Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

D' Elegance of Bengkulu part 1

Ini adalah pengalaman Dinas Luar (selanjutnya disingkat DL) saya yang pertama sebagai pegawai Kementerian Keuangan. Saya bekerja di Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (dulu disebut Humas), sehingga ketika ada kegiatan Kementerian yang sifatnya publikasi, bagian saya wajib terlibat dan atau dilibatkan.

Sebagai pemula, saya sangat senang luar biasa ketika diberitahu bahwa saya ditunjuk untuk mewakili bagian saya dalam kegiatan sosialisasi Surat Berharga Syariah Negara/ Sukuk Negara di salah satu propinsi pulau Sumatera; Bengkulu. Saya senang karena sebagai pegawai baru tentu saya butuh aktualisasi dan pengalaman.  Latar belakang saya yang Sastra Inggris ini harus banyak belajar tentang Ilmu kehumasan dan komunikasi secara otodidak. Saya tidak menolak teorinya, tetapi saya lebih mampu belajar ilmu tersebut secara praktek. Bagi saya komunikasi itu sama dengan praktek, jadi sebuah kehormatan bagi saya terpilih mewakili humas ke Bengkulu (biasanya yang DL adalah pegawai-pegawai yang berpengalaman).

Dinas Luar sudah diatur ketat segala administrasinya, namun demikian mengurus proses keberangkatan maupun laporannya tidak sesimple yang saya pikirkan. Mungkin saya sudah terbiasa apa-apa cepat dan praktis, sehingga ketika menghadapi sesuatu yang rempong , saya jadi agak emosional. hmm...untung bisa menahan diri hehehe. Bersama dua orang pegawai humas yang lain (sama-sama pegawai baru), akhirnya urusan administrasi rampung.

Rabu, 23 Maret 2011 kami berangkat. Pagi-pagi sekitar pukul 9 kami naik bus khusus Gambir-Cengkareng (Soekarno-Hatta Airport) yang menempuh waktu satu jam (alhamdulillah ga macet). Kami masuk terminal B, setelah menunggu beberapa jam sambil ngobrol, akhirnya pesawat membawa kami terbang ke Bengkulu.

~berdoa sebelum take off~


Salah satu teman saya yang bertugas sebagai fotografer bercerita bahwa ini adalah kali pertama dia naik pesawat. Dia berasal dari kota kecil juga di Jawa Timur, Kediri. Jadi bisa dibayangkan betapa lucunya aneka perubahan ekspresi di raut wajahnya. Detik-detik take off, wajahnya pucat pasi, di tengah-tengah perjalanan dia malah seperti mau mabuk udara...polos dan natural sekali. Mendekati Bengkulu, saya terpesona dengan pemandangan pulau Sumatera lewat jendela pesawat. Kontur tanahnya yang berbukit-bukit dibelah indah oleh sungai yang berkelok serupa. Hijau, rimbun dan tanpa rumah! Tiba-tiba saya melihat sesuatu keperakan tertimpa sinar matahari, rupanya itu pantai. Bengkulu memang terletak di pinggir pantai.

Pesawat kami landing di Bandara Fatmawati Soekarno dengan mulus tanpa halangan. Bandara dengan landasan yang tidak panjang ini sepi sekali. Ketika pesawat kami landing, cuma ada satu pesawat lain parkir di sana. Itupun maskapai biasa, pantas saja pesawat besar seperti Garuda Indonesia tidak membuka penerbangan dengan tujuan Bengkulu.

~bersambung~

2 comments:

  1. Selamat, mbak. Tapi sampean kayake harus lebih sabar. Soale urusan birokrasi biasane selalu lama dan ribet. BTW, aku yo durung pernah naik pesawat. Gak bisa membayangkan gimana rasanya :D

    ReplyDelete
  2. iya Lik, ribet banget. soon km pasti naik pesawat jg kok...tp jgn smpe mabuk udara ya hehehe

    ReplyDelete