Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Sebuah curhatan ringan

Edisi wow

miss u all :D
 "Bundaaa Fitaaa....kangen"..sapaan khas nan manja seorang adik di organisasi silat sesaat setelah aku memasuki gelanggang olah raga kampus. Si pemilik suara tadi menghambur ke arahku, menjabat erat tanganku kemudian memelukku akrab. "piye kabare nduk??" cuma itu yang bisa aku ucapkan untuknya... Betapa tempat ini selalu membuatku ingin terus kembali. Mungkin sapaan akrab tadi salah satu penyebabnya. Setelah itu bergantian teman-teman menyalamiku, semua ramah, semua senang, semua tersenyum. Ah..tahulah aku penyebab rasa kangen ini, yaitu mereka semua, saudara2ku.

Sedang ada sebuah even di gelanggang, tapi ketika aku datang, pertandingan baru saja rampung. Digantikan oleh aktifitas latihan reguler yang agak khusus yaitu persiapan ujian kenaikan tingkat. Tak lepas mata ini memandang seragam putih-putih itu, tampak menyenangkan dan menggoda. Sayang sekali aku tidak membawa seragamku kala itu. Badanku meronta minta digerakkan, tapi apalah daya, masa iya latihan silat pake celana jins? Jadilah aku penonton setia di tepi arena melihat mereka semua latihan. Menakjubkan!

Ditengah-tengah sesi, seorang pelatih mendekatiku seraya berkata "tolong dicek donk gerakan seni tunggalnya dik Tathit, besok dia mo berangkat ke Surabaya." Si kecil yang kini telah beranjak dewasa itu tampak kurang bergairah. Aku mengangguk, "nanti setelah hening penutup" begitu ucapku. Setelah hening penutup, aku melangkah masuk hall, bergabung dengan Tathit. Jagoanku ini tampak berbeda, ada yang aneh dari setiap gerakannya.

Kemudian bersama Angga, pelatih Tathit yang sekarang, dan dua orang pelatih silat lainnya, kami pun melihat performa tathit. Di ujung hall sana tengah duduk kedua orang tua tathit, memantau. Maka mengalirlah gerakan demi gerakan seni tunggal. Performa pertama, kedua sampai ke enam, semuanya belum menunjukkan top performance. Aku bingung, kenapa banyak penurunan gerak, interval kacau, ekspresi nol dan power drop? Tathit bergerak sekenanya, raga itu seperti tak berjiwa. Kosong. Angga bukanlah pelatih ecek2, bahkan dia juga atlit propinsi DIY. Jadi jelas ini bukan karena pelatihnya.

Catatan waktu selalu jauh dibawah target, maka kami berdiskusi, mencari celah dan solusi. Aku dekati Tathit, dulu aku bisa memeluknya, bercanda rame ngobrol ngalor ngidul soal penggemar-penggemarnya di sekolah dan makan es krim. Tapi sekarang jadi agak canggung karena dia bukan anak-anak lagi. Aku ajak ngobrol, mengajaknya mengoreksi dirinya sendiri, mencari dimana letak kesalahan dan kekurangannya. Mengingatkannya lagi bahwa seni tunggal bukan hanya sekedar kerapihan teknik, tapi ada jiwa seni yang harus dimainkan disana. Bahwa di setiap gerak ada perpaduan seni dan serangan, dan bahwa betapa pentingnya ekspresi sebagai bentuk dari komunikasi pesilat dengan orang yang menontonnya. Seni tunggal butuh passion, dan itu yang sekarang tampaknya hilang dari Tathit. Kosong dan datar saja.

Kutanyakan pada Angga, apa penyebab "kelesuan" itu? Angga menggeleng tak tahu, "kadang dia bagus kadang juga acuh" begitu katanya. Maka aku berusaha mengulang metode jaman Tathit SD. Beberapa kali dalam gerak lambat (evaluasi), aku memberinya pujian ketika dia melakukan gerakan dengan benar, bertepuk tangan ketika dia berhasil memberi power dalam setiap gerakan menyerang, memberi ritme saat interval, dan mengacungkan jempol ketika dia melihat ke arahku dan pelatih lain tanda meminta persetujuan tentang gerakan yang dia tampilkan. Pokoknya aku jadi super berisik [padahal emang biasanya juga berisik hahaha]. Angga sesekali ikut menimpali dan mengoreksi [ikutan berisik], kami berdua berusaha memberikan latihan [terakhir]  terbaik untuknya. 

Penghargaan kecil dan "cerewet" tadi ternyata membuat performa terakhirnya (performa ke 7) menjadi jauh..jauuuh lebih baik. Dia seperti kembali dari negeri antah berantah. Mendekati sempurna. Aku dan Angga melongo sekaligus puas dengan penampilan itu. Maka tak sungkan-sungkan aku memeluknya dan mengacak rambutnya "ngunu lho le, keren..." begitu kalimat spontanku ketika dia selesai performa. Sebentuk senyum tampak jelas di wajah lelah itu, dia telah kembali.

Dari adik kecil yang beranjak ABG ini aku belajar sesuatu, bahwa betapa manusia memang membutuhkan sedikit sanjungan dan penghargaan atas usaha dan kerja kerasnya. Penghargaan itu seperti energi segar yang dapat menggerakkan kembali semangat untuk kemudian memaksimalkan kemampuan pada titik tertinggi.  siapapun orang itu memang butuh motivasi, penghargaan dan sanjungan yang sesuai dengan kadarnya. Ga peduli perempuan atau laki-laki. Bahkan anak kecil dan remaja pun butuh sanjungan, butuh diakui kemampuannya. 

Hhhh...perhatian, kasih sayang dan dukungan sekecil atom pun ternyata berdampak dahsyat dan luar biasa. Tak terpikirkan sebelumnya bahwa hal sekecil itu bisa sangat berarti. Selamat berjuang adikku sayang, lakukan yang terbaik. Bahwa nanti menang atau kalah, you're always be the best!!


*for my little Thatit
[update] Tathit belum berhasil lolos dalam grup-nya. Tapi menurut Angga, dia tampil maksimal dan bagus sekali. Aku bangga.

2 comments: