mesin, bapak ini menyahut "Oh iya mbak, di sini taxi yang pake argo cuma ada tiga unit, selebihnya ya mobil pribadi seperti ini. Tapi tarifnya sama kok." Whaaat??? Kami bertiga saling berpandangan, takjub, ga percaya sekaligus geli menahan tawa mendengar jawaban singkat Bapak tadi. Kami lupa, it's not Jakarta dude!!

Hanya butuh 15 menit saja dari bandara menuju hotel Raffles City tempat kegiatan sekaligus tempat kami menginap dua hari kedepan. Saya menikmati benar perjalanan singkat ini karena satu alasan; ga ada macet bung!!! So smooth. Hotel ini terletak tepat di depan pantai yang bernama pantai Panjang.Teman saya yang memang agak lebay berkomentar dengan nada khawatir, "ntar malam kita gantian aja ya tidurnya, jaga-jaga kalo ada tsunami." Saya pun tergelak heboh dan buru-buru komen,"Please de Zis, sebelum tsunami kan gempa dulu. Masa iya kamu ga bangun kalo ada gempa?"

Memasuki lobi hotel, saya langsung mengurus tetek bengek inap menginap. Dan akhirnya kami bisa melabuhkan badan sejenak di kamar masing-masing. Sekitar 15 menit kemudian dua orang teman saya mengetuk pintu kamar, kami memang janjian untuk nongkrong di pantai nungguin sunset sore ini [acara utama baru besok pagi]. Dengan menenteng sebuah kamera lengkap dengan tripodnya, kami berjalan menuju pantai. Selama ini saya hanya menyaksikan pantai utara dan selatan di pulau Jawa, dan kali ini saya tidak di Jawa lagi.

Gambaran indah dan berbeda akhirnya saya nikmati, pohon-pohon, tiang-tiang listrik,  rumput-rumput tinggi di sisi sebelah dan pantai yang menghadap samudra luas di sisi yang satunya. Tidak banyak kota yang menghadap samudra lepas seperti Bengkulu ini. Menghadap Samudra Hindia. Ombak yang besar yang seharusnya muncul sebagai konsekuensi dari pantai samudra tidak kami temui di Pantai Panjang ini. Hal ini dikarenakan Bengkulu merupakan semacam teluk, sehingga pantainya terlindungi oleh sebuah daratan atau semenanjung yang menjorok ke laut. Vegetasi di Pantai Panjang ini pun cukup unik, bukan pohon kelapa seperti biasanya, tetapi justru pohon-pohon cemara yang tumbuh liar di sana sini.

Senja di Pantai Panjang Bengkulu

Rupanya keberuntungan momen hari itu belum berpihak kepada kami. Sunset yang kami tunggu tertutup awan. Hanya sekali saja ia mengintip di sela awan, itupun cuma beberapa menit saja. Akhirnya kami menghabiskan sore itu dengan ngobrol ngalor-ngidul sambil menyaksikan anak-anak bermain bola di pantai pasir itu. Lebar lapangan tidak berbatas, gawang dari dua kayu ditancapkan dan diberi bendera. Asyik sekali sepertinya anak-anak itu, kadang bola terbang bebas dan mendarat ringan di atas lidah gelombang ombak yang dinamis maju mundur. Ada juga segerombolan ibu-ibu yang sedang berlatih baris berbaris [mungkin persiapan Agustusan?]. Ramai dan ceria,  keceriaan yang polos dan indah. Kami pun memaksakan diri untuk mengambil beberapa foto narsis yang kami yakini hasilnya bagus ga bagus tetap saja bagus hahaha ...

~bersambung~

3 comments:

  1. Ya.... Sambungannya banyak bgt, Mbak. Jangan2 wis menjelajah semua tempat wisata disana. Disana orangya putih2 trus matanya sipit2 ga, mbak?

    ReplyDelete
  2. masih bersambung ni...so, jgn bosen ya kasih komennya. semi diary nih jadinya. gpp-lah kan DL pertama hikikik.iya, perempuan Bengkulu cantik-cantik Lik, mau cari jodoh orang Bengkulu??ntar aku jabarin di part 3-nya ;p

    ReplyDelete
  3. Oke... Siap, mbak. Jgn lupa ceritakan jg watak2nya :D

    ReplyDelete