Karena manusia memiliki rasio maka ia bisa menjadi poros alam. Jangan mau dikalahkan oleh keadaan. Bermimpi dan berjuang seterusnya, selamanya!

Seni menjadi editor [abal-abal]

Edisi wow
 
Suatu hari seorang senior yang meja kerjanya deket ma mejaku memanggil. "Fit, lagi banyak kerjaan ga?" Aku cuek, bukan karena sombong or jual mahal tapi memang beneran kagak denger. Aku lagi menikmati What The Hell-nya Avril Lavigne pake headset. Jadi suara sayup-sayup dangdut doi kalah jauh sama suaranya mbak Avril yang hingar-bingar mengancam memecahkan gendang telinga.

Sadar aku ga bereaksi malah manggut-manggut ga jelas, akhirnya si Komar [nama sengaja disamarkan untuk menghindari permintaan tanda tangan mendadak] nyolek bahuku. Aku …"What the heelll…!!!" Latah kumat hahaha…. "Ada apa mas Komar?" Hehehe malu.

"Bisa minta tolong ga Fit, lagi sibuk ??" akhirnya Komar bersuara setelah lima detik kaget dengerin latahanku. "Owh…uda selesai kok mas kerjaanku. Bisa..bisa…emang mo ditolongin apa mas?" jawabku pasang muka serius [padahal biasanya muka laper].  Komar memberikan tiga lembar tulisan ukuran A4, font-nya Times New Roman 12, spasinya 1 ..tsaaah…lengkaap.

Jadi Komar ini punya bakat terpendam, dalam jiwanya hidup seorang penulis. Nah, sekarang-sekarang ini jin penulisnya itu lagi kumat. Dia mencoba menulis sebuah artikel tentang isu ekonomi yang lagi in, panas, meresahkan umat gitu deh. "Tolong bacain ini yah, kasih masukan, kritikan, koreksi dan pandangan kira-kira ini layak masuk koran Investor Daily ga? Satu lagi, ini sense-nya apa," Komar mengakhiri kalimatnya dengan senyum berharap and sok imut. "Hokeh…ta baca dulu ya mas."

Sesuai dengan request, aku baca tulisannya Komar dari paragraf pertama sampe terakhir, dari kiri ke kanan. Mencoba [dengan sangat keras, sekali lagi sangat KERAS] memahami beberapa istilah yang sama asingnya dengan bakteri yang ada di ususku, secara aku kan anak sastra gitu. Kurang familiar sama istilah ekonomi [bilang aja bego].  Kasih masukan berupa koreksi, pemilihan kata, tanda baca dll. Dan yang terakhir, mengambil kesimpulan, nih artikel tone-nya apa. Beres, cuci kaki trus bobo siang deh…hahahaha ga lah, sekitar 26 menitan lebih 12 detik, aku colek bahu Komar [gantian nih ceritanya…hihihi]. "Mas Komar…uda selese nih.."

"Gimana-gimana..." kata Komar. "Jadi aku uda kasih beberapa koreksi, ga banyak sih kayak beberapa singkatan yang sebaiknya diurai karena ga semua orang tau ntu singkatan sama beberapa pemilihan kata aja. Overall bagus, tone-nya juga positif dan netral. Ga memihak pemerintah atau non pemerintah. SIP, aman terkendali!! Layak muat menurut saya hehehe. Gud lak yaa..”

Dan Komar pun mengirimkan tulisannya, bisa ditebak…dimuat 2 hari kemudian [karena memang menurutku tulisannya bagus]. "Fitaaa....tulisan gue dimuat di Investor Daily... " begitu serunya sambil ngacung-ngacungin koran. Norak sih tapi dengan mengesampingkan itu semua ... seneeeng banget ngelihatnya [ngacungin dua jempol untuknya sambil nyengir]. Di kantorku setiap pagi selalu numpuk berbagai macam koran dari dalam negeri sampe luar negeri untuk dibaca. Tulisan Komar terpampang di Koran Investor Daily dengan muka tembemnya di tengah-tengah tulisan [baca: foto]. Keren abiss.

Sejak saat itu, aku menjadi editor jadi-jadiannya Komar. Kemarin tulisannya dimuat lagi dan itu tulisan ketiganya bulan ini. Nominal yang didapetin juga sepertinya lumayan, lebih dari gaji pokok kita hahahaha. Hal positif yang aku dapetin dari Komar selain menjadi editor abal-abalnya adalah aku jadi kecipratan semangat dan memberi semangat buat Komar juga diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang digemari. Apapun itu, baik yang menghasilkan atau "tidak", kepuasan bathin sudah menjadi reward yang akan didapatkan. Dijamin!. Terima Kasih teman kerjaku, seniorku, uda ngajarin aku pengalaman yang luar biasa. Gokiil…

No comments:

Post a Comment